Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part77


๐ŸŒน


๐ŸŒน


๐ŸŒน


Bimo sampai di kantor dengan wajah kesal apalagi kejadian sebelum sampai kantor membuat mood nya benar-benar hancur.


"Pagi pak..?" Para karyawan menyapa bos muda yang masih menjadi wakil CEO dikantor Bagaskara Grub. Seperti biasa Bimo hanya berjalan tanpa menjawab sapaan para karyawan nya. Perlu digaris bawahi, dari jaman 'Bemo Sayang' masih SMA dirinya tidak pernah akrab kepada siapapun kecuali ke empat sahabatnya dan Indira. Sifat dingin dan cuek Bimo masih menempel seperti prangko hingga sampai sekarang.


"Hahh.." Bimo menghela napas kasar, menyandarkan kepalanya di kursi. masih pagi mood nya sudah hancur, apalagi ada pertemuan yang harus dirinya hadiri.


"Kamu baru sampai?" Rendy papa Bimo, masuk keruangan wakil CEO ketika melihat putranya baru saja tiba.


Bimo duduk tegak ketika suara papanya ia dengar. "Ia Pah, tadi ada insiden kecil waktu dijalan." Meskipun bicara dengan papanya, namun saat dikantor Bimo akan menggunakan sopan santunnya terhadap atasan.


"Ya sudah biar papa yang temui klien pagi ini, kamu tolong cek dan pelajari berkas ini." Rendy memberikan map dokumen kepada putranya.


"Baik, terimakasih lah." Bimo tersenyum, sungguh papanya sangat pengertian sekali.


"Lain kali kamu harus siap, apapun keadaan kamu." Rendy menepuk pundak putranya, dirinya bisa melihat wajah putranya yang kusir kayak jemuran belum disetrika, dari pada berantakan lebih baik dirinya mengalah.


"Oke Pah." Rendy keluar dari ruangan Bimo.


"Ah, untung papa tau mood gue lagi ancur." Bimo meraih gagang telpon berniat menghubunginya OB untuk membuatkannya kopi.


"Antar kan kopi keruangan saya." Dan Bimo segera menutup gagang telpon, tanpa mendengar jawaban diseberang sana.


tok..tok..tok..


"Masuk?".


Seorang OG masuk dengan membawa nampan berisikan kopi pesanan bosnya.


"Kopinya pak." Ucap OG itu lalu menaruh kopi di atas meja.


"Hem." tanpa menoleh ataupun melihat, Bimo masih fokus menatap dokumenya. Dan tangan nya pun meraih gagang gelas kopi, lalu ia menyesapnya.


Byuurrr


Semburan kopi panas melayang hingga berceceran dilantai.


"Kam_" Untuk kepersekian detik keduanya bertatap mata, Bimo lebih dulu memutus kontak mata. "Kamu? kenapa bisa disini?" Bimo menatap tajam gadis yang sudah membuat mood nya buruk tadi pagi, dan kini malah bertemu gadis itu lagi sebagai OG.


"Maaf pak. Saya baru bekerja hari ini." Gadis itu menunduk dengan takut, ternyata pria tadi pagi yang ia tabrak mobilnya adalah bosnya.


"Baru bekerja, sudah bikin kesalahan dua kali." Dengan sorot mata tajam dan dingin menatap gadis yang sedang ketakutan di depan nya.


"Maaf pak." Hanya ucapan maaf yang bisa gadis itu ucapkan agar tidak dipecat dihari pertamanya bekerja.


"Kalau kamu tidak bisa membedakan gula dan garam, lebih baik kamu tidak usah bekerja." Bimo dengan tidak berperasaan bicara ketus dan sinis kepada gadis itu.


"Keluar kamu sekarang.!" Bimo yang geram karena bosan hanya mendengar kata maaf dari gadis itupun mengusirnya dari ruangan.


"Sekali lagi saya minta maaf." Sebelum pergi gadis itu menunduk hormat, tanpa berani menatap atau menaikkan kepalanya.


"Ck. jaman sekarang, orang tidak bisa apa-apa tapi diterima bekerja." Bimo menggerutu, dirinya kembali mengerjakan pekerjaan yang belum selesai.


Sore ini rumah utama Aditama nampak ramai, karena Indira dan Allan berada dirumah itu, satu jam yang lalu.


Kebahagiaanya dua sejoli yang menjadi pengantin baru pun nampak wajah berseri dan bahagia.


"Sayang, aku keruang kerjaku dulu ya." Allan mencium kepala istrinya setelah meminta ijin.


"Nak, bagaiman kabarmu?" Lili bertanya kabar, padahal tidak sampai satu minggu dirinya tidak bertemu dengan menantunya itu.


"Baik ma." Indira tersenyum mengelus tangan Lili. kini Indira harus terbiasa dengan sebutan mama, tidak Oma lagi.


"Mama senang melihat kalian bahagia." Lili mengelus kepala Indira dengan sayang. dirinya sangat bahagia melihat putranya menikah dengan gadis yang juga mencintainya.


"Mama tenang saja, Indira akan menjadi istri dan menantu yang baik, agar Dira bisa bahagiain mama dan Abang."


Lili merangkul tubuh menantunya untuk ia peluk. Sungguh Allan sangat beruntung mendapatkan isteri seperti Indira. "Terimakasih sayang, kamu mau menjadi menantu keluarga Aditama." Lili meneteskan air mata, andai suaminya masih hidup, pasti juga sangat bahagia seperti yang ia rasakan sekarang.


"Justru Dira yang berterima kasih ma, karena mama dan keluarga mau menerima Indira." Indira mengusap pipi ibu mertuanya yang basah karena air mata.


"Mama beruntung mendapat kan menantu sepertimu." Mereka berpelukan dengan hangat. keduanya menyanyangi dan mencintai dengan tulus.


Sudah dua Minggu Indira menyandang status sebagai istri Allan, dirinya yang selalu melayani suaminya apapun itu dari bangun tidur hingga tidur lagi, Indira biasakan melayani sang suami. Dirinya juga sudah membuka toko butik yang suaminya berikan, Indira sudah mendapatkan karyawan atas rekomendasi dari suami melalui sahabatnya yang juga memiliki toko pakaian.


Indira mulai memainkan keahliannya dengan mendisaine. Dirinya sudah mendapat puluhan gambar dan siap untuk di produksi.


"Sayang..?" Allan yang baru saja pulang kantor mendapati istrinya yang ketiduran dimeja dengan banyak tumpukan kertas gambar hasil desaine nya. "Kamu kelelahan." Bagaimana tidak jika malam hari Indira dibuat lelah oleh suaminya yang tidak pernah puas dengan tubuhnya meskipun sudah berulang kali. Dan terkadang lagi hari suaminya itu meminta jatah kembali. Jadi Indira kelelahan ketika waktu tidurnya berkurang alhasil sekarang dirinya tepar bersama gambar disaine yang ia kerjakan.


Allan membopong tubuh sang istri keatas ranjang, bahkan Indira tidak terusik.


"Maaf sudah membuatmu lelah." Allan mencium kening istrinya setelah menarik selimut hingga batas dada, dirinya langsung melesat kekamar mandi untuk membersihkan diri.


Mau minta saran dong, cerita Bimo mau aku buat tapi belum pasti mau di lanjut disini apa bikin lapak lain dengan judul yang sama? Emak author masih galau.๐Ÿคฃ


Like...komen kalian jangan lupa YESS...Meskipun Mak author gak bisa balas satu persatu komen kalian, percayalah Mak author selalu membaca setiap komenan kalian๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜