
🌹
🌹
🌹
Setelah bercerita dan mencurahkan isi hati keduanya, kini hari sudah malam dan Indira harus pulang mengingat dirinya lusa akan menikah. Didalam mobil Riko yang menyetir sedangkan Indira berada di kursi penumpang depan dan Rania berada dikursi penumpang belakang. Riko yang awalnya ingin bicara dengan Indira kini menjadi kesal karena adiknya Rania malah ikut juga mengantar Indira, bahkan gadis manja itu bilang ingin menemani sepupunya dan menginap di rumah Indira. sungguh membuat Riko kesal setengah mati.
"Kak Dira, aku panggilnya Kakak saja, karena dari pertama kita ketemu dan kebetulan kakak juga lebih tua dari aku." Ucap Rania dengan mencondongkan tubuh nya kedepan agar lebih dekat dengan Indira. Nampaknya gadis itu sangat senang mendapati sepupunya adalah Indira, sahabat dari kekasihnya Raka.
"Terserah kamu Rania, mau panggil aku apa?" Jawab Indira dengan senyum.
"Cih, dia senang sekali mendapat teman curhat." Sindir Riko dengan wajah kesal.
"Biarin, dari pada kakak jomblo abadi, wlee." Rania menjulurkan lidah gantian meledek Riko.
Indira hanya menyimak dan tersenyum mendengar perdebatan kecil mereka. "Dunia memang sempit ya kak, kita di Paris kenal lama dan dekat. tapi tidak tahu jika Tuhan menakdirkan kita adalah saudara." Indira menatap Riko dari samping, pria itu fokus menyetir.
"Ya, dan untung saja cinta ku kamu tolak Ra, kalau tidak, kenyataan lebih menyakitkan karena kamu adalah adik sepupuku." Ucap Riko dengan senyum, namun hatinya menjerit.
"What? kakak menyukai kak Dira?" Rania yang mendengar ucapan Riko terkejut. ternyata Indira disukai oleh pria-pria tampan. "Wah kak Dira, kau hebat para pria tampan semua menyukai kakak." Rania berceloteh riang tanpa memikirkan perasaan Riko yang menangis. ku menangis...? ehhðŸ¤
"Para pria tampan?" Tanya Riko bingung. setahunya hanya Allan dan dirinya yang menyukai Indira.
Indira hanya tertawa mendengar ucapan Rania.
"Ya, contohnya Om Allan, kakak dan satu lagi sahabat kak Raka, Emm..Bimo ya kak Bimo." Rania semangat berceloteh membuka tabir cowok yang menyukai Indira.
"Kamu kenal Abang Allan Ran?" Tanya Indira, karena tadi dirinya belum sempat bertanya kepada Harlan soal calon suaminya.
"Kenal lah, bahkan dulu Rania sempat suka sama Om Allan sebelum dia pernah bertunangan dulu." Rania jujur, gadis manja itu sangat blak-blakkan.
"Suka? kamu suka pria tua seperti dia Rania." Riko berkata dengan tidak habis pikir, kenapa dua wanita ini bisa tergila-gila dengan rivalnya itu dulu.
Plak..
"Auwss,, kalian KDRT shh.." Riko mengusap bahunya yang panas karena mendapat geplakan dua tangan sekaligus.
"Makanya kakak kalo ngomong di saring dulu." Rania menatap tajam Riko, meskipun sang empu tak melihat karena fokus menyetir.
"Kakak juga tua, jangan tua teriak tua!!." Indira menatap Riko horor.
Yang ditatap hanya tersenyum miris, dirinya merasa kalah oleh pria tua kata Riko.
Mobil yang dikendarai Riko sampai di depan rumah Indira. "Loh kak, kok rumah kakak ramai?" Rania bertanya.
"Gak tau, perasaan gak ada janji sama mereka." Indira turun dari mobil diikuti Rania dan Riko, diteras rumahnya para sahabat sedang menunggu nya.
"Ay.." Bimo melangkah maju ketika Indira sampai di depan mereka.
"Kalian, tumben ngumpul." Tanya Indira yang menatap wajah sahabat nya satu persatu.
"Loh Beb, kamu kenapa bisa bareng neng Aya?" Tanya Raka, menghampiri Rania.
Dibelakang mereka seorang cowok baru saja sampai.
"Dia siapa Ra?" tanya Kiki kepo dengan wajah tampan Riko.
Jingga pun merangkul bahu Kiki." Yang."
"Iss.. Jing-jing." gerutu Kiki kesal.
"Kenalin ini kak, Riko kakaknya Rania, dan ternyata kita saudara." Ucap Indira menjawab kebingungan mereka.
"What." Mereka semua terkejut mendengar ucapan Indira.
"Ceritanya panjang, kapan-kapan gue ceritain." Indira duduk di samping Bimo. "Oya.. kalian tumben Dateng gak ngabarin ada apa?".
"Mau nemenin loe lah, bentar lagi Loe nikah, pasti gak ada waktu buat kumpul." Ucap Arum dengan wajah sendu.
Riko hanya diam menatap pria yang sejak tadi memperhatikan Indira, dirinya merasa aneh melihat Bimo menatap Indira dengan penuh arti.
Mereka semua berbincang, kecuali Riko yang sejak tadi melihat ke arah dimana dua orang yang sedang bicara.
Bimo mengajak Indira bicara empat mata, mereka berada di teras rumah, sedangkan yang lain berada di dalam.
"Ay, Selamat ya. semoga loe bahagia sama Om Al." Bimo menarik napas dalam, dirinya menatap sendu lurus kedepan. "Jujur, gue belum bisa lupain loe dari sini." Tangan Bimo menyentuh dadanya, menatap Indira yang juga menatapnya.
Indira hanya diam, dirinya tidak tahu harus mengatakan apa. "Gue bahagia kalo liat loe bahagia Ay. gue percaya kalo yang namanya mencintai itu harus rela berkorban demi orang yang kita cintai bahagia." Bimo menatap wajah Indira penuh luka, dada nya terasa sesak dirinya tidak menyangka jika mereka akan menjadi saudara, bukan menjadi pasangan. "Dan gue rela melihat orang yang sangat gue cintai bahagia dengan orang lain."
"Bim, loe adalah Sabahat terbaik gue, gue gak bakalan berubah buat loe, kita masih bisa seperti biasa. Dan gue yakin Tuhan udah siapin seseorang yang lebih baik buat loe." Indira menyentuh bahu Bimo dengan wajah sendu, dan bersalah. Ternyata selama ini Bimo diam-diam masih memendam perasaan kepadanya. "Gue minta maaf Bim, maaf kalo bikin loe sakit hati, gue gak bisa paksain perasaan gue." Air mata Indira sudah menetes, dirinya juga tidak bisa memaksa hatinya untuk memilih Bimo, karena nyatanya Allan lah yang ia cintai.
Bimo merangkul tubuh Indira kepelukanya, mengusap punggung gadis itu. "Gue akan jagain loe setelah suami loe. Gue harap loe gak berubah sama gue Ay." Bimo menghapus air mata Indira dengan ibu jarinya, dirinya mengecup kening Indira lama. "Maaf, gue hanya ingin ini menjadi terakhir kali gue cium loe, sebelum besok loe udah jadi milik orang lain." Bimo tersenyum, dalam hati, dirinya tidak baik-baik saja, dadanya berdenyut nyeri dan sesak. jika bisa dirinya ingin membawa kabur Indira, namun dirinya juga sadar mereka saling mencintai dan ia hanya penghalang bagi keduanya.
Indira membalas senyum Bimo dirinya kembali memeluk tubuh Bimo. Gue orang pertama yang bahagia, jika loe bahagia Bim"
Bimo membalas pelukan Indira erat. Mereka menyelesaikan apa pun yang mengganjal di hati keduanya, tidak ada yang tahu jika cinta Bimo sedalam itu pada Indira.
.
.
.
.
.
.
Waktu begitu cepat berlalu, kini hari yang paling di tunggu, hari bahagia dan juga mendebarkan bagi Indira.
Disebuah kamar hotel, Indira nampak cantik dengan kebaya putihnya, ditemani dua sahabat dan Rania. Mereka bertiga tak henti-hentinya memuji kecantikan paras pengantin yang sebentar lagi akan sah menjadi istri Allanaro Putra Aditama.
"Gue aja cewek yang liat loe gak berkedip Ra, apa lagi para laki-laki." Ucap Kiki.
"Wess jelas sahabat gue ini emang cantik, tidak ada duanya." Arum menaruh tangan nya dipundak Indira dari belakang.
Indira sendiri merasa takjub dengan penampilan nya, sungguh didepan cermin yang berdiri bukan seperti dirinya.
Ceklek.
Pintu di buka, ternyata nenek dan Harna masuk menemui cucu dan keponakan. "Sayang kamu cantik sekali." Harna langsung mendekati Indira, setelah menaruh nenek disamping Indira duduk dengan kursi roda.
"Terimakasih Tante." Indira tersenyum, dan beralih mendekati nenek yang sudah menitikan air mata. "Nenek minta doa restunya." Indira berjongkok dengan mencium kedua tangan neneknya.
Nenek mengelus kepala Indira pelan, agar tidak merusak tatanan rambutnya. "Doa nenek selalu menyertaimu cucuku." Nenek berkata lirih dengan menahan tangis. "Kalian berbahagia lah, dan kamu harus menjadi istri yang baik, yang nurut pada suami." Ucap nenek memberi wejangan.
"Dira akan berusaha nek." Indira sedikit berdiri dan memeluk tubuh nenek nya yang sudah renta.
"Kalian sudah selesai?" Harlan tiba-tiba muncul dengan Riko di balik pintu.
"Sudah pa." Harna menjawab ucapan suaminya, setelah menghapus pelupuk matanya yang basah.
"Ponakan paman cantik sekali." Harlan tersenyum namun matanya berkaca-kaca pria paruh baya itu, memeluk tubuh Indira. "Semoga kamu selalu bahagia nak, kami semua mendoakan mu." Harlan mendongakkan kepalanya, menghalau cairan bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya tidak turun.
"Terimakasih Paman, Indira bahagia bisa berkumpul dengan kalian, disaat Indira akan menikah."
Mereka yang ada di ruangan itu nampak sedih bahkan ketiga gadis yang tadinya ceria kini sudah meneteskan air mata.
Setelah diberi tahu seorang WO jika acara akan segera dimulai, maka Harlan pun menggandeng lengan keponakan nya. "Kamu siap sayang?" Tanya Harlan.
"Dira deg-degan paman." Jujur jantungnya berdebar kencang, dan telapak tangan nya pun berkeringat dingin." Tidak apa-apa Wajar kalau begitu, paman akan menunggu di bawah." Harlan mengecup kening Indira sebelum keluar dari kamar itu.
Riko maju mendekati Indira. "Loe cantik Ra, banget malah." Riko tersenyum menggoda adik sepupunya itu. "Coba aja kalo gue yang jadi suami loe, gak akan gue biarin loe keluar kamar."
Plak..
"Kakak gak usah mulai." Rania melotot tajam kearah Riko, yang lain hanya tertawa, setidaknya membuat Indira sedikit rileks.
"Loe kebiasaan, main kekerasan Rania." Riko mengusap lengannya yang di tampol Rania.
"Udah jangan pada ribut, ayo acaranya sudah mau dimulai." Harna melerai perdebatan mereka.
Indira berjalan diapit oleh Harna dan Riko, sedangkan Rania membantu mendorong kursi roda nenek.
.
.
.
.
.
Di bawah Allan sudah gelisah, dirinya menunggu calon istrinya yang tak kunjung turun, dirinya setengah mati menahan rindu selama hampir satu Minggu.
"Sabar Al, loe gak sabar pengen ketemu calon Bini loe." Rendy yang duduk dibelakang Allan melihat tingkah tidak sabar adik iparnya itu.
"Mas kaya gak pernah ngalamin aja." Allan mengusap keningnya dengan tisu, sebernaya dirinya juga gugup dan berdebar akan mengucapkan ijab qobul.
Sedikit keramaian tadi terasa hening, melihat pengantin wanita berjalan dari sudut ruangan di apit oleh Riko dan Harna. Allan yang masih menggerutu karena ulah iparnya kini bungkam seribu bahasa melihat spek bidadari nya datang menghampirinya, mata Allan tak berkedip menatap cantiknya calon istri. jantungnya berdetak kencang betapa dirinya beruntung akan memiliki bidadari berwujud manusia.
Dibelakang Allan ada Leina, Lili, Bimo dan Jimmy, Nicolas pun juga hadir membawa keluarga kecilnya untuk menyaksikan hari bahagia sahabat sekaligus bosnya. Fredy juga nampak hadir sahabat Allan juga membawa keluarga kecilnya.
Indira berjalan menunduk, dirinya merasa gugup dan jantungnya berdebar kencang, ketika matanya tak sengaja bertabrakan dengan mata Allan yang menatapnya. Ia juga merindukan pria yang akan menjadi suaminya itu, setelah dipinggir hampir satu Minggu.
Harna membantu Indira duduk disamping Allan, dan Leina membantu memasangkan kerudung putih diatas kepala calon mempelai.
"Baiklah apa semua sudah siap." Pak penghulu yang memecah keheningan sesaat.
"Sudah dari tadi, pak." tiba-tiba suara Allan tercetus, pandanganya pun tak lepas melirik gadis cantik disampingnya. Indira hanya menunduk malu mendengar ucapan Allan.
"Oh..rupanya calon mempelai pria sudah tak sabar ya." Pak penghulu berucap, membuat yang berada di acara itu tertawa dan tersenyum.
"Silahkan pak Harlan, sepertinya mempelai sudah tak sabaran." Pak penghulu mempersilahkan Harlan sebagai wali yang akan menikahkan Indira.
"Bismillahirrahmanirrahim." Harlan mengulurkan tangan untuk dijabat oleh Allan. dan Allan pun segera mengambil tangan Harlan untuk ia jabat erat.
"Saudara Allanaro Putra Aditama Bin Ahmad Aditama, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kami ananda Indira Cahaya Putri binti Hardi Kusuma dengan maskawin satu set perhiasan emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai." Harlan mengucapkan dengan menghentakkan genggaman tangan nya.
"Saya terima nikah dan kawin nya Indira Cahaya Putri binti Hardi Kusuma dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Allan menjawab lantang dengan satu tarikan napas.
"Sah"
"Sah"
Alhamdulillah'
Mereka semua mengucapkan bersamaan merasa lega dan juga bersyukur karena dua sejoli itu sudah sah menjadi suami istri.
Para wanita kerabat keduanya nampak tersenyum dengan meneteskan air mata, gadis kuat yang dulunya hidup sebatang kara kini sudah menjadi istri seorang Allanaro.
Indira mencium tangan Allan, ketika pak penghulu menyuruh kedua nya untuk bersentuhan, Allan juga mencium kening Indira dalam, ada perasaan membuncah bahagia ketika baru saja status mereka sudah menjadi sepasang suami istri. Keduanya tersenyum dengan mata penuh binar bahagia dan cinta.
Para keluarga memberi selamat dan doa untuk pengantin baru itu, semua nampak bahagia, bahkan Bimo sampai meneteskan air mata antara bahagia dan sedih melihat Indira dengan wajah bahagia.
.
.
.
.
.
Dahlah aku cuma menunggu Kado dari para reader,,🤠Like, komen, hadiah kalian sebanyak-banyaknya... Jangan pelit..ini 2k kata buat menuju Sah😜