
Napas Indira memburu dengan keringat di wajahnya, matanya terbuka lebar ketika dirinya ternyata hanya mimpi.
Tapi kenapa mimpinya seperti nyata, bahkan dirinya masih merasakan sentuhan dingin di perutnya.
"Abang..." Indira bergumam lirih, tiba-tiba perasaanya tidak nyaman.
Mengambil ponsel dan menghubungi nomor Allan, namun hanya suara operator yang menjawab.
"Abang, kenapa nomornya tidak aktif." Indira kembali menghubungi ponsel Allan namun hasilnya tetap sama.
Masih kalut memikirkan mimpinya, terdengar suara pintu di ketuk dari luar.
Indira segera beranjak dari tempat tidur, dan berharap suaminya yang datang.
"Abang..?" Namun pria yang berdiri didepannya bukan Allan.
"Jimmy..?" Kepala Indira menoleh kebelakang, mencari Allan.
"Abang, tidak bersama kamu?" Indira bertanya dengan melihat Jimmy yang membawa satu buket bunga Lily putih.
"Kenapa kamu sendiri? bukanya Abang yang sudah dijalan untuk pulang?" Tanya Indra beruntun, karena hatinya sedang cemas, pikiranya sudah memikirkan yang bukan-bukan.
"Maaf nona, saya hanya disuruh mengantar bunga ini..dan menjemput nona." Ucap Jimmy dengan wajah datar.
Melihat wajah istri bosnya nampak bingung dan panik, Jimmy tidak berani untuk berbicara terus terang, apalagi istri bosnya sedang mengandung.
"Menjemput..? Kemana?"
"Mari nona." Jimmy menyuruh Indira memasuki mobil setelah menerima bunga yang Ia bawa.
Bunga yang Jimmy temukan di dalam mobil Allan.
Di perjalanan Indira nampak gelisah dan tidak tenang, ada yang membuat hatinya merasa ngilu, namun entah apa.
"Jim, kenapa kamu bawa saya kesini?" Indira menatap bangunan besar dan ternyata rumah sakit.
"Tuan menunggu anda di dalam nona." Ucap Jimmy yang sedang membukakan pintu untuk Indira.
"Kamu jangan bercanda Jim." Indira terkekeh, namun suara tawanya terdengar pilu." Mana mungkin Abang minta ketemuan di rumah sakit." Indira menatap Jimmy dengan mata uang sudah berkaca-kaca, dirinya sudah memikirkan apa yang terjadi dengan suaminya.
"Mari nona saya tunjukkan tempatnya." Jimmy berjalan diikuti oleh Indira.
Meskipun ingin menyangkal tentang apa yang Ia pikirkan, namun melihat kemana Jimmy membawanya membuatnya semakin yakin jika terjadi sesuatu pada suaminya.
Jimmy membawa Indira keruang ICU, disana sudah ada Lili yang duduk degan menangis.
"Mama...?" Indira berjalan dengan langkah kaki yang diseret, tidak..tidak mungkin suaminya kenapa-kenapa?.
"Sayang..." Lili pun berdiri dan langsung memeluk Indira dengan tangis yang pecah.
"Mah, kenapa mama disini? Mana Abang?" Tanya Indira yang sudah melepaskan pelukannya, dirinya menengok kekiri dan kanan mencari suaminya.
Meskipun begitu wajah Indira tidak menunjukan raut biasa saja, justru Indira seperti menahan rasa yang begitu mengiris hatinya.
Lili menggeleng dan menangkup wajah menantunya. "Kamu yang sabar sayang, Al pasti akan baik-baik saja." Lili kembali memeluk Indira, ketika air mata gadis itu jatuh yang sejak tadi berusaha ia tahan.
"Maksud mama apa? Abang pasti baik-baik saja?" Bunga yang Indra pegang seketika langsung terjatuh ketika mendengar ucapan Lili.
Lili semakin erat mendekap tubuh Indira dari samping, dan matanya tertuju pada Jimmy yang berdiri dengan wajah sendu.
Jimmy maju dan membantu Indira untuk duduk. "Nona maaf, tuan mengalami kecelakaan ketika ingin pulang." Jimmy berbicara dengan menunduk setelah melihat reaksi istri tuanya. "Di jalan tuan menghindari orang yang akan menyebrang, dan tuan membanting setir hingga membuat kecelakaan tunggal itu terjadi, mobil yang di kendarai tuan berguling hingga menabrak pembatas jalan..Dan sebuah mobil menabrak mo_"
"Cukup Jim cukup..!!" Indira berteriak dengan suara tangis yang pilu, dirinya tidak bisa membayangkan betapa parahnya kondisi suaminya.
"Sabar sayang...sabar.." Lili nampak kesulitan untuk menenangkan Indira yang meraung dengan tubuh dalam keadaan hamil.
"Sayang..!!'
"Nona..!!"
Indira tak sadarkan diri dengan wajah basah air mata, bahkan hidung Indira mengeluarkan darah.
"Jimmy cepat panggil dokter..!" Lili panik dalam tangisnya, melihat menantunya tak sadarkan diri dengan hidung mengeluarkan darah.q
"Ya Tuhan..kenapa engkau berikan cobaan seperti ini pada keluargaku.." Lili memeluk Indira sebelum dokter dan suster datang dan membawa Indira untuk di periksa.
.
.
Di kantor Allan sedang melakukan pertemuan dengan klien nya yang berasal dari Jepang, dirinya yang ingin menemani sang istri di rumahnya, namun karena Jimmy menghubungi alhasil dirinya harus rela meninggalkan istri tercinta.
"Apa ada lagi pertemuan Jim?" Tanya Allan setelah mengantar tamunya sampai pintu lift.
"Tidak ada tuan, hanya beberapa berkas yang harus anda tanda tangani." Ucap Jimmy yang mengekori Allan dibelakang.
"Segera kamu bawa keruangan saya." Allan masuk dan duduk di kursi kebesarannya.
Tak berselang lama Jimmy memberikan berkas-berkas yang harus Allan tanda tangani.
Dua jam Allan menyelesaikan berkas yang lumayan banyak dan harus dirinya pelajari secara detail. Hingga melupakan jam makan siangnya yang sudah janji pada istrinya.
Allan keluar kantor pukul dua siang, dirinya segera melajukan mobilnya menuju rumah Indira.
"Kalau kaya gini bisa ngambek bini dirumah." Allan melihat kanan dan kiri pandanganya tertuju pada sebuah toko bunga yang berada di pinggir jalan.
Mobilnya pelan dan berhenti di pinggir jalan, keluar dari mobil masuk ke dalam toko bunga.
"Cari apa pak?" Tanya pelayan toko yang ternyata wanita paruh baya.
"Hem..saya mau membelikan bunga untuk istri saya, tapi saya tidak tahu selain bunga mawar?" Ucap Allan kepada pemilik toko.
"Mungkin bunga Lili putih ini bisa untuk anda berikan pada istri Anda." pemilik toko mengambilkan setangkai bunga Lili putih.
"Bunga Lili putih melambangkan kesucian dan kemurnian."
"Baiklah, berikan saya bunga itu Bu."
Allan menunggu sebentar untuk dibuatkan satu buket bunga yang ia pesan, lalu membayarnya.
"Semoga Indira tidak merajuk karena menungguku terlalu lama." Allan memasang sealtbeat bersamaan bunyi ponselnya pesan masuk.
"Sebentar lagi Abang sampai sayang, tunggu ya.."
Allan membalas pesan istrinya dengan senyum.
Allan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit kencang, mengingat istrinya sudah menunggu terlalu lama dirinya.
Mendadak tangan nya membanting setir kemudi, ketika seseorang dengan tiba-tiba ingin menyebrang. Allan mengarahkan mobilnya ke kanan hingga mobil nya melebar, menabrak pembatas jalan.
Braaakk
Suara dentuman keras seketika membuat pengemudi lainya berhenti, dan karena mobil dari arah berlawanan melaju dengan kencang tidak dapat mengendalikan rem nya, alhasil mobil Allan tertabrak dan berguling hingga terseret beberapa meter.
Suara gaduh yang berasal dari mobil Allan membuat warga sekitar langsung menghubungi Ambulans terdekat.
Indira belum sadarkan diri, sudah satu jam lamanya wanita hamil itu berbaring di brankar.
Lili mengusap kepala Indira dengan sayang, dokter mengatakan jika Indira syok dan jiwanya terguncang, beruntung dokter segera menangani sehingga tidak menimbulkan efek serius pada kehamilannya.
"Kamu pasti kuat sayang, kalian harus berjuang."
.
.
Bang Al dan neng Indira lagi berjuang bersamaπ
ADA YANG TAHU INI JUDUL COVER UNTUK SIAPAπ€π
πππππ