Marrying The Prince

Marrying The Prince
62


Seperti yang sudah Anastasia katakan, jika dirinya sudah tidak perduli lagi. Tapi, bukan berarti dirinya akan diam ketika melihat hal yang tidak harusnya terjadi, terlihat di depan matanya.


Seperti saat ini, Elsa yang entah bagaimana bisa ada di dalam tempat batas sucinya dan tempat dirinya untuk menenangkan diri, perpustakaannya!


Elsa yang masih sedang melihat-lihat semua buku yang terjajar rapih di dalam rak buku tersentak, saat pintu perpustakaan terbuka. Di sana, Anastasia dan Ruth sudah berdiri di depan pintu dengan wajah muram.


"Ahh.. Your Highess sa-"


"Seret dia Ruth"


Mulut Elsa mengatup dengan kedua mata membulat. Kakinya segera mundur saat Ruth dengan wajah mengerikan segera mendekat padanya


"Saya tidak sengaja ke sini!!!!"


Percuma, ucapan Elsa hanya menambah rasa kesal Ruth yang sekarang sudah mencengkam dan menyeret Elsa dengan kuat. Elsa terus meronta-ronta kuat sambil terus berteriak memaki minta di lepaskan.


Keributan semakin menarik perhatian semua orang saat Ruth sudah menyeret dan melempar tubuh kecil Elsa ke depan pintu perpustakaan yang menganga lebar.


"Kenapa kalian sangat kasar!!!! kalian jahat!!"


"Diam!"


Setiap teriakan marah Elsa selalu di balas Ruth dengan tidak kalah marah. Anastasia hanya diam dan terus menurunkan arah pandangnya pada Elsa yang kembali meronta saat Ruth yang muak, akan menyeretnya lebih jauh lagi dari pintu perpustakaan. Anastasia yang juga sudah mulai muak berucap dingin


"Buat mulutnya diam Ruth"


PLAKK!!


Tepat setelah perintah Anastasia selesai di ucapakan, tangan Ruth tanpa segan langsung mendarat kuat di pipi Elsa. Elsa terdiam sambil memegangi pipinya, menatap Anastasia dengan benci


"Kau perempuan jahat! pantas saja Dinand tetap mencari kakakku dan tidak bisa melupakannya! Karna dia mempunyai istri yang sangat jahat sepertimu!"


Kali ini, senyum tipis Anastasia terbit. Kakinya melangkah mendekati Elsa. Elsa yang melihat pergerakan Anastasia mencoba bangkit untuk berlari tapi,


"Kalian, pegangi dia"


Dua orang pelayan yang ada di waktu dan tempat yang tepat di sekitar perpustakaan, segera tersadar dan langsung melompat membantu Ruth untuk memegangi Elsa yang terus meronta-ronta sambil berteriak meminta tolong pada Ferdinand dan Kenna


Tubuh Anastasia sudah berdiri menjulang di depan Elsa yang masih di tahan di atas lantai. Ruth yang sadar, tanpa di perintah segera menarik tubuh Elsa untuk bangun, agar memudahkan Anastasia.


"K-kau mau apa!!"


Dengan senyum tipis yang terus tercetak di bibirnya, Anastasia berucap lembut, menjawab dengan lembut pertanyaan takut Elsa


"Dulu aku pernah di ajarkan, jika hukuman untuk orang yang sudah lancang memasuki tempat yang sudah di larang adalah cambukan, Elsa. Terus di cambuk bahkan sekalipun kau sudah pingsan"


Ucapan lembut Anastasia membuat Elsa semakin meronta dan berteriak keras. Anastasia hanya diam berdiri sambil terus menatapi Elsa yang sudah ketakutan dan terus mengumpatinya


"Kau wanita jahat Anastasia! Kau kejam!"


Langkah Anastasia bergerak maju satu langkah dengan suaranya yang terdengar


"Kenapa kau tidak mati saja Elsa. Karna jika kau mati, saat dewasa nanti kau tidak akan menjadi pelacur seperti kakakmu. Pelacur yang bermimpi menjadi seorang cinderella dengan membawa anak haram di perutnya"


"ANASTASIA!"


Suara menggelegar seorang pria yang sangat di kenalnya itu membuat senyum tipis di bibir Anastasia lenyap. Arah pandang Anastasia melirik ke arah suara, di sana ada beberapa orang yang sudah berlarian mendekat pada mereka.


"Lepaskan adikku!"


Kenna ikut berteriak sambil menahan tangisnya. Dua pelayan yang masih memegangi Elsa sudah melihat jika situasi mulai buruk, mereka menatap Anastasia, menunggu perintah yang tidak juga di ucapkan Anastasia.


"Lepaskan dia Ana"


Ferdinand kembali berucap saat langkahnya sudah di dekat kejadian perkara, dan senyum tipis Anastasia kembali terbit


"Aku belum selesai"


"ANA!"


BRAKKK!


Tepat di depan mata Ferdinand, Kenna, Michael, dan para aunty. Anastasia mendorong kuat tubuh Elsa hingga mencium lantai dengan sangat kuat.


Kenna memekik sambil berlarian menuju adiknya, Ferdinand menatap sekilas Anastasia dengan tatapan tajam lalu ikut melihat keadaan Elsa. Sedangkan para aunty yang pagi ini baru keluar dari kamar karna suara keributan menahan seringai mereka.


Michael yang sedang sekuat tenaga menahan rasa terkejut dan tawanya, segera maju dan mendekat pada Anastasia sambil memberikan sikutnya.


"Mari kita jalan-jalan sebelum makan pagi di mulai Your Highness"


Sambil menggamit sikut Michael, Anastasia kembali menatap Elsa yang sekarang sudah di bantu untuk berdiri.


"Ajari adikmu agar tahu diri dan punya rasa malu, 'Lady' Kenna. Karna jika tidak, saat dewasa nanti dia akan mengikuti jejak hina kakaknya"


Kedua mata Ferdinand membulat lebar, Kenna menggigit kuat bibirnya, Michael terbatuk kuat untuk menyamarkan ledakan tawanya yang lepas kontrol, dan para aunty sudah menutup mulut mereka dengan anggun karna menahan tawa, lalu Monalisa berbisik di sela-sela tawa tertahannya.


"Sepertinya aku bisa mengerti kenapa His Majesty hanya menginginkan kita untuk berkunjung buka untuk tinggal Lottie"


Kepala Charlotte mengangguk sangat setuju sambil terus menahan tawa dengan gestur anggun mereka.


"Kau benar Mona. Aku jadi merasa bodoh ketika menganggap Anastasia tidak akan bisa


melawan di pernikahan nerakanya ini. Dia terlihat sangat lemah untuk badai sekuat ini"


"Sebenarnya aku juga Lottie tapi, kobodohan itu karna kita tidak tahu apapun tentang Anastasia"


Sambil mengambil langkah untuk meninggalkan posisi mereka sekarang, Charlotte berguman pelan


"Air yang tenang, jangan disangka tiada berbuaya"


Kepala Monalisa mengangguk singkat sambil ikut berguman


"Don't judge a book by her cover"


Setelah membawa Anastasia keluar, Michael terus menuntun langkah Anastasia untuk menuju ke labirin di taman. Hingga langkah mereka sudah berada di sudut labirin yang tidak ada seorangpun di sana, Michael melepas tangan mereka dengan sopan. Lalu merogoh saku mantelnya


Anastasia hanya diam sambil menatap Michael yang sedang merogohi mantelnya, lalu Michael tersenyum sambil menyodorkan sebuah sapu tangan padanya. Anastasia menatap Michael dengan bingung tapi tetap menerima sapu tangan itu.


Saat sapu tangannya sudah ada di tangan Anastasia, Michael memberanikan diri dengan lancang menepuk-menepuk pelan tangan Anastasia, lalu berucap lembut.


"Saya akan menunggu cukup jauh dari sini, panggil saja saya jika sudah selesai, Your Highness"


Setelah Michael berucap, dirinya segera berbalik dan pergi.


Dan saat itulah... Anastasia yang sudah sekuat nyawa menahan dan menekan segela perasaannya tumpah. Punggung tangan Anastasia menutup kuat mulutnya untuk menahan jeritan sakitnya.


Sakit, perih, dan hancur. Semua hal yang sudah di tahan Anastasia dari tadi malam tumpah saat itu juga. Anastasia terus menangis dengan sebelah tangan yang mencengkam kuat korsetnya yang semakin menghimpit pernafasannya, dengan sebelah tangan yang terus dia gigit agar tidak mengeluarkan suara tangis.


Michael yang berdusta, hanya berdiri diam di balik bilik pembatas labirin yang tepat berada di sebelah Anastasia. Dirinya hanya bisa menarik nafas dalam saat suara tangis pedih Anastasia yang semakin kuat sangat jelas terdengar di indra pendengarannya.


--000--


Di sini lain, dua orang pria yang baru menginjak usia paruh baya sedang duduk sambil menatap teh hangat mereka di atas meja.


Henry terus memutar-mutar cangkir tehnya sambil sesekali melirik Fredrick yang terus diam sambil menatap cangkir. Hingga akhirnya, pergerakan Fedrick yang sudah mengangkat cangkirnya membuat Henry membuka percakapan.


"Aku dengar, keadaan di Chasembord semakin panas"


Kedua bola mata abu-abu Fredrick bergerak pada Henry sambil menyesap tehnya. Lalu kembali meletakkan cangkir sambil berdecak malas


"Pria penggosip"


"Drama percintaan keluarga Castalarox selalu sangat menarik Fred"


"Kau juga Castalarox bodoh!"


"Ohhh sial! aku lupa!"


Setelah berucap, Henry terkekeh kuat sambil meletakkan cangkirnya. Fredrick hanya mendengus kasar dan kesal.


"Apa maumu datang ke sini?"


Hendy mencebik tidak terima sambil menatap Fredrick yang sudah menatapnya dengan malas.


"Aku penasehat His Majesty yang sedang menjalankan tugasnya, kakak" Fredrick bergindik saat mendengar Henry yang menyebutnnya 'kakak'. Henry yang melihat raut wajah jijik Fredrick kembali terkekeh kuat, lalu kembali berucap. "Kau bisa meminta saran pada penasehatmu ini, Your Majesty"


Dengan malas, Fredrick memutar bola matanya.


"Katakan saja jika kau ingin menggali cerita. Kau pikir aku Edward yang bisa kau manipulasi dengan mudah"


"Aku tidak pernah memanipulasi Edward untuk mendapatkan cerita"


"Yeahh... kau hanya membodohinya kan"


Kembali, Henry terkekeh kuat. Sungguh, dia sangat suka menggoda Fredrick ketika kakaknya itu sedang pusing, rasanya Henry sangat bahagia.


"Ayolah Fred, ceritakan sesuatu"


Fredrick kembali memutar bola matanya dengan malas.


"Tidak ada yang perlu di ceritakan"


Sambil mengusap-usap janggut tipis di dagunya Henry berguman


"Hmm... benarkah? bagaimana tentang identitas seseorang yang membuatmu jadi ingin menyerang Trancia?"


Arah pandang Fredrick melirik Henry sejenak, lalu jari telunjukkan mulai menggaruki cangkir teh.


"Kau benar... itu dia"


"WHAATTTT!!!"


Karna terlalu terkejut, Henry tanpa sadar menaikkan suaranya dengan punggung yang sudah tertarik tegap. Fredrick dengan kuat mengusap telinganya yang sakit saat teriakan Henry menggema di ruang kerjanya.


"Kau berisik sekali Hen"


Masih dengan wajah yang menatap Fredrick dengan tatapan tidak percaya, Henry mulai mengangkat tangannya, menekuk satu persatu jarinya ke dalam secara bergantian. Fredrick yang melihat pergerakan menghitung Henry kembali menyambar tehnya.


BRAK!


"TIDAK MUNGKIN!!!"


Teh Fredrick yang sudah hampir di telannya kembali keluar hingga dia terbatuk karna tepukan meja dan teriakan Henry.


"Brengsek kau Henry!"


Henry mengabaikan batuk Fredrick yang menyiksa kakaknya itu, dia tidak peduli dan lebih peduli dengan pertanyaan yang sekarang sudah bersarang besar di dalam kepalanya.


"Berarti saat itu usianya belum genap sepuluh tahun? Dan di usia itu, dia bisa menjalankan pengkhianatan semengerikan itu???"


Sambil meredakan batuknya, Fredrick segera berdiri dari kursi dan mencondongkan tubuhnya pada Henry


PLAK!


"Sudah ku bilang jangan berteriak bodoh" Setelah menggeplak kepala Henry dengan kesal. Fredrick melangkah untuk menuju ke pintu keluar dengan suara santainya yang terdengar "Sarapan pagi"


Sambil mengusapi kepalanya Henry segera mengejar langkah Fredrick


"Aku belum selesai Fred"


"Enyahlah Hen"


--000--


Meja makan di dalam ruang makan castle Chasembord sudah terisi, dengan keterlambatan Anastasia dan Michael.


Dalam ketenangan, ritual sarapan pagi mereka terus berlangsung. Ketenangan yang memang mulai biasa kembali tenang itu, terasa sangat berbeda untuk kali ini.


Anastasia dalam dia menjejalkan rotinya ke dalam sup, mulutnya bergerak dengan anggun mengunyah setiap makanan yang di jejalkannya dengan terpaksa tanpa peduli dengan sekitar. Pada Ferdinand yang terus menatapnya tajam, juga pada Ferdinand yang menatap Michael dengan tatapan tidak kalah tajam.


Semua pemandangan itu membuat para aunty hanya saling melirik dalam diam. Entah kenapa keadaan di ruang makan yang sunyi itu terasa menegangkan.


Setelah Ferdinand menutup table manner-nya, suaranya langsung terdengar


"Apa aunty jadi pulang hari ini?"


Monalisa yang di tatap Ferdinand sejenak melirik Charlotte sejenak, lalu menjawab


"Her Highness meminta kami menunda kepulangan kami, Your Highness"


Kepala Ferdinand mengangguk singkat untuk auntynya.


"Tinggalah yang lama aunty, dan maaf dengan semua ketidak nyamanan di sini"


Charlotte hampir melempar sendoknya pada Ferdinand yang berucap dengan santai, dan tidak menunjukkan raut wajah menyesal seperti ucapannya.


Ferdinand yang tidak menyadari kekesalan para aunty-nya, langsung kembali bersuara.


"Kau kembalilah Mike. Uncle Arthur pasti membutuhkanmu di Albany"


Hah???


Kali ini ucapan Ferdinand membuat arah pandang Anastasia terangkat dari atas meja. Dahinya mengeryit menatap Ferdinand dengan bingung. Bisa-bisanya dia mengusir Michael seperti itu!


Michael hanya mengedipkan kedua bahunya dengan acuh


"Aku tidak bisa"


Dan ucapan Michael, berhasil membuat Ferdinand mengembalikan tatapan tajamnya pada Michael


"Kenapa?"


Para aunty hanya diam dengan kaki yang sudah saling menyenggol, Anastasia hanya diam sambil menatap bergantian pada Ferdinand dan Michael yang sudah saling menatap dengan tajam. Hingga sebelah bibir Michael tertarik ke atas.


"Karna mulai besok, aku akan masuk ke parlement untuk belajar memulai dari awal. Dari Albany dan ibu kota memakan waktu"


"Ck! jangan manja Mike! uncle Arthur setiap hari melakukan itu"


Kembali Michael mengedipkan kedua bahunya dengan acuh


"Aku tahu, tapi......" Micahel menatap Ferdinand yang sudah mengeraskan rahangnya. Seringai di bibirnya terbit. "Ini perintah langsung dari His Majesty, Your Highness"


"APA???!!!"


\=\=\=💚💚💚💚


Hallo readers eike tersayang, sorry ya kl eike up-nya ga ampe 3 chapter lg tapi, tiap part itu lebih dari 2k+ kata, ga 1k+ kyk waktu eike up 3 chapter/hari... gpp ya... biar ga kebanyakan chapternya. kl senggang besok2 eike bakal bikin 3 chap/hari dg 2k+ kata, tapi ga bisa janji konsisten, krn taulah... eike ga lahir dari keturunan keluarga Fredrick ato Victoria yang sudah bergelimang koin emas. wkwkkw....


Salam sayang semua...


Silahkan jejaknya...