Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part53


Pagi hari suara dering alarm menyapa tidur nyenyak gadis yang masih terlelap.


Indira mengeliat merasakan tubuhnya yang lumayan terasa lelah. Mata nya terbuka melihat kesamping tidak ada Allan. Ia bangun dan bersandar di kepala ranjang, tubuhnya masih polos dan banyak bercak merah dibagian dada hingga perutnya. Menghela napas kasar Indira melihat jam didinding sudah pukul Delapan pagi. pantas saja Allan sudah tidak pergi, mengingat ia harus berangkat ke kantor.


Ingatannya kembali membayangkan kejadian tadi malam yang seketika membuat wajahnya merona dan terasa panas. Ia melirik kesamping ranjang diatas meja ada segelas susu, ia meraih gelas itu dan melihat kertas kecil dibawah gelas.


'Maaf jika kamu bangun Abang sudah pergi.. jangan lupa minum susunya'


Indira tersenyum membaca tulisan tangan Allan. Ia kembali menaruh gelas dimeja, pandangan nya melihat amplop putih disamping ponselnya.


Indira merapatkan selimut ditubuhnya, dirinya meraih amplop putih itu.


Sebuah tiket ke Paris dua Minggu lagi. dan selembar surat.


*Dear Indira yang Abang sayangi.


maaf jika Abang membuat kamu terpaksa melakukan sesuatu yang mungkin belum pernah kamu bayangkan, jangan benci Abang ya...


Abang sudah membebaskan hutang kamu menjadi pembantu Abang, kamu sekarang bisa bebas tanpa menanggung rasa balas Budi ataupun paksaan dari Abang.


Abang ingin melihat kamu menjadi wanita yang berhasil dan sukses.


Oya..Abang lupa belum memberimu selamat atas kelulusan mu, selamat ya kamu berhasil meraih prestasi terbaik, sesuai yang pernah diucapkan Mama, Abang memberimu tiket pergi ke Paris untuk mengejar cita-citamu..


Semua sudah Abang siapkan disana tanpa terkecuali. Abang hanya ingin melihat gadis kecil Abang berhasil menjadi seorang desainer terkenal...


jika Abang tidak bisa memilikimu, maka anggaplah Abang sebagai abangmu sendiri. jangan sungkan jika membutuhkan bantuan Abang.


Hanya itu yang bisa Abang berikan padamu, jaga diri dan jaga kesehatan.


^^^"Aku mencintaimu*"^^^


Air mata Indira luruh seketika. dirinya meremas selimut yang membungkus tubuhnya. surat yang ditinggalkan Allan seperti ucapan sebuah perpisahan, tetapi memang kenyataan nya begitu. Allan sangat baik kepadanya bahkan pria itu mau membiayai sekolahnya demi cita-citanya.


"Abang...hiks..hiks.." Tubuhnya bergetar, sesak didadanya tidak bisa ia bendung lagi sakit sekali rasanya.


..................


Sudah satu Minggu berlalu sejak kejadian itu, Indira masih sering mendatangi rumah Allan untuk menemani Oma Lili bahkan tak dipungkiri ia juga ingin bertemu Allan. Indira menceritakan apa yang Allan beri kepadanya dan Oma Lili mengamini tentang hal itu, beliau mendukung Indira dengan menyemangati, meski Lili sempat berfikir dari mana Allan tahu jika dirinya ingin menyekolahkan Indira.


Tetapi sayang nya selama satu Minggu ini dirinya sama sekali tidak bertemu Allan, bahkan menghubunginya pun tidak bisa, selalu diluar jangkauan dan sibuk jika Indira menghubunginya.


Apakah pria itu sengaja?


Hari ini adalah hari keberangkatan Bimo menuju ke La untuk mengemban ilmu di negeri orang.


Indira dan para sahabat nya mengantar keberangkatan Bimo kebandara.


"Pasti kita-kita kangen loe pak Ketu." Raka bicara dengan senyum tipis.


"Gue bakalan kangen sama kalian semua." Bimo menatap para sahabatnya satu persatu.


"Jangan sampai kita putus kontak, meskipun kita jauh tempat masing-masing tapi persahabatan kita akan tetap solid." Guntur menepuk punggung Bimo.


"Ya kita semua bakalan kangen sama ayang Bimo." Kiki dengan wajah sendu.


"Gak usah lebay muka loe Ki." Jingga menyegol lengan Kiki.


"Jangan lupain kita, meskipun disana loe dapat teman baru." Indira maju berkata dengan senyum.


Bimo membalas senyum Indira. "Gak bakalan gue lupain kalian, apa lagi Loe Ay, gue pasti rindu loe banget."


Resa dan Arum ikut memberi pesan pada Bimo, janji nya kepada Arum ia tepati, awalnya ia ingin pergi bersama Bimo ke La, jika Arum tidak menerima cintanya. Dan sekarang dirinya tinggal karena cinta nya diterima.


"Ay.." Bimo memeluk terakhir sahabat sekaligus gadis yang sangat ia cintai. Dirinya akan sangat merindukan gadis ini. "Jangan berubah ketika gue pulang." Bimo tidak tahu jika Indira akan pergi ke Paris Minggu depan.


"Hem..loe juga jangan pernah berubah sama kita disini." Indira membalas pelukan Bimo dan menepuk punggung itu pelan.


"Apa?"


"Apa ada seseorang yang sudah kamu cintai?" Bimo menatap wajah Indira dengan lekat.


Indira diam, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya, tanda mengiyakan pertanyaan Bimo.


Bimo tersenyum, senyum yang aslinya mengandung perih didadanya. "Gue harap loe bahagia dan mendapatkan cintanya, ingat kasih tau gue siapa orang yang beruntung mendapatkan cinta loe." Bimo mengusap kepala Indira pelan.


Indira hanya tersenyum dan mengangguk. Bimo berjalan pergi setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya dan para sahabatnya, tangis Leina tak terbendung harus melepas anak semata wayangnya pergi menuntut ilmu.


Indira menatap punggung Bimo yang semakin menjauh, dirinya akan jauh dari Bimo, sahabat paling baik baginya.


..........................


Satu Minggu sudah berlalu, besok pagi ia akan berangkat menuju negara impiannya untuk menjemput mimpinya.


Indira sedang duduk dikursi meja belajarnya, satu koper besar sudah ia siapkan dengan berisikan keperluan dan kebutuhanya disana.


Ia sedang menulis sesuatu di star buku yang bersampul hello Kitty, ia menggoreskan tinta hitam dengan mencurahkan semua isi hatinya dibuku diary nya itu.


Perasaan senang sedih suka cita dan cinta kepada pria ia curahkan di buku itu, berharap jika orang itu menghubunginya, maka sudah pasti orang itu membaca tulisannya.


Waktu cepat berlalu kini ia sudah berdiri dibandara ditemani Oma dan ketiga sahabatnya ditambah ada Resa, Resa sudah seperti bodyguard Arum saja.


Dirinya masih mengharapkan seseorang datang meskipun hanya mengucapkan selamat tinggal. Setidaknya ia bisa melihat wajah pria itu untuk yang terakhir kali.


"Sayang semua sudah tidak ada yang tertinggal." Tanya Oma.


"Tidak Oma, Dira sudah mengeceknya berulang kali." Indira tersenyum.


"Huwaaa... gue bakalan kangen Lo Dir." Kiki menangis memeluk sahabatnya itu.


"Gue juga bakalan kangen loe Ki." Indira membalas pelukan Kiki.


"Gue doain semoga loe berhasil." Arum ikut memeluk kedua sahabatnya.


"Jangan lupain kita ya,, kalo liburan kita akan jenguk Lo." Ucap Kiki langsung mendapat toyoran kepala oleh Arum.


"Loe kira Paris Jakarta naik ojek sampe."


"Dih..gak usah pake kekerasan rum-rum." Kiki mendengus kesal, karena ditoyor Arum.


"Rum-rum?" tanya Indira.


"Itu..tuh panggilan sayang manusia robot." ucap Kiki sukses membuat Arum malu didepan Oma.


"Cie...bisa juga robot romantis." Indira meledek.


"Sudah-sudah kalian ini, itu keberangkatan sebentar lagi, sana masuk."


Indira kembali memeluk sahabatnya, dan terakhir Oma. "Indira pergi Oma, jaga kesehatan Oma." pamit Indira.


"Hati-hati sayang jaga diri kamu juga disana, jangan lupa sering-sering hubungi Oma." Oma pun melepas kepergian Indira dengan menitikan air mata.


Oma melihat ke belakang dimana seorang pria menggunakan hodie dan kaca mata hitam sejak mereka datang memperhatikan. 'Semoga kamu baik-baik saja nak'


Oma Lili hanya berdoa semoga mereka dipersatukan dengan ikatan yang kuat.


.


.


.


Sad ending seru kali ya..👉👈 ada yang sutuju?