
🌹
🌹
🌹
Kini keduanya sudah ada didalam Apartemen, wajah Indira nampak kesal melihat kelakuan Allan. Bagaimana tidak ketika dirinya sampai diapartemen meninggalkan dua pria yang sedang adu jotos kini nampak keduanya sedang menikmati masakan nya tanpa rasa malu dan bersalah.
Allan dan Riko yang bergelut hingga wajah mereka nampak bekas biru namun tak membuat keduanya kapok. Dipisahkan oleh Security lantas mereka berdua kembali beradu mulut bahkan sampai lepar-lemparan sendok masing-masing dimeja makan.
Indira yang melihat itu langsung berdiri meninggalkan kedua pria dewasa yang sebenarnya seperti anak kecil memperebutkan mainan.
"Loe kenapa ngelempar gue anyingg.!" Riko menatap Allan dengan sorot permusuhan.
"Loe kalo sama orang yang lebih tua harus ngalah." Allan melempar serbet kearah Riko hingga mengenai wajahnya.
Mereka kembali tidak sadar jika wanita yang tadinya duduk dengan tenang kini kembali meninggalkan mereka berdua.
"Gara-gara loe muka ganteng gue bonyok." Riko kembali melayang kan serbet kearah Allan namun pria itu bisa menangkapnya.
"Cih..ganteng loe gak guna, cewek gue aja nolak loe." Ucapnya Allan jumawa.
"Cewek loe." Riko menatap remeh. "Loe gak bakalan biarin dia selamat tiga tahun menunggu loe hanya untuk bertemu."
Deg
Sindiran Riko membuat dada Allan berdenyut, dirinya tidak pernah berfikir jika gadis itu menunggu nya selama ini.
"Kenapa? baru tau loe." Riko kembali melayangkan tatapan remeh.
"Dam it..!!" Allan memukul meja dengan keras, tatapannya menghunus menatap tajam Riko.
"Jika loe bukan siapa-siapa dia, pasti udah gue bikin lu bonyok." Allan pergi dengan rasa bersalah dan dada bergemuruh, dirinya tidak tahu jika gadis itu selama ini menunggu dirinya datang. Bahkan Allan saja baru tahu belum lama jika gadis itu juga memiliki perasaan kepadanya.
Sedangkan Riko mencerna ucapan Allan barusan. 'Bukan siapa-siapa dia? apa maksudnya'.
Di sebuah tempat yang membuat mata semua orang terpana melihat keindahan bangunan menara Eiffel dimalam hari, pemandangan itu nampak menakjubkan hingga membuat seseorang untuk tidak mau beranjak pergi dari sana.
Indira menatap kerlap-kerlip lampu yang berada di menara Eiffel, dirinya merasa nyaman jika menatap bangunan indah itu.
"Disini rupanya." Allan memeluk tubuh kecil Indira dari belakang. Dirinya gelisah mencari gadis itu tidak ada di manapun, dan ketika ia melihat GPS ponsel gadis itu menunjukan disini sekarang.
Nico memasang alat pelacak itu di ponsel Indira, karena Allan yang menyuruhnya.
Indira tidak menoleh dirinya tau suara berat itu milik siapa.
"Kamu marah sama Abang?" Allan merapatkan pelukannya ketika angin berhembus membuat suasana dingin.
"Apa pemandangan itu lebih indah dari pada menatap wajah Abang." Allan membalikan tubuh gadis itu, dirinya menatap wajah cantik Indira.
Allan menangkup wajah Indira dengan kedua tangannya. "Maaf jika Abang membuatmu menderita dengan menunggu Abang menemuimu." Wajah Allan menampilkan wajah bersalah dan penyesalan. "Abang yang bodoh tidak bisa memahami mu."
Indira menatap wajah yang nampak penyesalan, bibirnya tersenyum. "Bukan salah Abang, aku juga minta maaf jika tidak jujur kepada Abang." Indira memegangi tangan Allan yang berada di pipinya.
Bibir Allan tersenyum, namun hatinya terasa nyeri. gadis didepannya sangat kuat bahkan bisa menutupi rasa yang mungkin membuatnya tidak baik-baik saja.
"Aku mencintaimu Indira Cahaya Putri." Allan mengecup kening Indira dalam.
Indira memejamkan mata, merasakan ciuman tulus yang diberikan Allan.
"Apa kamu memaafkan Abang." tanya Allan dengan wajah memohon.
"Sebelum Abang minta maaf Dira sudah maafin Abang." Indira tersenyum, senyum yang begitu tulus.
"Mungkin Abang pria yang tak tau diri, Abang yang selalu membuatmu terluka tetapi Abang tidak menyerah sebelum mendapatkan kamu." Allan menggenggam tangan Indira dan menatap imstens Indira. "Indira mau kah kau menikah dengan ku." Allan berucap dengan sungguh dan tulus.
Indira merasa angin disekitarnya berhenti sehingga membuat napas nya berhenti sejenak. Ia menatap wajah dan kedua mata Allan, ucapan pria itu tulus tanpa ada kebohongan. Perasaan nya pun sama, dirinya juga mencintai Allan.
Indira tidak tau harus menjawab apa, dirinya hanya mampu menganggukkan kepala dengan air mata yang mengalir.
Seketika rasa bahagia menjalar ditubuh Allan, dirinya merasa amat sangat bahagian. "beneran kamu terima Abang?" tanya Allan dengan tidak percaya.
Indira kembali mengangguk. "Iya."
Allan memeluk tubuh Indira erat dirinya merasa sangat bahagia hingga dadanya berdebar-debar ingin meledak.
"Aarkkhh.." dengan gerakan tiba-tiba Allan mengangkat tubuh Indira dan berputar-putar demi meluapkan kebahagiaanya.
Mereka tertawa bersama, saling meluapkan rasa bahagia hingga tidak tahu harus dengan cara apa meluapkan rasa yang sangat membuncah keduanya.
"Indira..I Love You..!!!!" Allan berteriak keras hingga beberapa orang melihat kearahnya.
"Abang.. hahaha." Indira tertawa lepas mendengar teriakan Allan.
Napas kedua nya memburu dengan dada naik turun.
"Abang Dira lelah." Dengan napas tersengal Indira berbicara namun masih tersisa tawa.
Allan menatap wajah cantik dengan senyum yang mengembang, dirinya tidak percaya ucapanya terbalas dan membuatnya merasakan bahagia yang tak terkira.
"Terimakasih..terimakasih sudah menerima Abang." Allan menempelkan keningnya, ke kening Indira. "Abang sangat mencintaimu." Allan mengecup bibir Indira dengan lembut. menyalurkan rasa cinta yang begitu tulus dan besar kepada gadis itu.
Keduanya larut dalam rasa bahagia, hingga melupakan dimana mereka kini berada.