
Anastasia menatap Ferdinand dengan tajam, sangat tajam hingga sampai menusuk ke dalam hati Ferdinand. Dirinya tidak meronta ataupun mencoba melawan, karna Anastasia tahu semua perlawanannya akan percuma, akan sia-sia tidak berguna sama sekali. Pengalaman mengajari Anastasia untuk tidak membuang sia-sia tenaganya
"Apa maumu?"
Sangat tajam dan dingin, suara dan tatapan Anastasia membuat percikan rasa nyeri di dalam hati Ferdinand mulai menyebar. Tapi, dengan santai dan tidak tahu diri Ferdinand menjawab
"Merindukan istriku?"
Kekehan dingin meluncur dari bibir Anastasia
"Menyingkirlah"
Kembali, percikan rasa nyeri di dalam hatinya semakin menyebar. Dengan tatapan lembut dan penuh kerinduaan, Ferdinand membelai wajah Anastasia, bibirnya tersenyum getir.
"Kau benar-benar sangat membenciku hm?"
Anastasia melihat itu, bisa melihat semua tatapan itu, bisa melihat senyum itu, bisa merasakan perasaan yang coba di tunjukkan Ferdinand tapi, jika dia bisa paham semuanya lalu apa?
"Kau benar. Karna itu menyingkir dan pergilah. Aku tidak ingin melihatmu lagi"
Mendengar ucapan dan tatapan tegas Anastasia yang tidak berubah, bahkan saat dirinya sudah menunjukkan dengan jelas sedikit perasaannya, seringai bajingan Ferdinand kembali terbit. Jarinya yang masih berada di wajah Anastasia bergerak, terus bergerak lembut dan halus menuju ke bawah, hingga jari yang membuat Anastasia merinding itu sampai ke leher Anastasia. Membelai sehalus bulu dan bermain-main di sana sambil terus menyeringai.
"Kau suka menyimpan benda-benda penting dengan orang yang kau benci Ana?"
Anastasia meneguk ludahnya dengan kasar saat jari telunjuk Ferdinand dengan pelan mengangkat rantai kalung di lehernya dengan sangat pelan. Pergerakan kalung, rasa dingin rantai, dan gesekan benda emas itu pada kulitnya membuat Anastasia menggigit pipi dalamnya dengan kuat. Sialan!
"Wahh.. kau bahkan menyimpan benda yang berhubungan dengan orang yang kau benci di dekat hatimu?" Ferdinand membasahi bibirnya dengan sensual, mendekatkan wajahnya hingga bibirnya bisa berbisik di depan bibir Anastasia. "Aku sangat iri dengan cincin ini sayang. Rasa di sana pasti sangat nyaman dan hangat" Jari Ferdinand dengan pelan dan panas kembali bergerak di leher Anastasia, terus bergerak dan dengan pelahan-lahan turun, perlahan tapi pasti turun ke dada atas Anastasia. "Oohh Ana.. kau benar-benar memancing isi kepalaku Ana. Aku benar-benar kesulitan sekarang"
Oh damn!
Anastasia mulai menggeliat saat Ferdinand benar-benar menempelkan tubuh mereka. Rasa kesal dan takut di dalam hatinya membuat Anastasia tanpa sadar bergerak, menggeliat semakin kuat saat sirine tanda bahayanya sudah berbunyi
"Enyahlah Ferdinand!"
Sebelah tangan Ferdinand langsung menahan pinggul Anastasia yang terus menggeliat. Ferdinand mengerang kesal
"Jangan sembarangan bergerak Ana!"
"Kalau begitu menyingkirlah!"
Ferdinand kembali menyeringai saat bisa melihat wajah panik Anastasia. Tentu saja Anastasia harus panik, karna Ferdinand sudah menunjukkan seberapa gilanya dia merindukan istrinya. Ferdinand semakin merapatkan tubuh mereka hingga kedua mata Anastasia membulat, hingga Anastasia meneguk ludahnya dengan gugup, hingga Anastasia menahan nafasnya.
"Satu tahun Ana, satu tahun lebih kau kabur dariku dan aku harus menahan ini" Pinggul Ferdinand semakin merapat. "Kau membuatku hidup selibat dan hanya bisa menginginkanmu. Mantra apa yang kau tabur padaku sayang?"
Anastasia kembali meneguk ludahnya dengan kasar. Sialan!! Anastasia tahu ini sangat berbahaya, Anastasia sangat tahu apa maksut Ferdinand, karna dirinya benar-benar bisa merasakan benda itu. Benda yang menunjukkan bagaimana Ferdinand sangat membutuhkannya sekarang, benda yang sudah sangat kokoh hingga terus mengganjal di sebelah pinggulnya. Anastasia menarik nafasnya dengan dalam
"Menyingkirlah, aku tidak bisa memuaskan nafsumu, sebaiklah kau cari seorang pelacur"
Ahh.... kenapa rasanya sakit sekali, sangat sakit hingga Ferdinand terkekeh tanpa rasa humor. Istrinya benar-benar sudah berubah tidak bersisa.
Anastasia memejamkan kedua matanya saat Ferdinand menjatuhkan begitu saja tubuhnya di atas tubuh Anatasia dengan tangan yang langsung memeluk tubuh Anastasia dengan erat. Wajah Ferdinand yang mulai bersembunyi di ceruk leher Anastasia, terus memgeluarkan suara kekehan yang syarat akan kekecewaan. Entah kekecewaan untuk siapa.
"Jangan berbicara seperti itu Ana, itu sangat menyakitkan"
Suara lirih dan penuh permohonan Ferdinand hampir membuat Anastasia ingin mengeluarkan kata-kata yang lebih baik tapi, saat merasakan tangan Ferdinand yang mulai berjalan-jalan kurang ajar. Anastasia memutar bola matanya dengan jengah, si sialan ini tetap masih sialan!
PLAKK!
"Menyingkirlah"
"Itu sakit Ana"
Anastasia kembali memutar bola matanya saat Ferdinand tetap di posisinya dan tidak berhenti ketika tangannya sudah memukul kepala Ferdinand. Bahkan sebelah tangan besarnitu semakin liar bergerak-gerak mencari kesempatan.
"Menyingkir atau aku akan kasar Ferdinand"
Dengan wajah yang masih menikmati ceruk leher Anatasia, dangan tubuh yang terus menikmati kehangatan tubuh Anastasia, dengan tangan yang terus bergerak mengikuti nalurinya, Ferdinand terkekeh geli
"Aku suka kau yang kasar sayang. Kau sangat panas"
Ambang batas kesabaran Anastasia sudah di penghujung saat tangan Ferdinand mulai meraba sebelah dadanya.
"Lihat aku Ferdinand"
Satu alis Ferdinand menukik, dan langsung mengangkat tubuhnya dengan patuh, dengan sangat patuh langsung memberi batas jarak di tubuh mereka agar bisa menatap wajah Anastasia yang sudah... tersenyum?
"Sa-"
BUGH!!
"SIALAN!!!"
BRAKKK!
Tubuh Ferdinand terjerambab ke atas lantai dengan kedua tangan yang memegangi miliknya sambil terus mengumpat
"***!! sialan!! ini sakit brengsek!!"
Dengan santai dan tanpa dosa, Anastasia yang baru saja mendaratkan dengan kuat sebelah lututnya ke milik Ferdinand langsung bangkit dari atas ranjang. Merapikan rambutnya, gaunnya, dan menyimpan kembali liontin kalungnya ke dalam gaun. Anastasia menyeringai dengan arah pandang yang menatap ke bawah, ke arah lantai di mana Ferdinand tergeletak sambil terus merintih kesakitan dan kesal.
"Aku sudah memperingatkan" Dengan acuh Anastasia melompat dari atas ranjang dan melangkah melewati tubuh menahan sakit Ferdinand. "Jadi jangan salahkan aku"
"Ana!! awas kau!!! ini sangat sakitt!!"
Anastasia tidak peduli dan langsung menarik trolly-nya untuk melangkah keluar tenda. Dengan acuh suaranya kembali terdengar.
"Semoga benda itu tidak bisa bangun lagi, tuan Fredrick"
Ferdinand yang masih hanya bisa menggeliat sakit luar biasa karna selang*angannya terus mengumpati Anastasia yang sudah mulai pergi. Rasanya sakit sekali hingga sekujur tubuh Ferdinand ikut merasakan sakit, hingga kepalanya serasa ingin meledak. Kekehan kesal dan geli meluncur di sela-sela rintihannya
"Sialan! Kau nakal sekali Ana"
Setelah berhasil keluar dari tenda, Anastasia langsung mendorong kuat trolly-nya dan mencari seseorang untuk meminta meruskan pembagian makan siang.
Dengan panik Anastasia mencoba mencari ke tenda-tenda di mana mungkin, Solar melettakkan Nora. Hingga langkah panik Anastasia berenti ketika Bernadeth mendekatinya dengan wajah tenang
"Kau mencari Nora sayang?"
"Ohh suster Bernadeh. Apa kau melihat Nora?"
Bernadeth tersenyum sambil mengangguk
"Tadi tuan Somi mengantarkan Nora yang pingsan karna kelelahan. Tenanglah nak, Nora ada di dalam kamarnya"
Nafas lega Anastasia berhembus, lalu menatap Bernadeth dengan tersenyum lega
"Bisakah hari ini aku menjaga Nora hingga dia kembali sadar suster?"
"Tentu saja Ana. Aku mencarimu karna ingin meminta tolong menjagakan Nora"
Sambil terkekeh geli, Anastasia mengangguk patuh.
--000--
Walaupun Ferdinand tampak biasa tapi, cara berjalannya jelas menunjukkan hal yang tidak biasa. Sesuatu pasti terjadi di daerah selang*angannya dan itu sangat membuat Solar penasaran
"Berhentilah menatapnya Sol"
Dengan cepat Solar memindahkan arah pandangnya lalu menatapa ke arah depan. Ekor matanya melirik wajah Ferdinand
"Apa terjadi sesuatu dengan 'itu'?"
Ferdinand meringis saat pertanyaan itu mengingatkan kembali ingatannya tentang bagaimana lutut Anastasia yang menghantamnya, bagaimana rasa nyeri hebat ketika lutut itu menghantam, terlebih bagaimana rasa super nyeri setelah beberapa detik kejadian, hingga sekarang, meski sudah banyak berkurang
"Sialan! jangan membahas itu!"
Solar yang sudah di beri peringatan akhirnya menutup rapat mulutnya, benar terjadi sesuatu ternyata.
"Aku lapar lagi Sol"
Ferdinand berguman sambil memegangi perutnya yang berbunyi. Solar mengangguk
"Saya juga, Your Highness"
Dan jawaban Solar, membuat mereka sama-sama menyeringai, lalu langsung sama- sama bangkit berdiri sambil merenggangkan otot-otot mereka
"Kau sudah menemukan di mana dapurnya?"
Masih dengan seringai yang tercetak di bibirnya, tangan Solar terangkat dan menunjuk ke arah belakang.
"Saat saya mengantar perawat Nora, di sana ada bangunan kecil. Bangunan untuk kamar para suster dan perawat, tempat penyimpanan obat-obatan, dan juga.... dapur"
Tanpa perlu mengucapkan apapun lagi, Ferdinand langsung melangkah ke arah yang di tunjukkan Solar. Mereka bedua menuju ke sana.
Dengan hati-hati dan dalam diam, mereka melewati beberapa tenda tanpa terdengar dan terlihat. Hingga Solar menganggukkan kepalanya saat mereka sudah tiba di bangunan kecil yang Solar maksut.
Di sana ada lima pintu yang berjajar, tiga di antaranya di tutup dengan rantai, dan dua di antaranya hanya tertutup tanpa rantai
"Yang mana?"
Ferdinand berbisik pelan sambil tetap waspada menatap sekitar yang sepi. Akhirnya Solar mengambil langkah terlebih dahulu setelah mendapatkan sinyal dari Ferdinand yang memperbolehkannya untuk memimpin langkah.
Langkah Solar berhenti di salah satu pintu yang tertutup dengan rantai. Tanpa perlu menunggu, Solar langsung mengeluarkan belati dari sakunya dan mulai mengerjakan tugasnya. Tugas untuk membuka pintu.
"Jangan rusak apapun Sol"
Solar yang paham langsung menganggukki bisikan Ferdinand. Tangannya dengan terlatih mulai membuka dan akhirnya menarik rantai dengan sangat hati-hati.
Mereka kembali menyeringai saat Solar sudah mendorong pintu dalam keheningan. Solar kembali mempimpin langkah pencuri mereka, dan setelah masuk ke dalam pintu, Solar kembali menutup rapat pintu.
Arah pandang Ferdinand mengedar, mencari sesuatu yang bisa di sebut makanan dan bisa untuk menjadi pengisi perut mereka. Hingga arah pandangnya melihat sebuah lemari kayu di sebelah lemari piring-piring dan gelas-gelas. Tanpa perlu banyak membuat waktu, Ferdinand langsung membuka lemari. Dan benar, di sana adalah tempat penyimpanan roti, selai, dan beberapa sayuran yang masih segar. Mungkin sayur-sayur di sana baru di petik tadi? entahlah... Ferdinand tidak ingin memikirkan itu, karna perutnya sudah semakin berbunyi saat melihat roti-roti yang sama seperti menu makan malam mereka tadi.
--000--
Pagi ini, senyum merekah Ferdinand terus terbit di bibirnya saat melihat sinar matahari pagi yang indah masuk ke dalam kamar. Tidak seperti dirinya yang tidak akan betah untuk terus bertemu ranjang, pagi ini dirinya terus terbaring di atas ranjang seolah memang tidak berniat beranjak. Solar yang sedang melipat selimut hanya melirik Ferdinand sambil menggelengakan kepalanya. Entah apa yang di lakukan Ferdinand, tapi dirinya yakin jika ada sesuatu yang pasti di lakukan tuannya itu. Dan sesuatu itu pasti ak-
"FERDINAND!!"
Belum selesai Solar mengumandangkan isi kepalanya, suara teriakan yang terdengar membuatnya membuang nafas panjang. Benar kan?
Ferdinand yang juga mendengar suara yang mengandung kemarahan itu langsung menarik selimutnya hingga melewati kepala.
Dengan setengah berlarian, Anastasia datang dengan wajah memerah dan tangan terkepal kuat, mulutnya terkatup rapat dengan tatapannya yang siap membunuh.
Solar dibdalam diamnya mulai mengambil langkah untuk kabur, dia tidak ingin ikut campur.
Setelah melihat apa yang di carinya dan apa yang membuat kemarahannya memuncak di pagi hari yang indah ini, dengan langkah lebar Anastasia langsung menuju ranjang Ferdinand. Dengan kasar tangannya langsung menyibak selimut Ferdinand yang menutupi seluruh wajahnya dengan separuh tubuh yang tidak tertutup selimut
Tubuh Ferdinand menggeliat pelan dan langsung akan membalik tubuhnya ke arah berlawanan dari Anastasia tapi, sepasang tangan kecil langsung menahannya sambil berteriak
"Bangun sialan!"
Dengan mengejap-ngejapkan kedua matanya dengan dramatis, memasang raut wajah baru bangun yang berlebihan, memberat-beratkan suaranya dengan super berat, Ferdinand mengerang luar biasa dramatis
"Kenapa?"
Pertanyaan Ferdinand di jawab Anastasia dengan pukulan kuat di sebelah bahunya yang terluka. Dan itu sukses membuat semua akting murahan Ferdinand lenyap
"Sakit Ana!!"
"Kau memang memang sialan Ferdinand!"
Dengan memalas-malaskan gerakan bangkit dari ranjangnya, Ferdinand meringis daramatis mengusapi bahunya, lalu menatap Anastasia dengan mata yang di sayu-sayukan
"Kenapa kau marah-marah dan memukul pasien lemah seperti ku? jika tulang bahuku patah bagaimana An?"
Semua gerak gerik, ucapan, raut wajah, suara yang di tunjukkan Ferdinand padanya membuat semua kemarahan Anastasia semakin membara. Dengan cepat tangannya merogoh saku gaunnya, dan langsung melempar sesuatu tepat ke wajah Ferdinand.
Ferdinand meringis sambil mengusapi dahinya yang tidak terasa nyeri sama sekali
"Kenapa kau menyiksaku Ana? Aku ini hanya pasien lemah"
"Lemah pantatmu! Mana ada pasien lemah yang mencuri makanan dan berkeliaran di setiap sudut tempat ini sialan!"
Masih dengan memasang akting murahannya, Ferdinand memelas-melaskan tatapannya dengan dramatis, menatap wajah penuh amarah Anastasia yang terlihat sangat sexy di matanya.
"Aku mencuri? berkeliaran?"
Ucapan Ferdinand di jawab Anastasia dengan jari yang menunjuk ke tempat di mana sebuah benda tergeletak, benda yang di lemparkan Anastasia ke wajah Ferdinand tadi. Ferdinand melirik ke arah yang di tunjukkan, dimana di sana tergeletak belati kecil yang memiliki ukiran lambang ular hitam berkepala dua, lambang Francia.
"Wah... itu belatiku yang hilang. Di ma-"
BRAKK!!
Meja nakas di sebelah ranjang Ferdinand bergerak, saat kaki Anastasia menghantam penuh dengan kemarahan meja tidak berdosa itu.
"Berhentilah berpura-pura Ferdinand. Apa yang sebenarnya kau inginkan hah!" Anastasia melipat kedua tangannya di depan dada, arah pandangnya menatap Ferdinand dengan tajam menusuk. "Pulang dan kembalilah ke tempat asalmu! jangan mengganggu kami!"
Sambil mencibik sebal, dengan raut wajah cemberut tidak suka, Ferdinand kembali bergerak. Tanpa menjawab dan merespon ucapan Anastasia, dirinya.... kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang?
Anastasia yang melihat itu membulatkan matanya tidak percaya, bahkan tanpa dosa dan seperti tidak terjadi apapun Ferdinand menarik kembali selimutnya hingga ke atas kepala. Erengan kesal Anastasia terdengar, dan itu membuat kedua sudut bibir Ferdinand di bawah selimut berkedut geli.
"Ferdinand!!"
Kembali, tangan Anastasia bergerak untuk menarik selimut Ferdinand, tapi kali ini tidak akan mudah, karna Ferdinand menahan selimut itu agar tetap memutupi kepalanya. Tangan mereka terus saling tarik menarik selimut tidak berdosa itu, hingga tidak menyadari jika Solar yang masih ada di pojok tenda terus menonton semuannya sambil terus memutar bola mata dengan malas. Mereka juga tidak menyadari jika Bernadeth dan Lilah yang pagi ini baru datang untuk mengganti perban Ferdinand, sudah menatap ke arah mereka dengan tatapan tidak percaya.
\=\=\=💚💚💚💚
Sialahkan jejaknyaa.....