
Pagi ini Indira mendatangi butiknya, seperti biasa dirinya akan datang dua kali dalam seminggu, tapi kali ini dirinya datang untuk ketiga kalinya karena merasa bosan di rumah.
Indira pergi menggunakan supir keluarga yang sudah disiapkan oleh Allan, Indira juga sudah meminta ijin jika dirinya akan pergi ke butik.
"Loh ibu..?" Rere yang melihat Indira datang langsung menyapa.
"Hai.. Re." Indira tersenyum menatap Rere.
"Tumben ibu datang, pasti dirumah bosan."
Indira tertawa mendengar ucapan Rere. "Kamu benar, lebih baik aku disini meskipun tidak melakukan apa-apa tapi ada kalian yang tidak membuat ku bosan." Indira duduk de meja kerja Rere, dan Rere duduk di depan bosnya.
"Ibu mau makan atau minum apa, biasanya orang ngidam pengen aneh-aneh." Rere antusias bertanya.
"Belum Re, biasanya yang ngidam itu Abang, karena dia yang suka makan aneh-aneh." Indira terkekeh ketika mengingat Allan yang ingin makan petisan padahal Allan tidak suka buah yang rasanya asam.
"Duh, kalau gitu sih enak di bapak, yang pengen apa-apa bapak bukan bumil nya." Rere ikut tertawa.
"Ya, kamu benar Re, aku yang ingin bermanja tapi malah suami yang minta di manja." Keduanya tertawa dengan obrolan Absur mereka hingga terhenti ketika seseorang datang.
"Sayang...pesanan makanan kam_" Belum sempat Riko meneruskan ucapanya, dirinya sudah menutup mulutnya rapat-rapat ketika melihat tatapan penuh intimidasi keponakanya.
"Indira.." Riko salah tingkah, menggaruk kepalanya yang tak gatal karena kepergok oleh Indira.
"Oh..jadi udah sayang-sayanagan." Indira bersedakep menatap Riko bergantian dengan Rere yang hanya menunduk menyembunyikan rasa malunya.
"Em..bukan begitu Ra, kamu salah dengar." Riko berkilah.
"Oh..salah denger." Indira semakin menatap Riko horor.
"Ck. jangan ngeliatin aku kayak gitu, udah seperti buronan aja." Riko mendengus kesal, menaruh bungkusan yang Riko berikan untuk Rere.
"Lah siapa yang ngatain kakak buronan, yang ada kakak itu terpidana."
"Apa.. Emang aku ngapain?" Tanya Riko polos.
"Ck. apa itu sayang-sayang, aku bilangin sama paman biar tau rasa, cepet dinikahin."
"Eh..berani ngadu-ngadu." Riko duduk di samping Rere yang masih menunduk malu.
"Biarin, lagian umur kakak udah tua, paman sama Tante udah minta cucu ini pacaran aja sembunyi-sembunyi." Indira masih mencecar Riko. Sebenarnya dirinya sudah tahu jika Riko memiliki hubungan dengan Rere, namun Indira belum pernah memergoki langsung, jadi sekarang lah kesempatan bagi nya.
"Tua, umur suami kamu tu yang tua." Riko menatap sengit Indira.
"Re jangan mau lakik modelan dia, lihat dia aja gak berani serius." Ucap Indira mengompori Rere, Indira tahu jika Rere mencari pria yang serius dengan nya, karena Rere pernah bercerita dengan Indira sebelum kenal dengan Riko.
Rere mendongakkan kepalanya menatap Indira bergantian dengan Riko.
"Eh..gak gitu sayang, eh maksud aku Re." Riko salah tingkah sendiri mendapat tatapan Rere yang Riko tidak mengerti.
Ingin rasanya Indira meledakkan tawanya melihat wajah Riko yang panik. "Bohong Re, kak Riko pasti hanya ingin main-main sama kamu, jika serius pasti kamu sudah dikenalkan pada kedua orang tuanya." Sindiran Indira telak membuat Riko tak berkutik dengan tubuh panas dingin.
Rere hanya menatap sendu pada Riko dirinya memang menginginkan laki-laki yang serius menjalin hubungan dengannya karena memang usia Rere sudah 24tahun.
"Ck. gak usah kompor loe Ra." Riko berdiri dan meraih tangan Rere membawa Rere pergi dengan wajah kesal Riko mendelik ke arah Indira.
"Awas Re, kamu mau di bawa ke hotel." Indira meledakkan tawanya ketika Riko semakin menatapnya tajam.
.
.
.
"Sayang, kamu marah..Indira memang seperti itu jangan kamu dengarkan." Riko menggenggam tangan Rere, namun Rere tetap tidak merespon. "Mungkin dulu aku pria yang suka main wanita, tapi tidak untuk sekarang setelah bertemu kamu, aku ingin hubungan kita serius." Riko kembali menatap Rere yang masih setia pada posisinya, membuat Riko frustasi sendiri.
"Re, jangan diam saja, kamu membuatku frustasi." Riko tidak bisa melihat Rere hanya diam saja, dirinya langsung menambah kecepatan laju mobilnya.
"Kamu apa-apa sih, bisa pelan-pelan tidak." Rere berpegangan erat pada sealtbeat karena Riko mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi padahal jalan cukup ramai.
Riko tidak mendengar ucapan Rere dirinya fokus menyetir hingga lima belas menit kemudian mobilnya sampai di depan rumah kedua orang tuanya.
"Ini rumah siapa?" Rere nampak bingung karena Riko membawanya kesebuah rumah yang besar.
Riko tidak menjawab melainkan turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Rere, tangan Riko menggandeng tangan Rere untuk masuki rumahnya.
"Pah, mah..!" Riko berseru memanggil kedua orang tuanya yang memang sedang dirumah.
Rere membeku ingin melepaskan genggaman tangan nya namun Riko malah mengeratkan pegangannya.
"Mas.." Rere menatap mata Riko tidak percaya, dirinya di bawa kerumah kedua orang tua Riko.
"Riko, tumben kamu sudah pulang." Tanya Harna yang lebih dulu menemui Riko karena Harna sedang memasak di dapur, dan Harlan sedang berada di ruang kerjanya.
"Ini siapa?" Lanjut Harna yang melihat Riko membawa seorang gadis.
"Kenalin mah, Rere calon istri Riko." Ucap Riko santai namun tidak dengan Harna yang membulatkan kedua matanya, dan Rere yang merasa malu dan tidak percaya.
"Riko beneran kamu bawa calon mantu untuk mama." Harna langsung mendekati Rere. "Ya ampun calon mantu mama cantik banget, siapa nama kamu sayang?" Harna sangat antusias apalagi melihat wajah Rere yang sepertinya gadis baik-baik.
"Emm.. Re-rere Tante." Rere terbata karena gugup, dirinya tidak menyangka jika Riko langsung membawanya dan berkenalan langsung kepada kedua orang tuanya.
"Ayo sini kita ke meja makan, kebetulan Tante sedang masak banyak." Harna membawa Rere menuju meja makan, dirinya sangat senang karena akhirnya Riko membawa kekasihnya.
"Ck. begini kalau tahu, pasti di monopoli pacar aku." Riko menggerutu.
"Siapa pacar kamu." Harlan muncul di belakang Riko, membuat pria itu kaget.
"Ck. papa juga udah kaya jelangkung tiba-tiba nongol."
Plak.
"Sembarangan kamu ngatain papa jelangkung." Harlan menggeplak bahu Riko.
"Habis bikin kaget." Riko dan Harlan menuju meja makan.
"Loh ada tamu, siapa mah?" Tanya Harlan yang melihat istrinya bersama seorang gadis yang dirinya tidak kenal.
"Ayo sayang kenalan sama calon papa mertua." Ucap Harna yang sengaja menggoda Rere, karena Rere sejak tadi malu-malu.
"Rere om." Rere menyalami Harlan dan melirik Riko yang berwajah biasa saja.
"Rere..?" Tanya Harlan bingung, meminta jawaban dari istrinya.
"Rere, calon mantu kita." Ucap Harna semangat.
.
.
Like komen....tinggalkan jejak kalian..kesayangan author😘😘