
Keadaan Allan masih sama seperti kemarin-kemarin, terbaring lemah dengan banyak alat medis yang menempel pada tubuhnya.
Indira hanya melihat dari kaca pembatas, tidak ada yang diijinkan masuk kecuali dokter dan suster yang bertugas.
"Abang..." Indira masih saja menitikan air mata ketika melihat suaminya yang masih terbaring tak berdaya.
"Sayang..kamu harus istirahat." Lili merangkul tubuh menantunya.
"Iya Dir, loe harus jaga kesehatan loe demi bayi dalam perut loe." Arum ikut membujuk sahabatnya itu, karena Indira sejak tadi hanya berdiri, sebagai dokter dan sama-sama hamil membuat Arum juga merasa was-was.
"Gue mau nungguin Abang Rum, gue yakin Abang nanti pasti bangun." Indira menangis terisak.
Siapa saja yang melihatnya pasti iba, betapa menyedihkan Indira saat ini.
Baru satu Minggu tubuh nya sudah nampak kurus, apalagi kandungannya yang akan memasuki bulan sembilan, Indira tidak makan teratur dan hanya minum vitamin. Napsu makanya sangat berkurang drastis, bahkan jika disuruh makan Indira hanya menerima satu atau dua suap saja.
Lili yang tak kuasa menahan pilu memeluk Indira dengan tangis, melihat kedua anak yang begitu Ia kasihi terpuruk membuatnya begitu terasa menyayat hati. Jika bisa dirinya saja yang menggantikan posisi anaknya yang sedang berbaring sakit.
"Loe gak kasihan, jika suami loe bangun tapi melihat loe kayak gini, itu hanya membuat suami loe tambah sedih Ra." Arum sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan air matanya, wajahnya mendongak untuk menghalau air mata yang akan jatuh.
Tidak bisa dibayangkan, jika dirinya yang sedang posisi seperti Indira, mungkin dirinya tidak akan kuat, keadaan yang sedang hamil besar namun ingin berada disisi suaminya.
.
.
.
Indira duduk di ranjang rumah sakit ruangan nya di rawat, Indira harus mendapat perawatan karena kondisi tubuhnya yang menurun dan stres.
Dalam diam dirinya membayang kan setiap kebersamaanya dengan Allan, mereka sangat bahagia.
Tidak dipungkiri jika suaminya adalah separuh jiwanya, kini dirinya merasakan kekurangan tidak adanya Allan di sampingnya.
Allan adalah pria dingin jika bersama orang lain, namun sifat dinginnya akan mencair jika berdekatan dengan istrinya, banyak wanita yang ingin bersanding dengan Allan, namun Allan lah yang memilihnya untuk berdiri disampingnya.
Indira merasa beruntung memiliki suami seperti Allan, dirinya tidak yakin akan bisa hidup tanpa suami nya.
Dalam lamunan dirinya merasakan udara yang begitu sejuk dan nyaman.
"Sayang.."
Suara yang sangat dirinya kenal menatap indera pendengaran nya.
Indira menoleh dan mendapati suaminya yang tersenyum manis dan bersinar, memakai baju serba putih serta cahaya yang mengikutinya, membuat suaminya begitu tampan.
"Abang..." Air mata Indira kembali jatuh. "Abang datang." Indira merentangkan tangannya, di sambut Allan dengan senyum menawan khasnya.
"Abang, jangan tinggalin aku lagi." Indira terisak diperlukan Allan.
Tangan dingin Allan mengusap punggung istrinya yang bergetar. "Jangan sedih sayang, kasian anak kita jika kamu seperti ini."
Indira merasakan kepalanya yang di kecup oleh Allan.
"Kamu harus kuat, ingat ada malaikat kecil buah cinta kita yang sebentar lagi akan hadir." tangannya turun untuk mengelus perut nya. "Dia adalah buah cinta kita, kamu harus kuat demi dia." Elusan diperutnya kini terasa hangat.
Indira masih terisak dengan menatap wajah suaminya, takut jika dirinya lengah maka Allan akan menghilang.
"Abang akan berjuang untuk bisa kembali kepada kalian." Allan mengecup kedua tangan Indira yang dirinya genggam. "Asal kamu juga janji, akan kuat dan sabar dengan keadaan." Jari Allan mengusap air mata di pipi Indira.
Wajah Allan nampak begitu teduh, senyum nya tak pernah luntur dari pandangan istrinya.
Indira menyentuh wajah Allan dengan gemetar, dirinya takut jika ini hanya mimpi.
"Janji sayang kamu harus kuat demi kita." Ucapnya lagi dengan menyentuh tangan Indira yang berada di pipinya.
Indira hanya menganggukkan kepalanya dengan derai air mata.
"Mari kita berjuang bersama, Abang sangat mencintai kalian berdua." Allan mengecup kening Indira, dan berdiri berjalan menjauh.
"Abang...jangan tinggalin aku..!" Tangannya ingin meraih tangan suaminya namun begitu cepat cahaya terang membawa suaminya pergi dari hadapannya.
"Ra...Dira..!" Arum menepuk pundak Indira.
"Kamu ngelamun apa Ra?" Arum menatap Indira dengan khawatir dan cemas.
Kebetulan Allan dirawat di rumah sakit tempat Arum bekerja, jadi dirinya jiga bisa menjaga dan merawat Indira.
"Kamu bawa apa Rum?" Tersadar setelah mengusap air matanya.
"Bawa nasi ayam penyet, gue Laper Ra." Ucap Arum menaruh kotak nasi di atas nakas.
"Boleh buat gue gak Rum?" Tanya Indira dengan menampilkan deretan giginya tersenyum.
Arumpun sampai di buat heran dengan perubahan sikap Indira yang berubah cerah, meskipun masih sedikit terlihat wajah mendungnya.
"Loe, beneran mau makan Ra?" Tanya Arum yang masih tak percaya.
Indira mengangguk mantap. "Gue gak mau anak gue sakit gara-gara gue gak makan teratur, gue gak mau ngecewain Abang yang udah berjuang untuk sembuh." Tambahnya lagi dengan wajah terlihat sedih.
"Yaudah gih, makan nanti gue beli lagi." Melihat itu, Arum pun segera memberikan makanan nya, agar mood ibu hamil itu tidak sedih lagi.
Indira berbinar dan segera meraih nasi yang Arum berikan. "Makasih loe emang sahabat gue paling the best." Indira tertawa dan segera memakan nya.
Arum geleng kepala dan tersenyum, perubahan Indira begitu cepat, padahal satu jam yang lalu ibu hamil itu kembali menangis histeris.
Melihat betapa lahapnya Indira makan membuat Arum duduk di kursi dekat Indira dan memberikan botol minuman kepada Indira.
"Pelan-pelan nanti kesedak."
"Makasih..." Indira menegak air yang Arum berikan
"Kenapa gue jadi rakus gini ya, kayak gak makan satu Minggu aja." Celotehnya dengan mulut mengunyah.
"Gak nyadar kalo loe emang gak makan udah satu Minggu."
Indira mencebikkan bibirnya. "Gue gak nyadar kalau si Abang gak sadari gue harus kuat Rum." Jawabnya dengan mata berkaca-kaca namun mulutnya tetap mengunyah.
"Udah makan dulu di abisin, biar kuat buat jagain Abang sampai sembuh." Arum mengelus lengan Indira.
Kembali makan untuk menghabiskan nasinya, meskipun mulut dan tangannya bergerak untuk makan namun pikiranya selalu tertuju pada Allan.
Arum hanya bisa berdoa dalam hati. 'Semoga kalian selalu bahagia Ra, dan Abang semoga cepat sadar'
Setelah menghabiskan makanan nya Indira nampak lebih baik dan fress setelah membersihkan diri dan melakukan perawatan alakadarnya pada wajah. Kerena selama seminggu ini dirinya sama sekali tidak menghiraukan kondisinya ataupun penampilannya.
"Sayang.." Lili masuk dengan membawa pakaian ganti untuk Indira.
"Mama sudah datang." Indira menghampiri Lili.
"Kamu sudah makan." Tanya Lili yang melihat kotak nasi.
"Sudah Tante, meskipun Dira makan jatah nasi saya." Ucap Arum yang masih di ruangan itu.
"Hehe...abis nya Dira laper, ehh si Arum bawa makanan yaudah Dira minta." Ucapnya dengan cengiran gigi rapinya.
Lili nampak senang melihat Indira yang kembali ceria, meskipun hatinya sedang terpuruk, namun tetap tegar untuk memberi semangat pada Allan yang sedang berjuang.
Si Abang kalau lagi manja sama bininya ðŸ¤