Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part41


"Yakin Bisa dirumah sendiri." Allan bertanya dengan menatap wajah cemberut Indira.


Tadi malam terjadi perdebatan alot antara Allan dan Indira, gadis itu yang terus kekeh ingin pulang apalagi melihat kemesuman Allan semakin menjadi-jadi, membuat dirinya waspada terhadap pria tampan yang sayang nya menyebalkan itu.


"Hem.." Indira hanya bergumam dengan duduk santai di sofa rumah, dirinya tidak perduli jika pria disampingnya terus saja menggerutu kesal, karena pagi buta dirinya meminta diantar pulang kerumah.


Pihak rumah sakit pun mengijinkan karena memang Indira yang sebenarnya sudah boleh pulang, tetapi karena Allan yang memaksa minta dirawat.


"Yakin kamu ngusir Abang pergi?" Allan memastikan kembali ucapan gadis itu, entah mengapa Indira hanya diam sejak tadi malam ketika Allan sedikit memaksa berbuat mesum kepada Indira. Entah memang sifat Allan, atau karena Indira lah Allan menjadi mesum. author juga Binggung gaess😂


Indira hanya mengangguk, dirinya berdiri berjalan menuju kamarnya dengan cepat ia menutup pintu dan menguncinya.


Allan merasa prustasi gadis itu tidak mau bicara dengan nya, semenjak keluar dari rumah sakit. "Ra.." Allan mengetuk pintu kamar Indira. "Jangan bikin Abang kepikiran kamu Ra, tolong bilang kalau Abang punya salah, Abang minta maaf Ra, tapi jangan seperti ini." Allan berbicara dengan suara sedikit keras agar didalam sana Indira bisa mendengarnya.


Tidak ada sahutan dari dalam dan Allan sudah cukup lama berdiri dibalik pintu tertutup itu.


Allan pergi dengan perasaan berkecamuk, kesalahan apa yang ia perbuat hingga membuat gadisnya marah, apakah perlakuan dirinya tadi malam sangat keterlaluan, padahal gadis itu juga menikmatinya.


Allan masuk mobil dengan membanting pintu keras, kepalanya ia benturkan kesetir kemudi. "Arrgghh..!!" Allan benci perasaan seperti ini, dirinya tidak pernah merasakan seperti ini ketika kekasihnya dulu marah ataupun mendiamkan nya.


Dengan pandangan nanar Allan pergi meninggalkan rumah Indira, jam menunjukan masih pukul lima pagi, ketika keluar dari rumah sakit pukul empat pagi.


Didalam kamar gadis itu menangis sesenggukan, dirinya merasa menjadi gadis murahan, bahkan ia sangat menikmati apa yang Allan lakukan, hingga ia terbuai dan menuruti keinginan pria itu. Tengah malam Indira bangun dari tidurnya karena mendengar suara Allan yang mengigau memanggil nama seorang perempuan.


"Jangan tinggalin aku sayang"


"Tolong maafkan aku Liona"


"Aku sangat mencintaimu


Ucapan Allan berputar-putar dikepalanya, pikiran nya selalu bertanya-tanya siapa wanita yang bernama Liona itu. Apakah kekasih Allan?


kata-kata Allan begitu menusuk jantungnya, ia tidak tahu kenapa bisa merasakan hatinya sakit ketika mendengar Allan sangat mencintai gadis bernama Liona itu, bahkan dalam tidurpun Allan memimpikan gadis itu.


"Loe kenapa sih Ay, ini bukan diri loe." Indira memukul dadanya yang terasa sesak, kini dirinya sadar jika ia sudah mempunyai perasaan lebih kepada Allan, perasaan yang membuatnya merasakan sakit dihatinya.


"Loe gak boleh seperti ini, loe harus lawan perasaan tak seharusnya ini." Indira mencoba menguatkan hatinya. Dirinya tidak mau lagi terjebak kedalam permainan Allan yang mungkin hanya memanfaatkan nya.


Dirinya kembali merebahkan tubuhnya di kasur, dirinya sudah tidak mengantuk lagi, tetapi hatinya perlu istirahat.


............................


"Sayang Apa kamu belum punya pacar?" Tanya Oma Lili.


Pagi ini dimeja makan rumah Aditama ada empat orang yang sedang menikmati sarapan pagi. Leina yang datang beserta anak dan suaminya menginap dirumah Lili.


"Aku sih gak yakin ma, kalau cucu Mama yang paling ganteng itu punya pacar." Leina mencibir putranya.


Bimo hanya memutar bola matanya malas, mamanya selalu meledeknya jika ditanya masalah pacar.


"Masa sih Oma tidak percaya, jika cucu Oma yang ganteng ini tidak bisa membuat para cewek tahluk." Oma Lili tertawa melihat wajah masam cucunya.


"Kapan-kapan Bimo ajak teman Bimo kesini Oma." Ucapnya seraya melirik Mama nya dengan sinis. Sejak tadi Leina sedang cekikikan menertawakan Bimo.


"Dih dia langsung panas." Leina berbisik kepada suaminya.


Rendy hanya geleng kepala melihat kelakuan istri dan anaknya yang terkadang seperti kucing dan anjing.


"Beneran kamu gak bohong kan, apa hanya untuk memanasi mamamu." Tanya Oma Lili memastikan, karena dia hafal sifat anak dan cucunya itu.


"Ck.. Bimo serius Oma." Bimo berdiri menyudahi sarapan nya. "Bimo berangkat dulu Oma." Pamitnya seraya mencium tangan dan mencium kening dua wanita yang menyebalkan namun sangat ia sayangi.


"Bimo ada urusan ma..!!"


"Hisss dasar anak muda jaman sekarang." Leina mendengus sebal, mendengar teriakan putranya.


.................................


Bimo melajukan motor nya kerumah Indira, ketika keluar rumah dirinya langsung melajukan motornya menuju rumah sakit, dan sampai sana ternyata kamar itu sudah kosong, dan Bimo menghubungi nomor gadis itu yang katanya sudaha ada dirumah.


Bimo sampai didepan rumah Indira dan kebetulan gadis itu sedang mengunci pintu rumah dengan penampilan rapih memakai seragam sekolah.


"Loe mau berangkat sekolah." Bimo menatap Indira yang berjalan mendekati dirinya yang masih duduk diatas motor.


"Ya.. gue udah baikan bosen dirumah." Meskipun suara gadis itu biasa saja, tapi Bimo bisa melihat wajah gadis itu nampak murung.


"Apa ada masalah Ay?" Bimo bertanya dengan menggenggam tangan Indira.


Gadis itu hanya tersenyum dan menggeleng, nampak sekali jika Indira sedang tidak baik-baik saja, karena Indira yang Bimo kenal adalah gadis ceria dan cerewet.


"Loe gak bisa bohongin gue Ay." Bimo memberikan helm kepada Indira, dirinya tidak akan bertanya lebih jika Indira belum mau bercerita kepadanya.


Indira menerima helm yang diberikan Bimo dalam diam.


Setelah Indira naik, Bimo segera melajukan motornya menuju sekolah Nusa Bangsa.


Sepanjang jalan hanya bising suara kendaraan lalu lalang dijalan, mereka berdua sama-sama diam dengan pikiran masing-masing.


Arum dan Kiki menunggu diparkiran, karena Indira sempat menerima pesan jika ia akan berangkat sekolah.


"Nah tu si Indira." Kiki melihat motor yang dikendarai Bimo, dengan Indira yang dibonceng.


"Hay Rum, Ki. " Indira menyapa kedua sahabatnya dan memeluk mereka berdua.


"Bim kita duluan ya." Indira tersenyum manis dan membawa dua sahabatnya berjalan menuju kelas.


Bimo hanya mengangguk dengan senyum.


"Bay.. babang Bimo nya Kiki yang tampan."


"Hisss lebay." Arum merangkul lengan Kiki dan menyeretnya.


Bimo menatap punggung Indira dengan wajah sendu, kenapa gadis itu tidak mau terbuka dan bercerita tentang masalah yang ia hadapi kepada dirinya.


Apakah hanya dirinya yang mempunyai perasaan lebih dengan gadis itu, karena dirinya sadar beberapa hari belakangan ini gadis itu sedikit berbeda dengan dirinya.


"Gue gak tau Ay, apa yang terjadi sama loe, tapi gue gak akan pernah bisa menjauh dari loe."


.


.


.


.


.


tinggalkan jejak kalian para pembaca yang udah mampir😄 jangan lupa like..komen.. syukur-syukur hadiah meluncur🤣🤣