
"Apa anda tidak marah father?"
Sambil terus melangkah untuk menuju pintu keluar istana, Fredrick akhirnya memulai percakapan
"Setelah membaca surat-surat yang di kirim Her Highness untuk alasan membuat pengajuan resmi pembatalan pernikahan, cerita tentang bagaimana dia bisa berada di sini, berdosa jika saya mengatakan tidak marah, Your Majesty"
Dengan suara tenangnya, Kardinal Abraham menjawab lembut sambil terus melangkah. Fredrick melirik Kardinal Abraham sejenak, lalu kembali bersuara
"Kalau begitu, kenapa anda tidak berjuang atau memaksakan penerimaan pembatalan pernikahan?"
"Semua ada hukumnya, semua ada aturannya, memisahkan ikatan sepasang anak manusia bukan kuasa kami Your Majesty. Pernikahan ini juga masih mempunyai banyak harapan, jauh lebih baik dari pernikan banyak bangsawa dan kerajaan lain yang benar-benar buruk. Lagi pula, saya bersyukur keponakan saya bisa menjadi bagian di tempat ini"
Satu alis Ferdinand menukik tajam
"Bersyukur saat keponakan anda di tipu, dan di nikahkan dengan si brengsek itu?"
Senyum hangat tercetak di bibir Kardinal Abraham
"Benar. Terimakasih Your Majesty karna sudah membawa Her Highness ke sini, walaupun dengan menggunakan cara anda"
Fredrick melirik Kardinal Abraham dengan wajah penuh tanda tanya dan tatapan aneh, apa maksut orang itu? Kardinal Abraham yang mengerti kebingungan Fredrick tersenyum geli sambil menjelaskan
"Saya yakin Her Highness juga sebenarnya tidak pernah menyesali dirinya yang di bawa ke sini. Karna-" Langkah Kardinal berhenti saat mereka sudah berada di depan kereta kuda yang menunggu. "Karna jika anda tidak membawanya ke sini, menikahkannya dengan His Highness, keponakan saya tidak akan mendapatkan keluarga yang selama ini tidak pernah di milikinya. Banyak cinta, kasih sayang, perhatian, dan segala hal yang keluarga kerajaan Francia berikan untuk Her highness adalah sebuah berkat untuknya. Berkat yang selama ini tidak berani di mimpikan oleh Her Highness. Bahkan Her Highness diam-diam mendapatkan banyak kasih sayang dan perhatian dari seorang ayah yang selama seumur hidupnya tidak pernah dia dapatkan. Karna itu saya berterima kasih Your Majesty"
Arah pandang Fredrick menatap Kardinal Abraham dengan tatapan sinis dan tidak suka
"Anda tahu saya melakukan ini semua demi keuntungan saya sendiri"
Sambil menatap ke arah istana, dengan senyum hangat yang terus tercetak di bibirnya, Kardinal Abraham kembali bersuara
"Anda juga melakukannya karna sebuah perasaan yang tidak akan anda tunjukan pada siapapun. Anda yang sudah memperhatikan seluruh hidup Her Highness, memiliki perasaan itu" Arah pandang Kardinal Abraham menatap Fredrick dengan lembut. "Anda adalah Raja yang baik dan ayah yang baik, Your Majesty. Sebuah keberuntungan Francia memiliki pemimpin seperti anda, saya akan selalu berterimakasih dan mendoakan anda"
Kardinal Abraham berbalik untuk mulai masuk ke dalam kereta. Membiarkan dan meninggalkan Fredrick yang sudah menatapnya dengan ngeri. Fredrick terus bergindik ngeri saat mendengar suara, malihat senyum, dan sekarang cara berpikir Kardinal Abraham. Orang seperti itu sangat tidak cocok untuknya, orang yang terlalu tulus dan hangat seperti itu sangat menakutkan untuk Fredrick. Apa ini pertanda jika nanti Fredrick mati dirinya memang lebih cocok untuk berada di dalam neraka?
"Your Majesty, di segala hal jahat yang ada di dunia ini pasti menyimpan sebuah hal baik. Kita harus melihat hal baik itu agar bisa mengenali diri kita sendiri"
Alis Fredrick mengerut dalam. Rasanya dia ingin mengumpati pria yang sudah terkekeh sambil melambaikan tangan saat kereta sudah bergerak. Apa maksutnya? Sialan! Fredrick sangat alergi dengan orang-orang baik!
--000--
Arah pandangnya menatap jauh ke luar jendela. Raut wajahnya datar tidak terbaca. Solar yang baru saja menjelaskan semuanya pada Ferdinand terus melirik Ferdinand yang hanya diam setelah kemarin Raja pergi dari kamar, bahkan setelah berhari-hari berlalu. Tidak ada pertanyaan lagi yang terucap dari Ferdinand, tidak ada lagi fokus yang di tunjukkan Ferdinand, tidak ada lagi raut wajah yang tergambar dari Ferdinand. Ferdinand sekarang sangat terlihat abu-abu,
Hilang, hampa, menyesal, sakit, tersesat, kebingungan. Segala hal buruk bersarang di dalam hati dan isi kepala Ferdinand, dan segala hal itu hanya membuatnya terus terdiam. Terlalu banyak kesalahan yang sudah di lakukannya hingga dia bingung harus mulai menyesal dari mana, dia bingung harus memikirkan dari mana kesalahanya, dia tidak tahu awal mula kenapa dirinya menjadi sangat dungu, bahkan babi saja bisa lebih cerdas darinya. Ahh Ferdinand... kau memang harusnya mati Ferdinand, kau terlalu banyak menyimpan segala ketololan dari milik manusia.
Solar yang mendapati jika tuannya memang tidak berniat membuka suara, dengan pelan segera menuju pintu tanpa berucap lagi. Biarlah tuannya sendiri dulu, tuannya pasti membutuhkan waktu untuk mencerna kenyataan. Kenyataan bahwa dia sudah terlambat.
--000--
Dengan sangat pelan, Elsa membantu Kenna yang terus menatap kosong ke depan untuk turun dari kereta kuda saat kusir mengatakan jika mereka sudah tiba. Hari ini, setelah melewati perjalanan berhari-hari, akhirnya mereka tiba. Tiba di sebuah desa wilayah barat yang juga menjadi milik Francia. Elsa mulai melangkah dan membantu kakaknya dengan hati-hati untuk berjalan, kakaknya yang belum pulih sempurna, kakaknya yang habis kehilangan anaknya, kakaknya yang tidak pernah merespon apapun lagi, dan kakaknya yang sudah di buang. Benar-benar di buang oleh kekasihnya setelah semua yang terjadi pada kakaknya.
Elsa menggigit bibirnya sambil menahan tangis karna rasanya seperti mimpi ketika mereka sudah kehilangan segalanya hanya dalam sekejap. Semua rencana dan mimpi mereka sudah kandas, dan sekarang mereka harus memulai lagi hidup untuk memikirkan besok yang akan makan apa, atau besok harus kerja sekeras seperti apa agar bisa makan. Dalam artian, mereka benar-benar akan hidup dan memulai dari saat Ferdinand yang belum datang ke dalam kehidupan mereka. Bahkan dengan keadaan mental Kenna yang sekarang tidak baik-baik saja.
Jika tahu akan seperti ini jadinya, harusnya Elsa tidak memanipulasi kakaknya untuk menjual kedai mereka dan mengirim surat pada Ferdinand, bermain drama menyedihkan agar Ferdinand datang pada mereka, lalu dengan segala cara masuk untuk merusak pernikahan orang lain. Harusnya mereka diam dan menikmati saja semuanya tanpa berani mencoba-coba masuk ke dalam segala hal yang beraroma istana. Harusnya, jika mereka diam dan tidak arogant, Kenna masih bisa memiliki anaknya dan tidak menjadi setengah gila seperti sekarang. Tidak! harusnya sedari awal Elsa tidak memanipulasi Kenna agar membuat dirinya mengandung. Sehingga harusnya mereka pagi ini bersiap membuka kedai, dan dia mulai sibuk menyambut pelanggan saat Kenna sibuk di dapur. Harusnya mereka menikmati saja semua pemberian Ferdinand tanpa serakah menginginkan lebih hingga rela terus merencanakan hal busuk dan berakhir menjadi seperti ini.
Harusnya, harusnya, dan banyak lagi kata harusnya yang terus di sesali Elsa. Tapi Elsa tidak pernah sekalipun berpikir, jika semua yang terjadi pada mereka sekarang dan semua prnyesalannya sekarang karna dirinya yang tidak pernah bersyukur.
*
*
*
Kedua kaki Anastasia melompat girang dari tangga kapal saat bertemu dengan tanah. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan selama lebih dari satu minggu, dirinya tiba di pelabuhan kerajaan Nederland.
Arah pandangnya mengedar, mencari jemputannya sambil melangkah dengan kedua tangan yang membawa tas-tasnya. Langkah Anastasia yang sedikit kesulitan mulai membelah kerumunan orang-orang yang akan pergi dan baru kembali dari perjalanan di pelabuhan. Kepala Anastasia terus berputar untuk mencari orang-orang yang akan menjemputnya, hingga sesosok yang cukup mencolok membuat langkah Anastasia langsung menuju ke pinggir pelabuhan untuk mendekat pada wanita paruh baya yang juga terlihat seperti sedang mencari seseorang
"Selamat siang..."
Wanita itu menoleh dan langsung tersenyum hangat pada Anastasia.
"Selamat siang nona...."
"Suster Bernadeth?"
"Ohh... nona Anastasia?"
Sambil tersenyum lega, Anastasia meletakkan kedua tasnya ke atas tanah. Tangan kanannya langsung terulur sopan, yang langsung di sambut dengan hangat oleh suster Bernadeth.
"Anastasia"
"Bernadeth"
Mereka saling melempar senyum hangat, lalu mulai mengambil langkah saat suster Bernadeth membantu membawakan satu tas di tangan Anastasia, dan mulai menunjukkan jalan menuju kereta kuda.
Saat sudah di dalam kereta, percakapan mereka mulai terdengar. Sesekali Anastasia bertanya dengan sopan, sesekali suster Bernadeth yang mulai bertanya dengan hangat. Hingga akhirnya, perjalanan mereka dengan menggunakan kereta kuda sederhana ini tiba.
Anastasia menatap bangunan kapel yang cukup sederhana tapi juga terlihat indah dan tenang. Lalu mulai melangkah saat suster Bernadeth memutus lamunannya.
Langkah mereka sedang menuju ke belakang kapel, tempat di mana kamar-kamar berada. Dengan sabar Anastasia menunggu saat suster Bernadeth mulai membuka pintu kamar
"Silahkan Ana. Maafkan jika tempat ini terlalu sederhana"
"Ahh... tidak suster, tempat ini sangat indah. Saya sangat suka"
Dengan senyum hangat yang terus tercetak di bibirnya, suster Bernadeth mulai melangkah masuk sambil membawa satu tas Anastasia. Hingga semua barang sudah di dalam, Anastasia tersenyum hangat melihat kamarnya. Sederhana, minimalis, terasa nyaman, dan hangat.
Kedua mata Anastasia berbinar sambil tersenyum lebar hingga gigi-giginya terlihat
"Terimakasih suster Bernadeth. Saya akan memperdalam apa yang saya pelajari selama saya di sini"
Dengan lembut, tangan Bernadeth memegang tangan Anastasia, arah pandangnya menatap Anastasia dengan hangat
"Terimakasih Ana, karna sudah bersedia menjadi volunteer untuk mengikuti kami berkeliling memberikan pelayanan cuma-cuma di seluruh dunia. Meski kita semua tahu, jika anda tidak hanya akan kehilangan waktu, tapi bisa juga nyawa. Wabah penyakit dan peperangan sangat mengerikan"
Hati Anastasia bergetar, dan membalas genggaman tangan Bernadeth. Arah pandangnya yang berkaca-kaca menatap Bernadeth sambil berucap
"Ini adalah cita-cita saya suster Bernadeth, saya sudah memimpikan berkeliling kemanapun untuk memberikan pelayanan. Jadi saya juga sudah siap untuk segalanya, karna saya senang melakukan ini"
Kepala Bernadeth mengangguk paham sambil menepuk-nepuk pelan tangan Anastasia yang ada di genggamannya.
"Istirahatlah terlebih dahulu Ana, nanti kita akan mengobrol lagi dan berkumpul bersama volunteer yang lain"
Anastasia mengangguk patuh dan mulai mengantar langkah Bernadeth menuju pintu keluar kamarnya
--000--
Anastasia baru saja selesai makan malam bersama dengan para suster dan orang-orang yang akan pergi beberapa hari ke depan untuk menjadi volunteer ke benua African bersamanya. Sebuah benua yang sangat jauh dari Eropan, juga tempat yang banyak terserang wabah penyakit. Karna itu, malam ini Anastasia datang ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku yang bisa di bacanya sebelum dirinya terlelap
Dengan bermodalkan penerangan dari lampu minyak di tangannya, langkah Anastasia mengikuti arahan ingatan dari suster Bernadeth untuk menuju perpustakaan. Dan saat tempat yang di tuju terlihat, tanpa ingin menunggu, Anastasia mulai masuk ke dalam pintu yang memang tidak pernah tertutup
"Wow!"
Anastasia bersorak sendiri saat melihat semua buku-buku di setiap sudut tempat, sangat terlihat menggiurkan untuknya. Tanpa ingin menunggu lagi, dengan hati-hati tangan Anastasia meletakkan lampu minyak, lalu mulai menjelajah.
Tidak butuh waktu lama untuknya memilih buku, hingga di tangannya sudah menggendong empat buku tebal dalam pelukannya dan Anastasia kembali lagi ke kamarnya.
Saat sudah di dalam kamar, Anastasia mulai mengambil posisi nyamannya di dalam keheningan. Bibir Anastasia tersenyum hangat saat tangannya tanpa sengaja menggaruk lehernya, di mana sebuah kalung melingkar. Tangan Anastasia meraba liontin yang menjadi pemanis untuk rantai emas kalung itu, liontin yang dulu pernah dia pakai di jarinya yang hingga sekarang masih terasa seperti mimpin untuknya. Cincin pernikahannya. Senyum getir terbit di bibirnya.
"Semoga kalian semua selalu sehat dan berbahagia. Karna aku juga akan selalu seperti itu sekarang, aku akan mulai membangun kebahagiaanku sendiri"
Anastasia menggeleng kuat untuk menyadarkan dirinya sendiri, lalu mulai kembali mengambil fokus pada buku di tangannya. Dia harus menyerap segala ilmu yang ada di dalam buku agar nanti bisa berguna untuk orang banyak saat dia mengaplikasikannya.
*
*
Tangan Fredrick terus mengguratkan tulisan di atas perkamen, arah pandangnya terus menatap perkamen-perkamen dan kertas-kertas yang selalu memenuhi meja kerjanya. Dan semua pemandangan biasa itu, menjadi tidak bisa saat Jeremmy yang selalu setiap berada di sampingnya, terus memberikan tatapan memelas pada Fredrick.
Fredrick memutar bola matanya dengan malas, karna dia sangat tahu arti raut wajah dan tatapan tangan kanannya itu
"Apa maumu?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Fredrick membuat senyum lebar Jeremmy terbit, hingga gigi-giginya terlihat
"Saya mengerti apa alasan anda memilih Her Highness dari ratusan putri bangsawan atau Putri kerajaan lain untuk pendamping His Highness. Yang pertama, memang hanya perempuan yang punya masa lalu seperti Her Highness lah yang akan sanggup bertahan sejauh ini dari ke dunguan dan tempramen His Highness. Yang kedua, status Her Highness yang tidak memiliki kerajaan dan keluarga tidak akan membuat anda sakit kepala karna keributan?"
Tangan Fredrick mulai membuka beberapa perkamen tanpa melirik Jeremmy lagi.
"Hhhmm...."
Jeremmy yang masih melihat sebuah lampu hijau, terus melajukan pertanyaan di isi kepalanya.
"Apa yang terjadi sekarang ini sudah masuk dalam perhitungan anda, Your Majesty?"
"Aku tidak pernah melakukan sesuatu tanpa memikirkan sesuatu Jer. Ck! kau pikir aku ini siapa"
Sudut bibir Jeremmy berkedut geli, arah pandangnya terus menatap Fredrick dengan penuh harapan. Fredrick yang menyadari itu kembali membuka mulutnya dengan malas.
"Pikiran yang kerdil adalah penyebab keras kepala, dan kita tidak akan menghargai apa yang ada di pandangan kita"
Ahh... begitu... Jeremmy sekarang paham kenapa Raja Fredrick membiarkan Anastasia pergi, terlebih setelah Jeremmy mendengar semua cerita tentang bagaimana Anastasia yang memang membiarkan kesalah pahaman terjadi hingga Ferdinand bertindak sejauh itu, lalu berakhir dengan kemurkaan tidak terkontrol Ferdinand padanya. Itu semua mungkin sudah di rencanakan Anastasia agar tiga permintaan, mau tidak mau harus di kabulkan Fredrick. Ini adalah pembelajaran sangat keras tapi juga dengan cara yang sangat alami, sebuah permainan yang di lakukan Fredrick untuk memberi pelajaran cepat pada putranya. Pemikiran itu membuat Jeremmy terkekeh geli sambil berucap
"Benar-benar menarik..."
Arah pandang Fredrick masih menatap perkamennya dan membiarkan kekehan geli Jeremmy terus terdengar. Hingga tangannya kembali menggulung perkamen yang terbuka sambil berucap, menjelaskan lanjutan yang belum terpikirkan oleh kepala Jeremmy.
"Putri Anastasia juga melakukan 'itu' dengan alasan. Yang pertama 'mungkin' karna dia juga menyadari permainan ku dan ingin membalas Ferdinand dengan cara menyakitkan, dengan kabur menikmati dunia luar, entah suatu hari dia akan kembali atau tidak selamanya. Dan yang kedua, 'mungkin' karna dia memang sengaja meremukan dan membunuh hatinya sendiri karna dia sudah lelah mencintai Ferdinand, dia mungkin juga sudah sadar jika cintanya hanya membuat isi kepalanya menjadi sangat bodoh, dalam artinya dia benar-benar menyerah"
Dan penjelasan Fredrick, membuat alis Jeremmy mengerut dalam
"Apa masih ada harapan untuk masa depan pernikahan ini berlanjut, Your Majesty?"
Sambil mulai mengambil kembali sebuah perkamen, suara Fredrick kembali terdengar.
"Hasil semua ini di tentukan tentang bagaimana Tuhan mengatur jodoh mereka. Jika mereka memang berjodoh, maka semua akan kembali. Tapi jika tidak, Ferdinand akan bergabung di dalam club 'penyesalan' George. Itu bukan kuasaku Jer"
Kepala Jeremmy mengangguk paham sambil meraih teko saat menyadari jika teh herbal di cangkir Fredrick sudah menyusut.
"Apa anda tahu di mana Her Highness sekarang, Your Majesty?"
Sambil melempar perkamen ke dalam kotak dengan acuh, Fredrick menjawab dengan acuh
"Jangan mengganggu kesenangan orang lain. Setiap orang berhak menggapai cita-cita mereka"
\=\=\=💛💛💛💛
Silahkan jejaknya....