Marrying The Prince

Marrying The Prince
54


"Bantu suamimu ini memakai baju, istriku"


Isi perkataan dari bisikan itu langsung membuat Anastasia menggeser tubuhnya ke samping, menjauh secepat yang dia bisa dari tubuh Ferdinand. Saat sudah menjauh dan keluar dari jangkauan Ferdinand, Anastasia menatap Ferdinand dengan tajam sambil melampar piama yang di peganganya.


"Pakai sendiri!"


Dengan cepat Anastasia melompat ke atas ranjang, membalik tubuhnya dari arah lemari, dan menarik selimut hingga melewati kepalanya.


Tawa terbahak Ferdinand menggema kuat hingga ke segala sudut kamar, tangannya sudah memegangi perutnya yang terasa tergelitik hebat, kedua bahunya terus bergoncang kuat.


Anastasia yang ada di dalam selimut memegangi dadanya yang sudah hampir lepas. Tawa Ferdinand yang menggema kuat membuatnya menggigit bibir menahan senyum. Anastasia memejamkan matanya sambil terus mendengarkan suara tawa Ferdinand yang sangat di sukainya. Setiap kali, setiap kali Anastasia mendengar suara tawa itu, karna atau bukan karna dirinya, hati Anastasia selalu menghangat. Dia ingin Ferdinand selalu bisa tertawa seperti itu, dia ingin Ferdinand selalu bahagia, apapun akan dia lakukan untuk membuat Ferdinand tertawa seperti itu meski, dia harus mengorbankan dirinya.


Sambil mengusapi ekor matanya yang basah, sesekali Ferdinand masih terkekeh sambil melepaskan semua hal yang melekat di tubuhnya. Ferdinand melirik ke arah ranjang, ke arah Anastasia yang sudah tidak bergemimg.


"An, aku kesulitan memakai ini. Tolong aku... please..."


Dan.... tidak ada jawaban. Kembali, Ferdinand terkekeh geli sambil mulai memakai celananya, tanpa atasan. Setelah dirinya sudah siap, langkahnya langsung menuju ranjang, menaiki ranjang dengan pelan, lalu menarik selimut dengan pelan seolah memang hanya ingin menggoda.


Anastasia terpekik saat selimut itu bergerak, tangannya dengan cepat menahan selimut agar tidak membuka kepalanya.


"Kau tidak panas An? kau masih memakai mantel dan sekarang ada selimut yang menutupi seluruh tubuhmu"


Hening... tidak ada respon apapun dari Anastasia. Ferdinand mulai kembali bergerak, menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Anastasia hingga mereka sedikit bersentuhan. Anastasia menggeliat pelan untuk mengambil jarak


Ferdinand yang menyadari itu kembali bergeser untuk menempelkan tubuh mereka. Sudut bibirnya berkedut saat Anastasia kembali menggeliat untuk menjauh.


"Kau sudah berada di pinggir An" Anastasia tidak peduli dengan ucapan Ferdinand, terbukti dari dirinya yang kembali menggeliat. Ferdinand yang menyadari itu kembali berucap santai. "Jika kau jatuh, aku akan membuatmu malam ini tidur di atas tubuhku"


Dan benar, pergerakan Anastasia langsung berhenti. Ferdinand kembali terkekeh geli sambil menarik buntalan yang ada di sebelahnya


"Ferdinand!"


"Menurut saja An, atau kau akan jatuh ke lantai dan berakhir tidur di atas tubuhku. Well.. sebenarnya aku juga tidak keberatan"


Dengan pasrah, Anastasia membiarkan Ferdiand menarik tubuhnya untuk semakin ke tengah ranjang tapi,


"Jangan sembarangan menyentuh Ferdinand!"


"Ooh.. aku tidak tahu jika itu bokong mu Ana"


Sambil kembali terkekeh, Ferdinand terus mengeser Anatasia, lebih tepatnya bokong Anastasia. Di balik selimut, Anastasia membuang nafas panjang. Kenapa Ferdinand jadi sangat mesum seperti ini padanya?


Setelah dirasa ruang tidur Anastasia sudah aman, dengan santai Ferdinand membelai bokong Anastasia.


"Tanganmu Ferdinand!"


"Ck! jangan ganggu kesenanganku Ana"


Anastasia menggeliat kuat, mencoba menjauhkan tangan Ferdinand yang terus membelai bokongnya. Ferdinand kembali terkekeh dan... meremas bokong padat itu dengan kuat. Anastasia tersentak dan tanpa sadar langsung membuka selimutnya.


Saat selimutnya sudah terbuka, Anastasia langsung menepis kuat tangan Ferdinand dan menatapnya dengan tajam. Ferdinand dengan wajah menyebalkannya membalas tatapan Anastasia.


"Apa?"


"Kau menyebalkan Ferdinand"


"Makanya buka selimut ini Ana. Kau bisa mati kepanasan"


"Aku tidak panas sama sekali"


Satu alis Ferdinand menukik sambil menopang kepalanya dengan satu tangan, menatap Anastasia dengan senyum mengejek.


"Pelipismu berkeringat"


Refleks tangan Anastasia langsung mengusap pelipisnya. Ferdinand kembali terkekeh dan secepat kilat langsung memeluk Anastasia yang belum siap. Anastasia membeku


"Fe-Ferdianand?"


Sambil mengeratkan pelukannya, menempelkan kepala Anastasia ke dalam dada bidangnya, Ferdinand mengecup pelipis Anatasia yang mulai terlihat semakin memar, lalu berucap lembut


"Ana, apa luka di wajahmu ini karna aku?"


Anastasia yang masih membeku dan sibuk mengatur nafasnya yang jadi kacau karna jantungnya mulai menggila menggeleng singkat.


"Aku tidak sengaja menabrak pintu"


Tangan Ferdinand terangkat, membelai surai Anastasia dengan lembut


"Pintu yang ku buka?"


Kedua mata Anastasia langsung terpejam ketika ingatan menyesakan itu kembali menyentuhnya. Dengan sangat pelan Anastasia kembali menggeleng


"Bukan. Ini karna pintu lain dan karna kesalahanku sendiri"


"Ck! kau sangat buruk dalam berbohong Ana"


Setelah Ferdinand berucap, dirinya merasakan jika wajah Anastasia yang sudah menempel di dadanya sedikit bergerak. Ferdinand yang masih terus menatap ke langit-langit ranjang mengusapi punggung Anastasia.


"Maaf Ana... maaf jika selama ini aku sudah menjadi tunangan dan suami yang buruk"


Ohh tidak... Anastasia yang sudah sekuat nyawa menahan tangisnya kali ini tidak yakin akan mampu bertahan lagi. Ucapan lirih Ferdinand sangat mengaduk isi hatinya. Kenapa, kenapa Ferdinand sangat cepat berubah-ubah hingga Anastasia bingung harus menetapkan rasa untuk setiap perbuatan Ferdinand.


"Sebenarnya, aku yang bodoh ini tidak pernah tahu akibat dari setiap perbuatanku Ana. Dari dulu hingga sekarang semua orang selalu mengatakan jika aku ini anak yang se-enaknya, dan itu memang benar. Contohnya luka mu itu, aku tidak tahu jika dorongan pintu itu-" Ferdinand menjedah lalu menarik wajah Anstasia agar terangkat ke atas, agar arah pandang mereka bertemu, ibu jarinya mengusap pelan pipi Anastasia yang terluka, bibirnya tersenyum miris. "Jadi melukai wajah cantik ini. Maafkan aku Ana"


Dada Anastasia bergetar hebat, segala perasaan yang menyenangkan merayap di setiap jengkal isi hatinya hingga sampai ke sudut bibirnya. Bibir Anastasia tersenyum hangat dengan kedua mata yang menggenang.


"Jangan mengulanginya lagi Ferdinand. Dan jika kau ada masalah atau kau sedang kesal, jangan menyimpannya sendiri atau jangan melakukan sesuatu karna perasaan mu yang sedang buruk. Berbagilah denganku, caritakan padaku, datang padaku, karna kapanpun kau membutuhkanku, aku akan selalu siap ada dan akan selalu mendengarmu"


Jawaban tulus Anastasia sampai hingga ke dalam hati Ferdinand. Mendobrak dan mengacak-ngacak segala sudut hatinya. Perasaan hangat, perasaan lega, perasaan melambung yang tidak Ferdinand mengerti langsung membuat senyum merekah Ferdinand terbit.


"Aku akan melakukan yang terbaik untuk menjadi suami yang baik untukmu. Aku berjanji"


Anastasia menatap dalam manik mata Ferdinand, mencoba mencari-cari keraguan yang dulu pernha di temukannya saat Ferdinand juga pernah mengatakan hal yang sama tapi, kali ini Anastasia tidak menemukan sedikitpun keraguan itu. Senyum Anatasia kembali terbit


"Aku juga akan selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik untukmu"


Tangan Ferdinand kembali mengusapi wajah Anstasia dengan matanya yang mengerling menyebalkan


"Istri yang baik adalah istri yang mau membantu suaminya berpakaian"


Satu pukulan mendarat di bahu Ferdinand dengan suara kekehan mereka yang saling bersaut sautan. Hingga kekehan Anastasia mereda, Ferdinand kembali mengeratkan pelukannya


"Tidurlah Ana"


Anastasia mengangguk singkat


"Selamat malam Ferdinand...."


"Selamat malam Anastasia..."


***


Arah pandang Anastasia terus menatap semua pamandangan yang tersaji di depannya. Senyumnya terus merekah dengan kedua mata berbinar.


"An"


"Ahh iya..."


Dengan capat Anastasia menuju kuda yang sudah di siapkan untuknya. Kali ini, dengan meneguhkan hatinya, Anastasia akan menekan rasa takut yang selama ini membuatnya tidak berani untuk menunggangi kuda.


Ferdinand sudah berdiri di samping kuda hitam yang di siapkan untuk Anastasia. Dirinya akan menemani Anastasia untuk mencoba menaiki kuda dengan dia yang akan tetap menuntun kuda. Saat Anastasia sudah di sampingnya, Ferdinand kembali bertanya


"Kau yakin?"


Kekehan geli kembali meluncur dari bibir Anastasia karna Ferdinand yang terus bertanya pertanyaan yang sama.


"Iya Ferdinand..."


Dan akhirnya, keputusan bulat Anastasia itu membuat Ferdinand pasrah dan segera membantu Anastasia untuk menaiki pelana.


Anastasia menahan nafas ketika tubuhnya sudah ada di atas kuda sendirian. Tangannya mencengkem dengan kuat taki kekang saat ingatan-ingatan buruk itu kembali muncul.


"Ana! kau sudah naik!!!!"


Suara teriakan kuat itu membuat kesadaran Anastasia kembali, senyum lebarnya terbit saat melihat Summer dan Francesca yang ternyata sedang memperhatikannya dari atas kuda mereka. Summer terus melambai-lambaikan tangannya ke atas sambil tersenyum. Rasa buruk di dalam perasaan Anastasia lenyap ketika melihat semua orang yang memperhatikannya.


"Better?"


Masih dengan senyum lebar yang tercetak di bibirnya, Anastasia menyentuh tangan Ferdinand yang ada di atas kuda.


"Terimakasih"


Ferdinand berdehem beberapa kali saat sentuhan ringan itu terasa membakar tangannnya. Lalu apa rasanya jika tangan itu bergerak di seluruh tubuhnya? Dengan cepat Ferdinand menggelengkan kepalanya, mencoba membuang segala pikiran liar yang mulai akan akan merusak akal sehatnya.


Ferdinand tersenyum kikuk sambil mengangguk.


Dengan kepercayaan diri yang mulai kembali, Anastasia mulai memegang tali kekangnya. Kuda mulai bergerak perlahan, Anastasia menggigit bibirnya dengan gugup, tangan Ferdinand yang ikut memegangi tali kekang kuda terus mencoleki tangan Anastasia. Colekan itu akhirnya membuat Anastasia menurunkan arah pandangnya pada Ferdinand.


"Kenapa?"


"Kau sangat cantik saat di atas kuda"


Anastasia terkekeh sambil mengerling


"Aku kan memang cantik"


Sudut bibir Ferdinand berkedut sambil megedipkan kedua bahunya dengan acuh


"Padahal aku hanya bercanda"


Anastasia mengerucutkan bibirnya sambil terus memegangi tali kekang dengan pelan. Ferdinand hanya terus tekekeh dengan gemas.


Sesekali Anastasia mengehentikan kudanya saat melihat pemandangan yang menarik perhatiaannya, sesekali Ferdinand menyentuhnya dengan niat hanya untuk menggoda, sesekali Anastasia terkekeh kencang saat Ferdinand mengatakan hal yang menggelikan, hingga mereka melupakan jika kuda-kuda yang lain sudah tidak ada di sekitar mereka.


"Hhmm... Ferdinand?"


"Hm?"


"Aku ingin mencoba sendiri"


Satu alis Ferdinand menukik sambil menatap Anastasia.


"Kau yakin?"


Kepala Anastasia langsung mengangguk yakin. Keyakinan dan keinginannya muncul saat melihat bagaimana indahnya Francesca yang sedang memacu kudanya. Anastasia, benar-benar terlena hingga ingin terlihat seperti itu.


"Kau yakin?"


Kembali Anstasia mengangguk yakin. Ferdinand membuang nafas panjang yang syarat akan keraguan, ekor matanya kembali melirik Anastasia yang terus membelai kuda sambil sesekali terkekeh girang.


"Kau yakin An?"


Anastasia memutar bola matanya dengan tidak sopan, dia mulai kesal saat Ferdinand sangat suka mengulangi pertanyaan. Dan Ferdinand melihat itu


"Jangan memutar bola matamu"


"Kau mulai menyebalkan"


"Baiklah.." Ferdinand kembali membuang nafas panjang. "Tapi apa kau yakin An?"


Kali ini, pertanyaan Ferdinand membuat Anstasia benar-benar jengah. Anastasia menatap Ferdinand dengan raut wajah yang jelas sedang menahan rasa kesal


"Aku bukan tidak bisa, aku hanya tidak berani Ferdinand. Jadi berhentilah terus bertanya seolah aku memang belum bisa menungganginya"


"Yaaa baiklah"


Akhirnya Ferdinand menyerah dan hanya bisa menggaruki kepalanya yang tidak gatal sama sekali sambil mulai mengambil jarak menjauh dari kuda.


Anastasia kembali membelai kepala kudanya lalu mulai menarik nafas dalam. Arah pandangnya menatap Ferdinand yang sudah menatapnya dengan raut wajah khawatir


"Aku tidak apa-apa Ferdinand. Jangan terlalu khawatir"


Dengan pasrah dan terpaksa Ferdinand mengangguk sambil memasang senyum yang di paksakan.


Anatasia mulai memegangi tali kekakangnya dengan kakinya yang juga menyentak perut kuda. Jantung Anastasia mulai berdegup antusias.


Sudah sangat lama dia tidak menunggangi kuda sendiri, selama dia di Francia dia sudah menunggangi kuda bersama seseorang di belakangnya dan sekarang, Anastasia merasa sudah saatnya dia harus melawan rasa takut karna trauma berkepanjangannya.


Kaki kuda mulai melaju dengan cukup kencang saat Anastasia kembali menyentak perut kuda. Senyum puas dan alunan gerakan tubuhnya saat kuda bergerak semakin membakar semangat Anastasia. Anastasia terus mengarahkan kudanya ke arah jalan menuju padang rumput yang pasti sudah menjadi tempat berkumpul yang lain. Summer mengatakan padanya di sana ada danau kecil yang indah dan akan menjadi tempat mereka untuk bermain air. Mengingat itu membuat Anastasia semakin bersemangat.


Laju kuda semakin kuat, harmoni pergerakan badannya saat kuda bergerak terus mengalirkan rasa semangat yang terus membuat bibirnya tersenyum. Tapi, Anastasia masih merasa belum cukup kencang. Dulu dia sering berkuda dengan kencang dan sekarang dia ingin melakukan itu lagi.


Anastasia semakin menyentak kuda yang juga semakin cepat berpacu dan ternyata, Anastasia masih belum puas dan kembali terus menyentaki kuda. Kuda melaju kencang, senyum merekah Anastasia terbit, kedua matanya berbinar bahagia. Isi kepala Anstasia terus berteriak untuk semakin cepat, dan semakin cepat, dan Anastasia melakukannya. Anastasia terus menambah kecepatannya.


"JANGAN TERLALU KENCANG ANA!!!"


Suara yang sangat di kenalnya itu terdengar bersaut-sautan dengan langkah kaki kuda. Anastasia menoleh sambil terkekeh girang


"KEJAR AKU FERDINAND!!!"


"JANGAN TERLALU KENCANG ANA!"


Anastasia mencibik kesal dan mengabaikan ucapan Ferdinand, dirinya memilih kembali mengikuti isi kepalanya yang ingin semakin melaju kencang. Laju kudanya yang kecang membuat rambut tergulung Anastasia terlepas, rambut indahnya terbang bebas, berkibar mengkilau terbawa angin yang membuat gambaran Anastasia sekarang terlihat sangat indah bagi semua mata yang bisa melihatnya


Ferdinand tersenyum kecut saat dari arah samping, suara siulan nyaring terdengar. Dominic menyusulnya dan langsung mengambil posisi di sebelah kuda Ferdinand.


"Wow!"


Dengan malas dan mengabaikan Dominic yang terus menggodanya, Ferdinand mulai mempercepat laju kuda untuk mengejar Anastasia. Dominic yang melihat Ferdinand yang sedang mencoba menghindarinya mengejar dan kembali, Dominic melancarkan godaan menyebalkannya


Dengan terus menambah laju kuda, terus dan terus menambah, senyum lebar Anastasia semakin lebar saat sudah melihat pepohonan lebat yang di katakan Summer. Arah untuk menuju danau yang mereka tuju semakin dekat, dan saat akan ada belokan di jalan setapak, Summer mengatakan jika Anastasia hanya tingga berbelok tapi,


Senyum Anastasia pudar saat ternyata jalan setapak yang di katakan Summer itu adalah jalan yang di apit jurang curam. Anastasia mulai gugup dengan tangannya yang semakin kencang mencekam tali kekang. Saat sudah semakin dekat dengan jalan setapak, Anastasia menoleh ke belakang, tidak ada orang.


Baiklah.. Anatasia harus tenang. Karna jika dia panik, kudanya juga pasti ikut panik. Anastasia tetap meneruskan laju kudanya, dirinya yakin jika dia pasti bisa, karna itu Anastasia akan terus mempertahankan laju kudanya.


Tanpa peringatan, dan mungkin karna Anastasia yang hanya terlalu fokus menatap depan, tiba-tiba kudanya melompat tinggi, sangat tinggi. Anastasia yang belum siap dan terkejut langsung menarik tali kekah yang malah semakin membuat kudanya menukik sangat tinggi.


Tubuh Anastasia telempar....


"FERDINAND!"


Tangannya yang terus memegangi tali kekang membuat kudanya juga bergerak ke samping, kearah jurang. Berat beban kuda langsung membuat keseimbangan Anstasia patah, tubuhnya terjatuh, terpeleset dan langsung tergulir menuju ke dalam jurang yang curam


Teriakan yang terdengar di indra pendengaran Ferdinand, Dominic, dan Michael langsung membuat mereka berhenti tekekeh dan langsung menyusul Ferdinand yang sudah memacu kudanya seperti orang kerasukan.


"ANA!!"


Tidak ada jawaban.


Ferdinand semakin menggila memacu kudanya, arah pandangnya terus menunggu sesosok yang sekarang membuatnya cemas. Perasaan Ferdinand mengatakan jika teriakan yang di dengarnya tadi bukanlah sebuah teriakan girang tapi, teriakan meninta tolong.


"ANA!!!"


Ferdinand kembali berteriak yang juga terus tidak mendapatkan jawaban. Hingga Ferdinand menangkap sebuah sepatu di pinggir jurang. Jantung Ferdinand mulai berdegup kencang, segala perasaan tidak nyaman memenuhi setiap jengkal isi dadanya. Dengan cepat Ferdinand menghentikan kudanya dan tanpa ingin membuang waktu sedikitpun segera melompat dan berlari.


"ANAAA!!!!


"Ferdinand"


Suara pelan dari seseorang yang sangat di cemaskannya sekarang membuat Ferdinand langsung mencari arah suara


"DI MANA KAU ANA!!"


"Di bawah!!"


Jantung Ferdinand semakin berdegup takut, darahnya berdesir gugup. Kaki dan arah pandangnya mulai menuju ke pinggiran jurang.


Dominic dan Michael yang baru tiba langsung bisa mencium aroma tidak baik, tanpa ingin membuang waktu langsung ikut turun dan mendekat pada Ferdinand.


"Dinand! dimana Ana?"


"Jurang"


Jawaban Ferdinand membuat Michael dan Dominic terbelalak, dan dengan cepat mulai menuju ke sisi-sisi lain pinggir jurang sambil berteriak.


Bermemit-menit terus terlewati tapi Anastasia belum juga di temukan. Ferdinand yang semakin tidak bisa menahan rasa takut dan cemasnya terus berteriak dan terus belarian. Raut wajahnya menegang, rahangnya mengeras dan warna kulit wajah Ferdinand sekarang sudah berubah merah. "Ohh... ya Tuhan... Di mana dia? Di mana Ana?? Tolong lindungi dia..." Batin Ferdinand terus berdoa.


"DINAND!!!"


Suara Dominic langsung membuat Ferdinand dan Michael berlari ke arah Dominic yang sudah melangkah menuju turunan jurang.


Saat Ferdinand dan Michael sudah mendekat, dengan cepat Ferdinand memegangi tangan Dominic, dan langasung memberikan tangannya pada Michael yang akan menjadi tubuh tumpuan agar Dominic bisa turun dan meraih Anastasia yang sedang berpegang pada akar pohon.


"Pegang aku Ana"


Anastasia dengan patuh langsung memberikan satu tangannya. Dengan cepat Dominic menarik tangan Anastasia. Michael yang menjadi penumpu langsung bergerak saat Ferdinand bergerak. Seretan dari tiga orang pria dewasa itu membuat tubuh Anastasia dengan cepat tertarik dan terseret di tanah.


Dan seretan itu, membuat dada Anastasia semakin sesak. Sesuatu, sesuatu pasti terjadi hingga paru-paru Anastasia terasa sulit mengembang dan membuatnya sesak. Karna itu juga dirinya tidak bisa banyak berteriak, dia harus menyimpan dan menjaga pergerakan paru-parunya. Karna saat dadanya mengembang, rasanya akan sangat sakit tapi, jika dia tidak mengisi paru-parunya, dia seperti akan pingsan.


\=\=\=💜💜💜💜


Silahkan jejaknya....