Marrying The Prince

Marrying The Prince
Chapter XXI - Tense



Aileen memperhatikan mereka berdua, rambut Jane yang basah dan sepatu sneakers Thomas yang tidak diikat. Tentu ada rasa jengah di antara dirinya dan pria itu, tetapi dia mencoba menutupinya. "Good evening, Tom," sapanya seraya merapikan pakaiannya.


"Hi," balas Thomas. "Kau ada di sini."


"Ya. Aku ingin mengunjungi Phillip. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Nampaknya dia rindu sekali padaku," Aileen tersenyum. "Tadi kami sempat minum sebentar, lalu berbicara soal perayaan panen pekan depan."


"Oh." Sebenarnya Thomas sama sekali tidak ingin tahu apa yang Aileen dan sepupunya lakukan. "Kalau begitu, kami masuk dulu," katanya.


"Sebaiknya kalian menunggu sebentar lagi. Dia sedang merapikan... meja," kata Aileen sambil tersipu, berpura-pura bahwa dirinya telah bermesraan dengan Phillip hanya untuk membuat Jane cemburu.


"Kalian..." Thomas setengah percaya kepada wanita itu.


"Begitulah. Dia sangat bersemangat," Aileen sengaja berbohong, berharap Jane marah.


Namun, Jane hanya diam. Dia tidak begitu peduli Phillip mau bercumbu dengan siapa pun. Malah dia bersyukur karena kalau itu benar, maka Phillip tentu tidak akan marah padanya.


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi, Jane," pamit Aileen.


"Ya. Hati-hati di jalan," sahut Jane.


Thomas mengajak Jane masuk ke ruang kerja Phillip yang dipenuhi dengan buku itu. Dilihatnya Phillip memang sedang membersihkan meja tamunya dari 2 gelas kaca pendek dan sebuah buku.


Phillip boleh lega melihat Jane pulang dengan selamat, tetapi dia tidak menyangka Jane akan datang bersama sepupunya.


"Ternyata benar," kata Thomas, merujuk pada perkataan Aileen tadi.


"Phillip, maafkan aku," ucap Jane. "Aku lupa memberi kabar."


Phillip tersenyum. Dia menghampiri Jane. "Tidak apa-apa. Yang penting kau sudah pulang. Kenapa kau basah begini? Sepertinya tidak hujan di luar."


"Aku mengajaknya berenang," jawab Thomas.


"Benarkah?" Phillip menatap Thomas tajam.


"Aku tak sengaja bertemu dengannya di jembatan, lalu dia mengajakku berenang di Ain River," Jane berusaha menjelaskan, berharap mungkin penjelasannya sedikit menurunkan tensi Phillip.


"Oh begitu," ujar Phillip. Pria itu enggan membayangkan bagaimana Jane dan Thomas berenang di sungai. Dia lebih memilih untuk tidak memikirkannya karena akan mengubah penilaiannya terhadap mereka. "Makanlah dulu. Aku sudah meminta Chloe menyisakan makanan untukmu."


"Oke, Phillip," Jane menuruti saran Phillip yang saat ini lebih tepat berperan sebagai seorang ayah pemaaf. Setelah apa yang dikhawatirkannya tak berarti apa-apa, Jane melaksanakan perintah pangeran itu lebih demi dirinya sendiri. Tentu Jane tidak ingin Phillip menganggapnya tidak tahu diri, sudah menumpang tinggal di istananya, masih saja bandel.


Jane keluar tanpa menoleh. Tinggallah Phillip dan si biang kerok, Thomas. Kedua pria tampan itu berhadapan dan masing-masing memiliki pertanyaan yang memerlukan tuntutan jawaban.


Thomas melirik buku yang dipegang Phillip. "Kau membaca buku itu?" tanyanya.


"Ya, tetapi tampaknya Aileen tidak menyukainya," jawab Phillip sambil mengembalikan buku tersebut di rak. "Kau mau minum? Ah, maaf, aku harus mengambil gelas baru. Tadi dia minum sedikit."


Thomas menunduk. "Dia sudah cerita," ujarnya. Pria itu sendiri heran kenapa sekarang suasana terasa sepi dan tegang, seolah-olah dirinya mempunyai dosa besar terhadap Phillip. Padahal, sepupunya itu juga perlu menjelaskan tentang apa yang baru saja dirinya dan Aileen lakukan. Dilihatnya meja itu sedikit basah. "Aileen membacanya juga?"


"Dia bahkan tidak mau membaca sinopsisnya."


Thomas tersenyum. "Tipikal Aileen," komentarnya.


Phillip berjalan menuju meja kerjanya dan meraih gagang pesawat telepon. Dia menekan beberapa tombol, lalu berkata, "Chloe, bawakan gelas ke ruang kerja. Terima kasih."


"Kau tak perlu repot, Phillip."


"Sepertinya kau butuh minuman untuk menghangatkan badan," sindir Phillip.


Lagi-lagi Thomas tersenyum. "Thanks," ucapnya menerima sindiran Phillip. Dia duduk di sofa sambil tetap memperhatikan noda basah di meja kopi Phillip. "Kau tidak akan membersihkannya?" tanyanya, memancing agar Phillip memberi tahu noda bekas apa itu.


"Biar Chloe saja. Itu hanya air dari gelas Aileen. Dia minum gin."


Thomas mengangguk-angguk. Dalam hati, dia tertawa. Kebohongan Aileen baru saja terbukti.


"Kenapa kau senyum-senyum begitu? Apa ada yang lucu?" Saatnya Phillip bertanya. Dia sangat ingin tahu apa yang terjadi setelah dia meninggalkan Jane di Silta Bridge.


"Tidak. Aku hanya teringat perkataan seseorang yang kukenal. Dia begitu percaya diri ketika mengatakannya, tapi kenyataannya tidak seperti itu."


Phillip duduk di seberang Thomas dengan satu kaki bertumpu pada kaki yang lain. "Apa kau masih mau bertahan dalam pertarungan ini?" tanyanya. Kedua matanya memicing, tanda bahwa dirinya mencoba membaca pikiran lawan bicaranya.


"Ya. Aku tidak akan mundur," jawab Thomas mantap. "Kau?"


"Peluang kita sama di sini," Thomas tidak mau terlalu percaya diri, sehingga dia bermain kata.


Phillip mendengkus. "Aku tidak yakin," ujarnya.


"Kenapa?"


"Nampaknya dia lebih suka padamu. Apalagi setelah kalian berenang bersama di sungai."


Thomas tersenyum miring. "Kau cemburu?"


"Kuakui, ya."


"Wow, you really like her, don't you?"


"Yes," ujar Phillip. Dia tidak pernah main-main dengan perasaannya. Baginya, seorang pria harus tulus dalam melakukan segala hal. "You?"


"I do."


"Jadi, pertarungan ini tetap berlanjut?"


"Ya."


🦌🦌🦌🦌🦌


Jane merasa segar setelah mandi. Dia telah meminta Chloe menghangatkan makanan dan membawanya ke kamar. Perutnya sudah keroncongan saat pelayan manis itu datang.


Chloe meletakkan nampan berisi 3 macam makanan di atas meja. "Silakan, Miss Watson. Aku permisi dulu," pamitnya.


"Tunggu, Chloe. Maukah kau menemaniku lagi?" tanya Jane.


Chloe tersenyum. "Tentu, Miss Watson," jawabnya seraya duduk di lantai seperti waktu pertama kali Jane minta ditemani makan malam.


"Terima kasih."


Mereka berdua mengobrol soal keluarga. Chloe enak diajak bicara. Meski usianya masih muda, cara berpikirnya seperti orang dewasa. Orangtuanya berada di kampung halaman, yaitu di Kyla Village. Perjalanannya hanya 3 jam dari Stalica dengan menggunakan kereta.


Para pelayan istana diizinkan pulang kampung hanya sekali dalam setahun, bergiliran dengan rekan sesama pelayan. Tahun ini, Chloe belum mengambil cuti tersebut.


"Aku jadi ingin mengunjungi desamu, Chloe. Sepertinya menyenangkan hidup di desa," kata Jane berandai-andai. Biasanya dia disibukkan dengan kehidupan kota New York, the city that never sleeps. Kini dia sudah merasakan perubahan di Vlada, dia semakin ingin keluar dari cangkang.


"Tentu saja Anda boleh berkunjung ke Kyla Village. Nanti akan kuminta ibuku membuatkan Anda makanan khas di sana," Chloe tak kalah bersemangat dengan Jane. "Tapi, Anda pasti akan sibuk bila sudah menikah dengan Prince Phillip."


"Siapa yang bilang aku akan menikahi Phillip?"


"Oh, maafkan aku, Miss Watson. Aku baru tahu Anda memilih Prince Thomas untuk menjadi pendamping Anda."


Jane menggelengkan kepala. "Aku belum bisa memutuskannya sekarang," katanya.


Chloe tersenyum. "Aku mengerti. Anda pasti butuh waktu lebih lama. Mungkin Anda akan dapat menentukan pilihan saat perayaan panen nanti."


"Omong-omong perayaan panen, seperti apa acara itu?"


"Di Vlada, kami merayakan panen setahun sekali. Hasil panen yang dimaksud adalah buah-buahan seperti jeruk, apel, plum, dan sebagainya. Sebelum mulai memetik hasil panen, Yang Mulia Queen Charlotte akan berpidato singkat. Kami mengucapkan syukur atas hasil perkebunan yang melimpah dan setelah selesai memanen, akan ada acara minum teh bersama Sang Ratu."


"Sang Ratu? Maksudmu nenek dari Phillip dan Tom?" Kedua mata Jane terbelalak.


"Betul, Miss Watson. Orangtua dari kedua pangeran itu juga akan turut menghadiri acara."


🍎🍎🍎🍎🍎


Bersambung ke chapter selanjutnya!


Maaf ya kelamaan update, karena belakangan ini aku lebih sibuk daripada biasanya. Aku usahakan bisa nulis di sela2 kegiatan. Walopun cuman sedikit2 tapi lama2 pasti kelar kan hehehe...


Gimana chapter kali ini? Kok aku nulisnya tegang ya waktu Phillip lagi ngobrol sama Thomas hahaha~


Minta like, vote, dan comment yah guys..


See ya all~