
"Apa? Jadi Bimo sudah menikah." Tanya Indira dengan nada sedikit tinggi.
"Ssttt.. pelan kan suaramu ayang, Aldrick sedang tidur." Ucap Allan mengingatkan istrinya, karena suara keras Indira membuat putra Meraka terganggu.
"Kenapa Abang, tidak memberi tahu ku ketika datang kesana?" Tanya Indira dengan wajah kesal menatap suaminya.
"Aku saja tidak tahu jika Bimo akan menikah yank."
"Lalu, kenapa menikah dadakan? apa Bimo menghamili gadis itu?" Tanya Indira semakin kepo.
"Sepertinya tidak, karena Abang lihat di papan nama buka nama Bimo, melainkan pria lain dan gadis yang akan Bimo nikahi." Allan menjawab kekepoan istrinya.
"Duh, jadi penasaran gadis yang udah buat Bemo nekat nikah." Ucap Indira dengan wajah membayangkan seperti apa gadis yang berhasil memikat hati dingin seorang Bimo.
"Jangan bayangin yank, aku cemburu." Allan meraup wajah istrinya agar sadar dari lamunannya.
"Iss..udah mau punya buntut dua juga, masih aja cemburuan." Ucap Indira mengerucutkan bibirnya.
Allan merapatkan tubuhnya memeluk istrinya yang bersandar pada kepala ranjang.
"Punya anak bukan tolak ukur kecemburuan seseorang sayang, Abang akan selalu merasa cemburu jika kamu memikirkan pria lain bahkan didekati pria lain." Ucap Allan dengan mengecup kepala istrinya. "Karena kamu milik Abang." Allan meraih dagu Indira untuk mengecup bibirnya.
"Hem.." Indira bergumam disela-sela ciuman Allan.
"Apa hari ini dia rewel." Allan menyentuh perut Indira.
"Masih seperti biasa." Ucap Indira dengan mengelus kepala Allan, karena Allan menunduk untuk mencium perutnya.
"Jangan rewel sayang, kasihan Mama." Allan mengelus perut Indira.
Tangan Allan yang mengelus permukaan kulit perut Indira pun beranjak semakin naik menyusuri kulit mulus istrinya dari dalam baju yang Indira kenakan.
"Bang.." Indira menunduk melihat wajah suaminya yang menatapnya penuh rasa ingin.
"Abang mau nengok junior Abang." Ucap Allan menaikkan kepalanya untuk meraih bibir ranum Indira.
Allan Melu*mat bibir Indira dengan rakus, Indira pun membalas cumbuan suaminya.
Lidah keduanya saling membelit Allan menekan tengkuk Indira, dengan satu tangannya meremas buah dada Indira.
"Emhh.." Tubuh nya sudah mulai panas ketika tangan Allan mengelus permukaan kulitnya dengan lembut, Indira begitu menyukai sentuhan yang dilakukan suaminya.
"Abang.." Indira Mende*sah memanggil suaminya, dirinya merasa sudah tidak tahan lagi.
Allan dengan semangat mengulum dan menyedot pucuk buah dada Indira, karena Aldrick sudah tidak menyusu lagi membuat Allan bergerak bebas memainkan dua buah dada yang sudah menjadi favoritnya.
Tangan Allan tan tinggal diam, meremas dan memilin pucuk Indira yang sudah mencuat dan keras.
Lidahnya bermain dengan begitu lincah, membuat Indira semakin tak kuat menahan gelora yang begitu memabukkan.
Allan melepas kain penutup terakhirnya, sehingga membuat terong premium yang sudah menjulang keras.
"Emph.." Indira meleguh ketika Allan menggesekkan kepala terong nya di bagian pintu masuk lembah yang begitu lembab.
"Shhh...Abang.."Indira mengeratkan kakinya di pinggang Allan karena tak kunjung di masukkan.
"Abang..aku sudah tidak kuat." Indira menatap Allan dengan wajah sayu yang diliputi rasa gairah.
Allan tersenyum wajahnya Ia majukan untuk mengecup bibir sang istri.
"Ahh...emmh.."Indira mende*sah ketika tanpa aba-aba Allan memasukkan terong premium nya.
"Sshh...oh..sayang." Allan merancau ketika miliknya didalam sana terasa hangat dan di cengkram begitu kuat, membuatnya merasa ngilu namun Ahhh.
Allan bergerak dengan kecepatan sedang, menatap wajah istrinya yang begitu seksi ketika menggerang kenikmatan di bawah kungkungannya.
"Shh..uhh.." Indira terus saja merintih dan Mende*sah nikmat disaat Allan semakin cepat menghentakkan miliknya.
"Abang..ahh..aku..engh." Indira terus merancau ketika suaminya bergerak tak terkendali namun masih ingat jika istrinya sedang hamil.
"Sebentar sayang..ahh." Allan menekan keras miliknya, membuat kedutan di dinding rahim Indira semakin kuat. Tangannya meremat dan memilin buah dada Indira dengan gemas, bibinya mengulum bibir bawah Indira dengan penuh napsuu.
"Aku..sss..ahh ke_luar." Indira mencekram kuat lengan Allan, keringat sudah membasahi tubuh keduanya, bahkan kepala Indira sampai mendongak ketika rasa yang begitu bergelora ingin meledak keluar.
Allan semakin menekan milik nya kuat, ketika hentakan tarakhir yang membuatnya miliknya berdenyut semakin kuat.
"Agrhh..shhh..ahhhh.." Allan menggerang dalam ketika semburan hangat meledak bersamaan dengan Indira yang mencapai pelepasannya.
"Arghh..ahh."
Keduanya melebur menjadi satu, Allan ambruk di atas tubuh istrinya, dengan tangan menyangga agar tak menindih perut Indira.
"Love you more." Allan mengecup bibir istrinya sekilas dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua.