
"Anastasia anakku, tuan Fredrick adalah pasien kita yang masih terluka. Kenapa kau melakukan itu padanya Ana?"
Pagi ini, setelah dirinya yang di temukan Bernadeth dan Lilah yang terlihat seperti sedang membully Ferdinand, di sinilah tempat Anastasia sekarang. Duduk manis seperti seorang terdakwa di dalam tenda Ferdinand. Di dalam tenda Ferdinand, dengan Ferdinand yang terus meringis dramatis dengan raut wajah yang di buat semenyedihkan mungkin.
"Dia tidak sesakit itu suster Bernadeth. Dia yang mencuri makanan kita"
Anastasia berucap tajam sambil menatap Ferdinand yang sudah menunduk entah karna apa, dan entah raut wajah seperti apa yang sedang di sembunyikannya.
Suara hembusan nafas berat Bernadeth terdengar, tatapannya yang hangat menatap Anastasia dengan lembut
"Apa kau punya bukti sayang?"
Masih dengan tatapan tajamnya yang menatap Ferdinand, kepala Anastasia mengangguk
"Aku menemukan belati miliknya di dapur saat memeriksa lemari makanan yang sudah di curi"
Arah pandang Bernadeth menatap Ferdinand, lalu menatap Anastasia bergantian.
"Kenapa kau yakin itu miliknya Ana?"
Sambil mendengus kasar, akhirnya Anastasia menatap Bernadeth.
"Tentu saja suster. Aku sangat tahu jika itu miliknya"
Kepala Bernadeth mengangguk singkat, arah pandangnya kembali menatap Ferdinand dan Anastasia bergantian
"Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur. Tapi sebenarnya apa hubungan kalian berdua?"
"Dia istriku suster"
Anastasia yang baru akan membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Bernadeth, langsung menelan kata-katanya saat Ferdinand langsung ikut masuk dalam obrolan
"Istri?"
Lilah yang selama di mulainya sidang selalu diam akhirnya ikut bersuara. Arah pandang Lilah menatap Anastasia dengan raut wajah yang penuh tanda tanya.
"Aku buk-"
"Benar perawat Lilah, Anastasia adalah istriku yang hilang tersesat di kapal saat kami akan berlibur"
Sambaran ucapan Ferdinand yang tenang dan penuh dusta, membuat kepala Anastasia dan Solar langsung mengarah pandanya. Mereka menatap Ferdinand dengan alis mengerut dalam. Anastasia kembali akan membuka mulutnya, tapi,
"Bukankah kau bilang jika suamimu sudah meninggal Ana?"
Lilah kembali bersuara dengan raut wajah yang terus menatap Anastasia dengan bingung. Ferdinand yang mendengar itu mengerutkan kedua alisnya, menatap Lilah dan Anastasia bergantian
"Aku mati?" Jari telunjuk Ferdinand menunjuk wajahnya sendiri. "Aku masih hidup dan sehat, aku bahkan masih bisa mencari istriku!"
Kepala Lilah mengangguk yakin, yakin jika kaki Ferdinand masih menginjak tanah dan masih bernafas. Kepala Lilah bergerak, arah pandangnya menatap semua orang di sana dengan bergantian. Lalu menatap Anastasia yang sudah membuang wajah menatap langit-langit tenda seperti bukan dirinya penyebab semua kebingungan yang terjadi di sana
"An, kau sendiri yang mengatakan pada kami semua, kepada para perawat jika suamimu sudah meninggal saat kalian baru beberapa bulan menikah kan?"
Anastasia meneguk ludahnya dengan kasar.
"Aku.... em...."
Kegelisahan Anastasia membuat Lilah mengalihkan pandangannya pada Ferdinand, pada Ferdinand yang sudah menatap Anastasia dengan tajam.
"Sebenarnya ada apa ini tuan Fredrick?"
Ferdinand yang melihat jika pertanyaan tertuju padanya, langsung mendengus keras. Lalu menatap Lilah dan Bernadeth dengan tenang.
"Saya suami Anastasia. Nama saya sebenarnya adalah Ferdinand suami Anastasia yang 'masih hidup' hingga sekarang" Ferdinand mengakat punggung tangan kirinya ke depan wajah Lilah dan Bernadeth. "Ini cincin pernikahan kami"
Ucapan serta cincin Ferdinand membuat Lilah dan Bernadeth langsung saling menatap. Lalu arah pandang mereka sama-sama kembali menatap Ferdinand
"Tapi Ana mengatakan jika anda sudah meninggal karna kebiasaan buruk anda tuan Fre... Ferdinand?"
Lilah berucap pelan dengan penuh kebingungan. Ferdinand yang semakin tidak terima jika dirinya terus berulang kali di katakan telah mati, terlebih karna kebiasaan buruk? entah dusta seperti apa yang sudah di karang Anastasia pada semua orang, tapi ucapan Lilah berhasil membuat Ferdinand kembali menatap Anastasia dengan tajam dan sinis.
"Saya tidak punya kebiasaan buruk dan saya belum mati!"
Dan tanpa bisa melihat suasana yang sudah semakin memanas, Lilah dengan polosnya berucap
"Ana mengatakan jika suaminya memiliki kebiasaan buruk sering berselingkuh dengan banyak wanita, bahkan membawa simpanannya yang sedang mengandung ke rumah kalian. Dan karna kebiasaan buruk itu juga, suaminya meninggal. Meninggal karna penyakit kelamin"
Solar langsung tersedak ludahnya karna hampir terbahak, Bernadeth yang tidak mengerti apapun langsung meringis ngeri, Anastasia langsung kembali membuang wajahnya agar terlepas dari arah pandang Ferdinand.
Sedangkan Ferdinand, kedua matanya sudah terbelalak terkejut, mulutnya terasa keluh hingga tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Ferdinand benar-benar terkejut jika Anastasia bisa berdusta seburuk itu tentangnya.
Baiklah, dirinya memang suami bajingan yang membawa simpannya yang sedang mengandung tinggal di rumah mereka. Dia juga suami brengsek yang sempat meminta istrinya untuk menerima anak haram itu. Ferdinand juga mengakui jika dia juga adalah seorang suami yang luar biasa pengecut karna sering bertindak kasar pada istrinya.
Tapi mati karna sering bermain dengan banyak wanita? Terlebih karna pengakit kelamin? penyakit kelamin! Tidakkah Anastasia tahu jika ucapan adalah doa? Apakah Anastasia tidak bisa mengarang cerita yang lebih terhormat sedikit untuk dirinya? Ferdinand tidak pernah melakukan hal gila dengan wanita manapun! dia tidak pernah meniduri wanita manapun setelah dirinya menikah!
Ferdinand membuang nafas panjang, baiklah... dia memang mengakui sempat melakukan sedikit kontak fisik pada wanita lain, tapi itu dulu! saat dirinya masih buta dan tolol! Bahkan selama Anastasia pergi darinya, dia sudah hidup selibat seperti pria suci, melirik wanita lainpun dirinya sudah tidak berselera! Kenapa? Kenapa dirinya yang baru akan memulai sedikit perjalanan penuh semangatnya jadi merasakan jika semua ini akan menjadi sia-sia? Kenapa perasaannya jadi tidak enak dan merasa dia tidak akan mampu membawa istrinya lagi?
Tolong katakan jika ini semua hanya perasaan kecewa Ferdinand sesaat, buka sebuah gambaran masa depan seorang suami yang bisa mencium aroma kegagalan. Ferdinand benar-benar memohon jika ini hanya percikan karna rasa kecewa saja.
--000--
Sidang di tutup dengan hasil Anastasia dan Ferdinand yang harus menyelesaikan masalah pribadi mereka dengan cara berpikir dewasa. Dan selama itu juga, Anastasia sendiri yang harus merawat Ferdinand selama kesembuhannya, seperti tugas seorang istri.
Pagi ini, setelah makan pagi, Anastasia mendorong trolly peralatan medisnya untuk masuk menuju ke dalam tenda Ferdinand. Dengan raut wajah datar, Anastasia mulai bergerak menata semua peralatannya ke atas meja nakas di samping ranjang Ferdinand.
Di sana hanya ada dirinya dan Ferdinand, Solar entah pergi ke mana, tapi yang jelas, keadaan itu membuat Anastasia sangat canggung. Ferdinand yang terus diam saat suara-suara trolly dan peralatan sudah memenuhi suara di tendanya, dan tetap berbaring sambil membalik tubuhnya ke arah berlawanan dari pintu masuk semakin membuat suasana canggung menguat. Anastasia menarik nafas dalam untuk menenangkan dirinya, lalu dengan lembut berucap
"Bangunlah, biarkan aku merawat lukamu"
Tangan Ferdinand semakin mengeratkan selimutnya tanpa berniat membalik tubuhnya. Dan semua gerak gerik Ferdinand itu, membuat Anastasia kembali membuang nafas panjang.
"Cepatlah Dinand, aku masih mempunyai banyak pekerjaan lain. Sebentar lagi kendaraan yang akan membawa pasien baru akan tiba"
"Pergilah... jangan mengurus dan memperdulikanku"
Hah?
Kedua mata Anastasia mengejap-ngejap bingung. Dia kenapa?
"Kau kenapa Dinand?"
Hening.. tidak ada jawban, hingga bermenit-menit Anastasia menunggu, tapi Ferdinand tetap bungkam. Kedua mata Anastasia terpejam sejenak, lalu menarik nafas dalam. Anastasia tidak tahu apa yang terjadi pada Ferdinand tapi baiklah... dia harus sabar.
Dengan pelan tangan Anastasia terulur, menyentuh lengan Ferdinand dengan lembut, tapi juga dengan siaga penuh. Pengalaman mengajari Anastasia untuk menjauh ketika Ferdinand sedang di atas ranjang.
"Dinand... ayolah.... Sebentar lagi akan siang, berbaliklah"
Dengan pasrah dan terpaksa, Anastasia mendekat pada ranjang Ferdinand, mendaratkan bokongnya di atas ranjang, lalu menyenderkan punggungnya ke punggung Ferdinand
"Aku minta maaf karna kelewatan berbohong tentangmu Ferdinand"
Anastasia berucap lembut dari hatinya. Dirinya sadar memang sudah kelewatan. Surat-surat yang di kirim Raja Fredrick padanya sudah banyak menceritakan tentang Ferdinand, dan ingatan tentang isi surat-surat itu sekarang membuatnya sedikit merasa bersalah. Terlebih tadi, saat dirinya sudah mendapat wejangan dari suster Bernadeth
"Jika tidak melakukan kesalahan, berarti mereka bukan manusia biasa Ana. Manusia pasti melakukan salah, dan kita sesama manusia tidak punya hak untuk menghakimi, terlebih pada mereka yang ingin berubah"
"Ingatlah, walau bagaimanapun juga dia tetap suamimu, meski kau sudah tidak menginginkan pernikahan kalian lagi"
Arah pandang Anastasia menerawang jauh sambil menatap ke langit-lagit tenda. Banyak pemikiran yang terus di pikirkan dan di kenangnya, dan semua itu hampir membuat kedua mata Anastasia menggenang, jika dirinya tidak merasakan pergerakan tubuh Ferdinand.
"Aku sedikit kesal"
Gumanan Ferdinand membuat Anastasia tersenyum sambil memutar tubuhnya untuk menarik tubuh Ferdinand ke arahnya. Dengan pelan, Anastasia menarik lengan Ferdinand, dan saat tubuh Ferdinand sudah berbalik, kedua mata Anastasia melebar
"K-kau menangis?"
Ferdinand mencibik kesal saat melihat wajah terkejut Anastasia. Padahal yang membuatnya hampir meneteskan air mata karna istrinya. Melihat Ferdinand yang hanya diam Anastasia kembali bertanya
"Kenapa Dinand?"
Dengan kedua sudut bibir yang berkedut geli, Anastasia bertanya dengan nada normal yang di paksakan. Sungguh dia ingin tertawa sekarang.
"Tertawalah jika ingin tertawa"
Sambil mulai mengangkat tubuhnya, Ferdinand berucap ketus. Senyum geli Anastasia terbit, dan mulai beranjak dari atas ranjang menuju kursi yang sudah di siapkannya di samping ranjang.
Setelah mengambil posisinya, sambil tersenyum, Anastasia mentap wajah Ferdinand yang sedang merengut tidak bersahabat. Anastasia yang melihat itu akhirnya terkekeh geli dengan kedua tangannya yang mulai menarik sebelah lengan Ferdinand yang terluka.
Tidak ada penolakan dari Ferdinand, dirinya dengan pasrah membiarkan Anastasia melakukan apa yang ingin di lakukan istrinya itu. Arah pandang Ferdinand terus menatap wajah cantik istrinya, hatinya menghangat ketika kembali bisa melihat sebuah senyuman si bibir Anastasia, senyuman yang bisa terbit karna dirinya.
"Aku akan membuka perbanmu"
"Hhmm lakukan apapun yang kau inginkan"
Sambil menganggukkan kepalanya, Anastasia mulai membuka balutan perban dengan lembut dan hati-hati. Setelah balutan di lepas, banyaknya darah mengering yang ada di sekitar luka membuat Anastasia harus membasahi luka terlebih dahulu. Setiap akan melakukan pergerakan, Anastasia selalu mengecek respon Ferdinand, raut wajah Ferdinand, atau mungkin keluhan, tapi Ferdinand hanya terus tersenyum.
"Sepertinya, sesuatu terjadi pada lukamu Dinand"
Ferdinand yang terus menatap Anastasia akhirnya mengubah arah pandangnya pada luka.
"Kenapa?"
"Jahitannya ada yang terbuka"
"Oiy... kenapa?"
Sambil mulai mendekatkan perlengkapan menjahit, Anastasia berdecak kesal
"Kau terlalu banyak bergerak" Setelah perlengakapan siap, Anastasia menatap Ferdinand dengan lekat. "Aku akan memperbakinya, apa kau bisa tahan di jahit tanpa penghilang rasa nyeri?"
Senyum Ferdinand kembali terbit, sebelah tangannya tanpa sadar terangkat, mengusap kedua alis Anastasia yang mengerut dalam
"Well.. jika aku tidak tahan aku bisa menangis"
"Aku serius?"
Dengan lekat Anastasia menatap Ferdinand dengan guratan rasa khawatir yang sangat jelas tercetak di wajahnya. Dada Ferdinand berdesir menyebar rasa hangat, jemarinya kembali membelai kerutan di kedua alis Anastasia
"Lakukanlah sayang.. lakukan saja. Aku tidak apa-apa"
"Baiklah"
Anastasia mulai mengerjakan setiap langkah-langkahnya. Dengan sangat serius dan hati-hati tangannya mulai bergerak. Dalam diam, Ferdinand hanya terus menikmati wajah serius istrinya, sesekali dahi Anastasia akan mengerut, sesekali bibirnya akan terbuka, sesekali Anastasia akan menggigit bibirnya, sesekali kedua matanya akan melirik wajah Ferdinand. Hingga menit-menit terus terlewati dengan Ferdinand yang mulai melihat peluh di pelipis istinya. Ferdinand tersenyum, lalu mulai meniupi wajah Anastasia
Anastasia yang mengerti maksut Ferdinand hanya tersenyum sambil terus bekerja. Cuaca memang sangat panas meskipun matahari belum naik ke atas, tanda jika waktu masih belum siang hari.
"Selesai"
Mendengar ucapan dan hembusan lega Anastasia, Ferdinand langsung mengusap dahi Anastasia yang sudah mengkilap karna peluh. Anastasia hanya membiarkan dengan tangannya yang mulai membalut luka Ferdinand. Setelah luka di tangan selesai, Anastsia mulai berdiri, berdiri dari kursinya agar lebih mempermudah untuk mengganti perban di kedua bahu Ferdinand.
"Aku lanjutkan"
Kepala Ferdinan mengangguk patuh, dan Anastasia langsung memulai. Anastasia mulai membuka perban di bahu sebelah Ferdianand. Ferdinand yang bisa melihat sangat dekat wajah istrinya, hanya bisa tersenyum-senyum penuh misteri. Anastasia yang melihat senyum itu hanya mengabaikan, terserah... dia hanya ingin fokus mengerjakan pekerjaannya.
Sebelah tangan Ferdinand terangkat menuju leher Anastasia, dan saat jemari Ferdinand menyentuh kulit lehernya, Anastasia tersentak beberapa saat hingga akhirnya kembali bergerak untuk membersihkan luka Ferdinand
"Jangan sembarangan menyentuhku Dinand"
Ferdinand tidak peduli pada peringatan itu, jemarinya menarik pelan rantai kalung Anastasia sambil berguman.
"Ana... ayo kita pulang"
Gerakan tangan Anastasia terhenti, beberapa detik mereka sama-sama menahan nafas, hingga Anastasia kembali bergerak.
"Tempatku di sini Dinand"
Masih dengan jari-jari yang masih memainkan kalung Anastasia, Ferdinand berucap lembut.
"Tempatmu bersamaku Ana. Apa kau tidak pernah merindukanku?"
Anastasia tersenyum getir, sekuat nyawa dirirnya menahan getaran yang ada di dalam dadanya, hingga akhirnya dirinya kembali berucap.
"Luka ini bagus Dinand, aku akan mebalutnya sekarang"
Nafas panjang Ferdinand berhembus. Arah pandangnya melirik Anastasia
"Aku selalu merindukanmu Ana. Setiap waktu, setiap hari, dan yang terparah setiap malam. Apa kau tidak?"
Dengan senyum yang tercetak di bibirnya, kepala Anastasia menggeleng singkat sebagai jawaban. Lalu mulai menggeser tubuhnya untuk menuju sebelah bahu Ferdinand.
"Kita mulai yang ini ya"
Melihat Anastasia yang terus menghindar, akhirnya Ferdinand kembali membuka mulutnya.
"Aku mencitaimu Ana..."
\=\=\=💙💙💙💙
Silahkan jejaknya