
Sudut separuh bibir Ferdinand kembali tertarik keatas. Ternyata benar, jika Duke Ryes bukanlah seorang bandit perampok pemimpin pasukan biasa. Bisa menahlukkan dan merebut empat kerajaan pasti membuatnya menjadi pria yang tidak bisa di remehkan, bahkan untuk Ferdinand sendiri.
Arah pandang Ferdinand melirik semua pria bajingan di sana, di mana para pria di sana baru bisa menyadari jika sudah ada beberapa kesatria Francia yang akhirnya muncul dari persembunyian mereka. Lalu arah pandang Ferdinand melirik Anastasia yang sudah terlihat terkejut, sama terkejutnya dengan para perawat dan suster.
"Sayang, bawa teman-temanmu menjauh. Dan bawa juga semua pasien secepat yang kalian mampu bersama Carl dan Xander"
Dengan patuh Anastasia mengangguk, dan langsung menuju ke arah kerumuan teman-temannya yang jelas tampak bingung.
Setelah melihat istrinya yang mulai bergerak membawa teman-temannya tanpa gangguan, Ferdinand kembali menatap Ryes. Menatap Ryes yang sudah menyeriangi.
"Ahh... kalian kerajaan Francia ternyata"
Ryes berguman sambil kembali memainkan pedangnya.
"Rai! mereka membawa wanitaku! siapa mereka itu sialan! apa mereka tidak tahu siapa aku hah!!!"
Teriakan Richard membuat Benji dan Basco kembali harus menahan tubuh Richard. Benji berbisik dengan pelan pada Richard yang sudah meronta-ronta.
"Your Highness, wanita itu bukan wanita biasa. Dia istri seorang pangeran Francia"
Ucapan Benji tidak di dengarkan oleh Richard, dirinya yang terus meronta akhirnya bisa melepaskan diri dari cengkaman Benji dan Basco. Langkah Richard dengan cepat langsung mengejar arah langkah Anastasia sambil memegangi pedangnya.
Tidak ada siapapun di sana yang mencoba menahan Richard, sama halnya dengan Ferdinand yang hanya diam tanpa memberikan perintah pada sisa empat kesatria emas Fredrick yang lain. Mereka para kesatria yang dengan patuh hanya berdiri di tempat mereka masing-masing
"Berhenti kau!!!"
Para perempuan dan Anastasia yang baru akan melangkah menuju bangunan kamar-kamar langsung mempercepat langkah mereka saat melihat Richard, kecuali Anastasia yang langsung menghentikan langkahnya tanpa menunjukkam raut wajah takut. Meskipun Anastasia tidak mengerti kenapa Ferdinand tidak memberikan perintah apapun pada para kesatria yang sudah ada di sana, tapi dirinya yakin untuk menjadi sedikit batu penahan agar langkah teman-temannya bisa langsung pergi.
Langkah Richard semakin maju, hingga saat dirinya sudah mulai cukup dekat dengan Anastasia, tangannya terangkat, tapi,
SRANGG!!
Richard memekik, sambil memegangi sebelah tangannya yang sudah melepaskan pedang dan berdarah.
"Terlalu lancang untuk anda meneriaki dan berani mengangkat pedang pada seorang Putri kerajaan, Pangeran Richard"
Suara datar seorang perempuan yang tiba-tiba muncul membuat semua mata langsung menatap ke arah suara. Di sana, di depan Anastasia, Francesca muncul dengan pedangnya yang sudah melukai Richard.
"Berani sekali kau orang-orang miskin! Aku akan membuatku mati di-"
Mulut Richard langsung mengatup saat ujung pedang Francesca sudah menyentuh mulutnya tanpa ampun dan tanpa basa basi.
Dengan dagu terangkat tinggi, kedua bahu terangkat tegas, dan raut wajah menatap Richard dengan datar, Francesca berucap dingin
"Bukalah mulutmu sekali lagi, maka aku akan memberikan pelajaran pada pangeran tidak berpendidikan sepertimu, Pangeran Richard"
Langkah Richard langsung mundur hingga kakinya tersandung dan bokongnya mencium tanah. Melihat Richard yang sudah menerima ancaman tidak main-mainnya, Francesca berucap datar pada Anastasia.
"Pergilah An"
Sambil menahan rasa rindu dan dengan jari yang mengusapi sudut matanya, kepala Anastasia langsung mengangguk patuh sambil tersenyum pada Francesca, pada saudari iparnya yang sudah seperti saudarinya sendiri itu.
Setelah Anastasia dan para perempuan lain pergi, Francesca melangkah menuju ke tempat Ferdinand. Langkahnya melewati begitu saja tubuh Richard yang mulai terisak di atas tanah dengan tangan yang terus memegangi luka besar di sebelah tangannya.
Kedatangan Francesca di tengah-tengah para pria itu di sambut kekehan dingin Ryes
"Well well well.. kejutan! kejutan!" Ryes bersorak tanpa rasa senang, lalu menatap Francesca dan Ferdinand bergantian. "Kalian melukai seorang pangeran Bosnia"
"Lalu?"
Ferdinand berucap datar sambil melirik Francesca yang sudah mengibaskan pedangnya, mengibaskan pedangnya untuk membersihkan pedang dari bekas darah Richard.
"Kalian tahu jika ini bisa membuat sebuah perang"
"Dan maka terjadilah"
Francesca berucap datar menjawab ucapan Ryes, dengan arah pandang datarnya yang sudah menatap Ryes
Ryes yang di tatap langsung tersenyum dengan penuh pesona. Arah pandangnya terus menatap Francesca tanpa bisa teralihkan. Ternyata benar rumor yang beredar, jika Putri Mahkota kerajaan Francia sangat cantik dan luar biasa membuat berdebar. Seperti dirinya sekarang, yang sudah berdebar karna menatap bola mata abu-abu dingin dan wajah datar cantik Francesca.
"Hhm.. kerajaan Francia memang sangat berani-" Ryes menjedah, dan tanpa basa basi langsung maju menuju Francesca dengan sebelah tangan menengadah. Jelas meminta tangan Francesca untuk di kecupnya seperti layaknya seorang gentleman sejati yang ingin berkenalan tapi, ketidak inginan dan penolakan nyata Francesca kembali membuat Ryes menarik tangannya, lalu terkekeh. "Anda sangat dingin Your Highness"
Dengan tidak peduli, Francesca mengabaikan Ryes dan langsung melirik Ferdinand sambil berucap
"Kau tampak seperti gembel Dinand"
Sindiran tanpa basa basi Francesca membuat Ferdinand berdecak tidak suka
"Satu minggu saja kau tinggal di sini, kau juga akan sama gembelnya seperti aku Frans"
Ryes dalam diamnya terus menatap dua saudara kembar itu, hingga pergerakan seorang kelompoknya, mambuat ke empat kesatria Raja Fredrick yang ada di sana langsung menarik pedang mereka. Ryes yang melihat itu, langsung menoleh pada Benji yang akhirnya mengerti jika mereka tidak bisa sembarangan bergerak. Karna para kesatria yang menggunakan lambang Raja di sebelah lengan baju kanan mereka itu, bukanlah lawan sembarangan. Dan mereka harus berhati-hati meski jumlah mereka jauh lebih banyak.
Akhirnya Ryes membuang nafas panjang, arah pandangnya kembali menatap Francecsa dan Ferdinand yang tampak mulai sibuk saling berdebat.
"Your Highness"
Suara Ryes membuat perdebatan saudara kembar itu terhenti, mereka menatap Ryes yang sudah memasukkan pedangnya ke dalam sarung.
Gerak gerik Ryes, membuat satu alis Ferdinand menukik tinggi, dengan Francesca yang hanya menatapnya dengan datar. Ryes yang di tatap hanya kembali menatap Francesca dengan senyum tebar pesonanya
"Bagaimana jiku kita sedikit berbincang dalam kedamaian?"
"Pergilah"
Tanpa berniat ingin berbasa basi, Francesca langsung berucap. Ucapannya yang langsung membuat Ryes mulai kesal dan tersinggung.
"Jangan kelewatan Your Highness, saya sudah menco-"
"Pergilah dengan damai Duke Ryes, atau anda lebih suka jika terjadi ketidak damaian di sini?"
Dan ucapan sangat tidak ramah Ferdinand itu kembali membuat Ryes langsung menarik pedangnya.
Tarikan pedang dengan raut wajah dingin Ryes langsung membuat Ferdinand dan Francesca siaga. Para kesatria yang ada di sana juga langsung siaga saat Ryes yang sudah kehilangan kesabarannya, berucap dingin
"Baiklah, mari kita saling bunuh jika bergitu"
Srangg!!!
Secepat kilat Ryes memulai pergerakan yang langsung di ikuti semua pergerakan pria berpedang di sana. Hingga suara-suara pedang yang saling bergesekan mulai memenuhi suara-suara di lapangan.
Ferdinand langsung menahan pergerakan dan melempar pedang Ryes yang langsung mengincar Francesca. Francesca yang melihat itu, langsung mengambil kesempatan ikut mengayunkan pedangnya, tapi Ryes dengan sangat cepat menahan dan mendorong pedang Francesca. Ferdinand dan Francesca sempat saling melirk sejenak, hati mereka sama-sama saling memberikan pesan jika 'pria itu lebih berbahaya dari dugaan kita, berhati-hatilah'
SRANGG!!
Ryes tanpa beban terus meladeni pergerakan pedang dua saudara kembar itu. Dengan kedua bola mata menggelap dan hawa membunuh yang kuat, tangannya terus bergerak mengincar Francesca. Francesca yang sudah sangat serius terus menahan, mengambil kesempatan saat Ferdinand maju, dan terus mencari cela agar pedangnya bisa menyentuh daging Ryes.
SRANGG!
SRANGG!!
Suara-suara pedang dari para orang-orang yang sangat terlatih di lapangan membuat kebisingan dan langsung menarik perhatian. Para pasien yang terdekat dari terjadianya perkara, para pasien yang sedang di bantu para perawat, dan juga oleh Carl dan Xander, langsung mempercepat langkah mereka untuk segera pergi menjauh ke tempat yang lebih aman.
Ryes kembali melayangkan tangannya pada Ferdinand, saat dirinya baru saja berhasil menggoreskan sedikit luka pada pipi Francecsa. Ferdinand dengan sigap menahan, dan langsung melempar pedang Ryes. Dengan gerakan secepat kilat, Ferdinand langsung mengayunkan pedangnya dengan serangan yang menuju perut Ryes tapi, Ryes berhasil menghindar dengan sebelah tangannya yang dengan sangat siaga langsung menahan pedang terayun Francesca.
SRAANGG!!
SRAANGG!!!
"Pergilah Frances!"
Ucapan saudara kembarnnya di jawab Francesca dengan gerakan pedangnya yang terayun pada wajah Ryes. Dan berhasil! Francesca berhasil membalas luka untuk luka di wajahnya pada wajah Ryes.
SRANGG!
Dengan mulai merasa sedikit kewalahan, Ryes kembali mengayunkan pedangnya pada Ferdinand. Ferdinand dengan cepat menepis pedang Ryes tapi, ternyata pergerakannya membuat pedang Ferdinand terlepas. Dan tanpa bisa mereka baca sedikitpun, tangan Ryes secepat kilat bergerak pada leher Francesca. Ferdinand yang melihat itu langsung berteriak
"FRANCES!"
Srangg!!
Francesca memegangi lehernya yang tergores dan berdarah hingga langkahnya menjadi terhenti. Ryes dengan cepat mengambil kesempatan melompat dan langsung menjulurkan pedangnya pada Francesca, benar-benar menunjukkan niatnya untuk membunuh siapapun yang sedang menjadi lawannya sekarang. Francesca tersentak saat tiba-tiba Ferdinand sudah memeluknya hingga tubuh mereka terlempar ke atas tanah.
"TOMYYY!!!"
Untuk hal yang sangat jarang sekali terjadi, Francesca berteriak. Berteriak meminta tolong saat merasakan rasa basah di sebelah tangannya yang sedang memeluk pinggang Ferdinand.
Suara teriakan perintah putus asa Putri Mahkota mereka membuat semua pergerakan kesatria, tidak hanya Tomy, mereka semua yang langsung bergerak membabi buta melukai siapapun yang ada di depan mereka. Hingga dua lawan Tomy yang berhasil di singkirkannya membuat Tomy segera memutar otak. Langkah Tomy dengan sangat cepat segera berlari menuju seseorang yang masih memegangi tangan berdarahnya sambil menonton setiap pertempuran.
Kedatangan Tomy yang sangat cepat, membuat Richard tidak bisa menyadari keadaan, dan hanya bisa diam pasrah saat lehernya sudah terpasang pedang Tomy.
"Your Grace!!!"
Ryes yang tadinya akan mulai bermain-main dengan dua saudara kembar, dua saudara kembar yang sekarang sudah cukup tidak berdaya dengan terus saling memeluk di atas tanah, merubah arah pandang Ryes. Arah pandang bengis Ryes langsung berubah pada Tomy.
Satu alis Ryes menukik tinggi sambil menatap Tomy dengan dingin di tengah-tengah suara-suara pedang yang mulai sedikit lebih hening. Karna beberapa orang di kelompok Ryes, sudah di buat tergeletak di atas tanah dengan tidak bernyawa.
"Hhmm.. kau berani menyentuh seorang Pangeran Bosnia?"
Suara tenang Ryes di balas Tomy dengan gerakan pedangnya yang semakin menekan leher Richard, pada Richard yang sudah menangis ketakutan.
"Bahkan, dengan membunuh seorang Pangeran saja tidak akan cukup untuk membayar anda yang sudah melukai seorang Putri Mahkota dan Pangeran kami, Your Grace"
Solar berucap tajam sambil langsung melangkah dan membantu Ferdinand yang tampak meringis saat sebelah pinggangnya sudah penuh dengan darah. Francesca yang akhirnya bisa melihat dengan jelas warna merah yang terus mengalir di sebelah pinggang kembarannya, langsung menangkup wajah Ferdinand dengan cemas
"Dinand?"
"Ck! aku baik-baik saja, jangan menagis"
Ferdinand berucap tidak suka sambil menekan lukanya. Francesca yang sudah di beri peringatan, menarik nafas dalam untuk menekan segala rasa sesak di dalam dadanya.
Arah pandang Francesca menggelap, menatap Ryes yang dengan santai kembali memain-mainkan pedangnya.
"Bedebah!"
"Hm?"
Arah pandang Ryes turun, untuk menatap arah suara yang sudah mengumpatinya. Menatap kedua bola mata abu-abu mengkilap penuh amarah Francesca. Tatapan Francesca yang tampak sangat sexy membangkitkan naluri liar kelaki-lakian Ryes. Seringai bajingan Ryes terbit.
"Tekan luka di leher Anda Your Highness. Dan pastikan jika luka itu sembuh dengan benar agar anda tetap terlihat cantik. Oh tidak-" Ryes menjedah, tangannya yang memegang pedang terangkat, mendekatkan ujung pedangnya pada pipi Francesca. "Jika ini tidak hilang juga tidak apa-apa, karna ini akan hanya sedikit mengurangi pesona berlebihan anda yang tajam itu"
Setelah berucap, Ryes terkekeh geli sambil mengibaskan pedangnya. Lalu tangannya langsung kembali memasukkan pedang ke sarung pedang dengan santai. Tomy yang melihat itu, sedikit menjauhkan tangannya dari leher Richard. Hingga suara Ryes kembali terdengar
"Jadi hanya seperti ini saja kekuatan Putri Mahkota dan Pangeran Francia yang tersohor" Ryes terkekeh menghina, dan mulai melangkah untuk mendekat pada Benji dan Basco yang ternyata sedang menghabisi sisa-sisa kelompoknya sendiri, Basco dan Benji yang terus membunuhi beberapa sisa kelompok mereka yang terluka. Dan kejadian itu, hanya membuat para kesatria yang menonton di sana mengerutkan alis mereka dengan bingung tapi juga bergindik
"Cih! tidak berguna!!"
Basco terus mengumpat dengan tangannya yang terus bergerak menusuki tubuh-tubuh tidak bernyawa teman-temannya yang sudah tergelak di atas tanah, yang sudah mati karna atau bukan karna dirinya dan Benji.
Setelah langkahnya mendekat pada Basco dan Benji, Ryes melirik Tomy sejenak, lalu menatap Richard
"Ayo pulang Rich"
Richard menggeleng kuat dan menolak
"Tidak Rai!"
"Pulang!"
Akhirnya, ucapan tegas Ryes membuat Richard dengan enggan dan dengan sudah payah mulai bergerak berdiri. Langkahnya mulai bergerak menuju arah Ryes yang sudah menunggunya, dengan arah pandang Ryes yang sudah kembali menikmati wajah dingin Francecsa
"Aku berjanji, kita akan bertemu lagi, Your Highness Putri Mahkota Francesca"
Ryes berucap tegas, dengan memasang senyum tebar pesonannya. Perut Francesca bergejolak ingin muntah, saat melihat senyuman dan tatapan menggoda Ryes. Bibirnya yang mengatup kuat berdesis tajam
"Menjijikkan"
Tapi percuma, desisian tajam Francesca sudah tidak bisa terdengar di oleh Ryes yang sudah menuju kudannya sambil membonceng Richard.
Sebelum tangan Ryes menarik tali kekang kudanya, kepala Ryes kembali menoleh pada Francesca.
"Kesatria emas Francia memang luar biasa. Tapi Putri Mahkota dan Pangerannya sangat payah"
Setelah berucap, Ryes langsung terbahak sambil menarik tali kekangnya.
Kuda Ryes mulai melaju, menjauh dari tenda-tenda rumah sakit. Richard yang berada di belakang Ryes langsung memeluk kakaknya sambil berguman
"Kau bohong Rai, mereka tidak payah"
"Hmm... untukku mereka payah Rich"
Richard membuang nafas panjang
"Kau kan memang monster. Kau bukan manusia Rai"
Ryes terkekeh lalu tersenyum.
"Bagaimana menurutmu tentang Putri Mahkota itu?"
"Meskipun dia memang sangat cantik, tapi dia sangat dingin dan menakutkan Rai. Aku lebih suka pada istri Pangeran itu"
Dengan tangan yang terus memegangi tali kekangnya, Rai berguman tajam
"Jangan sembarangan, kerjaan Francia bukan lawan yang mudah. Kau belum ingin mati kan?"
Dengan kesal, Richard hanya bisa mencibik tidak suka sambil memejamkan matanya dan berguman
"Kau kehilangan kelompok andalanmu Rai"
Ryes yang masih bisa mendengar gumanan adiknya kembali tersenyum. Benar, dirinya memang sudah kehilangan kelompok sisa andalannya, tapi itu cukup sepadang karna dirinya yang bisa bertemu dengan Putri Mahkota Francecsa.
\=\=\=💚💚💚💚
(Francesca)
(Ryes)
Silahkan jejaknya...