
ONE YEAR LATER.......
Srangg!!!
SRANG!
"Bangun Frances!"
Dengan sedikit sudah payah, Francesca kembali mencoba bangkit dan meraih pedangnya yang sempat terpental. Peluh sudah membasahi baju dan dahinya, beberapa bagian tubuhnya pun sudah mulai terus berdenyut nyeri karna pukulan-pukulan yang masih setengah-setengah di berikan padanya. Dengan raut wajah datar dan tatapan dinginnya, Francesca kembali mengangkat pedangnya.
Ferdinand yang melihat semangat juang luar biasa Francesca menyeringai, dan ikut mengangkat pedangnya.
"Bagus Frans, majulah"
Dan tanpa ingin menunggu, Francesca langsung maju terlebih dahulu
SRANGG!
SRANG!
Sambil menikmati tontonan di kursi penonton, Victoria kembali mengangkat cangkirnya, dengan Summer yang mulai meletakkan separuh biskuit yang baru selesai di telannya. Nafas panjang Summer kembali berhembus saat sudah bisa melihat akhir dari babak ini, hasil akhir yang sudah sangat jelas bahkan ketika babak baru di mulai.
"Dinand semakin gila. Dia bahkan hanya terus bermain-main"
Victoria dengan anggun meletakkan kembali cangkirnya, wajah datarnya menatap ke arah jauh, di mana di pinggir lapangan, Fredrick sedang duduk di meja lain.
Sambil mendengarkan ocehan tidak bermanfaat Henry, Fredrick yang sadar jika di perhatikan langsung mengedipkan satu matanya ke arah sumber tatapan, dan yang di berikan kedipan langsung memutar bola matanya dengan malas.
Henry yang sedang melantunkan ocehan yang dirinya anggap penting, dan memang harusnya penting, menatap Fredrick yang baru saja dia sadari jika, isi kepala dan terlinga Fredrick tidak ada di tempat itu. Decakan kesal meluncur dari bibir Henry
"Kau tidak mendengarkan. Ck! benar-benar menyebalkan"
Dengan santai, masih dengan mengunyah biskuit di mulutnya, Fredrick mengabaikan ucapan Henry dan langsung menoleh saat keributan di lapangan menjadi hening. Di sana, Francesca mendapatkan luka di tangannya yang pasti langsung membuat semua kesatrian emas menodongkan pedang mereka pada Ferdinand.
Ferdinand yang di beri ultimatum hanya terkekeh sambil mengangkat kedua tanganya tinggi-tinggi, lalu menggerakkan badanya seperti sedang menari. Sungguh, itu pasti sangat menyebalkan di mata Francesca dan para kesatria.
"Ferdinand semakin gila tapi juga menakutkan"
Gumanan Henry terdengar, Fredrick yang juga bisa melihat itu hanya mengedipkan kedua bahunya dengan acuh sambil berguman.
"Dia putraku"
"Hhm.. rasanya masih seperti kemarin terjadi saat kau berteriak jika dia hanya babi sialan yang pantas mati"
Sindiran Henry membuat Fredrick meliriknya dengan sinis. Henry yang di lirik hanya terkekeh sambil meraih cangkirnya.
--000--
"Kau yakin Dinand?"
Pertanyaan Summer membuat Ferdinand mengangguk yakin sambil menatap semua orang yang ada di sana.
"Aku akan pergi untuk menyelidiki sesuatu"
Dengan tatapan penuh selidik, Fredrick terus menatap Ferdinand yang sangat mencurigakan untuknya. Fredrick yakin jika alasan Ferdinand untuk pergi tidak hanya ingin menyelidiki bubuk mesium yang sudah sampai ke Eropan, tapi juga karna hal lain. Dan karna itu tanpa ingin berbasa basi Fredrick langsung memuntahkan kecurigaannya.
"Jika kau berani membuat ulah sedikit saja di Vatican, aku sendiri yang akan memisahkan seluruh tulang dari dagingmu"
Dengan malas, Ferdinand memutar bola matanya. Ferdinand juga tahu jika Vatican bukan hanya sekedar menjadi pusat keyakinan, di sana juga pusat utama politik yang memegang peran besar di dalam perdamaian dunia. Sedikit saja mereka di sentuh, sebagaian besar kerajaan di dunia ini bisa langsung membakar Francia beserta segala embel-embelnya.
"Aku tidak akan segila itu meski aku juga ingin papa. Ck! aku juga tidak mempunyai kekuatan segila itu untuk sekedar memercikkan api di sana"
Meski penjelasan Ferdinand sangat logis, tapi Fredrick tetap menegaskan kecurigaanya
"Putri Anastasia tidak ada di Roman ataupun Vatican"
Kembali, Ferdinand memutar bola matanya dengan malas sambil mendengus kasar
"Aku tahu... aku juga pergi bukan untuk mencarinya. Untuk apa aku repot-repot mencari orang yang ingin pergi"
Semua orang, semua orang yang ada di dalam ruang kerja Fredrick langsung memutar bola mata mereka dengan malas, dengusan menghina juga terdengar, hingga senyum penuh ejekan juga Ferdinand dapatkan. Semua respon yang di berikan semua orang di sana bukan tanpa sebab, mereka langsung memberika respon seperti itu karna jelas-jelas Ferdinand hanya membual. Bualan yang sangat kekanakan dan cukup lucu untuk mereka dengar.
"Ya.. ya.. ya... katakan itu pada Solar dan Gregory yang selalu kau pukuli karna mereka yang tidak juga bisa menemukan Her Highness"
Henry bersuara dengan nada yang syarat penuh hinaan. Dan semua kepala di sana langsung mengangguk mendukung ucapan Henry. Ferdinand yang terpojok dan mulai merasakan jika bully-an sebentar lagi akan menyapanya, segera mengalihkan pembicaraan.
"Bubuk mesium itu sekarang sedang mereka kembangkan, selain untuk membuat senjata meriam yang besar, mereka juga sedang mencoba mengembangkan bagaimana cara membuat senjata api yang kecil"
Ucapan Ferdinand berhasil membuat semua fokus menjadi serius menatapnya. Fredrick yang juga sudah mengubah raut wajahnya menjadi serius, menatap istrinya dengan tatapan lembut.
"Kalian tadi mengatakan akan berbelanja sayang, pergilah bersama gadis-gadisku sebelum langit menggelap"
Well.. berarti ini akan menjadi urusan pria dan Victoria dengan patuh mengangguk
"Baik Your Majesty. Saya dan Summer mohon pamit"
Langkah Victoria langsung menuju pintu saat kepala Fredrick mengangguk, Summer yang juga paham langsung mengikuti langkah ibunya
Setelah pintu di tutup, kepala Fredrick mengangguk sambil menatap Ferdinand yang sudah menegakkan kedua bahunya dengan tegap. Tanda dia sudah di ijinkan dan siap untuk membuka pembicaraan penting
"Dari hasil penyelidikan selama beberapa bulan ini, hasil yang saya dapatkan jika bubuk mesium pertama kali di temukan dikerajaan Cinan. Kerajaan Bosnia yang mulai membawa bubuk mesium-mesium itu ke Eropan. meski sangat terbatas karna Cinan memang membatasi"
Fredrick mulai menggaruki cangkir tehnya.
"Dari mana asal pengembangan tabung-tabung ledakan menjadi senjata meriam?"
"Kerjaan Bosnia. Mereka mempelajari dan mengembangkannya di benua American, Your Majesty"
Jawaban yakin Ferdinand membuat kepala Fredrick menganggangguk paham.
"Lalu?"
"Sekarang dia sedang mempelajari dan mencari orang yang bisa membuat senjata api yang bisa di genggam, Your Majesty"
Tidak hanya alis Fredrick yang langsung mengerut dalam. Di ruangan itu Henry, Jeremmy, dan Carl juga ikut mengerutkan alis mereka
"Dia?"
Dengan raut wajah yang sudah sangat menunjukkan keseriusan, Fredrick bertanya pada Ferdinand yang menatap semua wajah di sana dengan tegas.
"Duke Ryes Alexander Hasting, Duke of Asccot kerajaan Bosnia"
Alis Fredrick mengerut dalam, raut wajah seriusnya berubah semakin serius. Ferdinand yang melihat raut wajah ayahnya memutar bola matanya dengan malas. Ayahnya itu pasti sedang mengingat-ingat nama. Karna nama seseorang adalah hal yang paling sulit untuk di ingat Fredrick.
"Hasting? bukankah itu nama belakang keluarga mendiang Her Majesty Ratu Margareth Bosnia?"
Sambil menggaruki janggut-jangut di dagunya, Henry berucap dan terlihat tidak yakin dengan ucapannya tapi, melihat Ferdinand yang langsung mengangguk yakin, kedua bola mata Henry langsung membulat dan kembali berucap dengan nada meninggi
"Si anak haram Ratu! Dia anak haram yang tidak di bunuh His Majesty Raja Fero karna sangat berguna untuk Bosnia!!"
"Benar"
Dengan yakin, Ferdinand mengangguk sambil menatap uncle-nya dengan tegas
"Benar pangeran Henry"
"Dia juga yang sempat mencoba mengusik Vancia kita!!"
Kembali, Ferdinand mengangguk yakin. Dan semua percakapan Henry dan Ferdinand yang terus bergayung sambut di depannya, membuat raut wajah Fredrick semakin serius hingga semua kerutan di wajahnya muncul.
"Kalian sebenarnya membicarakan apa?"
Nada suara penuh kebingungan Fredrick membuat semua kepala langsung menoleh padanya, Jeremmy yang ikut serius mendengarkan semua percakapan Henry dan Ferdinand juga ikut menoleh pada Fredrick dengan raut wajah kesal sambil berguman keras.
"Raja Francia sangat luar biasa tidak berguna"
"Aku mendengarmu Jer" Fredrick berucap tajam sambil melirik sinis ke arah Jeremmy, lalu kembali menatap Ferdinand. "Intinya saja Dinand"
Kepala Ferdinand mengangguk paham dan kembali membuka suaranya
"Dari hasil pengamatan kami, dia sepertinya berniat menguasai kerajaan-kerajaan di Eropan, asian, hingga ke African dengan menggunakan perang dan perdagangan senjata. Karna itu saya ingin melihat dan menyelidiki dari dekat, Your Majesty"
Fredrick hanya diam dengan Henry yang langsung mengangguk paham. Lalu suara Fredrick kembali terdengar
"Delapan bulan waktumu untuk menyelidiki. Dan jangan berani kembali hidup-hidup jika tidak mendapatkan apapun"
Dengan kepatuhan mutlak, Ferdinand mengangguk patuh
"Baik, Your Majesty"
"Kapan kau akan pergi Dinand??"
"Sekarang"
--000--
Angin musim semi malam ini cukup kencang hingga membuat orang-orang memilih berlindung di dalam rumah mereka dengan menikmati kehangatan di dalam rumah. Sama halnya dengan Fredrick yang juga ikut menikmati tehnya sambil berdiam diri hanya sendirian di kamarnya, karna istrinya masih sibuk menceramahi gadis sulungnya yang mendapatkan sebuah luka sederhana karna permainan pedang bersama kembarannya tadi pagi.
Setelah mendapatkan penjelasan mendetail dari Henry, dan pencerahan ingatan dari Jeremmy tentang siapa Hasting dan cerita tentang kerajaan Bosnia, Fredrick terus menggaruki meja kerja di dalam kamarnya. Semua masuk akal dan logis jika Ferdinand memutuskan untuk pergi tapi, entah kenapa rasanya tetap ada yang mengganjal. Terlebih, keputusan Ferdinand terbilang sangat mendadak, sangat sangat mendadak untuk di cernau Fredrick. Yang dalam artian, jika Fredrick mencurigai Ferdinand
Sambil terus mencoba berpikir, Fredrick mulai melangkah menuju ke lemarinya untuk mengambil surat-surat rahasiannya dengan seseorang. Seseorang yang selama setahun ini secara diam-diam mengirim surat tidak hanya untuk mengabarkan kabar orang itu, tapi juga dengan memberikan informasi tentang perputaran di banyak belahan dunia. Fredrick berpikir, mungkin saja ada bagian di dalam surat yang bisa memberikan informari dan bisa menarik benang merah tentang pembahasan mereka tadi.
Sudut bibir Fredrick tertarik ke atas saat mengingat bagaimana tiba-tiba satu tahun lalu dia mendapatkan surat itu. Surat-surat yang dia pikir tidak akan pernah di dapatkannya lagi seperti dulu, tapi ternyata, wanita itu masih sangat mengingatnya dan terus mendukungnya. Bahkan dengan rutin terus memberikan informasi padanya, sangat berguna dan sangat mampu menyenangkan hati Fredrick bukan?
"Hmm... mari coba kita lihat Ana, apa ada sesuatu yang cocok dari informasimu tentang dunia diluar nak"
Dengan senyum hangat yang terus tercetak di bibirnya, tangan Fredrick mulai membuka peti surat tapi, dalam sekejap senyum hangat di bibirnya berubah menjadi senyum mengerikan
"FERDINANDDDDDDDDDDD!!!!!!!"
Victoria yang baru masuk ke dalam kamarnya langsung berlarian membuka pintu penghubung kamar saat suara Fredrick mengelegar siap menyambar.
"Ada apa Bash? kenapa? ada apa?"
Wajah Victoria sangat panik saat melihat suaminya yang terus mengumpati nama salah satu anaknya
"Anak sialan! anak sialan! sialan kau Ferdinand! sudah ku duga kau memang babi mencurigakan! brengsek!! Pantas saja kau langsung pergi sialan! kau pasti membuka masalah mesium karna surat itu babi sialan!!!"
Braakkk!!
Victoria hanya terdiam mencoba mencerna apa yang terjadi pada suaminya itu, terlebih apa yang sebenarnya di lakukan Ferdinand hingga membuat suaminya terlihat sangat sangat dan sangat kesal.
Putranya yang sudah berangkat ke pelabuhan tadi pagi, dan pasti sekarang sudah mulai berlayar.
--000--
Di sisi lain, Solar terus melirik Ferdinand yang terus terbahak tanpa henti semenjak kapal mereka mulai bergerak. Seolah apa yang di lakukannya adalah hal yang paling lucu di muka bumi ini.
Perutnya sudah sakit, saluran nafasnya mulai kesulitan bernafas, kedua matanya terus berair bahkan sudah meneteskan air mata, tapi Ferdinand tetap terbahak geli.
"Oohh Solar.... untung saja kau ku bawa, jika tidak pasti kepalamu sudah terlempar jauh dari tubuhmu"
Dan setelah berucap, Ferdinand kembali tertawa hingga terguling di atas lantai barak kapal sambil memegangi perutnya. Solar mendengus kasar sambil berusap kesal
"Saya tidak ikut campur, Your Highness. Ini masalah anda sendiri, anda yang mencuri surat-surat itu, bukan saja. Jadi jangan bawa-bawa saya"
Ferdinand menghentikan suara tawanya sambil menatap Solar dengan wajah menyebalkan menahan tawa
"Aku?" Jari telunjuk Ferdinand menunjuk wajahnya sendiri. "Aku mencuri? Aah.. yang benar saja Solar, aku mana bisa aku mencuri benda rahasia His Majesty. Jangankan benda rahasia, masuk ke dalam kamarnya saja aku tidak bisa"
Suara tawa Ferdinand kembali memekakkan telinga Solar. Solar hanya bisa membuang nafas pasrah sambil melirik tuannya. Tuannya yang semakin hari semakin gila semenjak kehilangan istrinya. Bagaimana tidak, setelah di bulan-bulan pertaman menjadi pria menyedihkan tanpa harga diri, beberapa bulan berikutnya menjadi pria yang gila bekerja, lalu bulan berikutnya menjadi pria gila bertarung.
"Berhentilah tertawa Your Highness, suara anda sangat mengganggu"
Ferdinand terus terbahak sambil mengusapi ekor matanya yang basah, dan memegangi perutnya yang sakit. Arah pandangnya menatap kilauan air laut yang tampak indah karna terkena pantulan cahaya bulan. Dengan tawa di mulutnya, hati Ferdinand berucap tajam
"Jangan harap kau bisa pergi dariku, keujung dunia sekalipun kau akan ku cari istriku. Bersiaplah untuk mengahadapi ku"
*
*
Di belahan bumi lain. Dengan peluh yang sudah membasahi seluruh baju hingga dahinya, Anastasia akhirnya selesai menjahit luka seorang warga sipil terakhir tidak berdosa yang ikut terkena ledakan dari senjata meriam api.
Perang yang terjadi semakin lama semakin berbahaya dan semakin mengkhawatirkannya. Karna sekarang, senjata dengan jenis meriam api sudah sering di pakai berperang dan itu banyak menimbulkan kerusakan serta banyak memakan korban jiwa.
"Oohh ya Tuhanku... kau masih di sini Ana. Istirahatlah nak, kau belum beristirahat seharian ini"
Senyum lembut Anastasia tercetak di bibirnya sambil merapikan peralatan-peralatan yang masih berhamburan setelah selesai di gunakannya
"Iya suster Bernadeth. Aku sudah selesai dan tinggal merapikan"
Dengan sigap, Bernadeth langsung ikut membantu Anastasia membereskan alat-alat medis yang masih berhamburan.
"Ana... berapa kali ku katakan jika kau harus memikirkan dirimu terlebih dahulu, baru pasien-pasien kita"
Kepala Anastasia hanya mengangguk asal. Lalu sebuah ingatan membuat suaranya terdengar
"Apa suratku sudah mendapatkan balasan?"
Bernadeth menggeleng singkat
"Belum ada lagi balasan Ana. Aku sudah mengeceknya dari kemarin"
Dengan perasaan kecewa, Anastasia mengangguk pasrah. Dia berharap Raja Fredrick sudah menerima surat yang dia kirimkan agar bisa menyelidiki kekhawatirannya.
\=\=\=💚💚💚💚
Di part ini, ada bagian spoiler penting buat cerita Francesca nanti. Tapi kita fokus dl ya ke cerita di sini yaa. Hehe....
Silahkan jejaknya...