
🌹
🌹
🌹
Ketika sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya tersenyum sendiri, tiba-tiba merasakan goncangan begitu keras dalam pesawat, dan nampak seluruh penumpang berteriak histeris.
Semakin lama goncangan itu tak terkendali, hingga semua nampak berputar-putar dan tiba-tiba suara dentuman keras menggema di udara, bersaman dengan suara teriakan yang hilang.
Prangg
Indira yang sedang mengambil gelas untuk minum tiba-tiba gelas itu jatuh dan pecah.
"Kenapa bisa jatuh sih." Indira mengambil sapu dan membersihkan pecahan gelas itu, tiba-tiba dirinya merasa sesak didadanya.
"Abang." Ia teringat dengan Allan, terakhir pria itu mengirim pesan yang hendak akan bertolak ke Paris.
Indira segera meraih ponselnya ia menghubungi nomor Allan namun tidak aktif.
"Siapa? siapa?." Indira mondar mandir memikirkan nomor siapa yang bisa ia hubungi. "Om Nico." Indira langsung menghubungi Nicolas karena pria itu pasti tahu sesuatu.
"Halo Om, apa Abang sudah kasih kabar?" Serbu Indira setelah sambungan telpon tersambung.
"Om lagi menunggu berita dari lokasi Ra." suara Nicolas terdengar panik diseberang sana.
"Maksud Om berita apa." Mendengar ucapan Nicolas membuat pikiranya mulai khawatir dan dadanya berdebar karena takut terjadi sesuatu.
"Pesawat yang Allan tumpangi mengalami kecelakaan Ra, masih di daerah Indonesia."
Deg
Indira menutut mulutnya dengan kedua tangan nya, ponsel yang ia genggam jatuh kelantai.
"Abang..!!" tubuhnya luruh kelantai, rasa takut dan sesak menjalar di tubuhnya. Air matanya tak lagi terbendung Indira menangis terisak duduk dilantai dengan menenggelamkan wajahnya dikedua lututnya.
"Abang..hiks..hiks..kenapa jadi begini.." Sesak didadanya kian menjadi ketika sekelebat bayangan wajah Allan yang tersenyum manis menghampiri ingatannya.
"Ay.." Bimo datang dan langsung memeluk tubuh Indira yang menangis terisak terdengar pilu, Bimo merasa dadanya ikut nyeri.
"Abang Bim, bilang kalo itu bohong Bim." Indira mengguncang tubuh Bimo yang memeluk dirinya.
"Sabar Ay, kita berdoa semoga Om Al, baik-baik saja." Bimo merasakan apa yang Indira rasakan, ketika mendengar orang yang paling kita sayangi mengalami kecelakaan.
"Abang gak mungkin ninggalin gue Bim." Tangis Indira semakin keras dalam dekapan Bimo.
"Gue yakin Om Al pria yang kuat." Bimo terus mencoba memberi kekuatan kepada gadis itu, melihat melihat gadis itu menangis untuk kesekian kali ketika kehilangan orang yang paling ia cintai.
'Semoga Om baik-baik saja'
Bimo meneteskan air matanya, dirinya tidak bisa melihat Indira seperti ini. "Besok kita akan pulang Ay, kita akan mencari informasi disana."
Indira hanya diam, tanpa harus bicara apa dirinya merasa sudah tak bisa lagi berpikir jernih, bayangan pesawat yang jatuh menghantui pikirannya. 'Abang..jangan tinggalin Dira sendiri, Dira gak bisa jalani hidup Dira dengan baik jika Abang pergi dari dira'
............................
Hal yang sama terjadi di Indonesia, Lili pun sudah tak berkata lagi selain mendoakan keselamatan putranya dalam hati, air mata nya sudah habis mengering bahkan dirinya sempat pingsan dan mendapat perawatan.
Leina menemani Lili di rumah, saluran tv terus menyala menyiarkan berita tentang pesawat yang jatuh karena kecelakaan, nama-nama penumpang pun berjejer di laman layar itu, bahkan nama Allanaro Putra Aditama menjadi topik utama berita siaran itu.
"Lei, adik kamu pasti baik-baik saja." Ingin rasanya Lili ikut mendatangi tempat terjadinya kecelakaan itu, dirinya ingin mengetahui keberadaan putranya yang belum ditemukan.
"Lei yakin Ma, Al pria yang kuat pasti baik-baik saja." Bibirnya menguatkan tapi matanya basah dengan air mata yang mengalir.
.........................
Jimmy dan Rendy suami Leina ikut terjun langsung ke lokasi kejadian mereka berdua ingin memastikan dan mencari keberadaan Allan.
Banyak korban yang ditemukan namun sudah tak bernyawa, bahkan ada juga yang bagian organ tubuhnya ditemukan terpisah, Jimmy dan Rendy yang melihat para korban hanya bisa berdoa dan berharap semoga bos sekaligus adik ipar itu selamat.
"Bagaimana pak, apa ada tanda-tanda keberadaan adik ipar saya?" Rendy bertanya kepada tim SAR yang baru saja turun dari kapal yang beroperasi mencari para korban.
"Maaf pak, kita baru saja menemukan korban, namun belum teridentifikasi identitas korban." Petugas itu menyuruh anak buahnya menurunkan kantong jenazah dan menaruh didepan Rendy dan Jimmy, agar bisa melihat dan mengenali siapa korban itu.
"Jim." Tubuh Rendy sudah gemetar ketika petugas membuka resleting kantong berwarna oranye itu.
Jimmy hanya diam dengan wajah datar, dalam hati dirinya berdoa agar jenazah itu bukanlah bosnya.
Rendy memejamkan matanya ketika melihat wajah korban yang ternyata bukan Allan. "Bukan pak."
Dan para petugas pun kembali membawa jenazah itu ketempat yang lain.
"Pak disana ada korban.!!" Terdengar teriakan dari arah yang lumayan jauh oleh tim penyelamat, dan mereka yang mendengar langsung menyusul asal suara itu.
Randy dan Jimmy pun ikut menaiki kapal jet kecil untuk melihat siapa korban yang mereka temukan.
"Dimana korban nya?" Jimmy segera turun dan bertanya langsung setelah sampai dipinggiran pulau kecil yang nampak banyak pepohonan.
"Disana pak." Petugas itu menunjuk kearah pohon yang banyak akar, terlihat seseorang tersangkut di akar pohon itu.
"Jim, kita kesana." Randy pun mengajak Jimmy untuk mendekati korban, dengan berenang karena kapal mereka tidak bisa mendekati kearah korban.
"Allan..!!"
"Tuan..!!"
Mereka berdua berteriak bersamaan ketika melihat seseorang yang tersangkut itu adalah Allanaro.
"Allan." Rendy langsung mencoba membawa tubuh Allan keluar dari akar-akar pohon itu dibantu oleh Jimmy dan para petugas yang sudah datang.
Seorang petugas mengecek keadaan Allan, dan ternyata korban masih bernapas.
"Ini sungguh keajaiban tuan, korban masih bernapas meskipun lemah." Ucap petugas itu membuat Rendy dan Jimmy merasa lega, bahkan keduanya sudah menitikan air mata.
"Allan bertahanlah." Rendy memeluk tubuh adik iparnya yang lemah dan banyak goresan luka dibagian tubuhnya.
......................
Berita ditemukan nya korban selamat bernama Allanaro Putra Aditama tersebar kepenjuru kota, karena hanya tiga orang yang selamat atas kecelakaan pesawat itu, dan satu diantaranya adalah Allanaro.
Lili sujud syukur mendengar putranya selamat, dan Leina ikut bersyukur adik satu-satunya selamat dari kecelakaan maut itu.
Kini mereka sedang menunggu diluar ruangan, karena Allan langsung dilarikan kerumah sakit agar mendapat penanganan yang insentif.
Siang berganti malam, kini malam pun terlewati dengan kesunyian hanya Rendy dan Jimmy yang menunggu Allan di rumah sakit, karena dokter harus melakukan pengecekan total atas permintaan Lili.
Leina pulang bersama Lili karena kondisi wanita paruh baya itu yang sedang kurang sehat akibat kabar tersebut, Rendy menyuruh Leina menunggu dirumah.
Dari arah lorong terdengar suara langkah kaki yang sedang tergesa-gesa nampak Bimo dan Indira yang baru saja tiba, dan langsung menuju rumah sakit ketika mendapat kabar bahwa Allan ditemukan.
"Bimo." Rendy yang melihat putranya langsung berdiri.
"Papa, bagaimana keadaan Om Al?" Tanya Bimo ketika sampai didepan papanya.
Hanya helaian napas berat yang mereka dengar. "Keadaan sangat lemah waktu kita menemukannya, jadi masih belum sadar dan dokter didalam sedang menangani."
Indira sudah tak bisa lagi menahan air matanya, ketika mendengar ucapan papa Bimo, di dalam pesawat menuju Indonesia dirinya hanya diam dalam pandangan kosong, bahkan Bimo yang bicara pun tidak ia respon, tanpa suara dan air mata ia mencoba untuk tidak ingin menangis lagi, namun mendengar ucapan barusan membuat dirinya kembali menjatuhkan air mata.
"Yang sabar Ay, kita berdoa agar Om baik-baik saja." Lagi Bimo memeluk tubuh Indira dengan hangat, tubuh yang biasa kuat kini terlihat rapuh. bahkan mata gadis itu sudah bengkak karena lelah menangis.