Marrying The Prince

Marrying The Prince
55


Ferdinand masih terus memanggil Anastasia yang jelas sedang menahan nyeri hebat. Michael sudah pergi untuk memberi tahu yang lain. Dominic terus mencoba memeriksa kesadaran Anastasia yang semakin lama, semakin berat.


"Apa yang sakit Ana?".


"Katakan di mana yang sakit?"


"Nafasku..."


Hanya satu kata itu yang terus menjadi jawaban ketika bertubi-tubi pertanyaan khawatir Ferdinand menggema di telinga Anastasia.


Suara tapak kaki kuda yang semakin jelas membuat Ferdinand dengan cepat mengangkat tubuh Anastasia. Kereta kuda Raja dan Ratu sudah mendekat, dengan semua orang yang datang dengan raut wajah menatap cemas.


Fredrick langsung membuka pintu kereta dan segera membantu Victoria untuk turun.


"Cepat Dinand"


Perintah Fredrick dengan cepat membuat Ferdinand membawa tubuh Anastasia untuk masuk ke dalam.


"Ikutlah Diana"


Diana dengan gesit langsung menjalankan perintah Victoria untuk mengikuti Ferdinand. Setelah mereka masuk, tanpa ingin membuang waktu, kereta kuda mulai melaju kencang.


Anastasia terus meringis, pelipisnya penuh dengan peluh, nafasnya tersengal berat. Dan hasil pengamatan itu membuat Ferdinand dengan cepat langsung mengambil tindakan.


"Bantu aku membuka gaunnya Diana"


Diana dengan cepat dan cekatan langsung membuka gaun Anastasia saat Ferdinand sudah memiringkan tubuh yang ada di pangkauannya. Tangan Ferdinand yang di bantu Diana menariki, melepasi semua tali-tali brengsek yang menjadi penghalang.


Ferdinand dengan cekatan dan profesional langsung melepasi setiap tali korset Anastasia yang terjalin rapih. Diana masih terus mencoba melonggarkan bagian gaun depan Anastasia.


"Maaf Ana"


Setelah berucap, Ferdinand melepas korset yang memang sudah siap untuk di lepas.


Diana tertengun tidak lebih dari tiga detik, lalu kembali melonggarkan tali terakhir yang ada di bagian depan gaun berkuda Anastasia. Ferdinand masih terdiam saat punggung polos Anastasia terpampang jelas di depan matanya. Entah apa yang ada di dalam pikiran Ferdinand sekarang tapi, apa yang di lihatnya sekarang membuat Ferdinand hanya bisa terus membatu.


"Apa sudah lebih baik, Your Highness?"


Tidak ada jawaban dari Anastasia. Ferdinand yang akhirnya tersadar karna suara Diana langsung melepaskan mantelnya untuk menutupi bagian gaun yang sudah melorot hingga ke pinggang Anastasai. Diana yang masih menahan gaun bagian depan agar tidak membuat bagian dada Ananstasia terlihat, langsung menjauhkan tangannya saat mantel Ferdinand sudah menyelimuti Anastasia.


"Ana?"


Anastasia memejamkan kedua matanya dengan pasrah. Rasa sakit dan sesak di dadanya sekarang tidak lebih parah dari rasa malu yang di deritanya.


Harusnya dia bisa menolak orang-orang itu untuk membuka gaunnya jika dia tahu mereka juga akan membuka korsetnya. Korsetnya yang menjadi tempok untuk menyembunyikan bekas-bekas luka di tubuhnya. Rasa malu luar biasa yang tidak pernah terbayangkan, membuat air mata Anastasia meluncur tanpa basa basi. Rasa malu ketika Ferdinand melihat lukanya, adalah rasa malu paling menusuk yang pernah Anastasia rasakan.


--000--


"Sama seperti diagnosa yang di dapatkan dokter lain Your Majesty. Your Highness mengalami keram di otot dada karna terlempar dan mungkin karna menahan sesuatu dengan kuat. Saya sudah berulang kali memeriksa dan tidak menemukan hal serius yang harus membuat Her Highness mendapatkan pengobatan di rumah sakit. Hanya beberapa luka goresan cukup dalam yang perlu di perhatikan agar tidak infeksi tapi, semuanya tidak ada yang mengancam, Your Majesty"


Victoria mengangguk paham sambil melirik Ferdinand yang tampak kacau sedang duduk di samping ranjang.


"Semua obat terbaik sudah kau berikan Lily?"


"Sudah Your Majesty. Semua obat terbaik yang di butuhkan sudah saya resepkan dan nanti akan kami berikan pada pelayan Ruth"


Langkah Victoria mulai bergerak untuk menjauh dari ranjang Anatasia


"Berapa lama Putri Anatasia akan sembuh"


"Saya bisa menjamin dalam satu minggu ini Her Highness bisa kembali pulih tapi, semua itu juga tergantung pasien sendiri, Your Majesty"


"Baiklah Lily"


"Setiap hari, saya akan datang untuk memeriksa langsung kondiri Her Highness, Your Majesty" Victoria mengangguk. Lily tersenyum dan membungkuk sopan. "Kalau begitu saya permisi"


Setelah merasa percakapan itu selesai, Tomy yang sudah menunggu di depan pintu langsung mempersilahkan Lily.


"Antar dokter Lily ke kamarnya di rumah depan Tom. Pastikan dokter Lily merasa nyaman selama di sini"


"Baik Your Majesty"


Lily kembali menatap Victoria sambil membungkuk dalam


"Terimakasih Your Majesty"


Kepala Victoria mengangguk singkat dan setelah Lily berlalu pergi bersama Tomy, Victoria kembali melirik ke dalam kamar. Memperhatikan Ferdinand yang terus diam dan hanya menatapi Anastasia yang tertidur. Tangan Victoria terulur dan dengan pelan menutup pintu.


Ferdinand membuang nafas berat. Seberat pikirannya yang sedang kacau. Dengan perlahan Ferdinand bergerak, mendaratkan bokongnya di bibir ranjang yang dekat dengan kaki Anastasia. Tangan Ferdinand terulur ke ujung selimut yang sedang menghangatkan tubuh Anastasia. Dengan sangat perlahan tangan Ferdinand menyingkap selimut hingga terbuka.


Bukan tidak pernah Ferdinand melihat hal aneh di pergelangan kaki Anastasia. Saat kejadian dia menahan tubuh Anastasia di atas ranjang, Ferdinand pernah melihat sekilas bekas luka di pergelangan kaki Anastasia meski dia tidak ingin berkomentar banyak atau ingin mencari tahu secara jelas karna, bekas luka itu mengerikan. Sangat mengerikan untuk seorang gadis terhormat. Karna itu Ferdinand hanya bungkam dan terus diam, dirinya ingin menjaga perasaan Anastasia yang pasti lebih mengerikan dari luka itu, perasaan dan ingatan Anastasia yang pasti lebih terluka parah dari pada luka itu


Dengan pergerakan halus, Ferdinand menarik ke atas ujung gaun Anastasia. Dan benar, kali ini Ferdinand bisa melihat dengan sangat jelas bekas luka yang membekas di kedua pergelangan kaki Anastasia. Rahang Ferdinand mengatup rapat, raut wajahnya mengeras, pelipisnya terus bergerak menahan bara api yang sekarang sudah memenuhi setiap rongga di dadanya.


Bekas luka di kaki, banyak bekas cambukan di punggung, bekas jahitan di samping perut, lalu... apakah masih ada lagi? apa masih ada lagi penderitaan Anastasia yang belum di lihatnya? sesakit apa? semenderita apa? sepedih apa Anastasia menjalani hidupnya dulu?


Dan semua pemikiran itu membuat kepala Ferdinand berdenyut hebat, setiap denyutan yang membawa kemaran membara. Rasanya, Ferdinand ingin kembali ke Trancia, datang ke istana Eden untuk memperbaiki caranya membantai keluarga White. Harusnya dia melakukannya perlahan dan pedih, harusnya dia tidak langsung begitu saja menebas kepala Raja James, harusnya dia tidak memerintahkan Solar untuk langsung menghunuskan pedang ke perut Ratu Shopia, harusnya dia melakukannya dengan perlahan dan penuh pengkahayatan, harusnya dia membuat mereka menjerit kesakitan dan ketakutan.


Dengan tangan gemetar karna menahan amarah, Ferdinand mulai kembali memperbaiki selimut Anastasia. Memandang wajah tenang Anastasia yang tertidur, lalu mengusap pelan goresan luka baru di wajah cantik yang sudah menyimpan banyak hal menyakitkan itu. Ferdinand kembali membuang nafas panjang, lalu menarik nafas panjang untuk meraup segala ketenangannya.


Dalam keheningan, Ferdinand termenung ketika ingatannya kembali memutar semua ucapan Anastasia. Ucapan Anastasia tentang keluarga, tentang rasa bersyukur, tentang perkataan Anastasia yang akan selalu ada dan akan selalu bersedia membantu serta mendengarkan kesulitan Ferdinand. Sedangkan Anastasia, apakah dulu dia memiliki seseorang yang ada di sampingnya? apakah Anastasia dulu mempunyai tempat untuk meminta pertolongan?


Dan jawaban dari pertanyaan itu terjawab dari ketakutan Anastasia yang pernah di lihat Ferdinand, ketakutan yang terus hanya bisa memohon ampun dan memohon pertolongan.


Perkataan Anastasia masih terus menggema di dalam kepala Ferdinand, seolah sedang menyiksa isi kepala Ferdinand. Ferdinand merasa seperti di cambuk dan di pukuli membabi buta dengan banyak kesadaran. Dirinya seperti di seret dengan cara yang paling kasar untuk mengingat segala berkat dan segala keberuntungan dalam hidupnya.


Betapa indahnya hidup Ferdinand... Betapa sempurnanya hidup Ferdinand... Betapa penuh berkatnya seluruh hidup Ferdinand selama ini....


Dengan wajah tertunduk, Ferdinand meremasi rambutnya dengan kuat


"Ohh Tuhan..."


*


*


*


"Semua lukanya sudah mengering Ana. Kata dokter Lily, luka-luka ini tidak akan meninggalkan bekas, jadi kau akan tetap cantik luar biasa seperti biasa"


Anastasia tersenyum haru sambil mengangguk


"Terimakasih Summer"


Summer ikut tersenyum lebar hingga gigi-gigi kecilnya terlihat


"Kau terlalu banyak mengatakan terimakasih Ana"


Kekehan halus Anastasia terdengar sambil menatap Summer dengan arah pandang yang mulai buram. Summer yang melihat raut wajah hampir menangis Anastasia memutar bola matanya dengan malas.


"Jangan menangis!" Summer mendengus dengan tidak anggun. "Benar kata Dinand, kau memang sangat cengeng Ana"


Kekehan halus dari mulut Anastasia kembali terdengar, dengan Summer yang juga ikut terkekeh sambil memberikan semua kekacauan pada Ruth. Ruth dengan senyum tulusnya langsung merapikan semua peralatan kacau yang akan selalu terjadi saat Summer membantu Anastasia merawat lukanya.


Suara pintu yang tiba-tiba terbuka, membuat semua kepala di sana menoleh ke arah pintu. Dengan langkan gontai, Ferdinand masuk sambil memegang pedang dan juga tanpa atasan. Tubuh sempurna kecoklatannya terlihat mengkilap karna penuh peluh, gerakan kakinya membuat tubuh penuh otot menggiurkannya terus menggiurkan untuk setiap mata yang melihatnya, kecuali Summer.


"Dia pikir dia sexy"


Summer berguman cukup keras, hingga semua telinga di sana bisa dengan jelas mendengarnnya. Termasuk Ferdinand yang dengan acuh mendekat ke ranjang sambil tersenyum menatap Anastasia.


Anastasia membalas senyum Ferdinand saat Ferdinand sudah menjulang di depannya yang sedang duduk di bibir ranjang. Tangan besar Ferdinand menangkup wajah Anastasia, menatap dengan lekat dan detail setiap sudut wajah di tangannya, lalu memberikan kecupan singkat di bibir ranum Anastasia.


Summer yang beberapa hari ini terus melihat pemandangan menjijikan untuknya itu langsung mendengus tidak anggun dan berucap keras


"Menjijikkan!"


"Cantik"


Ferdinand berucap untuk Anastasia tanpa peduli dengan rasa jijik adiknya. Anastasia tersenyum malu dengan kedua pipinya yang sudah merona. Rona merah yang menunjukkan jika dirinya malu karna perlakuan Ferdinand yang di lihat orang lain, dan juga malu karna ucapan Ferdinand.


Setelah puas menatap rona merah di kedua pipi Anastasia, Ferdinand kembali melepas tangannya sambil bergerak menuju kamar mandi.


"Dia pasti habis latihan"


Anastasia berucap saat Ferdinand sudah menghilang dari balik pintu kamar mandi.


Dengan acuh, Summer mengedipkan kedua bahunya


"Biarkan saja Ana"


"Dia pasti bosan"


Kali ini, ucapan lirih Anastasia membuat Summer langsung menatapnya, menatap Anastasia yang sudah tersenyum kecut. Menyadari suasana yang mulai tidak bergembira, Summer terkekeh pelan.


"Laki-laki memang begitu Ana, setua apapun usia mereka, mereka akan selalu ingin bermain. Jadi, jangan di pikirkan. Dinand dan pedang memang tidak akan pernah terpisahkan walaupun dia sedang tidak bosan sekalipun, lagi pula-" Summer menjedah sambil mengerling pada Anastasia. "Dinand itu pemalas, dia pasti bersyukur karna bisa lepas dari tanggung jawabnya. Dia pasti lebih suka mengurus istrinya dari pada harus mengurus camp kesatria"


Anastasia mengangguk paham. Summer yang melihat hilangnya raut wajah sendu Anastasia langsung menarik tangan Anastasia.


"Ayo kita turun, gapa juga pasti sedang bermain"


Anastasia mengangguk singkat.


"Aku siapkan dulu baju Ferdinand"


Dengan pengertian, dan karna sudah beberapa kali mendapatkan keadaan yang seperti itu, Summer menggangguk sambil mengikuti langkah Anastasia yang menuju lemari untuk menyiapkan baju ganti suaminya. Setelah siap, dengan patuh Anastasia mengikuti Summer yang membawanya untuk menuju pintu keluar. Dan saat langkah mereka berada di depan pintu kamar mandi, Summer berteriak.


"Dinand! kami turun ke bawah yaaa!"


Tidak ada jawaban dari dalam, tapi Summer tidak peduli dan terus menarik Anastasia untuk keluar kamar.


Saat mereka sudah di bawah, pemandangan George yang sedang terbahak bersama Jeremmy dan Carl membuat Summer langsung berlarian kecil ke tempat mereka. Saat sudah berada di dekat meja, pemandangan Geogre yang sedang bergambling bersama Jeremmy dan Carl dengan banyak piring kudapan yang memenuhi meja mereka, membuat alis Summer mengerut


"Gapa, kau melanggar perintah menantumu untuk mengurangi makan kudapan. Jika mama melihat ini kau pasti akan dalam masalah"


Dengan cepat Summer mendaratkan sebuah ciuman di pipi kakeknya sambil menyambar biskuit di piring kudapan. George tersenyum hangat sambil menempelkan telunjuk di bibirnya.


"Rahasiakan ini untuk gapa yaa sayang"


Dengan tersenyum manis, Summer mengangguk lucu sambil mengikuti George menempelkan telunjuknya ke depan bibir.


Mereka semua terkekeh geli melihat kelakuan si bungsu Raja mereka itu. Hingga Summer tersentak saat pipinya di cubit dengan kuat.


"Sakit!"


Edward yang baru datang bersama Solar terkekeh sambil menghentikan cubitan gemasnya pada Summer.


"Sorry Princess"


"Maaf di terima kapt"


Tangan Edward kembali mencubit pipi Summer dengan pelan lalu membelai kepalanya dengan lembut. Summer hanya terkekeh sambil mengibaskan tangannya pada Anastasia, memanggil Anatasia untuk mendekat. George yang melihat Anastasia mendekat kembali tersenyum hangat.


"Hallo nak... bagaimana keadaanmu hari ini?"


"Selamat siang George. Aku sudah semakin membaik. Terimakasih"


Kepala George langsung menggeleng singkat


"Jangan berterimakasih nak. Duduklah" George menatap Carl dan Jeremmy. "Singkirkan semua ini"


Dengan cepat Jeremmy dan Carl merapikan dan menyingkirkan semua hal yang ada di atas meja hingga bersih.


Setelah Jeremmy dan Carl kembali bergabung, percakapan mereka berlanjut. Kekehan geli dan percakapan seru mengisi suara-suara di ruang santai George hingga Ferdinand datang dan langsung menarik kursi di sebelah George.


Anatasia yang melihat kedatangan Ferdinand tersenyum sambil menatap semua orang, lalu berakhir menatap George


"George, dokter Lily mengatakan jika sebenarnya besok aku tidak perlu lagi meminum obat" George mengangguk singkat. Anastasia melanjutkan sambil menatap Ferdinand. "Aku sudah boleh melakukan perjalanan jauh Ferdinand"


\=\=\=💙💙💙💙


Silahkan jejaknya...