
"Abang kenapa liatin nya kayak gitu?" Indira melihat suaminya yang sedang menatap putranya menyu*su.
"Engh...Milik Abang sekarang jadi milik Beby Al." Ucap Allan.
Indira tersenyum, gemas melihat wajah suaminya yang lucu.
"Abang puasa dulu, ngak boleh rebutan sama Anak, harus ngalah."
"Ck. Gak tahan Abang kalo harus puasa lama." Ucapnya frustasi membayang kan kurang lebih dua bulan puasa tidak menyentuh istrinya.
"Harus tahan, bisa- bisa nanti Beby Al cepat punya adik."
"Gak pa-pa Abang malah seneng, Abang suka lihat kamu perut buncit tambah seksi dan hot." Allan melirik Indira dengan wajah mesumnya.
"Iss..Abang gak ngerasain gimana rasanya melahirkan, ini aja masih belum sembuh tapi sudah memikirkan adik buat Al lagi." Indira mencebik kesal.
Allan terkekeh. "Ya gak harus sekarang, kamu jangan pakai KB sayang, Abang pengen punya anak banyak." Ucap Allan malah semakin menjadi.
"Abang ihh..." Indira mencubit pinggang suaminya, membuat Allan tertawa.
"Sepertinya dia sudah pulas." Indira melepas tautan pucuk dadanya yang sudah tak di sesap oleh Beby Al.
"Biar Abang pindahkan." Allan menggendong kembali bayi mungil itu, dan meraihnya di box.
"Tidur yang nyenyak sayang." Allan menciumi kening dan pipi bayinya gemas.
Mengusap lembut pipi halus Beby Al.
"Tidur lagi masih malam." Ucap Allan yang memang melihat jam masih tengah malam.
"Hm..udah gak ngantuk." Jawab Indira dengan merangkul perut suaminya yang berbaring disampingnya.
"Mau Abang bikin ngantuk?" Tanya Allan dengan mengelus pipi istrinya.
"Abang jangan aneh-aneh." Indira memperingati.
"Mana bisa Abang aneh-aneh, palingan hanya satu macam saja."
"Jangan mulai Abang." Indira menduselkan wajahnya di perut Indira.
"Abang ingin ini." Allan langsung Melu*mat bibir tipis istrinya yang sudah Ia rindukan meskipun hanya sehari.
Pangutan Allan di sambut Indira suka cita, sapuan lidah Allan menyusuri rongga mulutnya.
Tangan Allan menahan tengkuk Indira agar ciumannya semakin dalam, lidah keduanya saling membelit bertukar Saliva dan mengeksplor setiap deretan gigi keduanya.
Bibir Allan menyesap dan mengigit kecil belahan bibir atas bawah, seperti akan habis jika dirinya gigit.
"Engh.."Indira meleguh ketika pasokan udara nya menipis.
Allan menjeda cumbuannya, dan kembali Melu*mat ketika Indira sudah mengambil napas.
.
.
"Makan dulu sayang." Allan menyodorkan sendok yang berisi nasi serta sayuran hijau untuk melancarkan ASI.
Indira membuka mulutnya. "Shh.."
"Kenapa?" Tanya Allan panik yang mendengar rintihan Indira.
"Bibir aku perih." Indira mencebikkan bibir bawahnya yang terlihat memar.
Allan terkekeh. "Abang terlalu buas, sampai bibir kamu lecet." Ibu jarinya mengelus bibir yang luka.
"Abang gak kira-kira kalau lagi hilaf." Ucap Indira kesal.
Tadi malam mereka ciuman terlalu lama, karena hanya saling mencumbu bibir yang bisa mereka lakukan. Indira sampai kuwalahan dan lelah hingga menimbulkan luka dibagian bibir bawah nya. Emezing
"Hilaf Abang gak kebablasan sayang." Allan kembali menyuapi istrinya.
Pagi ini rencana Indira sudah di perbolehkan pulang, namun Allan masih meminta kepada dokter agar istrinya mendapat perawatan intensif lebih lama, Allan hanya takut jika luka Indira belum kering dan akan menimbulkan bahaya. Padahal semua ibu melahirkan mengalaminya tapi Allan tetap kekeh meminta istrinya agar dirawat lebih lama, paling tidak sampai Indira bisa sendiri ke kamar mandi.
"Puter balik kalo kebablasan."