Marrying The Prince

Marrying The Prince
92


Ferdinand tersenyum cerah saat mereka sudah sampai di pelabuhan Francia. Hidungnya menghirup dalam-dalam udara Francia yang di cintainya. Arah pandangnya menatap lekat-lekat kerajaan yang sangat di rindukannya


Dengan kedua tangannya yang masih menggendong istrinya, Ferdinand harus bergerak perlahan-lahan saat Francesca mulai melangkah turun dari kapal. Francesca yang mengerti keadaan Ferdinand, langsung memperlambat jalannya sambil sesekali ikut memperhatikan Anastasia, lalu sesekali mencari Tomy yang sedang mencari jemputan mereka.


Di belakang mereka. Carl, Xander, Farel, Gregory, Lincont, dan Solar sibuk membawa kotak-kotak baju mereka yang tidak seberapa. Hingga akhirnya Tomy muncul bersama Lucas dan seorang kesatria emas terbaik di angkatan Solar, pria yang berusia sama dengan Anastasia itu dengan cepat menuju Francesca.


"Your Highness, selamat datang kembali"


Francesca mengangguk singkat


"Di mana keretanya Chris?"


Kesatria emas terbaik angkatan Solar itu, Chris, langsung memberikan gestur sopan. Memberikan arah di mana kereta kuda sudah memunggu mereka.


"Silahkan Your Highness"


Tanpa ingin menunggu, Francesca langsung melangkah menuju ke arah yang sudah di tunjukkan Chris. Saat Francesca mulai melangkah dan saat dua kereta kuda jemputan mereka sudah terlihat, Chris langsung membuka suaranya dengan arah pandang yang menatap Francesca dan Ferdinand bergantian


"Your Highness. Pesan dari His Majesty, jika kereta kuda ini akan langsung mengantar ke Yorksire"


Kepala Francesca menoleh pada Chris, Ferdinand yang juga baru akan masuk ke dalam kereta kuda ikut menatap Chris.


"Kenapa?"


Francesca bertanya sambil menatap Lucas dan Chris bergantian. Lucas sebagai senior, langsung maju untuk menjelaskan


"Sebenarnya, ada sedikit masalah tentang kerajaan Barbarus, Your Highness. Kerajaan itu berencana dan memaksa ingin meminta His Highness Putri Summer untuk menjadi pengantin Putra mahkota Barbarus. Tapi karna His Majesty selalu menolak, mereka sepertinya akan melakukan cara yang tidak elegant"


"Apa itu akan menjadi masalah?"


Ferdinand langsung bertanya tanpa ingin bertele-tele, dan pertanyaan Ferdinand itu langsung membuat Lucas tersenyum sambil menggeleng.


"His Majesty sudah sangat marah" Lucas menjedah untuk melihat reaksi Francesca dan Ferdinand. Reaksi yang langsung menunjukkan jika dua kembar itu sudah mengerti tentang bagaimana kemarahan ayah mereka. Lucas yang melihat itu, kembali berucap. "His Majesty tidak ingin menyambut kalian yang kelelehan dengan sedikit kekacauan. Karna itu His Majesty ingin kalian beristirahat di Yorksire saja. His Majesty berpesan jangan menganggunya, karna His Majesty sangat ingin mengamuk"


Setelah paham dengan semua penjelasam Lucas, kepala Francesca langsung mengganguk singkat. Langkah Francecsa langsung kembali bergerak menuju kereta kuda. Tomy yang melihat langkah Francesca, dengan sigap langsung membantu langkah Francesca untuk segera masuk ke dalam kereta.


Ferdinand yang melihat jika Francesca sudah masuk ke dalam, dengan sangat hati-hati ikut masuk kedalam kereta. Bibirnya kembali tersenyum saat sudah masuk ke dalam kereta dengan Anastasia yang masih tertidur di dalam dekapannya.


--000--


Kedua mata menutup Anastasia akhirnya mulai bergerak-gerak. Tangannya mulai terangkat untuk menggaruki pipinya yang merasa terganggu saat Ferdinand terus menciuminya.


Hingga suara erangan kesal Anastasia, membuat Ferdinand berhenti mendaratkan ciuman mengganggunya.


"Bangunlah sayang, kau belum makan"


Ferdinand berucap lembut sambil mengusapi pipi Anastasia dengan buku-buku jarinya.


"Eemm... kita sudah sampai mana?"


"Yorksire"


Anastasia langsung membuka kedua matanya sambil berguman dengan suara khas bangun tidurnya


"Hah?"


Dengan tersenyum geli, Ferdinand menatap Anastasia sambil mengangguk. Dirinya yang juga sedang berada di atas ranjang mulai menjelaskan


"Kita sudah sampai di Francia sayang, kita di Yorksire sekarang"


Dengan tangan yang mulai menggosoki matanya, Anastasia kembali berguman


"Kenapa bukan di istana?"


"Karna kita butuh istirahat"


Setelah menunggu beberapa saat untuk mengumpulkan seluruh nyawanya, Anastasia yang akhirnya bisa menceran dengan baik ucapan Ferdinand langsung tersentak sambip mengangkat punggungnya dari atas ranjang.


"Ini Yorksire!"


Ferdinand terkekeh geli sambil ikut mengangkat punggungnya, tangannya ikut membantu Anastasia untuk merapikan rambut-rambut khas bangun tidurnya sambil menjawab


"Iya, ini Yorksire"


Mendengar jawaban sangat jelas Ferdinand, tanpa ingin menunggu lagi, Anastasia langsung melompat turun dari atas ranjang. Ferdinand yang melihat itu langsung mengikuti langkah panik Anastasia


"Kenapa An?"


Saat Anastasia baru sadar jika gaunnya sudah berubah menjadi gaun tidur, dengan terburu-buru memakai mantel apapun yang di lihatnya, mantel suaminya. Ferdinand yang melihat pergerakan Anastasia kembali bertanya


"Kau ingin kemana?"


Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Anastasia langsung melangkah menuju pintu sambil menjawab


"George"


Tapi, langkah Anastasia terhenti saat Ferdinand langsung menahan tangannya


"Tenglah An"


Kepala Anastasia menoleh, untuk menatap Ferdinand yang tampak santai


"Mana bisa Dinand! George-"


TOK TOK TOK


"Your Highness"


Suara yang mengetuk pintu, suara yang sangat di kenal Anastasia, suara yang di rindukan Anastasia, membuat kepala Anastasia langsung kembali menoleh untuk menatap pintu sambil berguman


"Ruth?"


Ferdinand tersenyum sambil menggenggam tangan Anastasia.


"Ayo kita makan malam"


Dengan raut wajah bingung, Anastasia hanya menurut untuk mengikuti langkah suaminya.


Senyum geli Ferdinand kembali terbit saat melihat kegelisahan Anastasia. Dengan cepat Ferdinand langsung membuka pintu, dan saat pintu di buka. Benar... di sana Ruth sudah berdiri dengan kedua mata berkaca-kaca menatap Anastasia


"Yo-"


"Oh ya Tuhan! Ruth!"


Ferdinand langsung bergerak saat melihat tubuh Ruth yang limbung karna serangan pelukan Anastasia. Dengan kekehan geli di suara isakannya, Ruth melirik Ferdinand yang langsung mengangguk singkat. Tanda jika Ferdinand mengijinkan Ruth boleh membalas pelukan Anastasia


"Ruth.... aku sangat merindukanmu"


Dengan saling berpelukan erat dan saling terisak, Ruth dan Anastasia sudah saling menumpakan perasaan mereka. Hingga cukup lama Ferdinand membiarkan mereka untuk melepaskan rindu, Ferdinand berdehem beberapa kali


"An... ayo makan malam dulu"


Anastasia yang akhirnya bisa kembali tersadar melepaskan pelukannya dengan perlahan. Ruth tersenyum sambil membantu Anastasia mengusapi wajahnya


"Ayo Your Highness, semua sudah menunggu anda"


Dengan membalas senyum hangat Ruth, Anastasia mengangguk patuh dan langsung mendekat pada Ferdinand yang sudah menengadahkan tangannya.


"Ayo sayang"


"Iya"


Mereka langsung melangkah menuruni tangga untuk menuju ruang makan. Hingga langkah mereka tiba di ruang makan, di sana, di meja panjang ruang makan, Francesca sudah duduk di kursi pemimpin dengan George yang tampak.... emm... sehat? bahkan sangat sehat!


George yang tampak baik-baik saja itu duduk di sebelah kanan kursi Francesca sambil tersenyum hangat menyambut Anastasia


"Selamat datang putriku Anastasia"


Bibir Anastasia bergetar dengan raut wajah yang menatap Francesca dengan banyak pertanyaan. Francesca yang di tuju hanya diam tanpa berani menatap Anastasia.


Anastasia yang akhirnya bisa menangkap keanehan itu, langsung menoleh pada Ferdinand, pada suaminya yang langsung mengerti pertanyaan di dalam kepala istrinya


"Kita makan dulu An. Nanti kita bahas"


Saat Anastasia dan Ferdinand sudah mengambil posisi duduk mereka masing-masing. Posisi Ferdinand yang duduk di sebelah kiri Francesca dengan Anastasia yang duduk di sebalah Ferdinand, langsung saling menautkan tangan mereka agar Francesca bisa segera mulai memimpin doa.


Setelah selesai, Francesca kembali memimpin table manner yang langsung di ikuti semua orang di meja makan. Bermenit-menit terus terlewati dalam keheningan, hanya suara lembut dentingan piring yang memenuhi seluruh suara di ruang makan. Hingga akhirnya, isi piring Francesca tandas dan mulai menutup table manner yang langsung di ikuti semua orang.


"Ke ruang berkumpul"


Francesca berucap singkat sambil mulai beranjak dari kursinya yang langsung di ikuti semua orang.


Saat langkah mereka sudah berkumpul duduk di sofa yang saling berhadap-hadapan. Anastasia yang sudah tidak sabar akhirnya memuntahkan pernyaan yang terus mengganjalnya.


"Jadi? George yang mana, yang sedang terbaring lemah di atas ranjang dan sedang menunggu mautnya, Frances?"


Sindiran tajam Anastasia langsung membuat George dan Ferdinand saling melirik sejenak, lalu ikut bersama Edward dan Tomy untuk menikmati kursi penonton mereka.


Francesca menipiskan bibirnya sambil menatap Anastasia dengan datar. Bibirnya mulai terbuka untuk menjawab Anastasia dengan suara datar


"George yang ada di dalam khayalanku"


"Jadi kau mengkhayalkan aku akan mati Frans?"


George langsung menyerobot ucapan Francesca, yang membuat Anastasia langsung menelan kata-kata yang baru saja akan di keluarkannya


"Terkadang gapa"


Suara datar tanpa dosa Francesca membuat Ferdinand dan Edward langsung mengulum tawa mereka. George yang melihat ejekan nyata untuknya itu, menatap cucu kesayangannya dengan wajah yang sudah berubah cemberut.


"Apa kau suka jika aku mati sweetheart?"


Dengan raut wajah yang tidak sedikitpun menunjukkan perubahan, Francesca kembali berucap datar


"Ya, terkadang"


Dan jawaban tanpa dosa Francesca untuk yang kedua kalinya itu, langsung membuat Edward dan Ferdinand terbahak. Anastasia yang tadinya sudah berencana ingin marah, jadi mengurungkan niatnya. Karna percuma, kemarannya sekarang sudah langsung mereda. Lagi pula, bukankah Anastasia harusnya bersyukur karna ternyata George baik-baik saja?


"Kau menghancurkan hati gapamu ini Frances. Apa salahku nak?"


Suara dramatis George membuat Ferdinand dan Edward langsung menghentikan tawa untuk memutar bola mata mereka dengan malas. Sedangkan Anastasia hanya terkekeh geli.


Merasa sedikit bersalah, Francesca menjawab George dengan nada yang sedikit melembut.


"Maaf gapa, ak-"


"Karna kau tua bangka yang sangat menyebalkan George. Ck! jangankan Frances, aku dan Edward saja setiap hati selalu membayangkan agar kau cepat mati"


Setelah menyerobot ucapan Francesca, Ferdinand langsung terbahak setelah berucap. Edward yang juga ikut di masukkan namanya oleh Ferdinand tidak ingin kalah untuk langsung tertawa mengejek.


Anastasia terus terkekeh geli sambil menatap wajah George yang semakin keriput karna terus cemberut. Tangan Anastasia langsung memukul lengan Ferdinand dengan kuat agar menghentikan tawa suaminya. Tapi percuma, karna Ferdinand terus tertawa kencang tanpa peduli jika George sudah mulai melempari dirinya dan Edward dengan biskuit.


Tawa dan ledekan di dalam ruangan itu terus berlanjut hingga terus saling melempar lelucon dan bully-an. Bantal-bantal sofa dan biskuit-biskut sudah berhamburan karna ulah mereka semua yang ada di sana. Anastasia tersenyum bahagia, sangat bahagia ketika melihat pemandangan itu, saat mendengar gelak tawa cerita itu. Hingga tangannya mulai mengusapi sudut matanya yang berair. Yang berair entah karna terlalu banyak tertawa, atau karna terlalu terharu.


--000--


Malam ini, di bawah sinar rembulan malam musim panas yang menghangatkan, Ferdinand terus memeluk tubuh istrinya yang berada di atas pangkuannya. Kedua mata Ferdinand terus terpejam dengan bibir yang terus tersenyum.


Anastasia yang sedang menikmati rasa nyamanya, menatap ke arah jendela yang terbuka. Arah pandangnya menatap langit malam yang bertabur bintang dengan tangan yang memeluki sebuah kotak kecil.


Kotak kecil yang sudah di simpannya selama separuh hidupnya, kotak kecil yang membuatnya jadi memiliki kekuatan, kotak kecil yang membawanya jadi memiliki keluarga, kotak kecil yang menghantarkannya pada kekasih hatinya, dan kotak kecil yang membuat Anastasia jadi ingin mengejar kebahagiaannya.


"Aku baru ingat, jika saat pertemuan pertama kita, aku selalu mengatakan pada Jeremmy jika kau gadis kecil yang sangat manis sayang. Aku juga selalu bertanya-tanya tentang siapa dirimu, meski di istana Eden semua orang sudah mengataka jika kau hanyalah anak seorang pelayan, tapi aku tetap tidak bisa percaya hingga hari terakhir kunjungan kami ke Trancia, aku akhirnya merelakan rasa ingin tahuku"


Bibir Anastasia kembali tersenyum lebar sambil berguman


"Benarkah?"


Ferdinand mengangguk yakin, lalu membuka kedua matanya untuk menatap keluar jendela. Menatap langit malam sambil mengulang ingatannya kembali


FLASHBACK


Setelah melihat Tomy pergi mengantarkan seorang anak perempuan yang tadi hampir mati karna menyerah di atas kuda, anak perempuan yang kepalanya hampir botak dan baru saja di balut lukannya oleh Ferdinand, Fredrick mulai kembali melangkah untuk menuju ke taman istana Eden. Ferdinand akhirnya berhenti menoleh ke arah kepergian Tomy dan gadis kecil itu, saat ayahnya mulai melangkah.


Sambil berpikir keras, Ferdinand mulai bersenandung pelan sambil terus mengkuti langkah ayahnya.


"Jer"


"Iya Your Highness?"


Ferdinand melirik ayahnya yang menjulang di depan mereka tanpa berniat merespon apapun.


"Menurutmu, siapa gadis kecil bermata biru langit cerah tadi?"


Dengan acuh, Jeremmy mengedipkan kedua bahunya


"Sepertinya anak seorang pelayan. Mungkin?"


"Hhmm... sepertinya bukan Jer"


Jeremmy melirik Ferdinand sejenak, lalu kembali berucap


"Memangnya kenapa, Your Highness?"


Ferdinand kembali bersenandung sejenak, lalu kembali berucap


"Kau tidak lihat kilau kulitnya, garis wajahnya, kelembutan rambutnya, dan wajah manisnya tadi Jer? Dia terlalu cantik untuk menjadi anak seorang pelayan"


Ucapan Ferdinand membuat Jeremmy ikut berpikir sejenak, lalu kembali mengedipkan kedua bahunya dengan acuh


"Tapi dari penampilannya, gadis kecil itu sangat lusuh dan tidak terawat, Your Highness. Tidak mungkin kan jika dia seorang Putri Trancia?"


Meski jawaban Jeremmy sangat masuk di akal dan sangat logis, tapi entah kenapa Ferdinand kecil tetap tidak bisa percaya jika gadis kecil tadi hanyalah seorang anak pelayan. Dan pikiran berkecamuk Ferdinand itu, hanya kembali membuat Ferdinand kembali bersenandung pelan sambil terus mengikuti langkah ayahnya.


Tanpa tahu...


Jika Fredrick, jika ayahnya yang terus berjalan dan tampak tidak peduli di depannya, sudah menyeringai penuh makna


FLASHBACK OFF


"Aku mengantuk Dinand"


Ferdinand yang masih larut dalam kenangannya, akhirnya tersadar dan langsung mengangkat tubuh Anastasia dengan cepat.


Anastasia memekik sambil terkekeh geli saat tubuhnya yang sedang di gendong Ferdinand, terus berputar-putar karna yang membawa tubuhnya terus memutar tubuh mereka


"Dinand sudah!!"


Tawa Anastasia terus menggema di keheningan kamar, dengan Ferdinand yang terus memutar tubuhnya sambil terkekeh. Hingga cukup lama dirinya membuat Anastasia kelelehan karna tertawa, Ferdinand akhirnya berhenti memutar tubuh mereka.


Masih di posisi berdiri dengan kedua tangan yang membawa tubuh Anastasia. Ferdinand menatap lekat wajah Anastasia sambil bersenyum dan berucap dengan seluruh hatinya


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu Anastasia istriku"


Tangan Anastasia terangkat, untuk membelai lembut rahang Ferdinand sambil tersenyum haru. Bibirnya yang mulai bergetar berucap dengan seluruh isi hatinya


"Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu Ferdinand suamiku"


Setelah mendengar jawaban Anastasia, Ferdinand mengerling sambil membawa langkahnya menuju ranjang


"Malam ini, maaf-maaf saja jika kau tidak akan bisa tidur sayang"


Saat tubuhnya sudah berada di atas ranjang, Anastasia membalas kerlingan mata Ferdinand dengan ikut mengerling menggoda


"Ohh suamiku, aku sangat menantikannya"


Dan jawaban mengejutkan Anastasia itu, langsung membuat Ferdinand dengan cepat melahap istrinya




\=\=\=💙💙💙💙


Silahkan jejaknya....