Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part55


Seorang gadis cantik yang baru saja turun dari pesawat, duduk didalam burung besi untuk yang pertama kali dengan perjalanan memakan kurang lebih 17jam, dari bandara Soekarno Hatta menuju bandara Charles de Gaulle Paris/Prancis itu.


Indira sudah ditunggu oleh seorang supir yang menjemputnya atas perintah Allan.


"Miss Indira." Pria yang menggunakan jas itu menyapa Indira, ketika ia melihat wajah gadis yang sudah Allan kirim lewat foto.


"Yes sir.." Indira tersenyum membalas sapaan itu.


"Can you speack Indonesia sir?" (apa anda bisa berbahasa Indonesia tuan) tanya Indira kepada pria yang lumayan masih muda itu.


Pria itu tersenyum dan mengangguk. "Saya bisa nona, karena saya lahir di Indonesia. __ mari saya antar ke apartemen nona." Pria itu membuka pintu mobil menyuruh Indira masuk.


"Terima kasih tuan." Indira masuk dan duduk dikursi penumpang.


Mobil berjalan meninggalkan bandara menuju tempat dimana tempat tinggal Indira.


"Apakah nona senang bisa datang ke negara romantis ini?" tanya pria itu yang fokus menyetir tapi sesekali melihat kebelakang lewat kaca spion, nampak Indira yang sangat antusias melihat bangunan-bangunan yang megah.


"Ya saya senang, ini adalah pengalaman pertama saya diluar negeri." Indira berbinar bahagia berbicara.


Pria itu diam-diam mengirim pesan kepada seseorang.


"Baiklah jika hari libur saya akan mengajak Anda mendatangi tempat-tempat hiburan disini." Pria itu tersenyum.


"Benarkah..?" Indira senang bukan main.


"Ya.. asalkan kuliah anda tidak ada jadwal."


"Terima kasih tuan." Indira tersenyum lebar, dirinya beruntung mendapat orang baik didekatnya.


"Oya.. saya belum tau nama anda tuan?"


"Nama saya Nicolas nona, panggil saja Nico."


"Ohh...apa anda teman Bang Allan?" Tanya Indira dengan jantung berdebar ketika mengatakan nama Allan.


"Ya.. saya disini ditugaskan untuk mengawal nona." Ucap pria itu lagi.


"Mengawal?" Indira bingung.


"Tuan Allan menugaskan saya untuk mengantar nona kemanapun, dan mengurus kuliah nona disini." Pria itu berujar.


"Tapi kenapa?"


"Hanya tuan yang tahu nona, saya hanya menjalankan tugas."


Mobil berhenti di kawasan apartemen dekat dengan universitas ESSA.


ESSA_ Ecole duperre.


ESSA adalah perguruan tinggi seni dan disaine negeri. Sekolah ini terletak diparis. Duperre melatih siswa untuk karir kreatif dibidang fasion dan tekstil, serta desain lingkugan dan grafis. dan ada juga pelatihan untuk disainer di bidang tekstil, (bordir, tenun, dan permadani) dan keramik.




Mobil yang dikendarai Nicolas sampai didepan basemen Apartemen.


Nicolas turun membukakan pintu untuk Indira, kemudian mengambil koper di bagasi mobil.


"Mari nona saya antar." Ucap Nicolas.


"Tidak usah panggil nona, panggil saja Indira." Pinta gadis itu.


"Baiklah Dira." pria itu mengamini.


"Terimakasih." mereka berjalan memasuki lift yang akan menuju lantai lima apartemen Indira.


Melihat apartemen yang besar dan mewah Indira yakin jika Allan kembali mengeluarkan uang banyak untuk nya.


Mereka sampai didepan pintu kamar Indira, Nicolas menekan bel. "Sandi apartemen ini adalah tanggal lahir kamu." Nicolas memberi tahu.


Pintu dibuka dari dalam oleh seorang wanita yang masih muda.


"Tu es venu Cher?" ( kamu sudah datang sayang?). Tanya seorang wanita cantik yang sepertinya asli orang Prancis.


"Oiu Mon Cher..entre." (Ya sayang..masuk)


"Mari Indira masuk." ucap Nicolas.


Setelah masuk Nicolas memperkenalkan wanita itu. "Perkenalkan dia istri saya namanya Biana, asli orang Prancis." Nicolas memperkenalkan istrinya.


"Biana.." Wanita itu mengulurkan tangan.


"Indira.." Disambut hangat oleh Indira.


"Biana bisa sedikit-sedikit bahasa Indonesia, jadi dia akan mengerti jika kamu bicara dengan nya." ucap Nico.


"terimakasih.."


"Kami pergi dulu, kamu bisa istirahat, disini semua sudah lengkap, jika ada apa-apa hubungi saya, no saya ada di buku dekat telpon, cari saja." Nico berucap panjang lebar.


"Baiklah... terimakasih, senang berkenalan dengan anda nona Biana." Indira tersenyum manis.


"Selamat datang juga Indira, semoga betah di negara ini."


Indira melihat-lihat kedalam, berkeliling ada satu kamar besar dan dapur lengkap dengan isinya, ruang tamu terpisah oleh ruang televisi. ada juga mini bar yang langsung mengarah ke dapur cukup mewah dan lengkap dengan isinya, Indira tidak tahu lagi harus mengucapkan apa kepada Allan. yang jelas dirinya harus menjadi yang terbaik dengan hasil yang membanggakan nanti.


"Abang.. terimakasih...Dira akan berusaha menjadi yang terbaik, yang bisa membuat Abang dan Oma bangga." Indira menitikan air mata, dirinya berjalan mengambil figuran ibu dan ayahnya bersama dirinya ketika masih umur 3tahun.


"Mama, papa, Aya janji akan membuat kalian bangga diatas sana, Aya disini bertemu dengan orang-orang baik, papa mama yang tenang disana, Jagan khawatir dengan Aya, Aya akan baik-baik saja." Indira mencium dan memeluk foto itu kedekapannya.


.................


Pagi hari di Jakarta Allan baru saja membersihkan diri, dan memakai pakaian kantornya, setelah selesai ia mengambil ponsel yang sedari tadi malam ia charger.


Menghidupkan ponsel, beberapa pesan masuk, tapi yang membuatnya tertarik adalah pesan dari Nicolas.


"Nona Indira sudah sampai tuan."


Hanya pesan seperti itu sudah membuatnya tersenyum. " Semoga kamu berhasil meraih mimpimu sayang." Allan menatap foto wallpaper di ponselnya yang tertera wajah cantik Indira. Allan mengambil foto itu dari medsos Indira.


Ia segera keluar kamar menuju meja makan, dan ternyata sudah ada Siska pagi-pagi seperti ini. Allan memang tidak perduli dengan wanita itu, bagi dirinya bersifat manis pada Siska hanya untuk membuat Indira cemburu.


"Allan ayo makan, aku bawain makanan kesukaan kamu, ini Mama aku yang masak." Siska dengan senyum mengembang.


Siska menunjukan sambal balado kentang+ampela kepada Allan yang sudah mbok Nah siapkan.


"Pagi mah." Allan menyapa Lili dan duduk disamping Lili, dirinya hanya tersenyum menanggapi ucapan Siska.


"Sarapan nak, Siska sudah jauh-jauh bawain makanan kesukaan kamu." Ucap Lili menatap Siska dengan senyum, yang ditatap tersipu malu.


"Terimakasih, seharusnya kamu tidak usah repot-repot kesini pagi-pagi dan bawain makanan." Ucap Allan santai namun mengandung sindiran, itupun jika yang disindir merasa..wkwkwk


"Hanya kebetulan mama pas masak itu, dan Tante juga pernah bilang makanan kesukaan kamu, jadi ya sekalian aku bawain buat kamu." Siska masih tersenyum manis kepada Allan, padahal yang dikasih senyum hanya berwajah datar.


"Mama sudah menerima pesan dari Indira?" Tanya Allan pada Lili yang sedang memakan roti lapis.


"Sudah, mama baru buka pagi tadi, mungkin dirinya baru sampai dan langsung kirim pesan jadi masuknya dini hari tadi." Jawab Lili.


"Memang pelayan itu kemana Tante." Siska bertanya namun membuat Allan menahan kesal. Meskipun dirinya yang mengenalkan Indira sebagai pelayan, waktu dirinya sedang emosi dan kecewa, jadi tidak sadar dirinya sudah menyakiti perasaan gadis itu.


Allan memejamkan mata dan menyudahi makan nya, padahal baru sedikit ia makan. "Ma Allan berangkat dulu, Allan lupa jika ada metting penting." metting penting hanya alibi Allan agar tidak mendengar ucapan Siska lagi.


"Tapi makan mu baru sedikit nak?"


"Nanti Allan makan dikantor lagi." Allan segera mencium pipi Lili dan pergi begitu saja tanpa mendengar panggilan Siska yang ingin berangkat bersama dirinya.


"Allan,, kok aku ditinggalin sih." Siska kesal dengan wajah masam, susah sekali mengambil hati pria itu, batinnya.


"Sudah nak, dimakan lagi, nanti biar supir yang mengantarmu." Lili mencoba menghibur.


Siska pun akhirnya kembali duduk dan menikmati makanannya.


.......................


Ponsel Indira berdering dimalam hari, dirinya sudah ingin tidur tetapi getaran ponsel mengganggunya.


"Duh siapa sih malam-malam gini." Mengambil ponsel dan melihat tertera nama 'BajajBemo' nama yang sudah paten sejak mereka masih SMA, Bimo Vidio call.


"Hay..." Begitu di geser tombol hijau wajah tampan Bimo memenuhi layar pintarnya.


"Bemo nyebelin, gue udah mau tarik selimut malah suara dering dari bajaj bemo." Indira cemberut dengan wajah kesal.


Bimo tersenyum mendengar ocehan gadis itu. " Kalo gue telpon nya malem, kasian loe nya baru bangun tidur, tar gue liat loe masih ileran lagi." Bimo tertawa sudah berhasil membuat gadis itu melotot kesal menatap nya.


"Loe tambah nyebelin sih, Gue matiin ni ponsel." Ancam Indira.


"Dih ngambek... iya sorry jangan ngambek Ay, tambah cantik tau."


Gombal bang.


"Sejak kapan loe bisa ngegombal bemo."


"Sejak jauh dari loe Ay." Ucap Bimo tersenyum.


"Dih loe jangan sok jadi Casanova disana bemo, tar para gadis pada bolong semua loe perawanin." Cibir Indira.


"Belum gue jadi Casanova mereka udah bolong duluan Oneng." Bimo kesal mendengar cibiran Indira, dirinya tidak mungkin melakukan hal seperti itu, Bimo hanya ingin menggoda Indira saja.


Percakapan mereka hingga memakan waktu 30menit karena Indira yang sudah mengantuk dan besok ada kuliah pagi, sedang kan Bimo sudah berada di kampus akan segera memulai belajar.


Bimo sudah tahu jika Indira berangkat ke Paris, Bimo juga tahu jika Om nya yang mengirim Indira kesana, meskipun Indira tidak bercerita hubungannya dengan Allan, tapi Bimo bisa menghargai itu jika gadis itu belum mau bercerita.


Mereka sering melakukan panggilan dan mengirim pesan, Bimo yang sudah ikhlas melepaskan Indira bukan untuk bersamanya, dan Indira yang sudah mulai fokus dengan kuliahnya, meskipun bayang-bayang Allan masih sering menghiasi pikirannya.


Apakah Indira merindukan pria dewasa itu?


Jawabnya adalah 'ya' karena hatinya masih bertaut kepada pria dewasa yang sudah melakukan banyak hal kepadanya.


.


.


.


.


Aku terhura... 😭😭 popularitasku sudah 1M. tanpa kalian yang setia membaca tulisan recehku, aku bukanlah apa-apa. hanya ucapan terimakasih yang bisa author sampaikan, semoga kalian semua diberikan kesehatan. author sayang klean semua penggemar Alay..😘😘 Like..komen..hadiah kalian selalu dinantiπŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ™πŸ˜˜