Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part69


🌹


🌹


🌹


Empat tahun dirinya menunggu gadis itu untuk menyelesaikan jenjang kuliahnya, hingga sekarang gadis itu mendapat nilai kelulusan yang memuaskan. Dirinya sudah banyak menyiapkan kejutan untuk Indira ketika gadis itu pulang ke tanah air. Beruntung dirinya masih di beri kesempatan melihat dunia kembali setelah mengalami kecelakaan pesawat yang banyak menewaskan korban.


"Ra..?"


"Ya..?"


"Kita nikah yuk..!"


"Abang gak usah aneh-aneh, duduk aja masih dibantu mau ngajakin nikah." ucap Indira yang sudah menatap Allan horor.


"Ya nanti loh Ra, kalo Abang udah sembuh." Allan menarik pelan hidung Indira karena tubuhnya masih terasa lemas.


"Itu dipikirin nanti, sekarang Abang harus sembuh dulu." Indira ingin berdiri namun tangan nya dicekal oleh Allan.


"Mau kemana?"


"Disini sempit, nanti Abang susah gerak."


"Gak pa-pa, Abang akan cepat sembuh jika kamu selalu temani dan dekat sama Abang."


'modus yee'


"Ck. Abang jangan aneh-aneh deh, aku hanya mau duduk disitu." Indira menunjuk kursi dengan dagunya.


"Disini aja, Abang masih kangen sama kamu." Allan menarik tangan Indira pelan, agar gadis itu duduk di sampingnya kembali.


Indira menurut, dia pun juga merindukan pria yang sedang duduk di ranjang pasien itu.


Allan menyandarkan kepalanya di bahu Indira, dan tangan nya menggenggam tangan Indira.


"Kamu tahu Ra, momen seperti ini yang Abang tunggu." Indira hanya diam, tangan kirinya mengelus rambut Allan. "Momen dimana kamu sudah lulus dan menggapai mimpimu, meskipun belum terwujud tapi Abang bahagia, karena kamu sudah dekat dengan Abang." Allan menarik nafas pelan. "Selama kamu di Paris Abang selalu kepikiran kamu tau." Allan menoel dagu Indira dengan telunjuknya, dan menatap Indira dengan penuh cinta.


Indira menatap Allan dengan mengerutkan kening. "Kenapa?"


"Abang takut, kamu diambil orang."


"Aku kan disana belajar Abang, bukan mencari jodoh." Indira tidak habis pikir dengan ucapan Allan.


"Kamu kan cantik Ra, dan pintar. wajar jika Abang selalu takut kehilangan mu lagi." Allan memeluk pinggang Indira.


"Abang mikirnya kejauhan." Indira sedikit tertawa, dirinya tidak percaya jika pria dewasa di sampingnya memiliki sifat lucu.


"Ra..?"


"hm.."


Indira menoleh dan Allan pun segera menyambar bibir ranum yang sudah sangat ia rindukan. keduanya memejamkan mata, menyalurkan rasa saling menyayangi dan mencintai. Allan menatap bibir tipis yang sekarang menjadi agak bengkak, ibu jarinya mengusap lembut sisa Saliva di bawah bibir Indira.


"Ra, mau ya nikah sama Abang."


....................................


Setelah satu Minggu dirawat, dan keadaan Allan semakin membaik, kini Allan hanya perlu beristirahat yang cukup untuk memulihkan kondisi nya agar kembali sehat seperti sedia kala.


Dirumah Allan, Indira bukan hanya merawat Allan dan menyiapkan kebutuhan pria itu, tapi juga membantu menyiapkan keperluan Oma Lili. Semenjak Indira kembali kerumah itu Lili merasa lebih sehat dan jarang mengeluh tidak enek badan, maklum saja usianya yang sudah mulai menua membuatnya sering kelelahan dan sakit-sakitan.


"Sayang, dasi aku dimana?" Allan memanggil Indira, padahal ia tahu jika gadis itu sedang menyiapkan sarapan mereka.


Indira akan datang pagi hari sebelum Allan berangkat ke kantor, dan menyiapkan keperluan pria itu, seperti pakaian kerja nya. Dan sekarang si_Allan sedang mencari kesempatan untuk menjahili gadis itu. Karena jika Allan masuk kekamar mandi, maka Indira akan masuk dan menyiapkan keperluanya.


"Liat bayi besar mu, bikin ulah." Lili yang baru datang di meja makan, mendengar teriakan Allan.


"Biarin Oma, Abang hanya modus." Indira tertawa dan Lili pun hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Sayang..!"


Suara Allan kini semakin menjadi karena yang dipanggil tak kunjung datang, padahal dirinya sudah kesal karena harus menunggu.


"Udah sana lihat, mungkin beneran dia butuh kamu." Lili pun yang mendengar suara Allan hanya terkekeh.


Indira menarik napas dalam. "Awas aja kalo modus lagi." Gerutu Indira, masih terdengar oleh Lili.


"Kalo modus beri hukuman." Lili mengompori.


Indira membuka pintu kamar Allan. "Kenap__Aakhh."


Indira memekik terkejut karena tiba-tiba tubuhnya ditarik hingga menubruk dada bidang Allan yang belum memakai kemejanya, alias masih? ehem.


"Abang..!!" Indira memukul dada Allan dengan kedua tangan nya, Allan malah tergelak melihat wajah terkejut bercampur malu.


"Kenapa selalu menguji kesabaran Abang sih hm?" Allan mengeratkan tangan nya di pinggang Indira.


"Lagian Abang suka modus, udah kebaca..tapi aku kena jebakan Abang terus." Indira mengerucutkan bibir nya, membuat Allan gemas dan langsung menyambar bibir tipis yang selalu menggoda untuk dicicipi.


"Iss.." Indira menepuk dada bidang Allan sedikit kencang. "auwss.. sakit sayang." Allan meringis merasakan sedikit panas bekas tangan Indira.


"Maaf, sakit Bang?" Indira nampak bersalah, dirinya bisa melihat bekas lima jarinya membekas merah di dada Allan yang putih.


"Jangan pakai tangan sayang, pakai bibir biar enak." Ucap Allan membuat mata Indira melotot.


"Modus aja terus...moduss..!!" Indira yang awalnya merasa bersalah kini malah kesal, melihat kejahilan Allan.


Allan tertawa melihat wajah kesal Indira di pagi hari. "Kamu siap-siap gih, Abang mau kasih lihat kamu sesuatu."


Indira menaikkan satu alisnya. "Apa?"


"Kalau dikasih tahu, bukan kejutan namanya." Allan tersenyum dengan menarik hidung kecil Indra. "Sekarang bantu Abang pakai ini." Allan menyerahkan kemeja dan dasinya.


"Ini lepas dulu tangan nya." Indira menggerakkan tubuhnya karena Allan belum melepas rangkulan dipinggang gadis itu.


Indira membatu memakaikan kemeja dan dasi Allan, tentu saja dengan banyak ulah dan kejahilan Allan yang membuat waktu seharusnya 10menit menjadi 30menit.


"Butuh kesabaran benget, ngalah-ngalahin pake-in baju bayi." Indira mengerutu dengan berjalan didepan Allan yang senyam-senyum sendiri setelah berhasil mendapatkan moodboster nya.


"Jangan cemberut, nanti surprise nya gak jadi loh." Allan merangkul pundak Indira dari samping. kini keduanya berjalan bersama menuju meja makan yang masih ada Lili yang sudah menyelesaikan sarapannya.


"Dih..ngasih kok pake ancaman." Indira menepis tangan Allan yang berada dipundaknya.


Allan hanya tertawa, menjahili Indira pagi hari membuatnya bahagian. "Pagi mah." Allan menyapa Lili dan mencium pipinya.


"Kirain gak mau sarapan, karena sudah kenyang." Sindir Lili menatap putranya yang hanya menampilkan senyum, senyum menyebalkan bagi Indira.


"Mau nya sih gitu Ma, tapi yang mau dimakan gak mau." Allan melirik Indira yang sedang mengoleskan selai ke roti.


"Buruan di halalin, keburu nanti dia berubah pikiran." Lili berkata dengan berbisik mencondongkan tubuhnya dekat dengan putranya.


"Allan udah siapin semua Ma."


"Kalian ini kenapa bisik-bisik?" Indira menatap Allan penuh curiga.


"Rahasia sayang." Allan tersenyum menyebalkan.


"Oma, Dira mau ikut Abang, tidak apa-apakan kalo Dira tinggal dulu." Indira memberitahu Lili.


"Tidak apa-apa sayang." Lili tahu putranya akan membawa Indira kemana, karena semua yang Allan ingin berikan ke Indira, atas pendapat Lili juga.


"Hanya sebentar mah, nanti Allan antar Dira, pulang lagi." Allan tahu jika mamanya akan kesepian jika Indira tidak ada dirumah.


"Tidak apa-apa, kalian hati-hati dijalan."


.....................................


"Kita mau kemana sih Bang?" Indra merasa jalan yang mereka lewati bukan arah kekantor Allan.


"Kenapa? penasaran?" Lagi-lagi ucapan Allan membuat Indira semakin kesal.


Tak lama mobil Allan berhenti disebuah bangunan yang nampak seperti butik, bagus dan terlihat mewah, bahkan tempatnya pun sangat strategis.


"Ayo sayang." Allan mengulurkan tangan ketika gadis itu hanya berdiri diam karena melihat nama yang tertera diatas bangunan itu


"Cahaya Boutique." Indira bergumam membaca nama itu. "Kenapa kita kesini Bang?"


Allan dan Indira berdiri didepan bangunan itu, nampak masih kosong dan belum berisi. Indira dibuat heran kenapa Allan membawanya ke butik yang masih kosong.


"Abang sengaja buatkan toko ini buat kamu." Ucap Allan menatap kedepan. "Abang hanya bisa menyediakan tempat, isinya adalah tugas kamu, sebagai lulusan terbaik." Allan menatap wajah Indira yang nampak masih bingung.


"Maksud Abang apa?"


"Butik ini milik kamu, untuk menuangkan hobi dan impianmu." Ucap Allan yang pindah dibelakang tubuh Indira, lalu memeluknya dari belakang.


"Buat aku." Indira terbata nampaknya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Ya, tapi ada syaratnya?"


"Syarat?"


"Minggu depan kita menikah."


.


.


.


.


.


Ayo...ayo..siapa yang mau hadir, satu Minggu lagi Abang halalin neng Aya...😜Like..komen..kalian jangan tertinggal ya..😘😘😘