Marrying The Prince

Marrying The Prince
Chapter XI - The Offer


Merasa sedikit tertohok, Jane berusaha menahan diri untuk tidak marah. Dia memang tidak terbiasa dengan anak kecil karena Jill hanya lebih muda setahun darinya dan dia tidak dekat dengan anggota keluarga yang lain. Sepupu-sepupunya yang telah berkeluarga pun hanya datang ke rumah Natasha, bukan ke apartemennya.


Hari-harinya dipenuhi dengan pekerjaan. Baginya, bekerja merupakan cara bertahan hidup. Apalagi, Jane memiliki bos yang sangat disiplin. Dia tidak bisa bersantai-santai dan meminta rekannya, Britanny, untuk mengerjakan tugas-tugasnya karena Britanny juga sibuk.


Jadi, Jane sama sekali tidak tahu-menahu soal cara menangani atau melakukan pendekatan dengan anak-anak, sehingga dia hanya mempraktekkan dari film yang pernah dia tonton. Namun, nampaknya Daisy bukanlah gadis kecil lugu dan pemalu.


"Daisy, kau tidak boleh seperti itu pada orang lain," kata Thomas menasihati. "Ayo minta maaf." Melihat Daisy menggelengkan kepala, Thomas berusaha membujuknya. "Hormatilah orang yang lebih tua," lanjutnya. Ucapan pria itu sangat lembut, menunjukkan bahwa dia menyayangi Daisy.


"Tidak apa-apa, Tom," kata Jane yang segera bangkit berdiri.


"Ayo. Tidak usah malu," Thomas tersenyum kepada Daisy tanpa mempedulikan perkataan Jane.


Daisy mengangguk. Dia mendongakkan kepalanya karena Jane telah berdiri. "Sorry, Jane," ucapnya pelan.


"Awww..." Jane terharu. "It's alright, little girl," katanya sembari mengelus kepala Daisy.


"But please don't call me little girl. I'm not little anymore."


"Okay, I promise," Jane memberikan kelingkingnya kepada Daisy untuk dikaitkan.


Daisy mengerti perjanjian semacam itu, lalu dia tertawa dan mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Jane.


"Princess Daisy! There you are!" Seorang wanita paruh baya berseragam pelayan tergopoh-gopoh menghampiri mereka bertiga. "Selamat datang, Prince Thomas," ucapnya sopan. "Princess Daisy, sebaiknya kau cepat kembali sebelum aku memaksamu untuk mandi," ancamnya. Rambut putih wanita itu disanggul rapi di belakang kepalanya, memberi kesan profesional.


Thomas berdiri. "Helen, this is Jane Watson," katanya memperkenalkan Helen kepada Jane. "Dia akan tinggal di sini untuk sementara."


"Oh! Inikah gadis yang akan menjadi istrimu, Prince Thomas?" tanya Helen. Kedua matanya berbinar seolah sedang terpesona pada sebongkah berlian.


"Yes, this is the one," jawab Thomas sebelum Jane sempat membuka mulut.


"Miss Watson, kau sangat cantik!" Keriput di sekitar mata Helen terlihat jelas ketika dia tersenyum. "Prince Thomas akan menjadi orang paling beruntung di dunia."


"Thank you, Helen," ucap Jane malu-malu.


"Mau kuberi tahu rahasia Prince Thomas?" tanya Helen setengah berbisik.


"Baiklah! Daisy, ajaklah Helen masuk untuk memandikanmu," sembur Thomas.


Jane tertawa sekaligus kagum pada Helen karena masih bisa bekerja meski usianya pasti tak lagi muda.


"Aku permisi, Prince Thomas, Miss Watson," pamit Helen yang tetap menyunggingkan senyuman jahil.


Setelah mereka pergi, Jane bertanya, "Dia adikmu?"


"Adik angkat, sebenarnya. Ibuku mengangkatnya setelah mengunjungi camp pengungsian. Saat itu, Daisy diasuh oleh para sukarelawan di sana. Ibuku memeluk Daisy yang masih balita dan nampaknya Daisy tidak mau lepas."


"Kenapa bukan kau yang mengangkat Daisy sebagai anakmu?"


"No way! You're a good looking guy," puji Jane tanpa sadar hingga membuat Thomas terdiam. "Oh... yeah, I mean..." Jane mengatai dirinya sendiri di dalam hati. "Kalau kau sudah punya anak, itu berarti kau adalah hot daddy." Jane menggelengkan kepala, menyesali mulutnya yang tidak bisa berhenti.


"Thanks?" Thomas tergelak.


Terjadi kejengahan di antara mereka. "Jadi, pekerjaan apa yang akan kau berikan padaku?" tanya Jane, ingin sekali mengalihkan topik pembicaraan.


🐯🐯🐯🐯🐯


Kemarahan Jane menjadi-jadi ketika Thomas menunjukkan seragam yang harus Jane kenakan ketika bekerja, yaitu seragam pelayan, sama seperti yang dipakai Helen.


"You're insane!" teriak Jane di ruang tengah Alcaz Palace. Beruntung ruangan itu terdapat cukup banyak barang seperti sofa, lukisan, televisi, guci, dan perapian, sehingga suara melengking Jane tidak bergema.


"Kau bilang kau butuh pekerjaan. Aku memberikannya padamu," kata Thomas tetap tenang.


"You know what? Aku tidak jadi bekerja padamu," Jane tak habis pikir. Dia sudah memiliki bayangan saat Thomas menawarinya untuk menjadi asisten. Namun, tidak pernah satu kali pun terpikir bahwa asisten yang dimaksud Thomas adalah asisten rumah tangga.


"Oh...," Thomas meletakkan seragam pink-putih itu di sofa, lalu dia duduk. "Baiklah kalau begitu. Silakan kembali ke Fadar Palace."


"What?" Jane berpikir keras. Haruskah dia memaksa Thomas mengantarnya? Wanita itu sama sekali buta arah. Dia pun menggeram. "Apa yang kau mau dariku?"


"Mauku? Miss Watson, kau yang bilang ingin bekerja. Aku hanya menyediakannya untukmu. Sebagai calon tunangan yang baik, aku tidak mungkin membiarkanmu menjadi pengangguran bila kau memang tidak mau. Oleh karena itu, aku menawarimu pekerjaan ini. Kau tadi sudah setuju, jadi kubawalah kau ke sini."


Permainan kata dari Thomas membuat Jane bertambah kesal. Sialnya, dia tidak bisa membalas apa-apa. Memang dirinya yang salah karena tidak bertanya lebih detail. Sekarang dia telanjur sampai di Alcaz Palace dan tidak tahu jalan pulang ke Fadar Palace. Lagipula, tidak mungkin dia berjalan kaki.


Thomas menahan tawa dari tadi sambil memperhatikan Jane. "Kau tak perlu khawatir, Jane. Aku menerima penolakan bila kau tidak bersedia," katanya, menambah kesengitan dalam diri wanita itu.


"Aku bersedia," sahut Jane. "Tapi dengan satu syarat."


"Syarat seperti apa yang kau maksud?"


Jane tidak kehabisan ide. Dia tahu apa yang akan membuat Thomas menyerah dan tidak dapat memaksanya lagi. Pangeran seperti Thomas tidak mungkin akan memenuhi syarat yang akan diajukannya. "Kau harus menikahiku," ucapnya lantang.


🌢🌢🌢🌢🌢


**bersambung ke chapter selanjutnya!


semoga kalian suka ya guys 😁


dan semoga aku bisa lanjut secepatnya!


minta like dan comment donks..yg banyak yahh hehehe..


see ya 😁😁**