
Rere sudah setengah jam menunggu namun tidak ada yang mau membantunya, kini hari semakin petang, dan keadaan jalan semakin sepi.
"Duh, kenapa juga aku tadi lewat sini sih." Rere harap-harap cemas melihat kesekeliling takut ada orang jahat. Karena jalan yang biasa Rere lewati macet sehingga ia memilih jalan pintas yang memang cukup sepi.
Waktu sudah hampir magrib tapi mesin mobilnya masih juga tidak mau hidup.
Ponsel Rere mati kehabisan baterai dirinya lupa mengcarger ponselnya.
Rere berjongkok di samping mobil dengan tangan berada di samping kepala, sambil tengok kanan kiri.
Dari arah belakang mobil sedan hitam berkendara dengan kecepatan tinggi, karena memang jalanan yang sepi.
Karena tidak melihat lubang yang masih ada airnya mobil itu melesat tanpa melihat ada orang yang sedang duduk.
"Aakkkh." Rere berteriak menutup wajahnya, ketika air dalam lobang mengenai baju dan mukanya.
Si pengendara yang merasa ada yang aneh, melihat kebelakang, dan bisa melihat seseorang sedang berdiri dengan membersihkan bajunya.
"Duh, jangan-jangan gue nabrak lagi." Mobil pun berbalik, berhenti di depan seorang wanita yang sedang menunduk membersihkan bajunya yang kotor karena tanah becek.
"Maaf, mbak tidak apa-apa?" Tanya orang itu dengan hati-hati.
Rere mendongak dan terkejut melebarkan matanya melihat siapa yang ada di depannya.
"Kamu?! kalau gak bisa liyat jalan gak usah nyetir, gak liat apa ada orang disini." Rere langsung menyembur Riko dengan ucapan ketus. bagaimana tidak baju dan wajah Rere dipenuhi kotoran air bercampur tanah.
Riko yang melihat Rere juga terkejut. "Heh, lagian kamu ngapain jongkok di pinggir jalan kayak orang ilang." Riko juga kesal karena ternyata wanita itu adalah Rere, karyawan Indira di butik.
"Udah salah tapi masih bisa nyalahin orang lagi." Rere tidak mau kalah, dan menatap Riko tajam.
"Situ yang salah, jalan buat lewat malah duduk di pinggir jalan, waras anda." Ucap Riko dengan menyentuh kening Rere.
Rere menepis tangan Riko dengan kasar. "Jangan macam-macam kamu?!" ucap Rere menatap Riko geram.
"Dih, siapa juga yang mau macam-macam modelan triplek kayak kamu, gak nap*su." ucap Riko santai menelisik tubuh Rere dari atas sampai bawah.
Rere yang diperhatikan langsung menyilang kan tangan nya didepan dadanya." Apa, dasar mesum." ucap Rere sambil memiringkan tubuhnya.
"Ck. gue gak doyan model cewek tipis kek loe." Riko masih saja meledek tubuh ramping Rere.
Mereka hanya saling menatap tajam, dan sengit. " ngapain kamu disini sendiri, sudah mau malam ini." ucap Riko yang menyadari kalau Rere sendiri di tempat seperti ini.
Rere hanya menatap Riko malas. "mobil gue mogok, hp gue lowbat, jadi gak bisa kemana-mana." Ucap Rere bersandar di body mobil nya.
"Kenapa bisa mogok?" tanya Riko yang berjalan maju mendekati kap mobil Rere yang terbuka.
"Mana aku tau, kalau tau sudah aku benerin sendiri." ucap Rere ketus.
"Coba kamu hidupin." Riko mencoba mengotak-atik mesin mobil nya.
"Ini perlu di bawa ke bengkel tidak bisa hidup." ucap Riko melihat kerusakan mobil Rere.
"Memang kamu mengerti mesin, kok tahu kalo rusak?" Tanya Rere memiringkan kepala menatap Riko.
"Ya tidak, makanya aku bilang di bawa ke bengkel." ucap Riko santai.
"Dih, kukira tahu. taunya sok tahu." Rere mencibir.
"Biar aku telponin bengkel, mobil kamu biar dibenerin." Ucap Riko mengeluarkan benda gawai nya.
Setelah menelpon Riko kembali menutup kap mobil Rere.
"Apa kamu mau disini, tidak mau pulang?" Tanya Riko yang melihat masih berdiam berdiri disamping mobilnya.
"Terus mobil aku gimana?" tanya Rere bingung.
"Tap_"
"Yasudah kalau tidak mau." Riko masuk dan menutup pintu mobilnya.
Rere yang melihat kanan Kiki sangat sepi akhirnya berlari masuk kedalam mobil Riko.
"Kirain mau nunggu sampai besok." ucap Riko mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Aku mau mandi, mau makan, bisa pingsan disitu kalau nunggu besok." gerutu Rere sambil memasang sealtbeat nya.
Riko hanya diam tidak menyahut pandanganya fokus kedepan jalan.
"Terimakasih sudah mau menolongku." setelah beberapa saat hening Rere berbicara.
"Hem, kebetulan hanya lewat." ucap Riko cuek.
Rere hanya menatap jalan tanpa berniat membalas ucapan Riko.
"Rumah kamu dimana?" Tanya Riko tanpa mengalihkan pandangan nya dari jalan.
Karena tidak mendapat jawaban kepala Riko menoleh. "Ck. pantes aja diem, udah tidur aja."
Riko hanya menatap sekilas wajah Rere, jika diperhatikan ternyata manis juga, hidung kecil dan bulu mata lentik serta bibir berwarna pink yang tipis.
"Hiss..kenapa malah jadi merhatiin wajah nya sih." Riko mengusap wajahnya dengan tangannya.
Mobil Riko berhenti di depan gerbang rumah yang lumayan cukup besar berlantai dua. Rumah yang Riko lihat di KTP Rere, karena tidak bangun Riko pun mengambil tanda pengenal Rere. dan Riko baru tahu jika nama gadis seperti triplek itu namanya Renjana Renita, atau dipanggil Rere.
"Tidurnya kek nya gak enak banget sih." Riko memajukan badannya ingin menarik tuas kursi agar badan Rere nyaman membuat wajahnya sangat dekat dengan wajah manis Rere. jantung Riko mulai berdebar ketika matanya bisa menatap dekat bibir tipis yang sedikit terbuka itu. Ingin sekali Riko mencicipi bibir ranum berwarna pink itu, sebelum Kesadarannya kembali setelah mendengar leguhan kecil dari Rere. Buru-buru Riko menarik tubuhnya kembali seperti semula, dengan mengatur debaran didada yang berdetak dua kali lebih cepat.
"Em..sudah sampai." Rere membuka matanya dan melihat sudah di depan rumahnya.
"Sudah bangun." tanya Riko dengan mencoba bersikap normal, padahal jantungnya masih saja berdebar.
"Kenapa kamu gak bangunin aku?" Tanya Rere sambil membuka sealtbeat nya.
"Tidurmu sudah seperti mati suri, aku bangunin susah." ucap Riko mengarang.
"Masa sih? mungkin aku terlalu capek karena meng-handle toko sendiri, Bu Indira sedang pergi." Rere membuka pintu mobil. "Terimakasih tumpangan dan pertolongan nya." Ucap Rere sambil tersenyum manis, memperlihatkan lesung pipinya.
Sejenak Riko terpana melihat pertama kali senyum Rere. "Emm.. sama-sama, nanti biar aku hubungi ke butik kalau mobil kamu sudah jadi." ucap Riko setelah tersadar dari lamunannya.
"Baik, sekali lagi terima kasih..?"
"Riko, panggil saja Riko."
"Ya, Riko terimakasih, kalau begitu saya masuk dulu." Rere pun melambaikan tangan dan masuk melewati gerbang rumahnya.
"Duh ni jantung gue kenapa lagi." Riko mengusap dadanya yang masih saja berdebar. dirinya kembali menjalankan mobilnya untuk pulang kerumah.
.
.
.
.
Hay...reader kesayangan...🥰 yang nanyain bang Bemo, nanti author launching-in di tanggal 1bulan depan ya, tenang saja banyak bab nanti author update nya. biar lancar jaya bacanya🤭.
.
Like... komen kalian sangat berarti bagi author..🙏😘