
Restoran yang dipilih Aileen untuk sarapan betul-betul berada tak jauh dari Fadar Palace, hanya berjarak sekitar 5 kilometer. Aileen yang menyetir sendiri mobilnya ke sana. Jane hampir tidak berbicara apa pun di dalam mobil karena Aileen yang mendominasi percakapan.
Sesampainya di restoran, Aileen menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas vallet. Bangunan itu tidak begitu besar, tetapi pelayanan yang disuguhkan sangat memuaskan.
Jane yakin harga makanannya pasti setinggi langit, sampai-sampai dia tidak berani buang air besar karena tidak mau mubazir. Wanita berambut ginger itu mengikuti Aileen ke ruang VIP di bagian dalam. Di sana sudah ada seorang pria paruh baya yang menyambut mereka.
"Good morning, Miss Durrant. Welcome back to our restaurant," sapa pria itu ramah. Dia mengenakan setelan baju koki, lengkap dengan topi dan sepatu. Sebilah pisau diselipkan di kantong yang terletak pada lengan bajunya.
"Good morning, Al," balas Aileen. Dia memberikan sebelah tangannya untuk dicium oleh koki tersebut.
Si koki melakukannya dengan sopan. "And who is this beautiful lady?" tanya koki itu berbinar.
"This is Jane Watson from New York. Jane, this is Alvin Dalglish, Head Chef of this lovely restaurant," Aileen memperkenalkan Jane dan Alvin.
"Hi, Mr. Dalglish," sapa Jane. Sengaja dia tidak ikut-ikutan memanggil Al karena belum akrab.
"Oh, just call me Al. Pasti Miss Durrant yang memaksa Anda ikut ke sini," Alvin terkekeh. "Dia selalu mempromosikan tempat ini kepada orang yang baru dikenalnya."
"Itu karena restoran ini layak memiliki lebih banyak pelanggan tetap. Walaupun Jane bukan orang Inggris, tapi aku yakin dia akan suka dengan makanan buatanmu, Al," Aileen tersenyum manis.
"Aku tak sabar untuk mencicipinya," ujar Jane. Dia memang belum sarapan. Biasanya dia makan makanan istana yang sangat mewah. Sekali-sekali bolehlah dia makan di luar.
"Alright. Akan kusiapkan untuk kalian, para wanita cantik. Silakan duduk dan menikmati sari jeruk dari perkebinan kami." Alvin membimbing Aileen dan Jane menuju sebuah meja bulat dengan 3 buah kursi di sekelilingnya.
Kedua wanita cantik itu duduk di posisi masing-masing. Setelah Alvin pergi, tak lama kemudian, seorang pelayan laki-laki membawakan nampan berisi dua gelas cairan kuning. "Silakan, Nona," ujarnya lembut.
"Terima kasih, Nolan," sahut Aileen. "Kami, orang Inggris, selalu minum jus jeruk atau susu sebagai pelengkap menu sarapan. Aku sedang tidak ingin minum susu, jadi kuharap kau tidak keberatan dengan jus jeruk."
"Tentu tidak. Biasanya aku hanya makan roti atau bahkan tidak sarapan karena sudah terlambat kerja," Jane tergelak menertawakan dirinya sendiri.
Aileen hanya tersenyum mendengar perkataan Jane. Dia melirik bentuk tubuh wanita di hadapannya dan bertanya-tanya, apa yang Phillip lihat dari perempuan kerempeng itu. Kemudian, dia beralih ke cangkirnya.
Jane memperhatikan cara Aileen minum, mulai dari mengambil gelas dengan ujung jemari, memiringkannya, hingga menelan jus tanpa suara. Sangat berkelas.
"Apa kau keberatan jika aku mengundang seorang teman? Sebentar lagi dia datang," tanya Aileen setelah meletakkan gelas.
"Tidak, aku tidak keberatan. Semakin ramai semakin seru, bukan?"
Aileen tersenyum. "Oh, itu dia," katanya saat menyadari kedatangan seorang pria yang ditunggunya. Dia segera berdiri dan menyambut pria itu. "Good morning, Tom," sapanya, lalu mengecup pipi Thomas.
"Good morning, Aileen. Hi, Jane," ucap Thomas seraya tersenyum cerah.
"Tom?" Jane heran. Dilihat dari sikapnya, Aileen seolah kenal dekat dengan Prince Thomas Geller, sang pangeran, putra dari Lady Grace. Tetapi Jane tidak pernah tahu mengenai kedekatan mereka karena yang dia tangkap sejak pertama kali bertemu dengan Aileen adalah ketertarikan wanita cantik dari London itu dengan Phillip.
"Kalian saling kenal?" tanya Aileen. Terpancar rasa kaget pada wajahnya.
"Ya, bisa dibilang begitu," jawab Thomas, enggan menceritakan awal mula dirinya bertemu Jane, wanita yang ditaksirnya.
"Ayo duduk," ajak Aileen.
Mereka duduk bertiga mengelilingi meja. Hanya helaan napas yang terdengar dari ketiganya, seolah tidak tahu mau bicara apa.
"Apa kabar, Jane?" tanya Thomas akhirnya. Ketampanannya di pagi itu luar biasa, meskipun hanya mengenakan kaos polo putih dan celana pendek. Sungguh tak memancarkan aura pangeran.
"Kabarku baik. Kau?" balas Jane singkat.
"Aku tak mengira teman yang dimaksud Aileen itu kau. Sebenarnya aku terkejut. Bagaimana kalian bisa jadi teman?"
"Oh, maaf kalau itu aku," ledek Jane.
Thomas tergelak. "Kalian minum jus tanpa aku."
"Tenang saja, Tom. Aku sudah memesankan kesukaanmu," kata Aileen.
"Kau masih ingat?"
"Tentu, sayang. Aku tidak akan melupakannya. Nolan," panggil Aileen kepada pelayan yang sedari tadi berdiri di samping pintu ruang VIP. "Bawakan minuman Prince Thomas."
"Apa Phillip tidak datang?" tanya Thomas setelah Nolan menutup pintu.
"Tidak. Hanya ada kita bertiga," jawab Aileen sebelum Jane membuka mulut. Tentu dia tidak ingin Jane berkata jujur bahwa Phillip tidak diundang.
"Mengapa dia tidak datang? Bukankah dia selalu ingin berada di sekitarmu, Jane?"
"Dia belum bangun," jawab Jane asal.
Phillip terbahak. "Tidak mungkin dia belum bangun. Dia terbiasa bangun pagi untuk mengerjakan segala sesuatu. Kenapa kau tidak mengajaknya, Aileen?"
Aileen terkejut karena Thomas seolah dapat membaca pikirannya. "A-aku ingin mengobrol dengan kalian saja," jawabnya tergagap.
Thomas diam sedetik. "Baiklah. Apa yang ingin kau obrolkan?"
"Apa kesibukanmu sekarang?"
"Well, aku masih ke sana kemari untuk urusan sosial. Aku juga masih menulis bukuku yang kedelapan. Ya, tak ada yang lain. Kalau kau?"
"Aku sedang cuti."
"Pasien-pasienmu tidak mencarimu?" canda Thomas.
Aileen tersenyum. "Aku sudah memberi tahu mereka dari jauh-jauh hari."
"Kau seorang dokter?" tanya Jane kepada Aileen.
"Dia dokter spesialis tulang. Banyak pria yang sengaja mematahkan tulang mereka sendiri agar bisa menjadi pasiennya," Thomas tertawa.
"Kau mengada-ngada, Tom," komentar Aileen. "Aku kuliah kedokteran di Stanford, lalu mengambil spesialis tulang."
"Dia ini sangat jenius, Jane. Dia bisa tahu struktur tulangmu hanya dengan sekali melihat."
"Oh ya?" Jane setengah tidak percaya.
"Kau terlalu memuji," ujar Aileen malu-malu. "Jane, apa pekerjaanmu di New York?"
"Aku sudah dipecat," jawab Jane.
Terlihat kesedihan di wajah Aileen. "I'm so sorry. Karena itukah kau ke Vlada?"
"Bukan. Aku dijemput oleh..."
"Dia kuculik ke sini," sela Thomas sebelum Jane selesai.
"Benarkah?" Aileen menoleh ke arah Jane tak percaya.
"Tidak, itu tidak benar," kata Jane ingin meluruskan.
"Aku bertemu dengannya di acara pernikahan adiknya, Jill. Aku tertarik padanya, lalu kuculik saja dia," cerita Thomas.
Jane bingung kenapa Thomas tidak mengatakan yang sebenarnya. Bukan dia yang menculik Jane, melainkan Phillip.
🍹🍹🍹🍹🍹
Bersambung ke chapter selanjutnya!
Maaf yah aku kelamaan update. Udah sebulan lebih ya 😅
Tapi tenang aja, cerita ini masih lanjut kok 😊
Semoga chapter selanjutnya cepat selesai yah.
Makasih yah yg udah nungguin update 🙏
12JUNI2020