Marrying The Prince

Marrying The Prince
Chapter XIV - Pool


Umpatan demi umpatan dilontarkan Jane dalam hati hanya karena tidak ingin Daisy mendengarnya. Dia tahu Thomas juga pasti bisa membaca pikirannya melalui ekspresi di wajahnya.


Daisy sudah melompat ke dalam kolam anak-anak yang berisi air hangat itu. Tak disangka, bocah itu pintar berenang meski gayanya masih kaku. "Ayo, Tom!" serunya, lalu tertawa-tawa. Dia naik ke darat, lalu melompat lagi.


"Tunggu sebentar, Daisy. Aku ingin berbincang sejenak dengan Jane," kata Thomas. Pria tampan itu beralih pada wanita berambut ginger di depannya. "Kau suka pemberianku?" tanyanya sambil melirik tubuh Jane. Belahan dada Jane yang mengintip membuatnya senang.


Bagi Jane, Thomas seperti bapak-bapak mesum yang gemar mendandani perempuan dengan pakaian minim demi kepuasan pribadi, dan hal itu sangat menjijikkan. "Anda pasti salah ukuran, Prince Thomas," jawab Jane, masih bisa menahan diri.


"Kau tidak menjawab pertanyaanku, Jane."


"Anda senang menjadikan aku korban kejahilan. Mulai dari saat Anda menciumku di toilet, mengintipku berganti baju, dan sekarang, ini," sindir Jane, menunjuk badannya sendiri.


"Sayang sekali, Jane. Padahal aku sudah memilihkan yang paling bagus untukmu," ledek Thomas.


"Maafkan aku, Prince Thomas, tapi selera Anda sungguh buruk."


"Sebentar. Kalau tidak suka, kenapa masih kau pakai?"


"Princess Daisy yang mengajakku berenang. Dia bilang sudah meminta izin pada Anda dan Anda membelikan aku pakaian renang. Kalau bukan demi Princess Daisy, aku tidak mau memakai ini."


"Hei, jangan menyalahkan orang lain."


"Aku tidak menyalahkan Princess Daisy. Aku melakukan ini demi dirinya dan Anda memanfaatkan situasi ini untuk membuatku malu."


"Situasi apa maksudmu?" Mata Thomas memicing, tanda dia sedang menunggu jawaban Jane dan mengatur strategi.


"Kalau hanya dengan Princess Daisy, aku mau saja bergaya seksi dan minim karena kami sesama perempuan. Siapa yang menyangka Anda akan ikut berenang bersama kami."


Thomas tergelak. "Jadi aku tidak boleh berenang di istanaku sendiri? Itukah yang kau maksud?"


"Bukan itu maksudku, Prince Thomas," Jane harus membalas Thomas dengan cara elegan. "Anda membuatku malu. Tidak sepantasnya aku berpakaian seperti ini di depan Anda. Orang lain akan berpikir aku sedang menggoda Anda."


Thomas tidak menerima jawaban tanggung dari Jane. Dia ingin wanita itu lebih kesal lagi hingga mengeluarkan seluruh kata-kata kasar. "Kalau tidak mau atau tidak suka, kau bisa membukanya sekarang juga," ujarnya.


Rahang Jane jatuh karena tidak mengira Thomas bisa secuek itu. Sesungguhnya, dia sudah membayangkan adegan dirinya melemparkan bikini itu ke muka Thomas. Namun, niat itu diurungkan karena posisinya sebagai pelayan.


"Buka saja. Kau memerlukan bantuanku?" tanya Thomas menantang. Pria itu bahkan sudah melangkahkan kaki ke belakang Jane untuk melepaskan tali bikini.


Jane berbalik dalam waktu kurang dari sedetik. "Apa yang Anda lakukan?" tanyanya waspada. Dia mundur selangkah.


"Kau tidak suka pada bikini ini, bukan? Apa aku salah jika membantumu melepasnya?"


"Kau seorang pangeran, Tom!" seru Jane yang sangat marah sampai memanggil pangeran itu dengan namanya saja.


"Yeah. So?"


"Kau tidak bisa seenaknya menyuruh orang menanggalkan pakaian."


"Kenapa tidak? Kau calon tunanganku. Kau tidak perlu malu memperlihatkan tubuhmu padaku dan semua orang di sini tidak akan protes. Lagipula, sepertinya kau terbiasa mengenakan pakaian semacam itu. Aku ingat bagaimana penampilanmu pada pesta pernikahan adikmu, Jill."


Jane menggelengkan kepalanya keras-keras. Dia merasa terhina, sangat terhina. "Kau sudah kelewat batas!" teriaknya murka.


Mendengar suara tinggi Jane, Daisy terkejut sampai pundaknya melonjak. Kedua kakinya yang sedang berada di atas pembatas antara kolam anak-anak dan dewasa bergetar karena takut. Dia pun tidak dapat menjaga keseimbangannya, sehingga terjatuh ke kolam dewasa.


"Ini adalah istanaku. Aku tidak memintamu datang ke sini dan kau yang mengajukan syarat untuk menikahimu," debat Thomas. Matanya seolah berapi-api, tidak mau kalah.


"Jika kau tidak benar-benar mau menikahiku, kenapa kau terima syarat itu?" Jane menunjuk wajah Thomas yang sekarang ini sangat memuakkan baginya.


Suara riakan air yang bersumber dari gerakan tangan dan kaki Daisy tak juga menyadarkan mereka. Susah payah anak itu mencoba berenang ke atas. Kedua kakinya menendang-nendang ke bawah. Sesampainya kepalanya di atas permukaan air, dia berteriak sekencang-kencangnya, "Jane!"


Seketika itu juga, Jane menoleh. Dilihatnya Daisy sedang berjuang untuk tetap hidup. Tanpa pikir panjang, dia melompat ke dalam kolam. Dia berenang secepat yang dia bisa menuju Daisy berada. Wanita itu memeluk Daisy dan membawanya ke atas. Dia memastikan kepala anak itu tidak tenggelam, kemudian menggiringnya ke pinggir kolam.


Dari atas, Thomas menarik Daisy dan membaringkannya di lantai. "Daisy, can you hear me?" tanyanya kalap. Ditepuk-tepuknya pipi adik angkatnya itu.


Kedua mata Daisy terbuka, menandakan bahwa dia tidak pingsan. "Tom," ucapnya pelan. "I'm scared," Daisy menangis ketakutan.


"It's alright, Daisy. You're alright," Thomas memeluk erat Daisy. Dia mengusap-usap punggungnya supaya tenang.


Jane naik ke darat. Dia mengambil seragam dan memakainya karena yakin Daisy tidak akan mau melanjutkan acara berenang lagi.


"Jane," panggil Thomas. Mengetahui tak ada reaksi dari Jane, dia menghampiri wanita itu. "Kau mendengarku?"


Tidak mau berurusan dengan Thomas, Jane memilih diam saja sampai akhirnya Thomas harus menepuk pundaknya. Ditatapnya pria itu dengan malas.


"I just wanna say thank..."


"Jadi, inikah maksud dari semuanya?" potong Jane. "Kau sengaja menerima syaratku dengan mempekerjakanku, lalu sekarang kau ingin mempermalukan aku."


Thomas melongo. Dia merasa bersalah, apalagi setelah Jane menyelamatkan adiknya. Sekarang dia sadar bahwa seharusnya dia berterima kasih kepada Jane karena sudah menggantikan tugasnya sebagai kakak yang menjaga Daisy.


"Jika kau ingin aku mengembalikan bikini ini, akan kubuka sekarang," Jane melepaskan seragamnya lagi.


"No, no. Jane, I'm sorry," ucap Thomas. Wajah Jane basah karena air, tetapi dia bisa melihat air yang mengalir keluar dari mata indah wanita itu.


Gerakan Jane terhenti. Disekanya air mata itu dari pipi. "Aku tidak bisa melakukannya, Tom. Kau menang. Kutarik kembali syarat itu dan aku akan kembali ke Fadar Palace. Oh, satu lagi, Tom. Mungkin Daisy tidak berani memberitahumu, tapi anak itu memiliki bakat terpendam di bidang seni lukis. Kau bisa mencarikan guru melukis untuknya dibandingkan dengan Kevin Jameson sialan itu," Jane berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Thomas.


Thomas tidak sanggup menahan Jane. Dia mau, tapi tidak ada yang dapat diucapkan agar Jane mau memaafkannya. Baru kali ini penulis sekelas Thomas Geller kehabisan kata-kata.


"Tom," panggil Daisy yang masih duduk di pinggir kolam. "Apa Jane akan pergi meninggalkan kita? Apa gara-gara aku tercebur ke kolam dewasa?"


Thomas menghampiri Daisy. "Tidak, sayang. Ini bukan salahmu." Ini salahku, batinnya.


🥊🥊🥊🥊🥊


**Bersambung ke chapter selanjutnya!


Gimana chapter ini guys?


Sejujurnya aku sedih waktu nulis part ini. Kesal juga karena Thomas mempermalukan Jane kayak gitu. Bercandanya Thomas keterlaluan 😞


Aku minta vote dan comment yg banyak yah!


Semoga kalian suka 😁**