Pembantuku Canduku

Pembantuku Canduku
Part117


Semenjak pulang kerumah Allan begitu sangat di perhatikan oleh Indira dan Mama Lili, padahal Allan sudah menolak dan meminta mereka untuk tidak berlebihan memperlakukannya yang memang sudah lebih baik dan bahkan sudah sembuh.


Kini Allan sedang duduk di kursi ruang kerjanya, Allan sengaja bekerja dari rumah mengingat Indira akan melahirkan tinggal menghitung hari.


Allan lebih memilih menemani sang istri di rumah ketimbang harus berada di kantor namun pikiranya tertinggal dirumah.


Urusan pekerjaan di kantor sudah Ia serahkan kepada Jimmy untuk menanganinya.


"Abang.." Indira masuk dengan membawakan secangkir kopi untuk suaminya. Perutnya yang besar membuat dirinya tidak leluasa berjalan, bahkan untuk berdiri saja terkadang harus di bantu.


"Kenapa harus repot jalan ke sini hm." Allan meraih tangan istrinya yang baru saja menaruh cangkir kopi di atas meja. Dan menariknya untuk duduk di pangkuannya.


Indira dengan senang hati menyambut keinginan suaminya. "Aku tungguin Abang gak keluar-keluar, jadi aku kesini deh." Ucapnya dengan wajah cemberut.


Indira menunggu Allan di kamar namun tak kunjung masuk padahal sudah jam sepuluh malam.


"Abang masih ada sedikit kerjaan." Allan menyentuh perut buncit istrinya yang membuat Indira terlihat begitu seksi dimatanya.


"Jadi aku mengganggu dong."


Allan tersenyum dan menarik hidung istrinya gemas. "Kalau kamu datang nya tadi sih iya, dan sekarang Abang sudah selesai."


"Kalau sudah selesai kenapa tidak masuk ke kamar?" Tanya nya dengan wajah penuh selidik.


"Abang baru mau keluar, tapi kamu udah duluan masuk."


"Kenapa hm..? Mau Abang gangguin lagi." Ucapnya dengan senyum mesum.


"Abang sekarang semakin menjadi-jadi deh, gak inget apa kalau baru sembuh." Indra memukul dada Allan pelan.


Suaminya itu bukanya menjawab tapi malah tertawa, memang jika di ingat Allan semakin mesum setelah pulang dari rumah sakit.


"Abang selalu ingin melihat tubuhmu yang polos di atas Abang dengan perut buncit seperti ini." Allan mengelus perut Indira, bibirnya ia dekatkan di telinga istrinya. "Kamu bertambah seksi sayang, Abang semakin tergoda." Suara Allan begitu berat, dengan nafas hangat yang menerpa leher Indira.


Tangan Indira mengalung dileher Allan, wajah keduanya kini saling menatap satu sama lain, pancaran besarnya cinta keduanya begitu besar dan dalam.


Ciuman yang awalnya lembut kini semakin menuntut apalagi tubuh Indira bergerak-gerak membuat Allan menggerang dalam.


Suara decapan menggema begitu indah di ruangan itu hingga keduanya semakin bersemangat untuk saling berebut oksigen dalam cumbuan.


Lidah keduanya membelit, deru napas semakin naik turun ketika Allan menahan tengkuk Indira untuk memperdalam cumbuannya.


Allan berdiri dengan membopong tubuh hamil istrinya, berjalan menuju kamar tanpa melepas cumbuan dibibir. Merasakan sesak di celananya membuat Allan sudah tak tahan untuk meminta lebih pada istrinya. Mungkin setelah ini dirinya akan puasa sampai satu bulan lebih.


Beruntung keadaan rumah sudah sepi jadi tidak ada yang melihat aksi nekat mereka bercumbu dari ruang kerja Allan sampai dalam kamar mereka.


Wajah Indira sudah nampak sayu menahan besarnya hasrat yang ingin dipuaskan.


"Abang.." Indira nampak mengeliat dengan alis menekuk tajam, ketika rasa hangat menyentuh bagian inti nya dan bermain di sana dengan sesapan, kecupan dan luma*tan yang membuat gairahnya semakin molanjak.


"Egh...shh..emmh..Abang..uhh." Indira menekan kepala Allan di bawah sana agar semakin dalam bermain di area intinya.


Keduanya kini sudah sama-sama polos, tanpa sehelai benang pun.


Dengan intens Allan melakukan pemanasan yang semakin membuat Indira tak berdaya, apalagi gelombang dalam dirinya mendesak keras untuk di ledakkan.


"Sayaang..akuh..Emm..shh aku." Allan semakin gencar menyesap, dan menggigit kecil belahan yang begitu menggoda untuk di mainkan.


Allan menyesap kuat ketika milik Indira semakin berkedut, seakan menarik lidahnya semakin dalam untuk mencumbu. "Abang... ahhhwsshh." Tubuh Indira mengejang dengan napas memburu ketika sesuatu dalam dirinya meledak dengan begitu banyak. Ekor matanya melirik kebawah melihat suaminya yang masih menyesap intinya membuat dirinya menahan erangan.


Wajah Allan mendongak dan tatapan mereka saling bertemu. Lidah Allan menji*lat ujung bibirnya yang masih basah. Melihat itu Indira nampak malu dan membuang muka.


"Sekarang giliran Abang.."


.


.


Fanas gak sihh🤣