Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part92


Kini keduanya berada di ruangan dokter kandungan spesialis wanita, Allan tidak mau jika yang memeriksa istrinya adalah dokter laki-laki. Ck posesif sekali kau bang.


"Selamat pak istri anda sedang hamil, dan usianya sudah enam Minggu." Ucap dokter perempuan itu yang masih mengarahkan alat Transducer itu kebagian perut rata Indira, terlihat di layar monitor ada bulatan kecil seperti biji kacang.


Mendengar ucapan dokter tersebut, membuat kedua sepasang suami istri itu bahagia, bahkan mata kedua nya menatap layar yang terdapat mahluk kecil dengan berkaca-kaca.


"Sayang, kamu hamil." Allan menciumi wajah istrinya tanpa terlewat meluapkan rasa bahagianya.


"Iya, Abang aku hamil." Indira pun tak kuasa menahan haru, akhir-akhir ini dirinya juga merasa aneh, seperti bukan dirinya yang jika menginginkan sesuatu harus di turuti, jika tidak dirinya akan sedih dan bahkan menangis.


Keduanya sudah kembali duduk, setelah melakukan konsultasi seputaran hamil.muda, karena ini memang pengalaman pertama bagi keduanya.


Jika bukan Jimmy yang peka dan memberi tahu bosnya, mungkin Indira dan Allan tidak akan menyadari hal ini.


"Saya akan kasih resep vitamin dan pereda rasa mual, jika ibu mengalami M**orning Sickness, anda bisa meminumnya." ucap dokter perempuan itu.


"Baik dok." Ucap Indira dengan senyum terus mengembang, bahkan Allan senantiasa menggenggam tangan istrinya.


"Dok, jika melakukan hubungan inti*m apakah berpengaruh pada janin." Tiba-tiba Allan bersuara, dan ucapan Allan membuat Indira mendelik ke arah suaminya dengan wajah malu.


Dokter itu hanya tersenyum mendengar ucapan Allan. "Kalau kehamilan masih muda memang masih rawan pak, jadi lebih baik berhubungan ketika usia kandungan memasuki bulan ke tiga."


Mendengar ucapan dokter membuat tubuh Allan lemas, kenapa harus selama itu? pikirnya.


"Apakah sama sekali tidak boleh dok?" Kali ini ucapan Allan di hadiah-i cubitan dari Indira.


"Auws, kenapa dicubit sih yank, aku kan hanya bertanya?" Allan mengusap lengannya yang terasa panas.


Indira merasa malu karena Allan membahas masalah bercinta dengan dokter wanita itu.


"Boleh saja, asalkan kondisi janin kiat, dan melakukan nya tidak terlalu sering, gunakan gaya yang membaut ibu hamil nyaman itu yang terpenting." dokter itu merasa geli melihat reaksi kedua suami istri didepannya ini.


"Untung masih boleh." Allan bergumam namun masih bisa didengar oleh mereka.


"Abang..?" Rasanya Indira ingin sekali menenggelamkan suaminya di dasar laut karena sudah membuat dirinya malu membahas masalah ranjang.


"Kalau begitu kami permisi dok, dan terimakasih." Karena sudah mendapatkan jawaban yang Ia inginkan Allan pun segera pamit.


.


.


.


"Kamu kenapa cemberut gitu sih yank, hm..?" Allan mengelus kepala istrinya, dirinya sangat bahagia kini istrinya sedang mengandung buah hati mereka.


"Jangan cemberut gitu sih yank, jelek tau." Allan menoel dagu Indira.


"Iss..Abang bikin aku malu tau gak sih?" Indira mendengus kesal ketika mengingat kelakuan suaminya di rumah sakit tadi.


Bagaimana tidak, setelah membuat nya malau di depan dokter, Allan langsung menggendong dirinya ketika keluar ruangan sampai parkiran dan hal itu sukses membaurnya malu karena menjadi bahan tontonan orang-orang yang melihatnya.


"Seharusnya kamu senang sayang, karena punya suami pengertian kaya aku." Allan tersenyum tipis mengingat kelakuannya yang terlalu bahagia.


"Dih, bukanya seneng tapi malah bikin aku malu." Indira mencebikkan bibirnya.


"Malu tapi kamu mau." Allan tersenyum jahil menggoda Indira, kedua nya berada dalam mobil menuju pulang ke rumah.


"Sekarang kamu pengen apa? ngidam apa? bilang Abang akan turuti semua keinginan kamu dan anak kita." Allan mengelus perut rata istrinya menggunakan tangan satunya yang bebas.


"Belum pengen apa-apa, nanti kalau pengen Abang janji mau nurutin." Indira menghadap suaminya.


"Abang akan turuti selagi mampu, apapun demi kalian berdua." tangan Allan mengelus pipi Indira.


"Oke.. awas ya kalau nolak."


Indira tertawa mendengar ucapan suaminya, bahkan dirinya sudah ada keinginan yang mungkin akan membuat suaminya kelabakan.


.


.


.


"Tolong keruangan saya." Bimo menutup langsung menutup sambungan telepon.


tok..tok..tok..


"Masuk."


"Bapak manggil saya."


"Ya, tolong kamu bereskan buku-buku di rak itu, susun kembali dengan urutan sesuai warnanya." Ucap Bimo dengan datar menatap gadis berseragam OG dengan seringai tipis.


Alena hanya mendesah pasrah, bos menyebalkan nya ini ada saja ulahnya. jika bukan bos pasti sudah dirinya maki habis-habisan.


"Oya,, jangan keluar jika belum selesai." Bimo tertawa puas dalam hati, melihat wajah masam bawahannya itu, entah mengapa dirinya senang sekali mengerjai Alena ketika di kantor, karena jika diluar gadis itu akan bicara ketus dengan wajah jutek kepadanya, lain jika sudah di kantor maka gadis itu hanya akan menurut dan pasrah.


Alena menggerutu dalam hati, mengumpat bos yang sangat menyebalkan baginya.


Jika dirinya bisa berbuat bebas, maka sudah pasti bos menyebalkan itu sudah ia bikin menjadi ayam geprek.


.


.


Di kediaman Aditama, Lili nampak bahagia mendengar menantu kesayangannya kini hamil kembali, tak kuasa Lili menahan haru keduanya berpelukan dengan perasaan bahagia.


"Selamat sayang, akhirnya Mama akan punya cucu lagi." Lili membingkai wajah Indira dengan kedua tangan nya.


"Iya ma, Dira bahagia sekarang Dira ham"


"Sayang, mulai sekarang kamu harus jaga kandungan kamu, tidak usah bekerja, dirumah saja dan jangan melakukan aktifitas yang berat-berat." ucap Lili menasehati.


"Mama tau sendiri Dira tidak pernah melakukan apa-apa semenjak kejadian itu, jadi mana mungkin Abang tidak melarang apalagi sekarang Dira hamil." Indira memanyunkan bibirnya, dirinya ingat ketika kejadian pendarahan waktu itu suaminya berubah sangat posesif menjaga dirinya, apalagi sekarang ketika dirinya hamil.


"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu sayang." Allan muncul dari tangga dengan pakaian santai, mencium kening istrinya dan mamanya.


"Ya, dan kamu juga harus nurut, demi calon cucu mama." Ucap Lili menarik hidung Indira pelan.


"Iya..Dira janji, bakalan nurut." Ketiganya tertawa bahagia.


"Allan kamu juga harus siaga, biasanya ibu hamil banyak permintaan yang aneh-aneh dan tidak masuk akal, itu yang di namakan ngidam..dan kamu juga harus tau jika mood ibu hamil itu berubah-ubah." Ucap Lili panjang lebar, mengingatkan putranya itu.


Allan yang mendengar ucapan mamanya langsung menatap wajah istrinya yang sepertinya mempunyai rencana, Allan sudah membayangkan hal aneh apalagi yang akan istrinya inginkan, mengunakan kata Ngidam??


.


.


Hai...para reader kesayangan author😘 udah lama aku gak menyapa kalian kesayangan ku..🥰..


.


Ehhh hari ini ada yang mau launching lhoo🤭 yang nungguin Abang Bemo, siap-siap ya..🤗


.


Like...komen..kalian jangan lupa, meskipun author tak bisa membalas komen kalian, tapi percayalah author membaca semua komen kalian dan kasih like, author semangat karena kalian para reader kesayangan🥰🥰🥰🥰🤗