Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part57


Mobil yang dikemudikan oleh Jimmy berhenti tepat didepan gerbang rumah Rania.


"terima kasih Om, sudah nolongin Rania." Rania berucap sebelum turun.


"Lain kali jangan keluar malam lagi bila sendiri." Ucap Allan yang baru sadar dari dunianya ketika mobil sudah berhenti.


"Akan Rania ingat." Rania segera turun, karena sudah larut malam dirinya tidak menawarkan Allan untuk mampir.


Mobil Allan kembali melaju meninggalkan kediaman Rania.


"Coba aja, Om itu mau sama gue, pasti gue seneng banget." ucap Rania dengan pikirannya.


Rania masuk rumah dengan mengendap-endap agar tidak ketahuan orang rumah.


"Dari mana kamu Rania?" Suara bariton terdengar tegar menyapa pendengaran Rania.


Lampu menyala terlihat pria paru baya sedang berdiri didekat saklar lampu.


Rania diam membeku. "Mampus gue." gumamnya pelan.


"Heee." Rania hanya cengengesan dan menghampiri papanya. "Rania ada janji sama teman pa, jadi Rania baru pulang."


"Kamu selalu saja bandel Rania." Papa Rania yang bernama Harlan, menarik telinga putrinya yang bandel itu.


"Aduh..duh pa sakit..awwss.." Rania memegangi kupingnya yang terasa panas akibat ditarik Harlan.


"Papa potong uang jajan kamu mulai besok hingga satu Minggu kedepan." Ucap Harlan mengancam putrinya.


"Yaah pa, jangan lah nanti Rania gak bisa beli skincare pa." Rajuk Rania dengan wajah memelas.


"Kamu sekolah apa mau jualan? skincare kamu banyak dikamar." Ucap Hardi.


"Yah Pa, jangan pokonya Rania janji deh gak akan ngulangi lagi." Rania mengacungkan dua jari membentuk V.


"Gak ada bantahan, sekarang kamu masuk kamar." Ucap Harlan tegas.


Rania pun bersungut-sungut sambil menghentakkan kakinya dengan kesal.


"Dasar papa andai Kakak disini pasti gue dibelain." Indira mengomel, didalam kamar dengan rasa kesal.


..........................


Satu tahun sudah berlalu begitu cepat, semua berjalan dengan semestinya.


Indira yang sudah bisa mengembangkan hasil karyanya di negara romantis itu, dengan penuh tekat dan semangat gambar desain yang ia buat mampu membuat para warga negara yang terkenal romantis itu menyukai dan berminat untuk menggunakan desain nya sebagai rancangannya khusus di sebuah butik yang cukup besar disana.


Ia belajar dan terus belajar tanpa lelah, tidak ada waktu bermain sepuasnya dirinya hanya fokus kuliah dan mengembangkan karya yang sudah ada hasil satu tahun ini. bukan hal mudah bagi Indira bisa sampai dititik ini, karena di sana banyak pesaing yang harus ia kalahkan, demi desain nya bisa diterima dan diminati banyak orang.


Hari ini dirinya mendapat kabar bahwa kedua sahabat dan Oma Lili akan datang mengunjunginya. Indira sangat senang, bahkan dirinya memasak makanan spesial yang bahannya tersedia disana.


Selama satu tahun dirinya juga mempunyai beberapa teman tetapi hanya satu yang menjadi sahabatnya, yaitu Emeli.


Bimo juga masih tetap sering menghubungi Indira kapanpun jika mereka ada waktu. bahkan terkadang mereka saling Vidio call secara virtual bersama para sahabat mereka semua.


Indira juga dekat dengan seorang pria yang selalu menguntitnya kemanapun dia pergi, awalnya ia risih karena pria itu membuntutinya kemanapun dirinya pergi, padahal pria itu adalah pria pekerja, tapi sudah seperti pengangguran saja.


Pria yang pernah ia tabrak diCafe, ketika sedang ingin ketoilet, dan ternyata mereka dipertemukan lagi untuk yang kedua kali, dari sana mereka sampai sekarang terus berkomunikasi dan berinteraksi, tetapi tidak ada yang namanya laki-laki dan perempuan murni bersahabat.


"Kenapa gak bilang kalo ingin belanja." Indira yang sedang memilih cemilan pun dibuat kaget ketika mendengar suara seseorang dari arah belakang.


"Kenapa kamu disini?" Indira melihat kesekitar tidak ada Nicolas.


"Ini tempat umum, jadi bebas aku mau dimana saja." Jawab pria yang namanya Riko.


"Kau slalu saja menguntit ku." ucap Indira sebal.


Riko mengikuti langkah Indira yang masih memilih cemilan apa yang enak dan disukai sahabat serta Omanya.


"Dan kau masih sama, tetap galak." Pria itu tersenyum tipis, sambil memasukkan tangannya kedalam saku celananya.


Indira hanya memutar kedua bola mata malas. "Untuk apa aku berbaik hati, dengan orang penguntit seperti kamu." Ucap Indira ketus.


Inilah yang pria itu suka dari Indira, meskipun galak dan ketus tapi gadis ini tidak sombong. Justru dia akan semakin cerewet jika dirinya selalu bicara.


Nicolas sebernaya tahu jika ada seorang pria yang mendekati gadis yang ia jaga, tapi sejauh ini pria itu tidak melakukan sesuatu yang berlebihan, maka ia tidak akan melapor kepada Allan. Ia juga tahu pria itu adalah pengusaha muda dari Indonesia sedang mengembangkan usahanya di Paris, karena nama wajah orang itu pernah Nicolas baca di majalah bisnis.


Pria muda yang usianya baru 25tahun, tapi sudah mampu mengembangkan bisnis hingga manca negara. di Jakarta bisnis keluarganya dipegang oleh ayah nya, dan dia ditugaskan untuk mengembangkan perusahaan baru yang ada di Paris ini.


Jika dibandingkan dengan perusahaan Allan, jelas masih jauh karena Aditama Grub, sudah berkecimpung puluhan tahun dan bisnisnya ada di setiap sudut negara. Allan hanya menerima laporan dari bawahannya di kantor pusat Jakarta, di bantu Jimmy dan orang-orang kepercayaan nya maka dirinya mampu melebarkan sayap hingga kepenjuru dunia.


"Kenapa kamu belanja cemilan banyak sekali?" Riko maraih troli yang Indira pegang penuh dengan cemilan.


"Ya untuk dimakan, emangnya untuk apa." Indira membiarkan pria itu mendorong troli disamping nya, jika dilihat mereka seperti sepasang kekasih yang sedang menemani belanja.


"Ku kira mau buka warung."


Indira mendelik tajam ke arah Riko, membuat pria itu tertawa keras, hingga orang-orang melihat kearah mereka.


Mereka berjalan menuju kasir, karena menurut Indira semua sudah ia dapatkan.


Ketika Indira akan membayar tagihannya, Riko lebih dulu menyodorkan ATM nya.


"Utilise juste le mien" (Pakai punyaku saja).


"Aku tidak mau punya hutang padamu." Ucap Indira menatap Riko.


"Jika kamu tidak mau berhutang, cukup bayar dengan makan bersamaku." pria itu tersenyum menyeringai.


"Dih, ternyata ada maunya..modus." Indira menerima kantung belanjaan sebanyak dua kantong, dan masih ada dua kantong lagi diterima oleh Riko.


"Merci monsieur." (Terima kasih tuan) setelah kasir mengucapkan itu, mereka pergi keluar menuju mobil.


"Biar aku antar." Riko menawarkan diri.


"Tidak usah, aku bersama teman." Indira melihat kanan kiri mencari Nicolas. tetapi yang dicari tidak terlihat batang hidungnya.


"Coba kau hubungi temanmu, mungkin dia sudah pergi duluan."Riko yang melihat Indira mencari-cari seseorang pun angkat bicara.


Indira membetulkan perkataan Riko, dirinya melihat ponsel yang ternyata ada panggilan dan pesan masuk dari Nicolas yang ia tidak tahu.


"Ck. kenapa ditinggalin sih." Indira menggerutu yang bisa didengar Riko.


Nicolas mengirim pesan jika dirinya ada urusan penting di kantor milik Allan jadi ia pergi meninggalkan Indira sendiri.


"Mari nona, tidak ada alasan untuk menolak lagi." Riko tersenyum puas melihat wajah gadis itu bertambah kesal. akhirnya Indira pun mau tidak mau masuk kedalam mobil Riko.


..................................


Di Jakarta, kehidupan Allan jauh berbeda dengan kehidupan Indira di Paris, Allan selalu disibukkan dengan pekerjaan nya tanpa ada waktu luang untuk berlibur, sebenarnya dirinya ingin sekali mengunjungi Indira, menahan rindu selama satu tahun membuatnya tersiksa, dirinya selalu berpikiran negatif jika gadisnya disana pasti banyak pria yang mendekati.


Satu tahun belakangan ini, Siska semakin gencar mendekati Allan, wanita itu terus berusaha dengan gigih.


Bahkan dirinya sudah meminta bantuan kepada orang tuanya agar dijodohkan dengan Allan, tetapi Lili lebih meyerahkan semua kepada Allan, dan Allan pun menolak perjodohan itu, karena sampai kapan pun dirinya tidak akan menikahi wanita lain kecuali Indira Cahaya Putri.


"Ayo dong Al, temani aku malam ini?" Siska merayu dan merengek di ruangan Allan. Siska berkunjung ke kantor Allan setelah dirinya pulang bekerja, karena ingin mengajak Allan untuk menemaninya ke Club pesta ulang tahun temanya.


Allan yang masih memeriksa berkas-berkas pun menatap Siska sejenak, kemudian menganggukkan kepalanya. mungkin dirinya butuh hiburan agar otaknya bisa melupakan rasa rindu yang menggebu kepada Indira. dirinya tidak keberatan menemani Siska karena selama ini Siska tidak menunjukan sikap buruknya. Dan justru Allan lah yang selalu menolak terus gadis itu.


Jam menunjukan pukul Sembilan malam, Allan sudah rapih dengan penampilannya, kemeja biru tua, dengan celana jeans yang membungkus kaki jenjangnya, sepatu pantofel mengkilap, jam tangan mahal menambah kesempurnaan dirinya. Usia yang memasuki angka 30tahun membuat pria itu bertambah menawan dan matang, Allan adalah pria matang dan mapan, siapa yang tidak tergila-gila oleh pria bernama Allanaro Putra Aditama, Wajah tampan serta tubuh yang aduhai membuat kaum wanita berlomba-lomba mendekatinya. tapi mereka semua hanyalah pengganggu pemandangan saja, bagi Allan gadis yang bertahta dihatinya adalah yang paling menarik.


Allan memasuki Club dengan wajah menawan, para wanita yang melihatpun langsung terpesona. Siska yang melihat Allan sudah datang menghampiri.


"Al.." Siska langsung mencium pipi Allan, menggandeng lengan Allan masuk, seolah ia menunjukkan kepada para wanita bahwa pria tampan itu adalah milik nya.


Allan sedikit terkejut ketika Siska tiba-tiba menciumnya, tetapi ia melirik kesekeliling, ternyata para wanita sedang memperhatikan dirinya semua.


"Ayo aku kenalkan kepada temanku." Siska membawa Allan menuju dimana teman nya yang sedang berulang tahun.


"Hay Man, kenalin pacar gue." Siska sedikit berteriak karena suara musik terlalu kencang, kepada temannya yang bernama Manda yang sedang berulang tahun.


Mereka berkenalan. "Manda." Manda mengeluarkan tangan nya, dan Allan membalas tangan manda hanya tersenyum dan mengangguk.


"Gue kesana dulu, sekali lagi happy birth day." Siska membawa Allan kemeja yang berada di dalam ruangan itu. suara musik yang memekakkan telinga, dan bau alkohol yang menyengat.


Allan sudah lama tidak menginjakkan kaki ditempat ini semenjak Leona meninggalkan dirinya.


Siska memesan minuman. "Al kamu menikmati pestanya." Siska bicara dengan Suara sedikit keras ditelinga Allan, bahkan wanita itu sengaja menempelkan tubuh nya dengan dada Allan, Siska yang memakai gaun merah selutut dengan belahan dada rendah, membuat penampilannya seksi, para pria pun ingin menyentuh wanita itu, tapi Siska jual mahal karena malam ini dirinya harus mendapatkan Allan, tidak akan ada lagi kesempatan seperti ini bagi Siska, karena Allan susah sekali jika di ajak bersenang-senang maka Siska tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


.


.


.


.


Bang Al nonggol lagi nih... jangan lupa like..komen kalian, biar bang Al, semangat nonggol 🤣 Kirim hadiah yang banyak karena bang Al udah mulai rindu berat sama neng Aya🙈