Marrying The Prince

Marrying The Prince
Chapter IV - On Board


Jane memandang berkeliling sembari duduk di kursi penumpang. Pesawat jet Kerajaan Vlada sangat mewah dengan dinding kabin dilapis beludru. Kursinya dapat direbahkan. Makanan yang dihidangkan pun sangat menggoda.


Jane tidak ingin pergi dari kota tempat tinggalnya, tetapi dia berbohong jika tidak terkagum-kagum oleh pemandangan yang dilihatnya dari langit. Dia tidak pernah tahu persis letak Vlada, tapi sekarang dia tidak peduli. Dirinya hanya ingin menikmati lampu-lampu yang berkilauan dalam gelapnya dini hari.


Pepohonan rimbun, rumah di atas bukit, padang rumput yang luas, kincir angin. Semua dapat terlihat dikarenakan terpantul sinar bulan purnama.


"Vlada berada di dataran tinggi. Tanahnya pun subur, sehingga kami menjadi penghasil anggur terbesar di Eropa. Peternakan kami mampu mengekspor susu sapi ke negara-negara tetangga. Kami juga merupakan negara penghasil minyak bumi," pria penculik Jane menerangkan dengan nada bangga.


"Wow! Kalian sangat kaya!" puji Jane.


Pria itu tersenyum sambil mengangguk.


Pesawat jet mendarat di bandara ibukota Vlada, Stalica. Jane digandeng oleh seorang pramugari cantik yang tadi juga mengantarkan makan malam enak di atas pesawat. Jam menunjukkan pukul 1 pagi waktu New York, tapi bagi Jane, ini bukan saatnya tidur. Mana mungkin dia bisa tidur tenang di antara orang-orang tak dikenal yang menculiknya.


"Welcome to Vlada, Miss Watson," sambut seorang wanita berambut coklat disanggul rapi berbentuk setengah bola. Wanita itu mengenakan setelan jas kerja berwarna putih. Dia membawa sebuah map yang erat digenggamnya di tangan seolah isinya sangat penting sampai harus dijaga dengan nyawanya. "My name is Carrie," katanya sambil mengajak Jane bersalaman.


Jane menyambut jabatan itu dan mengangguk sopan. Angin malam begitu menusuk sampai membuatnya merinding.


"Coat," kata Carrie sembari menjentikkan jari. Secepatnya, seorang pria di belakangnya memakaikan mantel di pundak Jane. Carrie tersenyum puas.


"Thanks," ucap Jane malu-malu.


"Please follow me, Miss Watson."


Jane mempercepat langkahnya hingga sejajar dengan Carrie. "Kau bisa memanggilku Jane saja," katanya.


"I'm sorry, Miss Watson. Kami dilarang untuk memanggil Anda dengan Jane," Carrie tetap berjalan tegap. Sesekali dia mengintip isi mapnya. Langkahnya cepat dan pasti menuju pintu masuk bandara.


"Siapa yang melarang?"


"Pangeran."


"Pangeran? Jadi dia yang merencanakan penculikan ini? Tapi bukankah dia sudah menolak?"


"Kami tidak tahu mengenai hal itu, Miss Watson."


Jane menghela napas. "Memang aneh pangeran itu," gerutunya, membuat Carrie tersenyum.


"Pangeran ingin bertemu denganmu. Kami harap kau mengerti," kata Carrie sopan.


Jane mengikuti Carrie berjalan menyusuri lorong bandara yang masih dipenuhi pengunjung. Kalau dilihat, penduduk Vlada tak jauh berbeda dengan penduduk Amerika secara fisik. Kulit putih, kulit hitam, mata biru, mata hazel, mata hitam, hidung mancung, dan sebagainya. Bahasa sehari-hari mereka pun adalah bahasa inggris.


Banyak orang memperhatikan rombongan Jane yang tidak perlu melewati bagian pemeriksaan. Carrie cukup menunjukkan kartu pengenalnya, maka mereka semua bebas masuk.


Carrie terlihat menelepon seseorang. Tak lama kemudian, mobil limousine datang menjemput. "Silakan, Miss Watson," ucapnya seraya membukakan pintu.


Jane, Carrie dan 2 orang pria duduk melingkar di dalam mobil panjang itu.


"Maafkan kami karena tidak memberimu waktu untuk membawa pakaianmu. Namun, kami telah menyiapkan segala kebutuhanmu di istana."


"Cih... istana," Jane memutar bola matanya. "Kalian menyiapkan apa? Gaun?" sindirnya.


"Tidak semuanya gaun. Kami memiliki koleksi busana musim panas dan musim dingin yang sekiranya pas di badan Anda, lengkap dengan aksesorisnya."


"Aksesoris? Topi berbulu?"


Perjalanan mereka dari bandara ke istana terasa cukup lama. Mata Jane sudah sangat lelah dan dia memaksanya untuk tetap terbuka.


"Jika Anda ingin tidur, silakan, Miss Watson. Akan kami bangunkan bila sudah tiba di istana," kata Carrie.


"Kalian yakin tidak akan berbuat aneh-aneh padaku?" Mata Jane menyipit.


"Maksud Anda , seperti apa?"


"Bisa saja kalian membawaku ke tanah kosong, lalu memotong pita suaraku, dan menguburku hidup-hidup."


"Ya, Tuhan!" Carrie terkejut mendengar apa yang barusan Jane katakan. "Kami tidak mungkin melakukan kejahatan seperti itu, Miss Watson."


Jane tertawa. "Aku hanya bercanda. Bolehkah kalian tidak menatap wajahku saat aku tidur?"


Carrie menggangguk dan memberi kode kepada 2 teman prianya untuk menuruti permintaan Jane. Serempak, mereka mengubah posisi duduk dan menoleh ke luar jendela.


😌😌😌😌😌


Rasanya sebentar sekali Jane terlelap, tapi Carrie sudah membangunkannya. Mata Jane melotot melihat Carrie karena baru ingat dia dibawa ke Vlada secara paksa. "Jam berapa sekarang?" tanyanya.


Carrie melirik jam di ponselnya. "Sekarang pukul tujuh pagi, Miss Watson. Anda tertidur selama dua jam."


"Oh... Cepat sekali waktu berlalu," Jane merentangkan kedua tangannya dan menguap selebar mungkin.


"Maaf, Miss Watson, Anda memiliki..." Carrie menunjuk sudut bibirnya Jane.


"Huh? Ada apa?" Jane tidak mengerti, tapi mengusap tempat yang dimaksud Carrie. Wanita itu terkejut sekaligus malu karena sekarang jarinya basah terkena liurnya sendiri. "Oh... Sorry," ucapnya pelan.


"It's fine," Carrie kembali tersenyum. "Silakan turun, Miss Watson. Pangeran sudah menunggu Anda."


🤤🤤🤤🤤🤤


Jane kembali mengikuti Carrie memasuki gerbang kokoh Fadar Palace, istana Kerajaan Vlada. Taman luas nan hijau segera menyejukkan mata. Di tengah-tengahnya berdiri patung mermaid yang dikelilingi oleh kolam ikan koi. Bunga berwarna-warni menghiasi setiap sudut taman, menambah keindahan.


Fadar Palace memiliki lapangan tempat para tentara keamanan mengadakan upacara resmi. Setiap sisi bangunan dijaga oleh setidaknya 2 orang tentara berseragam merah-hitam dan bersenjata laras panjang. Mereka berwajah garang dan berbadan besar.


Bangunan istana dominan berwarna putih dengan ukiran keemasan. Besarnya puluhan kali apartemen Jane di Bedford.


Sebuah pintu tebal dan tinggi terbuka dari dalam. Seorang pria yang berdiri di sebelah pintu berhasil membuat Jane terkejut dengan teriakannya, "Miss Jane Watson from New York has arrived!" Suaranya nyaring bergema di dalam ruangan.


Ada 3 jalan yang ditemui ketika masuk ke dalam bangunan istana. Jalan yang tengah tidak ada pintu. Jane dapat mengintip lebih ke dalam lagi jika Carrie tidak mengajaknya ke ruangan sebelah kiri.


"Silakan masuk, Miss Watson. Pangeran ada di dalam," kata Carrie sebelum membuka pintu.


Jane masuk melewati pintu terbuka itu dan dia menemukan seorang pria yang sedang duduk di kursi kebesarannya di belakang meja marmer. Melihat pria itu, Jane bingung. "Siapa kau?"


⚘⚘⚘⚘⚘


**bersambung ke chapter selanjutnya!


gimana chapter ini? minta like dan komen dooonks...


see ya**...