Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part68


🌹


🌹


🌹


Indira sudah tak bisa lagi menahan air matanya, ketika mendengar ucapan papa Bimo, di dalam pesawat menuju Indonesia dirinya hanya diam dalam pandangan kosong, bahkan Bimo yang bicara pun tidak ia respon, tanpa suara dan air mata ia mencoba untuk tidak ingin menangis lagi, namun mendengar ucapan barusan membuat dirinya kembali menjatuhkan air mata.


"Yang sabar Ay, kita berdoa agar Om baik-baik saja." Lagi Bimo memeluk tubuh Indira dengan hangat, tubuh yang biasa kuat kini terlihat rapuh. bahkan mata gadis itu sudah bengkak karena lelah menangis.


Tak lama seorang dokter keluar dari dalam dan mereka pun segera menghampiri dokter itu.


"Keadaan pasien sangat lemah dan masih kritis. Jadi kalian bantu doa agar pasien segera melewati masa kritisnya." Ucap dokter itu dan pergi setelah memperbolehkan satu orang masuk menemui pasien.


Indira masuk dengan langkah gontai, tubuhnya terasa berat seperti tertimpa batu berton-ton, melihat pria yang sedang terbujur lemah dan wajah pucat, serta alat pernapasan yang terpasang di hidung dan mulut pria itu.


Indira duduk di kursi samping ranjang Allan, dirinya menangis terisak dengan suara lemah, ia mengelus lembut kepala Allan yang sedang memejamkan mata rapat.


"Abang..hiks..hiks.. Dira udah pulang, Dira berhasil lulus dengan nilai terbaik. "Indira menutup mulutnya dengan tangan kirinya ketika Isak tangis tak bisa ia tahan, dan tangan kanan nya masih mengelus pucuk kepala Allan. "Apa Abang tidak mau memberiku selamat? Abang pernah bilang kalau aku lulus Abang akan menjemput ku, tapi kenapa Abang seperti ini." Air mata yang ia rasa sudah kering kini malah kembali mengalir deras tanpa mau berhenti. dadanya terasa sesak, hatinya berdenyut nyeri, kenapa hal seperti ini harus terjadi ketika dirinya baru saja bahagia bisa mendapatkan nilai terbaik dan akan ia beritahu kepada Allan bahwa dirinya tidak mengecewakan pria yang sudah membantunya hingga bisa sampai seperti ini.


"Bangun Abang.. Indira rindu ketika Abang marah dan mengomel, tolong bangun." Indira menunduk, menempelkan kepalanya di lengan Allan. "Tolong bangun, peluk aku sekali saja." Karena lelah menangis Indira pun terlelap.


.


.


.


.


.


.


Disepanjang malam yang sunyi terdengar lenguhan kecil, dan merasakan kepalanya dielus. Ia berfikir ini hanya mimpi, dirinya tidak mau bangun jika hanya mimpi.


"Sayanggg."


Indira membuka mata, dan menghapus air mata yang membasahi pipinya. Dirinya mendongak dan melihat mata Allan sudah terbuka.


"Abang.." Tangis nya pecah karena bahagia melihat Allan kembali membuka mata.


"Abang sadar." Indira segera memanggil dokter. bahkan Rendy, Bimo dan Jimmy yang masih menunggu di luar pun terkejut ketika pintu dibuka kasar dan Indira berteriak memanggil dokter.


"Ra..ada apa?" Wajah Rendy nampak panik, penasaran kenapa Indira memanggil dokter dan berteriak.


"Om Al kenapa Ay?" Bimo juga cemas mendapati Indira berlinang air mata.


"Abang...Abang sudah sadar." Dengan tangis dan senyum ia bicara dan langsung memeluk Bimo.


Mereka semua bersyukur dan bernapas lega, karena sempat panik melihat kepanikan Indira seperti alarm bahaya bagi mereka.


"Syukurlah, aku akan hubungi Mama." Rendy segera menyingkir dan memberi kabar kepada istri dan mertuanya.


Jimmy juga nampak lega, dan mengucap syukur.


"Gue yakin Om Al pasti kuat Ay." Bimo tersenyum dan merasa lega bahwa Allan sudah sadar. Ia memeluk Indira erat gadis itu masih sesenggukan.


"Gue takut jika Abang gak sadar Bim, gue takut." Ucapnya dengan masih memeluk Bimo.


"Dia pasti kuat buat loe Ay." Dada Bimo terasa sesak ketika mengucapkan nya. 'Gue terlalu dalam memiliki perasaan ini ay'


.


.


.


.


.


.


Kini Allan sudah dipindahkan diruang rawat ketika kesehatannya sudah stabil, dan ruangan itu dipenuhi oleh keluarganya.


Allan masih tertidur ketika dokter memberikan obat agar bisa cepat pulih dengan banyak istirahat.


"Sayang..selamat ya kamu lulus dengan nilai terbaik." Lili memeluk tubuh gadis yang sangat ia rindukan itu, kini dirinya bisa kembali memeluknya.


Lili mengelus rambut Indira lembut. "Doa kita, dan kerja keras kamu yang bisa membuat kita semua bangga."


Lili mengingat dimana pertama mereka bertemu, dan rasa kasihan itu muncul ketika melihat gadis belia yang sangat ceria dan baik meminta pekerjaan darinya.


"Dira sangat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Oma, jika tidak maka Dira gak tau akan seperti apa kehidupan Dira." Mata Indira kembali mengeluarkan air mata, bahkan Lili dan Leina pun ikut meneteskan air mata.


Kebetulan para pria keluar sedang mencari makanan, dan Jimmy kembali mengurus kantor yang sempat kacau karena berita kecelakaan CEO Aditama Grub.


"Sudah takdirmu bertemu Oma dan menjadi wanita yang kuat dan cerdas, Oma bangga padamu nak." Mereka kembali berpelukan, Leina pun ikut memeluk keduanya.


Meskipun dirinya juga tahu jika putranya sempat menyukai Indira, dan ternyata hanya bertepuk sebelah tangan karena gadis itu mencintai pria lain, yang ternyata adik kandungnya. Leina pun tidak pernah membenci atau menghakimi Indira, karena dirinya juga pernah merasakan cinta dan memiliki perasaan dengan orang lain tanpa kita menyuruh, meskipun ada pria lainnya yang sangat mencintainya.


.


.


.


.


.


Allan bersandar di ranjang pasien dengan di bantal yang mengganjal di punggungnya agar terasa nyaman.


"Sayang maaf, jika Abang membuatmu khawatir." Nampak raut wajah penyesalan Dimata Allan, dirinya yang berniat memberi kejutan dan merayakan kelulusan Indira malah mengalami kecelakaan, bersyukur dirinya selamat dari kecelakaan maut itu.


"Kenapa minta maaf, justru aku yang harus minta maaf, karena ingin menemui ku Abang jadi seperti ini." Ucap Indira dengan wajah sendu.


Allan mengusap pipi Indira dengan punggung tangan nya yang tidak di infus. "Jangan merasa bersalah, Abang juga tidak tahu akan seperti ini, Abang hanya bersyukur masih bisa diberi kesempatan untuk melihatmu lagi." Nampak wajah Allan yang masih terlihat goresan luka yang mengering. ia menatap dalam dan penuh cinta ketika wajah yang biasa ceria itu kini terlihat muram.


"Indira janji, tidak akan membuat Abang marah, asal Abang selalu ada buat aku." Indira menyandarkan kepalanya didada Allan. Dengan tangan melingkar di pinggang pria itu.


Mereka hanya berdua didalam ruang rawat itu, karena Rendy dan Bimo memutuskan pulang untuk membersihkan diri dan beristirahat. karena dari Allan masuk rumah sakit mereka belum sempat pulang. Leina pun juga mengantar Lili pulang, agar wanita itu bisa istirahat dengan teratur.


Allan merasa dadanya berdebar dan hatinya menghangat, ternyata gadis itu juga merasa takut kehilangannya.


Empat tahun dirinya menunggu gadis itu untuk menyelesaikan jenjang kuliahnya, hingga sekarang gadis itu mendapat nilai kelulusan yang memuaskan. Dirinya sudah banyak menyiapkan kejutan untuk Indira ketika gadis itu pulang ke tanah air. Beruntung dirinya masih di beri kesempatan melihat dunia kembali setelah mengalami kecelakaan pesawat yang banyak menewaskan korban.


"Ra..?"


"Ya..?"


"Kita nikah yuk..!"


.


.


.


.


.


Ehem..ehem..banyak yang ngarep dan menunggu kamu nikahin neng Aya loh bang, jangan ada lagi drama bang, Deterjen pada galau, dan eke jadi sasaran🤣👈👈.


.


.


.Hay para reader sahabat tersayang author, tinggalkan jejak like..komen kalian yah.. karena dukungan kalian sangat berarti🤗.


.


.


Autor sedih loh, padahal yang baca setiap hari lebih dari 10k, tapi jejak like kalian gak sampe 700 setiap hari😭😭 Semangati author dong, tinggalkan jempol ataupun unek-unek kalian dikolom komentar😂 Bila perlu kalian kirim hadiah yang banyak 🤣🤣👈


.


.


.


MAMPIR YUKK👇👇👇