
Waktu terus saja berganti, bulan sudah berlalu, kini usia kandungan Indira sudah memasuki bulan ke tujuh, di saat seperti ini dirinya selalu di awasi oleh suami dan mama mertua, meskipun terkadang merasa berlebihan namun Indira tetap bersyukur dan menikmati apapun yang mereka lakukan untuk kebaikannya.
Beruntung memiliki keluarga yang sangat menyayanginya.
Indira meminta Allan untuk mengantarkannya ke rumah peninggalan kedua orang tuanya, yang sudah lama dirinya tidak kunjungi karena rumah itu telah dirinya sewakan. Dan sekarang rumah itu kosong beberapa Minggu yang lalu.
Rumah yang asri masih sama seperti dulu, hanya warna cat rumah dan beberapa bagian yang sempat di renovasi oleh Allan, karena memang rumah itu sudah cukup tua, dan sekarang terlihat baru lagi setelah di renovasi.
Indira memandangi rumahnya ketika baru saja turun dari mobil. "Aku merindukan kenangan dirumah ini Abang." Indira nampak tersenyum menatap bangunan rumah di depannya.
Allan mendekati sang istri berdiri disamping dan memeluk bahunya.
"Andai mama dan papa masih hidup mereka pasti senang melihat aku sedang mengandung cucu mereka." Indira mengelus perut buncitnya.
"Hm.. mereka melihat kamu dari atas sana sayang, mereka pasti bahagia." Allan mendaratkan kecupan di kepala Indira.
Keduanya berjalan masuk kedalam rumah, keadaan nya sangat bersih dan terawat karena memang selain di sewakan jika tidak ada penghuninya Allan menyuruh salah satu pelayan untuk datang membersihkan rumah setiap hari.
"Abang pergi saja ke kantor, aku akan disini menunggu Abang pulang." Indira duduk di sofa diikuti Allan yang duduk di samping nya.
"Kamu disini sendirian sayang, Abang takut terjadi sesuatu." Allan mengelus perut Indira, dan gerakan kecil terasa di tangannya.
"Lihat dia juga takut terjadi sesuatu dengan mamanya." Allan mengusap dan mengecupi perut Indira.
Indra hanya tersenyum merasakan elusan dan gerakan bayi dalam perut nya.
"Abang sok tau ih.."
Drt..Drt..
Suara ponsel Allan bergetar. "Ck. siapa sih." decak nya dengan melihat nama yang tertera.
"Halo Jim."
"..."
"Baik, saya segera kesana."
Allan memasukkan kembali ponselnya pada saku celana.
"Kenapa? pasti Jimmy nyariin kamu kan." Indira tertawa melihat wajah kesal suaminya.
"Hem.. Abang harus ke kantor, kamu beneran tidak apa-apa disini sendiri?" Tanya Allan memastikan karena dirumah ini tidak ada siapa-siapa.
"Gak pa-pa Abang, nanti jam makan siang Abang kesini ya, aku masakin buat kita." Indira mengelus pipi suaminya.
"Tapi di sini tidak ada apa-apa kamu mau masak pake apa?" Tanya Allan yang memang tahu tidak ada persediaan makanan.
Indira melihat jam di tangannya. "Sebentar lagi biasanya tukang sayur keliling lewat, aku bisa belanja."
"Baik lah tapi ingat jangan capek-capek." Allan berdiri dan membantu Indira juga berdiri.
"Iya...papa."
"Duhh...bikin gemes aja sih, denger suara kamu." Allan menarik hidung Indira.
"Buruan Abang, nanti Jimmy nunggu lama." Indira melepas tangan Allan dari hidungnya.
"Biarin." Allan mendekatkan wajahnya dengan Indira. "Abang butuh vitamin." Dan bibir keduanya menempel.
Tangan Allan memegangi kedua sisi wajah Indira, sapuan lembut terasa di bibir, Allan memanggut benda kenyal yang sangat candu dengan penuh perasaan.
"Sudah nanti Abang kebablasan." Allan menjauhkan wajahnya dan mengusap bibir Indira yang basah oleh salivanya.
"Hm..Abang hati-hati, jangan lupa makan siang." Indira mengantar Allan sampai depan pintu.
"Iya sayang, kamu juga kabari Abang jika ingin sesuatu." Allan mencium kening Indira, dan berlalu masuk kedalam mobil.
.
.
"Iya, Bu kangen rumah jadi main kesini." Ucapnya dengan sambil memilih sayuran yang ingin ia masak.
"Wah, udah berapa bulan neng kandungannya, jarang kemari tau-tau udah hamil." Tanya ibu yang satunya.
"Alhamdullah sudah mau masuk delapan bulan Bu." ucapnya yang sudah selesai memilih sayuran.
"Sudah mang, tolong di hitung."
"Baik neng, sebentar mamang hitung."
"Duh si Eneng sedang hamil tapi makin cantik aja." Ucap ibu itu lagi.
"Mungkin bawaan bayi Bu." Ucap Indira sekenanya.
"Ini neng semuanya jadi 120ribu." Ucap tukang sayur sambil memberikan kantung belanjaan Indira.
"Ini mang." Indira memberikan uang pas.
"Mari ibu, saya duluan mau masak juga." Salam nya kepada ibu-ibu yang masih memilih sayuran.
Indira menyiapkan bahan yang akan dirinya masak, ketika melihat jam sudah pukul setengah sebelas siang.
"Yang gampang aja deh, takut waktunya gak keburu." Ingin memasak kesukaan suaminya namun takut waktunya tidak keburu karena hari sudah siang.
Alhasil dirinya hanya memasak tumis kangkung lauk ayam dan tempe goreng, menu praktis yang Allan sukai.
Jam setengah dua belas Indira sudah menyelesaikan masak nya, dan mengirim pesan jam berapa Allan akan pulang.
"Katanya sebentar lagi tapi udah mau satu jam kok gak sampai-sampai." Keluh nya yang merasa bosan menunggu Allan tak kunjung sampai.
Indira beranjak dari ruang tamu menuju kamarnya, merasa gerah dan mengantuk dirinya memutuskan untuk mandi.
Tiga puluh menit dirinya selesai mandi, namun tanda-tanda suaminya akan pulang belum terlihat, Indira memakai baju daster milik mamanya yang masih tersimpan karena dirumah itu baju yang ia miliki sudah tidak muat lagi, karena perut nya yang besar.
Merebahkan diri di atas ranjang dengan bermain ponsel membuat dirinya menjadi mengantuk dan akhirnya ketiduran.
Indira terlelap dalam tidurnya karena lelah menunggu.
Tidak tahu berapa lama dirinya terlelap hingga merasakan sesuatu menyentuh bibirnya kenyal dan basah. "Abang.." Tangannya mengusap mata agar terlihat jelas sosok suami tampan nya yang tersenyum padanya.
"Maaf mengganggu tidurmu." Allan kembali mengecup bibir istrinya.
Indira tersenyum dan menyentuh wajah suaminya. "Abang baru pulang."
"Hm.. maaf Abang membuatmu menunggu lama." Alla meraih tangan Indira untuk di kecup.
"Jam berapa sekarang?" Indira melirik jam yang berada di dinding kamarnya.
"Jam tiga sayang." Allan kembali mengecup bibir istrinya.
"Abang makan dulu." Indira ingin beranjak namun Allan mencegahnya.
"Nanti saja, Abang hanya ingin memastikan kamu tidak marah menunggu Abang lama." Allan menatap lekat wajah istrinya dengan senyum.
"Dira gak marah Abang, hanya kesal katanya sebentar lagi sampai. Tapi sampai hampir sore begini Abang baru sampai." Indira menyentuh tangan suaminya yang terasa dingin.
"Maaf Abang membuatmu kesal." Tatapan mata Allan tidak lepas dari wajah Indira, hingga membuatnya merasa aneh.
"Abang kenapa natap aku seperti itu, terus tangan Abang kenapa dingin sekali." Tanya nya dengan wajah yang bingung, tidak biasanya suaminya itu menatap nya seperti itu.
"Tidak apa-apa Abang hanya merindukanmu, jaga diri kamu dan anak kita ya..Abang takut terjadi sesuatu kalau Abang tidak ada." Allan menyentuh perut buncit Indra, bahkan dinginnya tangan Allan sampai menembus kulitnya yang terhalang kain.
Indira merasa tidak tenang, dirinya gelisah dengan keringat dingin keluar di area pelipisnya.
"Abang, Abang mau kemana? Abang belum makan." Indira bertanya, karena Allan berdiri dan hendak pergi lagi, padahal dirinya sudah menyiapkan makanan.
"Abang... tunggu..!!"