Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part61


"Hay.."


Indira membulatkan matanya sempurna melihat pria yang berdiri didepannya dengan senyum manis.


Matanya berkaca-kaca betapa tidak, dirinya sangat merindukan pria yang sekarang berdiri di depannya, sudah sangat lama dirinya tidak melihat wajah pria yang selalu membuat dadanya sesak dan menitikan air mata, sesak memendam cinta dan menangis karena merindukan.


Indira tersenyum namun air matanya mengalir dengan deras. "Abang..?" Indira berlari menubruk tubuh Allan, hingga tubuh allan terhuyung kebelakang.


Indira memeluk erat tubuh Allan, air matanya kian deras. Kepalanya ia sandarkan didada bidang pria itu, karena tinggi Indira hanya sebatas dagu Allan. Ia berharap ini bukan mimpi di siang hari, karena dirinya bisa melihat dan memeluk pria itu, aroma maskulin yang wangi menyapa indera penciuman nya, aroma khas Allan yang sangat ia rindukan.


Allan membalas pelukan itu tak kalah erat, dirinya terkekeh kecil mendapat pelukan hangat gadis yang selalu membuat pikirannya kacau dan jantung didadanya berdebar-debar kencang. "Abang sangat merindukanmu sayang." Kini dirinya merasa dadanya kian sesak, karena terlalu bahagia bisa bertemu dan memeluk kembali gadis yang sangat ia cintai. Allan mencium kepala Indira berkali-kali, mencium aroma rambut yang masih sama seperti tiga tahun lalu.


Ya Allan tidak mengunjungi Indira selama tiga tahun, karena semua itu ia lakukan agar gadis itu fokus kepada kuliah dan mimpinya, meskipun begitu Allan tidak lepas mengawasi kegiatan dan kemanapun Indira pergi, meskipun dirinya harus menahan cemburu dan rasa panas didada ketika tahu jika Indira dekat dengan seorang pria.


Sejak Allan menemukan buku diary Indira yang sengaja Indira tinggalan, sejak itulah Allan tahu jika gadis yang sempat membuatnya patah hati ternyata juga mencintainya, Dan sekarang dirinya disini karena sudah tahan menahan kerinduan dan perasaan yang kian membuncah. Mereka saling melepas rindu, rindu yang sangat menyiksa kedua nya kini terbayar dengan pelukan hangat dengan perasaan yang membuncah bahagia.


"Apa kau merindukan Abang?" Masih tetap sama tidak berniat melepas pelukan mereka.


Indira hanya mengangguk, suara nya tercekat karena bahagia.


Allan hanya tersenyum. "Apa kau mencintai Abang?"


Lagi-lagi gadis itu mengangguk, Kemudian menggeleng.


Allan terkekeh geli, dan semakin mengeratkan pelukan. "Jangan bilang kalo kamu masih pacaran sama Bimo." Allan menggoda.


Indira hanya mengangguk, dirinya belum mau bicara, masih ingin memeluk pria yang sangat ia rindukan.


"Terus maksud kamu nulis kamu mencintai Abang itu apa?" Allan ingin sekali tertawa namun ia tahan, dan seolah-olah sedang marah kepada gadis itu.


Indira langsung melepas pelukannya, dirinya menatap wajah Allan, yang akan menyiratkan kemarahan.


"M-maksud Abang apa?" Indira terbata, ia menelan salivanya dengan susah. 'apakah Abang sudah membaca buku itu'. pikirannya berkelana dimana ketika dirinya meninggalkan buku diary nya.


"Katakan apa maksud kamu mencintai Abang, tapi kamu pacaran dengan keponakan Abang." Allan memasang tatapan tajam, membuat Indira bertambah ketakutan dan gugup.


"A-aku.. emmph." Ucapan nya terhenti karena Allan langsung membungkam bibirnya dengan ciuman. uluh-uluh si Abang nyosor Bae


*Flasback*


Malam hari ketika Allan datang kerumah Indira, rumah yang gadis itu tinggalkan demi meraih mimpinya. Rumah itu terawat dengan baik, karena Indira meninggalkan kunci rumah itu kepada Oma Lili, bermaksud agar Oma merawat rumah peninggalan kedua orang tuanya, dan Oma pun dengan senang hati merawat rumah itu di bantu mbok nah, dan kedua sahabat Indira, Arum dan Kiki. Kedua gadis itu sekarang dekat dengan Oma semenjak pulang dari Paris, karena Oma kesepian jadi kedua gadis itu senang menemani dan membatu Oma membersihkan rumah Indira, terkadang juga Arum mengumpulkan para biang kerok untuk membantu mereka. Oma senang bisa melihat mereka, selama Indira pergi dirinya merasa kesepian kembali.


Allan membuka pintu dengan kunci, karena dirinya yang meminta kepada Lili.


Dirinya menarik napas dalam ketika ingin membuka kamar gadis itu.


Allan duduk di kursi meja belajar Indira, dirinya menatap foto yang ada diatas meja itu, foto keluarga ketika Indira masih berusia sepuluh tahun, bahkan Allan sempat terkejut melihat foto ayah Indira.


Ia tersenyum ketika melihat sketsa gambar yang pernah ia lihat, gambar sepasang pengantin dengan menggunakan gaun panjang dan setelan jas, meskipun hanya sketsa tanpa warna namun sudah nampak indah.


Allan mengambil foto Indira remaja mungkin masih kelas dua SMA. "Gambar kamu memang cantik, tapi kamu lebih cantik." Allan mengusap foto gadis itu.


Ketika dirinya membuka laci ia melihat ada buku berwarna pink. Allan mengambilnya dirinya yakin itu adalah buku diary gadis itu.


Ia menaruh kertas itu di atas meja, dan kembali membuka buku diary itu.


Terdapat tulisan semasa gadis itu masih SMP, karena Indira menuliskan tanggal dan tahun nya.


Selembar demi selembar Allan baca, dirinya tersenyum geli ketika curahan hati Indira ketika masih duduk di bangku SMP.


Lembar terakhir Allan buka, nampaknya gadis sudah lama tidak menulis ketika duduk di bangku SMA.


Allan menemukan tulisan yang membuat jantungnya berdebar kencang, tanggal, hari dan tahun yang sangat dirinya ingat.


Dear Abang Allan


_Maaf jika Dira selalu merepotkan Abang, Indira selalu membuat Abang marah dan kecewa. Abang adalah orang baru bagi Indira tapi, Abang sangat baik dan perduli sama Indira.


_Indira banyak berhutang sama Abang, jika nanti Indira sukses, Indira akan ganti semua uang yang sudah Abang keluarkan buat Indira.


_Abang.. Indira ingin mengatakan sesuatu, mungkin Abang selalu merasa bersalah karena Abang merasa membuat aku terluka, tapi kenyataanya Indira lah yang selalu membuat Abang terluka dan kecewa.


Indira tahu perasaan yang Abang punya tulus, dan Abang sangat mencintai Indira.


Tapi dengan sengaja Indira mematahkan hati Abang, karena Indira berpacaran dengan Bimo.


Indira tidak tahu jika Abang dan Bimo adalah saudara, Indira tidak mau jika diantara kalian bermusuhan karena gadis seperti Indira, karena Bimo juga mempunyai rasa yang sama dengan Abang terhadap Indira.


_Abang... Indira minta maaf jika sampai sekarang Indira membohongi Abang dan perasaan Indira sendiri.


Indira tidak pernah berpacaran dengan Bimo, Indira hanya menjaga perasaan kalian berdua. Indira tidak pernah membalas perasaan Bimo karena Indira tidak memiliki perasaan lebih kecuali rasa sayang sebagai sahabat baik.


Maaf jika Indira sudah menaruh perasaan kepada Abang..


Indira juga mencintai Abang, tapi Indira tidak bisa mengungkapkan perasaan Indira secara langsung, karena Indira takut tidak bisa menjaga perasaan Bimo.


Maaf kan Indira yang sudah membuat Abang kecewa. Indira sangat mencintai Abang...sangat.


^^^Indira Cahaya Putri^^^


Air mata Allan tumpah dengan tawa dibibirnya. dadanya bergemuruh hebat, merasakan perasaan membuncah karena bahagia, meskipun tahu jika gadis itu membohonginya, tapi Allan tidak tahu jika gadis itu juga memiliki perasaan yang sama kepadanya.


Hatinya menghangat dengan membaca curahan gadis itu akhirnya dirinya mendapat balasan perasaan yang sama.


.


.


.


.


Duh author tu gak pandai merangkai kata, jadi cuma begitu yang bisa author curahkan..🙈 Like, komen kalian jangan lupa,, bang Allan gak malak hadiah ataupun kopi, tapi jika kalian ngefans bang Allan, boleh lah tanda mata 👉☕☕☕😜