Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part89


Takdir orang didunia tidak ada yang tahu, jodoh,maut dan rezeki sudah diatur oleh sang pencipta. sebagai manusia sudah sepantasnya kita bersyukur dan mensyukuri apa pun yang Tuhan gariskan dan takdir kan untuk kita di dunia, karena manusia hanya bisa berusaha, berdoa dan berikhtiar, selebihnya tangan Tuhan yang menentukan.


Indira menjalani hari-hari seperti biasa, menjadi seorang istri melayani kebutuhan suami dan menjadi wanita karir yang mempunyai tanggung jawab dengan para customer nya.


tidak pernah terpikirkan kehidupan di masa lalu nya yang penuh perjuangan untuk bertahan hidup di kerasnya kota Jakarta, beruntung dirinya dikelilingi orang baik, dan Tuhan pun mengirim kan jodoh yang terbaik untuknya.


Kini sepasang suami istri itu sedang menikmati indah nya senja sore hari, semburat jingga menandakan matahari akan pulang keperpaduan nya.


Bersandar dikursi malas balkon kamar yang cukup luas, Indira berbaring disamping Allan dengan lengan Allan yang sebagai bantal.


"Sayang, terimakasih sudah mau menjadi pendamping hidupku." Allan mencium pucuk kepala istrinya yang sekarang bersandar didadanya.


"Justru aku yang berterima kasih, karena Abang mau menungguku hingga sampai sekarang aku menjadi istri Abang." Jari Indira menari-nari diatas dada bidang Allan yang hanya berbalut kaus abu-abu tipis. "Dulu aku gak pernah berfikir bisa memiliki suami seperti Abang."


"Memang kamu mau memiliki suami yang seperti apa?" Tanya Allah dengan mata menatap senja sore.


"Abang mau tau, angan-angan ketika aku masih remaja ingin dilamar seperti siapa?" Tanya Indira yang menatap Allan dari samping.


"Tidak."


"Dulu aku bermimpi semoga aku dilamar duda kaya dan tampan seperti aktor Korea." ucap Indira dengan wajah berbinar ketika mengingat mimpi konyolnya diwaktu remaja.


"Dan ternyata Abang jodoh kamu, apa kamu menyesal?" tanya Allan dengan menatap wajah cantik istrinya di tamaran cahaya sore.


"Tentu saja menyesal." Ucap Clara dengan nada serius menatap reaksi wajah suaminya. "Menyesal kenapa harus menunggu lama." Dan Indira pun mencium pipi Allan, karena Indira sempat melihat wajah suaminya yang sedikit muram. Senyum tampan langsung terbit dibibir Allan.


"Abang tau, Abang adalah cinta kedua ku, setelah ayah."


"Hm, Abang beruntung mendapatkan kamu, dan Abang beruntung dicintai wanita hebat seperti kamu." Allan memeluk tubuh istrinya.


"Jelas Abang beruntung, aku masih muda dan cantik, pintar masak, pintar cari uang, umurku baru dua puluh empat, tapi aku mendapat suami yang umurnya sudah mau tiga puluh lima, ohh Tuhan apakah aku termasuk beruntung." Indira berucap dengan wajah dibuat seperti harus sedih atau senang.


Allan hanya tertawa mendengar ucapan panjang istrinya itu. "Kau pasti beruntung, karena mendapatkan pria dewasa dan matang seperti Abang, apalagi ketampanan Abang tidak diragukan lagi." Allan menaik turunkan alisnya.


"Duh, mungkin ini yang di sebut jodoh saling melengkapi, yang satu tua yang satu muda." Indira tertawa melihat wajah sumianya yang masam mendengar kata tua.


"Tua, tua begini, kamu menyukai terong premium Abang kan." Allan mengelitiki pinggang Indira membuat sang empu tertawa dan menjerit.


"Hahaha..ampun Abang geli..haha." Indira terus saja bergerak berontak karena Allan belum melepaskan jarinya dipinggang Indira.


"Makanya jangan ngatain suami tua, gini-gini tenaga terong premium bisa bikin kamu minta ampun." Allan menghujani wajah Indira dengan ciuman bertubi-tubi.


"Iya..hahha..udah ampun." Indira masih tertawa dan menjerit meminta ampun.


Allan membopong tubuh istrinya masuk ke kamar karena magrib akan segera tiba.


Keduanya sudah bahagia, hanya tinggal menunggu malaikat kecil hadir melengkapi kebahagiaan kecil mereka.


.


.


.


Di butik Rere sedang sibuk dengan para customer yang memesan gaun ataupun mengambil pesanan, karena bos hari ini tidak masuk dirinya yang harus mengantikan Indira.


"Mbak, tadi ada customer yang telpon pas mbak Rere ketoilet, katanya pesanan atas nama Bu Merry suruh mengantar ke alamatnya." Ucap salah satu karyawan Rere.


"Duh, kenapa kamu baru bilang si Mel, inikan udah sore waktunya pulang kerja." keluh Rere pada teman nya yang bernama Mela.


"Maaf mbak, Mela lupa dan baru ingat, dan kata Bu Merry gaun nya akan di pakai malam ini." Ucap Mela menunduk takut


kena semprot Rere.


"Ya ampun Mel, kenapa bisa teledor gini sih, mana mobil aku belum jadi lagi." Rere melihat jam yang melingkar di tangannya, menunjukan hampir pukul lima.


Mela hanya menunduk dengan wajah takut melihat Rere yang kebingungan dan kesal.


"Yasudah biar aku yang antar, kalian pulang saja." Akhirnya Rere pun pasrah, karena tidak mungkin dirinya menyuruh salah satu temannya untuk mengantar gaun pesanan itu.


Rere segera merapikan meja kerjanya dan memastikan semua aman untuk ditinggalkan, ia menyambar paperbag yang berisikan pesanan Bu Merry itu. melihat alamat rumahnya yang cukup jauh, Rere harus cepat sampai sebelum jam tujuh malam.


"Ya Tuhan, kenapa akhir-akhir ini hidupku apes terus." Rere menunggu ojek di depan toko pinggir jalan, karena waktunya mepet lebih baik dirinya naik ojek.


Tin..tin...


Mobil sedan hitam berhenti didepan Rere bersamaan dengan Ojol yang sampai.


"Re, kamu mau kemana?" Suara pria dari dalam mobil setelah membuka kaca mobilnya.


"Riko? aku mau antar pesanan." Rere mendekati kaca mobil Riko.


"Biar aku antar."


"Ini Urgent takut gak sampai waktunya kalau naik mobil." Rere memberi tahu.


"Gak akan percaya sama aku." kini Riko berdiri didepan Rere. "Pak saya bayar, mbak Rere nya gak jadi naik." ucap Riko, memberi uang kepada Ojol yang dipesan Rere.


"Baik pak."


"Tapi nanti waktunya gak sampai Riko, jalannya macet."


"Kalau kamu ngomong terus kita gak akan cepat sampai." Riko pun mendorong tubuh kecil Rere masuk kedalam mobil.


Riko menghidupkan mesin mobilnya setelah memastikan Rere memakai sabuk pengaman. "Dimana alamat nya?" tanya Riko melihat Rere sekilas.


"Jalan Mawar no 55, daerah garden."


"Oke." Riko pun menambah kecepatan laju mobilnya, tapi tetap pada jarak aman, menyalip jika ada celah, dan menambah kecepatan jika jalanan lenggang, hingga sampai waktu kurang dari satu jam, karena memang jarak butik dan rumah customer lumayan jauh.


Rere segera turun dari mobil dan menyerahkan pesanan Bu Merry, ternyata beliau juga harap-harap cemas menunggu gaun yang ia pesan karena malam ini adalah malam ulang tahun pernikahan nya dengan sang suami.


"Huff, untung tepat waktu." Rere membuang napas kasar ketika sudah kembali duduk di kursi mobil Riko.


"Minum dulu." Riko menyodorkan botol air mineral kepada Rere.


"Terima kasih." Rere membuka dan meneguk air itu hingga setengah, sampai air menetes hingga ke dagu Rere.


"Kalau minum pelan-pelan, jadi luber kemana-mana kan." Ibu jari Riko mengusap dagu Rere dengan pelan. membuat tubuh Rere membeku dengan jantung berdebar-debar.


Riko merasakan halus kulit dagu Rere ketika ibu jarinya menyentuh nya, hati Riko berdesir ketika Rere menoleh menatap nya. Wajah manis dan bibir basah karena air yang Rere minum membuat Riko susah menelan salivanya.


Keduanya bertemu tatap muka dengan wajah begitu dekat, karena Riko mencondongkan wajahnya ketika mengusap dagu Rere.


Jantung keduanya berdebar tak karuan, Rere untuk pertama kali melihat wajah Riko dalam jarak dekat, dan lekat. Duh, jantung gue kenapa'


Riko tak berkedip untuk kedua kalinya melihat bibir ranum Rere yang sangat menggoda apalagi seperti saat ini, sedikit basah karena air.


'kenapa bibirnya sangat menggoda untuk dicicipi' Riko.


.


.


.


Yang kangen Bemo sayang aku spil penampakannya aja ya..🤭 tunggu tanggal 1, ketemu Be_Lea🤣.


.


.


Abang bemo sayang lagi liyat ale-ale ngapain yakk🙈