Marrying The Prince

Marrying The Prince
73


Kenna terbangun dari tidurnya saat mendengar suara-suara keributan kecil di dalam kamar Ferdinand. Kedua matanya yang masih mengantuk mengedarkan arah pandangnya saat melihat gerak gerik seseorang di dalam kamar itu.


"Dinand?"


Seseorang yang di panggil namanya tidak peduli, dan hanya sibuk memakai bajunya setelah sebelumnya, dirinya baru saja menyelesaikan mandi. Kenna yang mendapati ketidakadaan respon, terus menatap Ferdinand dengan bingung.


Setelah semalam Ferdinand tidak kembali lagi ke kamarnya, di pagi hari yang sepertinya masih gelap, Ferdinand sudah sibuk untuk bersiap pergi? Pukul berapa sekarang?


"Kau akan pergi Dinand?"


Dan kembali, orang yang di beri pertanyaan tetap diam dan mulai memakai mantelnya. Kenna mengigit bibirnya saat Ferdinand hanya melewati ranjang untuk menuju pintu keluar. Ada apa ini? kenapa Ferdinand bahkan tidak ingin melihatnya?


Ferdinand melangkah cepat menuruni tangga, dirinya yang belum terlelap tidak bisa lagi menunggu. Dirinya harus bertemu, membawa pulang, dan bila perlu bersujut agar istrinya bersedia kembali ke castle, ke rumah mereka.


Tangan Ferdinand terkepal, desiran rasa nyeri yang kental dan syarat akan rasa takut semakin mengisi setiap jengkal isi dadanya. Entah kenapa dia terus merasa takut seperti ini setelah mendengar cerita dari Stefanus, tapi yang jelas, apapun akan dia lakukan agar Anastasia memaafkannya. sekali lagi, apapun.


Seperti yang di katakannya, Anastasia adalah istrinya, miliknya, selamanya. Dan karna itu setelah semalam mendapati kamar Anastasia yang kosong, dan hampir membakar castle untuk memaksa seseorang buka mulut, pagi ini bahkan di saat matahari masih malu-malu mengintip, dirinya akan ke istana. Pasti inilah yang menyebabkan Solar tidak ada, si sialan itu pasti takut kembali setelah membawa Anastasia ke istana.


Ferdinand mulai memacu kudanya dengan cepat, dia harus cepat. Karna setiap detik yang di laluinya hanya menghantarkan rasa nyeri dan rasa takut di dalam perasaannya. Istrinya yang tinggal jauh darinya membuatnya sangat tidak tenang, terlebih saat mengingat kelakuan binatangnya siang kemarin. Ferdinand mengigit kuat pipi dalamnya saat mengingat apa yang di lakukannya, dia benar-benar brengsek dan tidak jauh berbeda dengan binatang tanpa akal.


"Oohh Tuhan... ijinkan aku memperbaiki semuanya, tolong aku sekali ini saja, kali ini aku akan benar-benar menjalankan sumpahku padaMu, dan janjiku pada uncle Henry"


--000--


Matahari pagi ini masih malu-malu mengintip di ufuk timur dan belum juga berniat bergerak untuk naik ke atas langit. Fredrick baru saja memakai bajunya saat Jeremmy mengetuk dan datang ke kamarnya. Sambil menyisir rambutnya yang masih berwarna sepekat langit malam di usianya yang tidak muda lagi itu, akhirnya mulutnya bersuara.


"Kenapa?"


"Tengah malam tadi, ada seoarang pelayan Chasembord yang mengatakan jika semalam His Highness mengamuk lagi karna tidak ada yang membuka mulut untuk memberitahukan keberadaan Her Highness, Your Majesty"


Fredrick mulai kembali menatap tampilannya. Yang membuat Jeremmy bertanya-tanya, tamu sepenting apa yang akan datang hingga membuat tuannya itu jadi sangat memperhatikan penampilan?


"Lalu?"


Dengan arah pandang yang terus melirik Fredrick, Jeremmy kembali membuka suara


"Sepertinya, pagi ini His Highness akan datang sendiri ke istana, Your Majesty"


"Sudah pasti dia akan datang. Lagi pula aku memang tidak pernah memintamu untuk membawanya ke sini Jer"


--000--


Berjam-jam terus terlewati dengan kegelisahan, kecemasan, dan ketakutan. Tomy kembali melirik Ferdinand, saat suara seretan kursi membuat kegaduhan di dalam sana.


Dengan kegelisahan yang tidak bisa di kontrolnya lagi, Ferdinand terus berjalan ke sana ke mari, kakinya terus mengitari ruang kerja Raja Fredrick yang entah apa fungisnya


"Sebenarnya kemana His Majesty, Tom?"


Tomy yang sudah di tanya untuk kesekian kalinya, tetap hanya diam. Bahkan mulutnya tidak terbuka sedikitpun saat sering kali Ferdinand mengajaknya berbicara, Tomy bungkam dan hanya terus berdiri tegak seperti pohon di taman.


Hingga suara pintu yang di buka, membuat Ferdinand segera berbalik. Dari pintu, akhirnya Fredrick masuk dengan Jeremmy yang langsung mengambil posisi terjauh, sangat jauh dari jangkauan mereka. Dahi Ferdinand mengeryit saat Tomy langsung keluar dengan menunduk, tanpa permisi atau basa basi pada Fredrick seperti seharusnya


Karna tidak bisa menunggu lagi dan tidak bisa memikirkan hal lain lagi, Ferdinand mengabaikan peraturan dan langsung membuka duluaan suaranya


"Saya ingin bertemu Ana, Your Majesty"


Mendengar suara Ferdinand, Jeremmy semakin memundurkan langkahnya hingga menempel ke sudut dinding, Jeremmy mulai menunduk sambil mengumpati Ferdinand di dalam hatinya, Ferdinand yang benar-benar sudah bosan hidup. Sedangakan Fredrick masih diam sambil melepas mantel, serta mulai menggulung lengan kemejannya.


Merasa tidak mendapatkan jawaban dan tidak bisa membaca raut wajah santai ayahnya, Ferdinand kembali membuka suaranya


"Saya ingin bertemu istri saya Your Majesty, di mana dia sekarang?"


Setelah semua lengan kemejanya siap, Fredrick mulai membuka dua kancing kemejanya sambil berucap dingin


"Kenapa kau mencarinya padaku?"


Suara dingin Fredrick membuat Ferdinand meneguk ludahnya dengan kasar.


"Aku dengar jika dia ke istana kemarin?"


"Dan kenapa dia kesini saat suaminya ada di rumah?"


Ferdinand menatap Fredrick yang sudah berkacak pinggang dan menatapnya dengan datar. Dan tatapan itu membuat Ferdinand menarik nafas dalam.


"Karna terjadi sedikit salah paham anta-"


BRAAKKK!!


Secepat kilat, tanpa bisa di hindarinya, tubuh Ferdinand langsung terjatuh di lantai bersama serpihan kayu kursi tidak berdosa yang baru saja menghantam tubuhnya. Fredrick sudah memulai kemarahannya.


"Kesalah pahaman kecil hah!!"


BUGH!!


Satu pukulan tidak terhindarkan mendarat ke wajah Ferdinand. Tangan Fredrick menarik kerah mantel Ferdinand saat anaknya itu masih di atas lantai dengan wajah yang mulai berdarah


"Kesalah pahaman kecil seperti apa hingga kau membuat istrimu babak belur Ferdinand?"


BUGH!!


"Kau merasa hebat karna kau laki-laki dan lebih kuat?!!!"


BUGH!!


Setelah dua pukulan melayang ke wajahnya, Ferdinand mulai mengerti sekarang. Jika ayahnya sudah kehilangan ketenangannya. Masih di dalam genggaman kedua tangan Fredrick, Ferdinand mencoba membuka mulutnya yang mulai di penuhi rasa anyir


"Aku lepas kendali. Maaf"


BUGH!


BRAAAAKKKKKKKKKK!!!


Tubuh Ferdinand terpental saat sebuah kaki melayang di perutnya, hingga sebuah meja tempat meletakkan kotak perkamen terbelah menjadi dua dengan tubuh Ferdinand yang berada di atas belahan meja.


"Seumur hidupku!! Seumur hidupku aku tidak pernah berani meletakkan tanganku pada seorang perempuan lemah. Dan kau!!!"


Fredrick melangkah dan kembali mengangkat bogemnya


BUGHH!!!


"Kau berani meletakkan tanganmu pada perempuan lemah dan itu ISTRIMU SENDIRI BEDEBAH!!!"


BUGH!! BUGH!!


BUGH!!


BRAKKK!!!!


Suara batuk Ferdinand mulai terdengar saat dua pukulan di dada, dan satu tendangan di perut kembali dia dapatkan. Ferdinand kembali merasa tubuhnya melayang saat lagi, Fredrick menarik kedua kerah mantelnya. Fredrick menatap kedua bola mata sewarna mata istrinya dengan dingin, sangat dingin


"Kau tidak berguna! pria tidak berguna!" Fredrick menjedah dan semakin menarik kerah baju Ferdinand hingga jarak wajah mereka semakin dekat. "Kau mempermalukanku! kau pengecut menjijikkan!!"


BUGH!!!


Satu bogem mendarat lagi ke wajah Ferdiand yang membuat kepalanya terpental ke samping. Fredrick menarik kembali kerah baju Ferdinand agar kepala anaknya itu kembali menatapnya, menatap kemarahannya


"Kau tahu apa yang terjadi jika Anastasia adalah seorang Putri dari kerajaan lain dan masih memiliki keluarga hah!! APA OTAKMU INI HANYA BERISI KOTORAN FERDINAND!!"


BUGH!


BRAAAKKK!!


Kembali, satu bogem panas Ferdinand dapatkan di perutnya hingga tubuhnya terlempar dan menggeser lemari. Dengan tubuh yang mulai kesulitan dan dengan mulut yang mulai memuntahkan darah, dengan susah payah Ferdinand membuka suaranya.


"A-aku tidak ingin Putri lain atau perempuan manapun. Aku hanya ingin Ana, kembalikan istriku"


"Dasar otak babi!!!"


BUGH! BUGH!!!


BRAAAKKKK!!!


"Kau bilang ingin istrimu hah! KAU INGIN ISTRIMU UNTUK KAU SIKSA FISIK DAN PERASAANNYA HAH!!"


BUGHH!


"KAU MEMBAWA JAL*NGMU YANG SEDANG MENGANDUNG KE RUMAHMU!!! MEMINTA ISTRIMU UNTUK MENERIMA ANAK TERKUTUK ITU!! MEMINTA ISTRIMU UNTUK MENERINA ADIK PELACURMU SEBAGAI KELUARGANYA!!!!!"


BUGH!!


"DIMANA OTAKKMU!! APA ISI KEPALAMU ITU BEDEBAH!!"


BUGH!! BUGH! BUGH!! BUGH!!


Jeremmy langsung memejamkan kedua matanya sambil terus menunduk saat suara pukulan itu berubah. Kali ini, tanpa berani melihatpun dia tahu jika kaki Fredrick pasti sudah mulai menginjakki tubuh? wajah? perut? Entahlah... Jeremmy tidak ingin menonton dan lebih memilih menjadi pohon.


"DASAR ANAK MEMALUKAN!! KAU BAJINGAN PALING TOLOL YANG PERNAH KU TEMUI!! KENAPA AKU BISA PUNYA ANAK SIALAN SEPERTIMU HAH!!"


BUGH!! BUGH!! BUGH!! BUGH!!


BUGH!! BUGHHHH!!


BRAAKKK!!!


"Aku sudah mengatakan padamu jangan menghamili sipapun!"


BUGGGHHHH!!


"DAN AKU JUGA SUDAH MENGATAKAN PADAMU JANGAN PERNAH MEMBUAT ISTRIKU MENANGIS!!! KAU ANAK SIALAN!!"


BUGHH!! BUGH!! BUGH!!


BRAAAKKKKK!!!


BUGH! BUGH!!


"SEUMUR HIDUPKU AKU TIDAK PERNAH SEKALIPUN MEMBUAT ISTRIKU MENANGIS!! MEMIKIRKANNYA SAJA AKU TAKUT!! HATIKU SAKITT!! DAN KAU-"


Fredrick kembali menarik kerah baju Ferdinand saat melihat anaknya yang mulai tidak bisa fokus. Saat arah pandang mereka bertemu, tiba-tiba ucapan George untuk tidak membangkitkan seekor monster terngiang di dalam kepala Ferdinand karna, kedua bola mata abu-abu itu sudah mengkilap penuh dengan bara kemarahan yang tidak pernah sekalipun Ferdinand lihat dan bayangkan


"DAN KAU MEMBUATNYA MENANGIS!!! KAU MEMBUAT ISTRIKU MERASA BERSALAH DAN GAGAL! KAU MENYAKITI KAKAKMU! ISTRIMU! DAN BAHKAN IBUMU SENDIRI BRENGSEKKKK!!!"


BUGH! BUGH!!! BUGH!!


BRAKKK!!


"Kau babi sialan!!"


BUGH!! BUGHH!! BUGH!!! BUGH!!! BUGH!!


"Matilah Ferdinand! matilah!! anak tidak berguna sepertimu lebih baik mati!! aku tidak butuh punya anak sepertimu!!"


BUGH! BUGH!! BUGH!! BUGH!!!


"MATILAH FERDINAND!!!!!!!!"


Dengan tubuh pohonya dan kepala yang masih terus menunduk, Jeremmy mulai menggigit bibirnya karna rasa takut dan ngeri yang semakin menjalar di sekujur tubuhnya. Jeremmy juga sudah menjadi kesatria di medan perang saat seusia Ferdinand, tubuh mereka sedari kecil sudah di latih untuk tahan dari pukulan-pukulan agar tidak mudah mati hanya karna pukulan tapi, yang menjadi masalah fatal di sini karna yang memukul adalah mantan monster perang Francia yang hingga sekarang belum ada yang bisa memiliki julukan itu. Jeremmy takut jika Ferdinand benar-benar akan mati, tapi dirinya bisa apa? ikut campur yang sama saja dengan melawan Raja dan menggores kesetiaan serta kepatuhan mutlaknya? Big no! hundreds of millions no!! Dia hidup untuk Francia dan perintah Raja, jadi jalan terbaik yang bisa di lakukan Jeremmy untuk menolong sekarang adalah..... berdoa. Well... semoga Tuhan menurunkan seorang malaikat yang bisa menghentikan Fredrick.


"BANGUN SILAAN!! BANGUN!!"


BUGH!


"KENAPA KAU TIDAK MEMUKULKU SEPERTI KAU MEMUKUL ISTRIMU HAHH!!"


BUGH!! BUGH!!


"LAWAN AKU!! PUKUL AKU SEPERTI KAU MENGANGKAT TANGAN SIALANMU PADA WAJAHNYA!"


BUGHH!! BUGHH!!


"SIKSA AKU SEPERTI KAU MENYIKSA ISTRIMUU!!"


BUGH! BUGHH!!


Ferdinand mulai kehilangan kesadarannya, telinganya mulai terus berdengung, arah pandangnya mulai buram dan berat, kepalanya mulai melayang tidak bisa merasakan apapun, dadanya mulai semakin kesulitan bernafas karna mungkin ada beberapa tulang rusuknya yang patah, kakinya sudah tidak bisa di gerakan dengan tangan yang tidak jauh berbeda.


Aahhh... apakah dia akan benar-benar mati di tangan ayahnya?? Baiklah... Ferdinand tidak masalah dengan itu, karna sekarang dia bisa melihat semuanya dari setiap ucapan dan teriakan ayahnya, jika dia memang berotak babi dan anak sialan tidak berguna. Ferdinand sudah pasrah jika harus mati sekarang tapi, sebelum dirinya mati bisakah dia bertemu Anastasia sebentar saja? bolehkan dia meminta ijin untuk sekedar meminta maaf dan mengatakan sesuatu yang baru di sadarinya setelah kepalanya di pukuli, mengatakan jika dia.... mencintai istrinya yang entah sejak kapan. Jika itu tidak bisa, tolong ijinkan dia untuk melihat wajah istrinya sebentar saja, sedetikpun tidak masalah. Tolong Tuhan... sekali ini saja, Ferdinand sangat ingin melihat istrinya, sedikit saja.


BUGH! BUGH! BUGH!


TOK TOK TOK


Kaki Fredrick terhenti dan melayang di udara saat suara ketukan pintu terdengar


"Your Majesty, tamu kita sudah datang"


Dan suara yang terdengar dari balik pintu, membuat Jeremmy berteriak 'ameeennn!' untuk menyelesaikan doa di dalam hatinya. Karna malaikat kiriman Tuhan benar-benar sudah turun di depan pintu. Jeremmy akhirnya berani mengangkat kepalanya untuk menatap Fredrick dengan melewati pemandangan seonggok tubuh yang terkapar bersimbah darah di atas lantai. Saat dirinya melihat kepala Fredrick yang mengangguk sambil membersikan bekas darah di kedua tangan bahkan wajah, Jeremmy langsung membukakan pintu yang di ketuk Victoria.


Saat pintu di buka, Victoria hanya menatap pemandangan di depannya dengan datar, lalu dengan sopan memutar tubuhnya


"Maaf jika ruangan isi 'sedikit' kacau"


Tamu Victoria hanya mengangguk sambil tersenyum hangat, jenis senyum keramahan tulus yang tidak mengandung apapun. Melihat senyum itu, Victoria ikut tersenyum sambil mengambil gestur sopan untuk mempersilahkan masuk.


Jeremmy yang sudah berdiri dengan penuh gestur kesopanan di samping pintu untuk membuka jalan, melihat itu. Melihat bagaimana sopannya Ratu Victoria Francia kepada seorang tamu pria paruh baya yang tampak... emm... biasa?


Belum cukup kebingungan dan keterkejutan Jeremmy, sekarang Raja Fredrick pemilik Francia, Vancia dan Trancia sudah kembali berpenampilan rapih sambil tersenyum diplomatis menyambut tamu itu, dari depan pintu langsung!!


Tamu yang sudah melihat Fredrick menjulang di depan pintu tersenyum sambil berucap tenang


"Selamat pagi, Your Majesty Raja Fredrick"


"Selamat pagi.... Sebelumnya, karna saya pikir anda akan tiba siang ini, mohon di maafkan jika ruangan sayang 'sedikit' berantakan"


Setelah berucap, Fredrick langsung masuk ke dalam. Tamu yang baru datangpun mengukuti langkah Fredrick tapi, arah pandangnya bergerak menatap kerusakan 'sedikit' seperti yang di sebutkan Raja dan Ratu, padahal, tempat itu sudah hampir hancur separuh dengan adanya.... mayat?


Victoria yang melihat jika tamunya terkejut melihat sesosok yang terkapar di lantai langsung membuka suaranya


"Maafkan jika 'dia' mengejutkan anda"


Dengan senyum hangatnya yang kembali terbit, tamu itu mengangguk sambil kembali melangkah ke meja rapat ruangan yang masih utuh. Jeremmy dengan sigap langsung menariki kursi-kursi untuk Raja, Ratu, dan tamu.


Sekarang, mereka bertiga sudah duduk di kursi sambil menunggu pelayan menghidangkan isi meja. Mengabaikan pemandangan mengerikan seseorang yang sesekali terbaruk dan menggeliat. Hingga semua selesai, Fredrick mulai membuka suaranya


"Bagaimana perjalanan anda?"


Pria itu kembali tersenyum hangat, jenis senyum yang membuat Fredrick bergindik karna senyum itu terlalu bersih, terlalu tulus, dan terlalu hangat.


"Semua lancar, Your Majesty. Berkat jemputan dari Francia, saya bisa nyaman selama delapan hari perjalanan saya"


Kepala Fredrick mengangguk singkat


"Silahkan father, cicipi hidangan sederhana kami"


Masih dengan senyum hangat yang terus membuat Fredrick bergindik, tangan pria itu mulai mengangkat cangkir tehnya. Fredrick melirik Victoria yang hanya diam menatap kosong ke arah depan, lalu kembali membuka suara


"Apakah bisa kita mulai father?"


"Silahkan Your Majesty, saya selalu siap melayani"


Sambil menahan seluruh rasa merinding karna suara tenang dan tatapan lembut yang di berikan tamunya, Fredrick mulai membuka percakapan resmi mereka dengan sopan, sangat sopan.


"Sebelumnya, saya berterimakasih atas kedatangan anda yang sudah jauh-jauh datang ke sini. Roman ke Francia saya tahu cukup melelahkan father"


Ucapan basa basi Fredrick membuat Jeremmy langsung tersentak, aahh... pantas saja Raja dan Ratu mereka sangat sopan dan sangat berhati-hati pada tamu itu. Tapi, keterkejutan bukan hanya menjadi milik Jeremmy, tapi juga Ferdinand, di tengah kesadarannya yang sudah masuk dalam skala apatis, matanya langsung merespon dan telinganya langsung awas dengan kata 'Roman' 'father'


"Tidak masalah Your Majesty, saya tidak mungkin merasa tidak senang ketika Raja Francia yang terkenal memanggil saya"


Dari ekor matanya, Fredrick melirik pergerakan Ferdinand di atas lantai, lalu kembali bersuara.


"Terimakasih father atas sanjungannya"


'Father' mengangguk singkat dan langsung mengeluarkan sesuatu dari mantelnya. Mengeluarkan sebuah perkamen kecil berwarna putih yang di simpan rapih dan di gulung dengan kain tebal. Tampak biasa dan tidak spesial, tapi mampu membuat jantung Ferdinand sudah siap untuk jatuh ke perutnya.


"Ini adalah jawaban yang di tulis langsung oleh father Pope untuk menjawab surat yang di kirim Her Highness Putri Anastasia, Your Majesty"


Fredrick menyeringai sambil menatap Ferdinand yang sudah menatap perkamen dengan wajah pucat pasi di balik semua warna merah yang mengucur.


"Father Pope sudah menjawab ternyata. Kalau begitu father Abraham, sa-"


Belum sempat Fredrick menyelesaikan ucapannya, sepasang tangan langsung melingkar di kakinya, tidak hanya itu, suara isakan juga membuat Ferdicak langsung menutup mulutnya.


"Aku bersalah.. aku bersalah papa... jangan.. tolong jangan... aku mencintainya papa... tolong aku... tolong aku.. aku minta maaf... aku salah aku salah.. aku mencintai Ana.. jangan batalkan pernikahan kami, tolong aku sekali ini saja, tolong aku...."


Di bawah kaki Fredrick, Ferdinand terus memohon, menangis, dan terisak pilu. Victoria hanya diam dengan arah pandang yang terus menatap kosong ke depan, Jeremmy memejamkan kedua matanya dengan pasrah, Fredrick melirik Kardinal Abraham yang menatap Ferdinand dengan raut wajah sedih, lalu membalas tatap Fredrick dengan tersenyum tulus. Fredrick tahu arti senyum itu, senyum yang menjadi jawaban di isi perkamen, jawaban yang sebenarnya sudah bisa Fredrick ketahui tanpa perlu membaca.


"Beri aku kesempatan... sekali ini saja papa... aku akan berubah, aku akan menyayangi istiku melebihi apapun... aku akan memperlakukannya dengan sangat baik.. tolong ak-"


Ucapan Ferdinand terhenti karna terbatuk. Batuk yang terdengar syarat akan rasa sakit karna kerusakan yang cukup parah. Dan pemandangan memilukan itu, langsung membuat Kardinal Abraham turun dari kursinya dan merangkul Ferdinand


"Father tolong... aku mengaku bersalah, aku sangat bersalah, tolong jangan terima pembatalan pernikahan itu, aku mencintai istriku father... aku tidak ingin kehilangannya.. tolong kasih aku kesempatan, aku akan memperbaiki segalanya, ak-"


Dan suara terhenti Ferdinand, menjadi akhir juga untuk seluruh sisa tenaganya. Jeremmy langsung mendekat pada Ferdinand yang sudah terkulai di dalam kedua tangan Kardinal Abraham, memeriksa nadinya, lalu memeriksa nafasnya yang masih ada.


"His Highness pingsan Your Majesty"


Fredrick mendengus tidak suka sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Bawa dia Jer"


Saat Jeremmy akan membawa tubuh Ferdinand, Kardinal Abraham langsung bergerak akan membantu tapi,


"Tidak apa-apa father, dia seorang pria dan kesatria. Hal seperti ini adalah hal biasa untuk kami. Jika anda membantunya, harga dirinya pasti terluka"


Kardinal Abraham akhirnya melepaskan Ferdinand dengan raut wajah cemas dan sangat terpaksa. Sorot mata dan raut wajah yang seratus ribu persen menunjukkan ketulusan itu, membuat Fredrick mengusap tangannya yang merinding hebat. Sialan! dia benar-benar tidak bisa bertemu orang yang sangat baik seperti itu!


Setelah melihat Jeremmy yang membawa Ferdinand dengan susah payah pergi, Kardinal Abraham langsung kembali ke tempatnya.


"Mari kita lanjutkan father Abraham" Melihat kepala Kardinal Abraham yang mengangguk, Fredrick kembali berucap. "Jadi apa keputusan father Pope?"


"Saya yakin anda juga tahu Your Majesty. Sesuai hukum kanonik, jika pembatalan pernikahan dengan alasan yang bukan kemandulan tidak akan pernah bisa terjadi hingga maut yang memisahkan, jadi-" Kardinal Abraham menyerahkan kembali perkamen yang sudah di bawanya dari jauh itu. "Mediasi adalah jawaban dari father Pope" Kardinal Abraham kembali tersenyum hangat, kedua matanya memancarkan sebuah ketulusan dengan suara tenangnya yang kembali berucap. "Saya masih bisa melihat banyak di pernikahan ini Your Majesty"


Kepala Fredrick hanya mengangguk asal dengan raut wajah yang tampak tidak terkejut. Tangannya mengambil perkamen dengan sopan.


--000--


Di sisi lain, Kenna yang baru saja selesai meminum airnya dengan bantuan pelayan, langsung menjatuhkan gelas dari tangannya hingga gelas pecah berkeping-keping di atas lantai. Kedua matanya membulat dengan tubuh yang membeku saat melihat keberadaan seseorang yang entah kapan sudah ada di sebelah ranjangnya.


Dengan wajah datar dan posisi yang terus berdiri anggun. Kedua bola mata abu-abu indahnya menatap Kenna dengan dingin, dengan suaranya yang terdengar tidak kalah dingin


"Halo nona Kenna. Masih ingat padaku?


Kedua tangan Kenna mencengkan selimutnya dengan kuat, bibirnya yang mulai bergetar berguman lirih


"Yo-your Highness Putri Mahkota Francesca"


Separuh sudut bibir Francesca tertarik di wajah datarnya...


Akhirnya, Francesca bertemu kembali dengan wanita penyihir ini..


Wanita yang pernah di berikan sumpah kebenciaannya...


\=\=\=💜💜💜💜