Marrying The Prince

Marrying The Prince
Chapter XII - To Do List


"Wha-what?" Thomas tergagap setelah mendengar syarat tunggal yang baru saja dilontarkan Jane. Pria tampan itu bahkan dapat melihat kepercayaan diri tinggi pada ekspresi wajahnya. Sungguh, dia seperti mati kutu dibuatnya.


"You heard me," balas Jane. "Akan kuulangi, Yang Mulia. Syarat yang kuajukan adalah kau harus menika..."


"Yeah, I know," potong Thomas sambil memberi isyarat dengan tangannya agar Jane tidak melanjutkan. Dia nampak berpikir sementara Jane menunggu. "Apa kau sebegitu inginnya menikah denganku, Jane?" tanyanya, mencoba menantang Jane.


"Tidak."


"Lalu, kenapa kau mengajukan syarat itu?"


"Kaulah yang bersaing dengan Phillip untuk menjadi tunanganku. Bahkan, kau sendiri yang menjanjikan aku pekerjaan. Saat kukira kau adalah orang paling baik di dunia karena mau mempekerjakan aku, ternyata kau sama sekali tidak menghargai calon tunanganmu ini. Sekarang kaulah yang harus menarik kembali liurmu, Tom!" Dalam hati, Jane menertawakan Thomas yang terkena pembalasannya.


Thomas menggelengkan kepala sembari tersenyum. "Kau sudah pintar, Jane," katanya. "Aku suka gadis pintar." Dia maju selangkah. Ditatapnya mata Jane lekat-lekat.


"Jangan lagi kau bersikap kurang ajar padaku!" tegas Jane sampai kedua matanya menyipit. Lirikan tajamnya membuat Thomas mundur.


"Okay, okay," Thomas tergelak. "Kau tidak perlu seperti itu. Aku mengerti. Setelah kupikir beberapa menit, kuterima syaratmu itu. Aku akan menikahimu, Jane."


Sekarang Jane yang gelagapan. "Kau serius?"


Thomas mengangguk. "Kuanggap kau menyukaiku. Bukankah hal itu akan membuat keluargamu dan ibuku bahagia?"


"Kau bercanda," Jane mengerutkan kening.


"Aku serius, Jane."


"Bohong."


Thomas mendengus. "Kau tidak percaya? Mau bukti? Akan kuumumkan pertunangan kita malam ini juga kepada seluruh anggota kerajaan."


"Stop!"


"Why?" Thomas benar-benar merasa menang sekarang. Namun, dia belum ingin tertawa lepas. Dia masih menahan semuanya sampai Jane menyerah. Melihat kepanikan wanita itu sungguh merupakan hiburan yang menarik.


"Okay, aku setuju," kata Jane tak mau kalah. "Aku menerima penawaranmu untuk bekerja sebagai pelayan dan kau akan menikahiku." Mati kau, batinnya. "Tenanglah, Tom. Aku akan bersikap profesional sebelum kita menikah nanti."


"Deal."


"Kau mau mempertaruhkan kehormatanmu sebagai pangeran dengan menikahi seorang pelayan?"


Thomas mengangkat bahu. "Aku tidak pernah mempedulikan darah yang mengalir dalam tubuhku. Aku adalah aku."


"Fine. Mana seragamnya?" Wajah Jane berubah cemberut. Tidak pernah terpikirkan olehnya akan menjadi pelayan dan bertunangan dengan seorang pangeran hanya karena emosi instan. Keinginan untuk menantang Thomas telah mengalahkan akal sehatnya.


Thomas menyerahkan seragam pelayan kepada Jane. Soal pertunangan, akan dia pikirkan nanti. Yang dia rasakan saat ini hanya... kemenangan.


😈😈😈😈😈


Memiliki ijazah Administrasi Bisnis dan Manajemen Columbia University, New York, dan berpengalaman menjadi asisten direktur rupanya tidak membuat Jane terhindar dari pekerjaan bergaji rendah. Sama sekali tidak ada dalam bayangannya kalau dia harus mengikuti instruksi sang kepala pelayan, Helen, untuk mengepel lantai.


"Bekerja saja seperti saat pertama kali Anda diterima di kantor. Jika Anda tidak bisa mengerjakan sesuatu, cukup beri tahu aku, Miss Watson. Aku yang akan melakukannya," saran Helen.


Cukup melegakan karena Jane tidak harus bisa melakukan segalanya di sana. Yang paling berat menurutnya adalah mengurus Daisy. Bocah 5 tahun itu seolah memiliki energi dua kali lipat dari Jane. Dia akan berlari ke sana kemari ketika akan dimandikan, makan, maupun belajar.


Daisy mempunyai guru les yang datang ke istana setiap hari karena gadis kecil itu belum siap untuk bersekolah. Dia tidak pernah mengenyam pendidikan formal sebelum diangkat anak oleh Grace. Orangtuanya tewas akibat perang. Tetangganyalah yang menemukan Daisy sedang menangis di halaman depan rumah, lalu membawanya ke camp pengungsian. Di sana, dia dan anak-anak lainnya diasuh secara bergantian oleh para sukarelawan.


Dari mula, Daisy paling senang jika dikunjungi oleh orang-orang terkenal. Meski hidup di pengungsian, dia telah bertemu dengan selebriti Hollywood seperti Angelina Jolie dan Leonardo DiCaprio, juga orang-orang pemerintahan seperti Barrack Obama dan tentu saja Lady Grace Angela Freinsted Geller.


Entah kenapa, Daisy paling menyukai Grace dan tidak mau lepas dari gendongan wanita anggun itu. Dia bersikap sangat manis ketika berbincang dengan Grace. Niat Grace membawanya ke Vlada terlaksana setelah mendapatkan lampu hijau dari istana. Segera saja Grace kembali untuk Daisy. Para pengungsi lainnya merasa anak itu sangat beruntung, tetapi Grace menyatakan bahwa dirinyalah yang bahagia bisa mencintai anak seperti Daisy.


"Kejar aku!" seru Daisy sambil tertawa-tawa di ruang tengah. Lagi-lagi malam itu dia tidak mau belajar.


"Daisy! Come on!" Jane sudah capek mengikuti Daisy ke mana-mana. Badannya bau keringat karena setelah bersih-bersih, dia harus menemani Daisy belajar. Helen sendiri sedang mencuci pakaian di ruang belakang, sehingga tak ada yang bisa menggantikannya.


"Miss Daisy, please come back!" perintah sang guru les dari depan kamar Daisy. "Apa yang akan kakakmu bilang kalau kau tidak menurut?"


"Kau dengar kata Mr. Jameson, Daisy?" timpal Jane. Diliriknya Kevin Jameson yang sedang menundukkan kepala, menatap layar ponsel. Sudah 10 menit pria jangkung itu sibuk sendiri. Jane pun mendengus sebelum menghampirinya. "Mr. Jameson, kurasa hari ini bukan saat yang tepat. Sebaiknya Anda kembali besok," kata Jane sambil tersenyum.


Kevin terkejut. Kacamata bulat membuat tampang melongonya bertambah parah. Akhirnya, dimasukkan juga ponsel jahanam itu ke saku celana. Dia menatap Jane. "Miss Watson, Anda tidak bisa seenaknya menyuruhku pulang. Aku harus mengajar Daisy," bantahnya.


Jane memutar bola matanya.


"Hey! Jangan lakukan itu di hadapanku!" seru Kevin seraya menunjuk wajah Jane.


"Melakukan apa? Ini?" Jane mengulangi putaran bola mata itu dengan sengaja.


"Miss Watson, aku telah mengajar Daisy selama hampir dua tahun. Aku tidak menerima sikap kurang ajarmu," nada suara Kevin meninggi.


"Really? Apa saja yang sudah kau ajarkan padanya? Media sosial?" balas Jane tak kalah galak.


Kevin terdiam. "Baik. Aku akan kembali besok, tapi kau tidak akan kubiarkan begitu saja!"


"See you tomorrow, Kevin," ledek Jane.


Setelah Kevin berlalu dari hadapannya, Jane beralih ke Daisy yang ternyata sudah berada dalam gendongan Thomas. "Good evening, Prince Thomas," Jane memberi hormat dengan menekuk lututnya.


"Suara kalian terdengar sampai ke dapur," kata Thomas.


🥎🥎🥎🥎🥎


**bersambung ke chapter selanjutnya!


minta like dan comment yg banyak yah guys.. semoga kalian suka 🙏


see ya**...