Marrying The Prince

Marrying The Prince
72





...--------------------------...


Anastasia menarik nafasnya sejenak. Dengan bibir bergetar, suara Anastasia mulai terdengar.


"Dari perjanjian kita tentang anda yang akan mengabulkan apa saja untuk tiga permintaan saya. Saya sudah memakai satu perjanjiaan kita, Your Majesty"


Kepala Fredrick mengangguk paham


"Carl akan membawa dan memastikan jika Ruth aman. Ruth akan baik-baik saja"


Nafas lega Anastasia berhembus, lalu memberanikan diri untuk menatap Fredrick dengan tegas


"Jauhkan saya dari Francia, Trancia, atau bahkan dari benua eropan. Itu untuk perjanjiaan kedua kita, Your Majesty"


Beberapa detik Fredrick terdiam, hingga akhirnya kepalanya mengangguk


"Baiklah"


Dengan kedua tangan yang semakin saling mencengakam kuat, dengan bibir yang semakin bergetar, dengan keputusan yang sudah mengeras, mulut Anastasia berucap lirih.


"Untuk yang terakhir, saya ingin..... pembatalan pernikahan"


Kali ini, nafas panjang Fredrick berhembus. Francesca menatap lekat raut wajah Anastasia dengan tatapan yang tidak di mengerti, sedangkan Victoria segera berdiri dari kursinya dan mendekat pada Anastasia.


Anastasia yang melihat itu langsung akan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi Victoria segera menggeleng sambil menangkup wajah Anastasia. Bibir Victoria tersenyum getir sambil berucap lembut


"Maafkan aku yang sudah gagal mendidik anakku"


Anatasia tersentak


"Your-"


"Aku minta maaf atas semua perbuatannya padamu, Ana. Tolong maafkan aku juga, karna sudah gagal mendidiknya"


"Tidak Your Majesty, tolong jangan seperti ini. Maafakan saya Your Majesty"


Air mata Anastasia kembali tumpah saat Victoria sudah memelukknya.


"Berbahagialah Ana. Kami akan selalu mendoakanmu. Pergilah sejauh yang kau inginkan karna kami akan melakukan tiga keinginanmu sesuai perjanjian"


Ucapan Victoria kembali membuat Anastasia terisak kuat. Akhirnya Anastasia bisa merasakan pelukan hangat seorang ibu yang berdoa untuk kebahagiaannya, seorang ibu yang menginginkan kebahagiaannya, lagi.


"Maafkan saya Your Majesty. Maafkan saya yang mengecewakan anda, tolong maafkan saya"


Victoria melepaskan pelukannya sambil menatap Anastasia dengan tersenyum hangat.


"Aku senang bisa bertemu dan mengenalmu, Ana"


Dan setelah melihat kembali senyum Anastasia, Victoria kembali berdiri dan kali ini langkahnya langsung menuju ke depan jendela.


Feredrick yang melihat gerak gerik istrinya menggenggam kuat cangkir di depannya. Arah pandangnya menatap Anastasia dengan pandangan yang tidak di mengerti Anastasia


"Kau ingin aku melakukan apa pada mereka Putri?"


Ucapan Fredrick yang datar tapi mengandung sebuah kasih sayang tersimpan, membuat Anastasia tersenyum haru. Kepala Anastasia menggeleng yakin


"Terimakasih, Your Majesty"


Arah pandang Fredrick melirik Francesca yang hanya terdiam


"Frans, bantu Putri Anastasia untuk menyiapkan kebutuhan perjalanan" Arah pandang Fredrick berpindah menatap Tomy "Antar dengan cepat"


Tomy segera mengangguk patuh.


"Baik Your Majesty"


Setelah semua keputusan terselesaikan, Anastasia segera berdiri dan menggeser tubuhnya ke samping. Anastasia menatap Fredrick sejenak dengan tersenyum, menyilangkan kakinya, menarik kedua sisi gaunnya, menekuk sedikit lututnya, menundukkan kepalanya dengan suara bergetarnya yang terdengar


"Semoga Your Majesty selalu berbahagia dan selalu di lindungi Tuhan. Terimakasih Your Majesty"


Fredrick hanya mengangguk singkat, dan itu sudah cukup untuk Anastasia memulai langkahnya yang baru. Dengan anggun, Anastasia memutar tubuhnya untuk menyusul Francesca dan Tomy yang sudah menunggu di depan pintu.


Saat pintu sudah tertutup, Jeremmy segera maju ke depan Fredrick, seolah memang sudah tahu jika itu yang di inginkan Fredrick. Dan benar, karna saat Jeremmy sudah menundukk di depannya, suara dingin Fredrick langsung terdengar


"Besok kosongkan semua jadwalku, dan kurung si brengsek itu di sini"


"Baik Your Majesty"


Setelah menjawab dengan patuh, Jeremmy melirik Solar yang langsung mengerti lirikan itu.


"Kami permisi, Your Majesty"


Setelah Jeremmy dan Solar keluar dan pintu tertutup, Fredrick langsung berdiri menuju ke jendela. Ke tempat istrinya yang hanya terus menatap ke arah luar jendela


"Aku gagal Bash... aku gagal mendidik putraku. Aku gagal Bash"


Tangan Fredrick langsung membalik tubuh Victoria dan langsung memeluk istrinya yang mulai terisak


"Aku ibu yang gagal Bash... aku ibu yang gagal"


Tangan Fredrick terus mengusap lembut dan penuh kehangatan punggung bergetar istrinya, meski rahang Fredrick sudah mengeras, meski tatapanya sudah menatap langit-langit ruangan dengan dingin


"Aku yang gagal mendidik putraku Vic. Tolong jangan menangis, tolong Vic"


Kedua tangan Victoria mencengkam kuat baju di punggung Fredrick dengan isakannya yang semakin kuat.


--000--


Summer masih memeluk Anastasia tanpa ingin melepaskan, bahkan saat Francesca sudah memperingatkannya


"Maafkan kami yang sudah melukaimu. Tolong jangan pergi Ana, aku akan merindukanmu. Jangan pergi...."


Isakan Anastasia dan Summer terus saling bersaut-sautan, hingga Francesca yang mulai merasa jengah mencubit pinggang Summer. Summer langsung tersentak dan melepaskan pelukkannya


"Kenapa kau mencubitku!!!"


Francesca mengabaikan kekesalan adiknya, dan lebih memilih bersuara untuk hal yang penting


"Tomy"


"Jangan bawa Ana!!"


Summer yang akan kembali menarik Anastasia membuat Francesca harus kembali mencubit adiknya. Hingga Summer kembali melotot tidak suka pada Francesca


"Ana harus cepat pergi Sum. Saat Ana sudah mendapatkan tempatnya kita akan berkunjung" Francesca melirik Anastasia. "Iya kan Ana?"


Anastasia yang mengerti langsung mengangguk penuh dusta, dan ikut membuka suaranya


"Nanti kita pasti akan bertemu lagi Sum, karna aku juga pasti akan merindukan kalian"


Sambil mengahapus kedua jejak di pipinya, dengan pasrah Summer mengangguk dan berucap lirih


"Hati-hari Ana.... segera kirim kami surat yang berisi alamatmu"


Anastasia hanya tersenyum, dan segera memutar tubuhnya ketika Tomy sudah membukakan pintu kereta.


Saat sudah masuk ke dalam kereta, Anastasia langsung membuka jendela.


"Aku sangat menyayangi kalian. Terimakasih atas semua kenangan kita"


Dan ucapan Anastasia itu, sukses membuat Summer menangis meraung-raung tidak anggun.


Tangan Francesca terangkat untuk membalas lambaian tangan Anastasia saat kereta kuda mulai bergerak


"Kami juga menyayangimu. Berbahagialah selalu...."


Dengan kedua mata yang sudah tumpah, Anastasia mengangguk untuk menjawab ucapan Francesca.


--000--


Di sisi lain, Ferdinand tersentak di kursi meja kerjanya. Leher dan punggungnya terasa sakit karna posisi tidurnya yang tidak nyaman. Arah pandangnya kembali menatap ranjangnya yang masih di huni Kenna. Di sana Kenna masih terlelap setelah meminum obat nyeri dan untuk pendarahannya.


Nafas panjang Ferdinand berhembus lega, lalu mengusapi tengkuknya yang pegal. Untung saja, semua baik-baik saja. Janin yang ada di dalam perut Kenna masih sempat untuk di selamatkan meski sekarang Kenna harus bedrest total dan tidak boleh setres sedikitpun.


Ferdinand tidak masalah jika untuk kedepannya dia harus sangat berhati-hati menjaga Kenna, atau bahkan untuk mencurahkan seluruh waktunya pada Kenna, asalkan nyawa tidak berdosa itu selamat dan sehat hingga saatnya janin itu melihat dunia.


Merasakan jika angin malam yang berhembus ke dalam ruangan sangat menusuk, Ferdinand segera berdiri dari kursinya, dengan cepat tangannya menutup jendela. Dan saat jendela sudah tertutup, arah pandangnya menatap pintu pengubung. Ingatannya kembali dengan apa yang sudah di lakukannya pada Anastasia tapi, untuk sementara waktu dia tidak ingin melihat Anastasia. Dirinya masih kesal dan marah pada Anastasia yang bisa-bisanya ingin mencelakai nyawa yang tidak berdosa. Harusnya, suka tidak suka Anastasia harus menerima kenyataan jika janin itu memang miliknya, harusnya dia juga ikut menjaganya meskipun terdengar kejam, tapi semuanya sudah terjadi.


Ferdinand mengusap wajahnya dengan kasar. Baiklah... katakanlah seberapa keras dia mematrikan dan mempertahankan semua rasa amarahnya, saat ini dadanya terasa nyeri saat mengulang lagi ingatan apa saja yang telah di lakukan tangannya.


"Dinand..."


Suara lirih dan lemah itu membuat kepala Ferdinand menoleh, pada Kenna yang baru saja membuka matanya.


"Kau sudah bangun"


Dengan tersenyum lemah, Kenna mengangguk pelan. Ferdinand membalas senyum Kenna sambil melangkah menuju ranjang.


"Apa kau lapar?" Kenna menggeleng singkat, dan penolakan itu membuat Ferdinand langsung mengusapi rambut Kenna dengan lembut. "Kau harus makan agar cepat kembali sehat. Janin itu juga butuh makan"


"Aku tidak lapar"


"Baiklah... aku akan menyuapimu"


Kenna mengeruskan alisnya dengan tidak suka


"Aku bilang tidak lapar"


"Oh.. kau ingin makan yang lembut? baiklah"


Melihat Kenna yang akhirnya hanya memejamkan mata dengan pasrah, Ferdinand tersenyum. Dan sebuah ingatan membuat Ferdinand langsung berdiri dari atas ranjang. Kenna yang melihat itu langsung menahan tangan Ferdinand


"Kemana?"


"Mengambilkan makanmu"


"Pela-"


"Aku hanya sebentar Kenna"


"Cepatlah kembali ke sini"


Tanpa ingin banyak berucap lagi, Ferdinand hanya mengangguk dan langsung keluar kamar. Kenna terus menatap nanar pintu yang tertutup, dia tahu jika di saat secemas apapun Ferdinand pada janin di perutnya, Ferdinand masih akan memikirkan seseorang. Seperti sekarang, ada banyak pelayan di castle dan Ferdinand akan mengambil makan sendiri?


"Siapa yang coba kau bohongi Dinand? Gerak gerik mu sangat jelas"


Setelah Ferdinand menutup pintu kamarnya, ekor matanya melirik ke depan pintu kamar di sebelahnya. Apa dia sudah makan? apa dia menangis? apa dia kesakitan?


Hati Ferdinand sangat ingin mengetuk pintu dan melihat langsung keadaan Anastasia, tapi kembali, dirinya menahan diri. Ferdinand ingin Anastasia meminta maaf dan mengakui kesalahannya terlebih dahulu, karna jika dia tidak tegas, Anastasia pasti akan melakukan sesuatu lagi. Sesuatu yang akan merepotkan atau bahkan berujung fatal.


Akhirnya, Ferdinand mengurungkan niatnya dan lebih memilih menuruni tangga. Saat langkahnya sudah menuruni tangga, semuanya terlihat tampak normal. Jejak-jejak berkas darah juga sudah di bersihkan, beberapa pelayan yang melihatnya menunduk dan menyapanya, keadaan sangat normal dan tenang, seperti tidak terjadi apapun? seakan kejadian tadi tidak pernah terjadi? Dahi Ferdinand mengeryit saat merasa jika semuanya sangat normal, terlalu normal.


"Panggilkan Solar"


Pelayan yang tiba-tiba mendapatkan perintah menunduk sopan.


"Tadi sore kesatria Solar pergi ke istana, dan hingga sekarang belum kembali, Your Highness"


Satu alis Ferdinand menukik


"Sampai sekarang?"


Pelayan itu mengangguk sebagai jawaban. Ferdinand kambali melangkah untuk menuju dapur dengan isi kepalanya yang mencoba berpikir. Kenapa Solar ke istana?


Di setiap langkahnya, Ferdinand terus mencoba berpikir, bahkan setelah keluar dari dapurpun kepalanya masih berpikir. Terlebih, bukankah harusnya Solar mencari Ruth?


Ahh... mengingat Ruth jadi membuatnya teringat kembali pada ucapan Anastasia. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia bisa saja percaya jika Anastasia tidak akan melakukan hal sekejam itu tapi, karna Anastasia yang tidak menolak dengan tegas tuduhan Ferdinand, dirinya yang sudah terlanjur penuh dengan amarah tidak bisa berpikir jernih.


Nafas panjang Ferdinand berhembus, kepalanya sangat sakit sekarang. Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini, terlalu banyak hal yang mengejutkan untuknya.


"Makanannya sudah siap Your Highness"


"Serahkan padaku"


Pelayan itu dengan patuh langsung memberikan nampan yang berisi sup dan susu hangat pesanan Ferdinand. Ferdinand dengan cepat segera melangkah tapi, langkahnya terhenti sejenak untuk berucap


"Nanti panggil Her Highness ke bawah, katakan jika aku ingin dia makan di bawah bersama ku"


"Maaf Your Highness, tapi Her Highness baru saja tidur dan juga baru saja selesai makan di kamar"


Ucapan pelayan itu membuat Ferdinand membuang nafas panjang. Tentu saja, Ana pasti akan menghindarinya


"Pastikan dia tidak kekurangan apapun. Layani dia dengan baik karna pelayannya tidak ada"


Pelayan itu langsung mengangguk patuh


"Baik Your Highness"


Setelah Ferdinand pergi, pelayan itu hanya menatap ke arah tangga. Dirinya akan mengulur waktu seperti perintah, karna menurut Her Majesty, ada kemungkinan jika Ferdinand akan mengamuk ketika tahu jika Anastasia pergi. Entah mengamuk untuk apa, tapi tugasnya hanya mengulur waktu.


Saat pintu kamar terbuka, Kenna yang tadinya sempat berpikir jika Ferdinand akan lama langsung tersenyum cerah. Dia salah, karna sepertinya Ferdinand tidak menemui Anastasia.


"Ayo makan"


Dengan senyum berbinar, Kenna mengangguk antusias. Ferdinand yang melihat itu hanya tersenyum hangat dan mulai menyuapi sendokan demi sendokan makan pada Kenna.


Kenna yang kembali merasakan perhatian Ferdinand tidak bisa membendung air mata harunya. Ferdinand tahu itu, dia malihat Kenna yang mengusapi matanya, tapi dia memilih untuk tidak ingin tahu jika sekarang Kenna sedang mengingat masa lalu mereka. Masa lalu yang tidak akan bisa Ferdinand berikan lagi.


Sesekali obrolan mereka berjalan, sesekali kekehan terdengar, dan sesekali Ferdinand harus membujuk Kenna agar menghabiskan makannya, hingga isi mangkuk dan gelas susu tandas, Ferdinand membuang nafas lega.


"Selesai"


Kenna mengangguk singkat dan kembali tersenyum sambil berucap


"Kau belum makan Dinand"


"Iya, setelah ini aku akan pergi makan"


Kembali Kenna menganggukkan kepalanya


"Kau akan tidur di sini kan malam ini?"


Dan pertanyaan itu membuat tangan Ferdinand yang baru akan meletakkan mangkuk terhenti di udara sejenak, lalu kembali mendaratkan mangkuk di atas nampan sambil menjawab


"Kita tidak bisa tidur di kamar yang sama Kenna. Kau tahu itu"


Meski rasa kesal mulai merasuki hatinya, tapi Kenna berusaha untuk tenang


"Untuk malam ini saja Dinand, aku tidak ingin sendiri"


"Ken-"


"Her Highness juga pasti mengerti, lagi pula ini semua terjadi karna dia. Bahkan karna dia kita harus mengulur debut Elsa"


Kedua alis Ferdinand mengerut dalam, arah pandangnya menatap Kenna penuh selidik.


"Kenapa karna dia?"


Dengusan kasar Kenna meluncur dari mulutnya, kepala Kenna menunduk sambil memainkan jari-jari tangannya


"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini, tapi aku takut jika tidak memberitahumu, hal ini bisa terulang lagi"


Dengan fokus yang sudah tertuju pada Kenna, Ferdinand menatap lekat kepala Kenna yang masih menunduk


"Katakan saja. Karna sebenarnya aku juga akan bertanya nanti, tapi keadaanmu membuatku untuk tidak ingin membebanimu"


Masih dengan kepala yang masih menunduk, Kenna akhirnya membuka cerita, cerita versi dirinya


"Awalnya, aku datang ke kamar Her Highness untuk berterima kasih karna sudah bersedia menerima Elsa dan membiarkan Elsa untuk debut. Tapi aku tidak tahu apa salahku yang membuat Her Highness menjadi tiba-tiba marah-" Kenna menjedah saat iskannya mulai terdengar, lalu kembali melanjutkan. "Her Highness marah dan mengatakan jika dia sangat membenci ku dan Elsa, dia juga mengutuk anak kita yang tidak bersalah. Aku tentu tidak terima saat dia membawa-bawa Elsa terlebih anak kita, jadi aku menjawab bentakannya, yang ternyata malah membuatnya semakin marah, lalu memanggil Ruth-" Kenna kembali menjedah dan semakin terisak kencang, Ferdinand yang melihat itu meraih tangan Kenna, yang membuat senyum Kenna terbit. Senyum yang tidak bisa di lihat oleh siapapun karna bersembunyi di kepala menunduknya. "Dan setelah Ruth datang, mereka menyeretku ke tangga, aku sudah meminta maaf Dinand, tapi Her Highness tetap medorongku dari sana"


Dan ucapan terakhir Kenna, membuat tangan Ferdinand melepaskan tangannya dari tangan Kenna. Kenna yang melihat itu mengangkat wajahnya yang sudah banjir air mata. Ferdinand mengerutkan alisnya dengan sangat dalam


"Kau bilang Ana yang mendorongmu?"


Dengan keyakinan penuh, Kenna mengangguk yakin


"Iya"


"Kau yakin?"


"Tentu saja Dinand, aku bahkan terus memohon pada Her Highness sebelum dia dengan sengaja mendorongku seperti dia mendorong Elsa dulu"


Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat, hingga Ferdinand tanpa mengatakan apapun lagi langsung berlari keluar kamarnya, bahkan dia mengabaikan panggilan Kenna.


Ferdinand terus melangkah untuk menuju tangga, arah pandangnya sempat melirik ke depan pintu kamar Anastasia, tapi dia memutuskan untuk mencari tahu dengan cara lain


"Stefan!!"


Setelah berulang kali meneriakan Stefan, dengan tergopo-gopo Stefan datang bahkan dengan menggunakan alas kaki yang berbeda, rambut memutihnya pun masih tampak basah


"Maaf Your Highness. Saya tadi sedang berendam"


"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi tadi, kenyataan dan setiap detailnya"


Stefan langsung mengangkat kepalanya, menatap wajah Ferdinand yang sudah menatapnya dengan raut tidak terbaca


--000--


Di sisi lain, George membuang nafas panjangnya setelah membaca surat yang baru datang pada waktu hampir tengah malam waktu Francia. Tangan tua George terus memijat pelipisnya yang berdenyut, wajahnya terus meringis. Dan gerakan serta raut wajah itu, membuat Edward menatapnya dengan pandangan khawatir yang di paksakan


"Apa akhirnya kau akan sakit lalu mati seperti pria tua normal pada umumnya George?"


Ucapan Edward membuat Carl langsung tersedak tehnya. George yang mendengar itu melemparkan bantalan sofa sambil mendengus


"Aku tidak akan mati sebelum kau mati"


Ucapan George langsung membuat Edward bergindik


"No!!!! Aku tidak sudi di makamkan olehmu George, jadi tolong matilah secepatnya"


Dan kembali, satu bantal melayang di kepala Edward yang memang membiarkan bantal itu untuk melayang padanya, lalu mulut Edward terkekeh bersama Carl yang sudah terbahak. Hingga suara George menghentikan tawa mereka


"Ana tidak akan bisa menjadi biarawati lagi karna Ferdinand ternyata sudah memaksanya untuk melakukan penyatuan. Ruth tadi bercerita padaku"


Wajah bahagia Edward lenyap, Carl yang mendengar itu mendengus kasar


"Well... dia bertindak cepat sesuai nalurinya-" Carl menjedah, lalu melirik Edward yang sudah memutar bola matanya dengan malas. "Castalarox dengan semua naluri kepemilikannya"


George hanya menggaruki pipi tuannya yang tidak gatal, lalu kembali bersuara


"Tapi meski begitu, hati seorang wanita, harga diri seorang istri yang sudah terluka parah bahkan sudah membeku tidak akan mudah untuk di raih lagi-" George mengkat cangkirnya sambil kembali melanjutkan ucapannya. "Atau bahkan mungkin tidak akan pernah bisa di raih lagi. Selamanya"


Edward hanya diam, dengan Carl yang hanya menatap pekatnya langit malam. Setelah George berucap, keheningan terjadi di antara mereka. Walaupun mulut ketiga pria di sana diam, tapi isi kepala mereka memikirkan pemikiran yang sama. Entahlah.. hanya para pria itu yang tahu.


*


*


Langit tengah malam yang pekat malam ini tampak sangat indah. Terpaan angin malam membuat tangan itu mengeratkan mantelnya sambil terus menikmati terpaan angin laut yang jauh lebih menusuk.


Bibir itu terus tersenyum menatap kilauan air laut yang tampak seperti berlian karna cahaya bulan. Sesekali kapal bergerak saat ombak sedikit kuat tapi, gerakan itu malah semakin membuat dirinya bersemangat.


Semangat karna tiap goyangan kapal terus meyakinkannya jika dia benar-benar sedang berada di atas kapal laut untuk pergi berlayar. Berlayar kemanapun yang dia inginkan, pergi kemanapun yang dia inginkan.


Tubuhya masih berdiri di ujung kapal menikmati semua keindahan ciptaan Tuhan. Betapa indahnya berkat Tuhan dan betapa beruntungnya dia bisa menikmati semua berkat ini. Dirinya kembali mengucap syukur di dalam hatinya, semua rasa terimakasih karna Tuhan selalu baik padanya, meski orang lain selalu mengatakan padanya jika dia menyedihkan. Tapi, dia tetap merasa selalu beruntung dengan semua cara yang Tuhan berikan padanya. Seperti sekarang, tidak semua orang bisa menikmati pemandangan laut malam dengan dirimu yang sedang berlayar di tengah-tengah laut langsung kan?


Kekehan halus terdengar dari mulutnya saat perutnya terasa tergelitik geli karna kapal yang bergerak karna obak laut. Tangan kirinya yang polos terulur ke udara, mengarah ke langit pekat malam seolah sedang akan mencapai sesuatu. Bibirnya tersenyum bahagia sambil berucap lembut


"Ibu....... Aku bebas"


Hari itu... di bulan kedua musim gugur. Daun-daun di atas pohon yang sudah berguguran terus terbang terbawa angin. Terus terbang dengan kuat untuk merasakan kebebasannya, meski daun itu sudah kering dan rusak, meski daun itu harus berpisah dari tempat asalnya dan semua daun yang lain, tapi daun yang sudah kering dan rusak itu sudah bebas.... terbang melayang mengikuti kemana angin membawanya..... menjelajah dan merasakan semua tempat yang tidak pernah di lihatnya.


\=\=\=❤❤❤❤


..........THE END.........


Tapi becanda kok


Hehhe....


Silahkan jejaknya...