Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part76


🌹


🌹


🌹


Tak cukup sekali Allan melakukan rutinitas suami istri itu ketika mereka sudah menjadi pasangan halal. Kini kamar mandi nampak menjadi ruangan panas ketika suara Des*han dan eran*gan keduanya menggema di ruangan kamar mandi itu.


Setelah bangun pagi, Indira yang sedang berada di dalam balthub berendam untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa pegal dan perih diarea sensitifnya, kesempatan itu digunakan untuk Allan menggempur tubuh istrinya yang membuatnya tidak bisa menolak. Allan sengaja menyusul istrinya dan kebetulan pintu tidak dikunci alhasil mereka melakukan aksi percintaan didalam kamar mandi.


"Ah..Abang." tubuh Indira bergetar ketika gelombang kenikmatan itu lagi-lagi menghampirinya, bahkan dirinya sudah tiga kali pelepasan, tapi sang suami belum juga mendapatkan pelepasan.


"Emh... kamu nikmat sekali sayang." Allan memompa lebih cepat pinggulnya ketika sesuatu mendesaknya ingin meledak. Tubuh Indira terguncang tangan nya berpegang erat pada besi di pinggiran dinding, karena mereka bercinta dengan menggunakan gaya *****-*****. Suara era*ngan dan desa*han Indira sudah tak tertahankan ketika Allan bergerak kian cepat dan brutal, hingga keduanya menggerang bersama dengan Allan memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Terimakasih sayang." Allan menciumi punggung istrinya dengan napas yang masih memburu. Tubuh Indira sudah lemas, kakinya pun bergetar, jika tubuhnya tidak ditahan oleh Allan maka sudah pasti dirinya sudah ambruk ke lantai.


"Kita mandi dan sarapan." Allan membopong tubuh istrinya menuju balthub kembali, berendam sebentar dengan air hangat, dan membilas di bawah guyuran shower.


Indira hanya pasrah ketika suaminya membantunya mandi, tenaganya sudah terkuras habis selama hampir satu jam dirinya digempur oleh rudal Allan.


.


.


.


.


.


.


.


Bimo melajukan mobilnya dengan sedikit kencang karena pagi ini dirinya ada pertemuan penting dengan rekan bisnisnya, karena cuaca yang sedang tidak bersahabat dan pagi ini gerimis pun mengguyur kota.


Di pertigaan seseorang menggunakan motor metiknya yang juga sedang buru-buru ingin berangkat kerja dihari pertama, namun nasib sial menghampirinya.


Tiiiiiiinnnnnn brak.


Karena ingin menyebrang tidak melihat kanan kiri, alhasil motor yang ia kendarai menabrak mobil Lamborghini hitam yang sedang melintas.


"Auwwss... ahh skala banget sih." orang itu meri*ntih ketika merasakan siku tangan dan lututnya terasa perih, meskipun memakai mantel hujan tetapi dirinya bisa merasakan sakit.


"Dam.It" pengemudi mobil mengumpat kesal, dirinya yang sudah buru-buru harus mendapat masalah dengan mobilnya yang ditabrak.


"Kalo mau nyebrang lihat jalan dong..!!" Bimo menatap seseorang yang sedang berusaha mendirikan motornya yang roboh, tanpa mau membantunya karena sudah kesal ditabrak. motor orang itu lumayan rusak parah karena menghantam mobil itu, bodi spakbor dan dasboard motor matik itu pecah, kaca spion pun sudah lepas dari tempatnya.


"Kamu, gak lihat saya lagi kesusahan. bukanya bantuin malah marah-marah." Ucap orang itu yang ternyata seorang wanita.


Bimo menatap datar orang itu, tangan nya mencekram erat payung yang ia gunakan. "Kamu harus ganti rugi, lihat karena ulah kamu mobil saya jadi lecet." Bimo menunjuk bodi mobil mewahnya lecet dan sedikit baret.


"Kalo saya ganti rugi sama kamu, siapa yang mau ganti rugi motor saya." perempuan itu berbicara dengan nada ketus dan menatap tajam Bimo. Gerimis pagi bukannya me dinginkan mereka berdua tetapi malah membuat keduanya panas.


"Saya gak mau tau, mana KTP kamu?" Bimo meminta KTP wanita itu dengan tatapan dingin.


"Cihh. Gue cuma mau Loe ganti rugi." Bimo pun segera masuk kedalam mobil, tidak memperdulikan umpatan wanita yang masih berusaha membuat motornya berdiri.


"Ganteng-ganteng kok galak."


.


.


.


.


.


.


.


Indira masih betah bergelung dalam selimut, setelah sarapan dirinya langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk, agar bisa membuat tenaga nya pulih kembali.


Allan yang sedang duduk disofa yang mengarah ke jendela dengan guyuran gerimis, dirinya sedang menatap laptop, memeriksa berkas yang dikirim Jimmy, ditemani dengan kopi panas. Ia sengaja membiarkan istrinya istirahat karena dirinyalah Indira menjadi kelelahan. Allan tidak habis pikir kenapa dirinya sangat cepat tergoda melihat kemolekan tubuh istrinya.


Jam sudah menunjukan hampir pukul 12 siang, namun belum ada tanda-tanda pergerakan diatas ranjang itu. mereka masih menginap di hotel, rencananya nanti sore baru mereka akan kembali kerumah Allan.


Allan menutup laptopnya, berdiri dan berjalan menghampiri istrinya yang masih terlelap diatas ranjang.


"Sayang..bangun." Allan menyusuri wajah istrinya menggunakan bibirnya berharap bisa membangunkan Indira.


Gemas karena tidak ada pergerakan Allan pun mencium dan menggigit kecil kuping Indira sehingga napas hangat nya berhembus dengan pelan diarea sensitif bagian atas istrinya.


Tangan Allan pun mengelus bahu istrinya yang polos, karena Indira menggunakan baju tidur terusan berbahan satin dengan tali kecil mengait dikedua bahunya. Jari Allan memutari area favoritnya dibagian dada, hingga sang empu terusik karena geli dan nikmat.


"Abang.." Tanpa membuka mata Indira bergumam.


"Bangun sudah siang." bibir Allan menyusuri pundak mulus istrinya yang kini masih banyak bekas keunguan yang belum memudar.


"Masih capek." Indira malah memeluk lengan suaminya yang berada didepan dadanya.


Allan hanya terkekeh melihat tingkah istri manjanya, ia mengalah dan ikut berbaring dibelakang Indira dengan tangan dipeluk erat oleh Indira.


.


.


.


.


.


Like..komen..kalian tinggalkan jejak ya..Ojo Lali Rek..👍👍👍