Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part87


Perjalanan keluar kota memakan waktu dua jam karena Allan akan mengunjungi anak perusahaannya yang berada di Bandung. Karena ada sedikit kendala di anak cabang terpaksa Allan mendatangi kantornya yang berada dibandung, dirinya mengajak sang istri untuk sekalian berlibur.


Sekarang bagi Allan ke mana pun dirinya bertolak karena pekerjaan sebisa mungkin dirinya mengajak sang istri.


Kini mereka sampai di salah satu hotel milik keluarga Aditama, Allan mengajak istrinya menginap di hotel keluarga yang ada di Bandung.


“Kok nama hotelnya sama kayak yang di Jakarta bang.” Tanya Indira yang melihat logo besar di atas bangunan tinggi itu.


“Itu memang hotel keluarga Aditama sayang.” Ucap Allan tersenyum kepada Indira. Istrinya ini sangat aneh, jika istri orang lain akan menghitung dan mengingat-ingat aset harta suaminya, tapi lihatlah Indira seberapa kekayaan Allan saja Indira tidak tahu.


“Berarti punya Abang dong.” Tanya Indira lagi sambil menatap wajah suaminya.


“Hm, apa kamu belum tahu aset-aset kekayaan suamimu ini?” Tanya Allan dengan dahi mengkerut.


Indora hanya menggeleng kepala. “Buat apa aku tanya, toh nanti juga aku yang nikmatin.” Ucap nya sangat santai.


Keduanya keluar dari mobil ketika sudah sampai didepan loby hotel, Allan dan istri disambut langsung oleh manager hotel.


“Selamat datang pak Allanaro dan nyonya.” Sapa manager yang bernama Beni. “Mari saya antar kekamar anda.”


“Terima kasih pak Beni.” Allan pun menggandeng Indira, dan barang-barang nya dibawakan oleh supir. Allan tidak mengajak Jimmy karena Jimmy harus mengurus yang ada di pusat selama Allan tinggal ke Bandung.


“Siang pak, Bu.” Beberapa karyawan yang mengenali bosnya menyapa dengan ramah, dan di balas Allan dan juga Indira.


“Silahkan.” Pak Beni membuka pintu kamar VVIP khusus untuk presedir mereka, kamar itu tidak pernah disewakan, hanya untuk Allan jika bertandang ke Bandung.


“Terima kasih pak Beni.” Ucap Allan ramah, dan Indira hanya tersenyum.


“Jika ada apa-apa anda bisa menghubungi saya pak, saya akan siap melayani.” Ucap pak Beni di depan bos besar nya itu.


“Baik pak.”


“Kalau begitu saya permisi, selamat beristirahat.” Pak Beni menjabat tangan Allan dan juga Indira.


Allan merangkul bahu istrinya untuk masuk kedalam melihat desain kamar yang sangat besar dan mewah.


“Apa kamar ini juga disewakan Bang?” Tanya Indira yang kagum melihat desaine mewah kamar suaminya.


“Tidak sayang, kamar ini khusus aku desain untuk ku sendiri.” Allan memeluk tubuh istrinya dari belakang, ketika Indira berdiri didepan jendela kaca besar mengarah pada pusat kota yang indah pada sore hari.


“Aku kira juga disewakan, pasti mahal kalo disewakan.” Ucap Indira yang masih tidak bisa membayangkan berapa uang yang harus mereka keluarkan untuk menginap di kamar super mewah ini dengan fasilitas lengkap dan pemandangan sangat bagus.


“Sayang nya kau tidak menyediakan kamar dengan desain seperti ini disini sayang.” Allan memiringkan kepalanya untukenciumi tengkuk istrinya.


“Hm..” Allan hanya bergumam dan masih melanjutkan aksinya hingga membuat tanda bercak merah di bagian leher hingga belakang telinga Indira.


“Abang menginginkan mu.” Allan langsung membalikan tubuh istrinya dan kini posisi mereka berhadapan.


Bibir keduanya menyatu dengan hasrat, Allan menahan tengkuk Indira memperdalam ciuman nya.


“Shh.. Abang.” Indira merancau ketika bibir Allan menyusuri leher depan nya sehingga membuat Indira mendongakkan kepalanya.


Kecapan lidah Allan yang memberi tanda kepemilikan terdengar begitu nyaring dikamar mewah itu, kini tangannya merambat naik mencari area favoritnya.


Keduanya sudah terbakar oleh gairah, dan hasrat yang begitu menggebu-gebu di dalan dada.


Allan menarik resleting dress Indira di belakang, dan tidak melepas cumbuan di bibir.


Tangan Allan menurunkan baju yang Indira kenakan, kini Indira hanya memakai dalaman saja. Tangan Indira mengalung dileher Allan, dengan sigap Allan mengangkat tubuh istrinya seperti koala tanpa melepas pangutan bibir mereka.


Indira terlentang dia atas tempat tidur sedangkan Allan berusaha membuka penutup kain terakhir yang melekat di tubuhnya.


Kini keduanya sudah polos, Allan mendekati wajah istrinya. “Semoga disini cepat tumbuh malaikat kecil kembali.” Allan menundukkan kepalanya danencium dalam perut rata istrinya.


“Amin, semoga sayang.” Indira mengamini ucapan suaminya. Dan detik berikutnya hanya terdengar suara desa*han dan era*ngan yang saling bersahut-sahutan di kamar itu.


.


.


.


“Duh ni kenapa sih mobil aku.”


Rere menepikan mobilnya ketika mobilnya sebelum mesin mobilnya mati. Ia kembali mencoba menstater agar kembali hidup namun nihil mesin mobilnya tidak mau hidup kembali.


“Ah apes deh hari ini.” Rere keluar dari mobil setelah memencet tombol untuk membuka kap depan mobilnya.


“Duh mana aku gak ngerti.” Rere mengedarkan pandangan nya kesekeliling namun tidak ada bengkel yang terlihat, dan jalanan sore ini cukup lenggang. “Mana gak ada bengkel lagi.” Rere mendesah pasrah, dirinya kembali menutup kap mobilnya Dan berdiri dipinggir jalan, siapa tahu ada yang memberi pertolongan.



JANGAN LUPA MAMPIR..🙏🙏