Marrying The Prince

Marrying The Prince
78


Benua African, memiliki tiga iklim berbeda di tiga bagian yang berbeda. Dan hari ini, setelah berminggu-minggu melewati perjalanan panjang yang melelahkan, Ferdinand dan Solar sudah bisa kembali mendaratkan kaki mereka ke daratan.


Terik matahari iklim tropis yang menyinari benua African di bagian garis khatulistiwa, membuat Solar sudah membuka semua mantel kesatriannya bahkan dirinya juga hampir membuka kemejanya jika lupa dia sedang berada di mana. Rasa terpaan sinar matahari iklim tropis dekat laut sangat menyengat untuk dirinya yang terbiasa selama hidupnya tinggal di sebuah benua yang memiliki empat iklim dengan matahari yang sering setengah-setengah memanaskan bagian itu.


Solar melirik Ferdinand yang terus tersenyum girang sambil bersenandung sumbang. Sesekali tangan Ferdinand menyeka pelipisnya yang mengkilap basah tapi tetap tersenyum girang. Solar kembali menatap baju kemejanya yang semakin basah, lalu menatap kemeja Ferdinand yang ternyata jauh lebih basah. Sudah dua jam mereka masih duduk di sekitar laut tanpa tujuan seperti anak yang kehilangan ibunya tapi, Ferdinand si anak hilang itu tetap tersenyum walaupun tidak memiliki arah tujuan. Bahkan untuk berkomunikasi dengan orang-orang sekitar saja meraka tidak bisa!


"For God sake, Your Highness! Sebenarnya anda memiliki tujuan atau tidak!"


Akhirnya, Solar memuntahkan kekesalannya. Ferdinand yang mendengar nada suara kesal itu menghentikan senandung sumbangnya untuk melirik Solar sejenak, lalu kembali melanjutkan senandungnya dengan lebih sumbang lagi tanpa berniat menjawab kekesalan Solar. Solar ingin berteriak dan menangis sekarang, demi gelar kesatriannya! dia menyesal bersedia ikut ke perjalanan dengan misi 'mengejar istri' Ferdinand.


Menit-menit terus telewati, berjam-jam sudah di jalani dengan Solar yang tidak berhenti merengek pada Ferdinand. Pada Ferdinand yang sekarang sudah lelah bersenandung sumbang, dan lebih memilih bersiul sumbang.


"Ya Tuhanku... kenapa aku harus jadi tangan kanan pangeran dungu ini"


Solar akhirnya sudah sampai pada batasnya dan benar-benar hampir mencoreng nama gelar kesatriannya untuk menangis, jika tidak melihat Ferdinand yang langsung berdiri saat seorang perempuan berkulit eksotis berlarian ke arah mereka.


"Tuan Ferdinand dan tuan Solar?"


Perempuan yang cukup cantik dengan penampilan yang tampak seperti penduduk asli itu bertanya dengan menggunakan bahasa yang mereka mengerti sambil menatap Ferdinand dan Solar dengan lekat. Ferdinand langsung menyodorkan tangan kanannya yang membuat perempuan itu langsung menyambut tangan Ferdinand.


"Ferdinand"


"Afra"


Solar melirik Ferdinand yang mengedipkan dagunya ke arah Afra, memerintahkan Solar untuk ikut berkenalan. Dengan malas, Solar langsung meyodorkan tangan kananya


"Solar"


"Afra"


"Baiklah... sejak kapan kalian sampai?"


"Pa.gi. dari pa.gi hingga so.re kami menunggu di sini"


Dengan kesal Solar menjawab Afra dengan menekan setiap bagian yang memancing kekesalannya. Afra yang mendengar itu tersenyum geli dan langsung membawa langkah mereka untuk menuju kereta kuda.


Saat sudah di dalam kereta, Solar tanpa menunggu langsung membuka kemejanya saat melihat Ferdinand yang sudah melakukannya terlebih dahulu.


"Uhh.. di sini cukup panas Sol"


Apa katanya! cukup panas? Cukup panas dengan semua bagian kemeja mereka yang sudah basah dan otak di kepala Solar yang sudah mendidih? Solar mengeram kesal, lalu menarik nafas dalam beberapa kali untuk meredam kekesalanya karna, dia tidak ingin menghabiskan seluruh sisa tenaganya. Tenaganya yang hanya bersisa sedikit karna terkuras untuk merengek dan menahan panas.


Di dalam kereta kuda, hanya hentakan kaki kuda yang terus terdengar mengisi perjalanan mereka. Ferdinand sudah memejamkan matanya dengan kepala menengadah dan tangan terlipat di depan dada, sedangkan Solar sibuk menatap pemandangan kumuh dan hancur selama perjalanan mereka yang hampir menunjukkan waktu malam hari. Hingga akhirnya, Solar yang lelah juga ikut tertidur.


--000--


Senandung suara yang tidak merdu sama sekali terus masuk ke indra pendengaran Solar, mengusik tidur lelap Solar. Yang membuat tangan Solar sesekali menggaruk telinganya, juga sesekali mencoba menutup telinga. Hingga akhirnya ingatannya kembali dengan suara tidak merdu itu. Ingatan jika suara itu adalah senandung sumbang Ferdinand.


"Kau sudah bangun?"


Dengan kedua mata yang masih mengejap, suara tapak kaki kuda, dan pergerakan kereta kuda akhirnya benar-benar membuat Solar yakin jika semua yang sudah di laluinya sekarang bukanlah hanya mimpi buruk semata, ini kenyataan Solar!


Solar yang sudah sadar membuang nafas pasrah dan terpaksa


"Kapan kita tiba Your Highness?"


"Entahlah Sol, aku juga tidak tahu dan hanya mengikuti mereka"


Nada acuh dan santai Ferdinand membuat Solar melirik ke arah depan dengan kepala yang masih menengadah ke atas. Melirik Ferdinand yang sedang membuka sebuah kotak kecil yang Solar ketahui jika itu milik Anastasia yang saat kepergiaannya memang tidak membawa apapun. Dari satu tahun lalu Solar selalu penasaran pada kotak yang pasti bisa membuat tatapan Ferdinand berubah sendu. Pertanyaan seperti, itu kotak apa? atau apa isinya? selalu memenuhi kepala Solar, tapi Solar cukup tahu diri untuk tidak lancang.


Berjam-jam kembali mereka lewati dalam keheningan. Sesekali mereka kembali tertidur lalu kembali terbangun, dan terus berulang hingga langit pekat mulai sedikit tergores karna sinar matahari dari sebelah timur.


Dan akhirnya, pergerakan kuda yang berhenti membuat Ferdinand langsung menyimpan kotak yang selalu di peluknya saat dia tidur di malam hari.


"Tuan-tuan, kita sudah tiba"


Suara Afra dari depan pintu langsung membuat Solar mengangkat punggungya. Ferdinand yang memang sudah siap untuk keluar langsung menutup jendela kembali, lalu keluar saat Solar sudah membukakan pintu untuknya.


Saat sudah turun, Solar langsung memberikan sebuntal kepingan koin emas yang sudah di siapkan Ferdinand pada Afra dan seorang pria yang mejadi kusir mereka.


"Terimakasih tuan-tuan"


Solar hanya mengangguk singkat dan mulai mengacingkan kemejannya kembali. Lalu melampirkan mantel miliknya dan milik Ferdinand dengan rapih di sebelah tangannya.


Ferdinand terus menatap pemandangan camp-camp yang membentang di sepanjang lapangan gersang tempat mereka berpijak.


"Aku bingung harus mulai dari mana Sol, menurutmu dari mana?"


Dengan malas Solar memutar bola matanya. Mana Solar tahu!


Keterdiaman Solar membuat Ferdinand berdecak sambil berkacak pinggang. Solar melirik tuannya yang masih tampak bingung, lalu berucap


"Pasangkan dengan benar baju anda, Your Highness. Saya tidak ingin melihat ada perempuan lain seperti Afra yang terus menatap lapar kemeja anda yang tidak terkancing sama sekali"


"Hah?"


Melihat raut wajah bingung Ferdinand, kembali Solar memutar bola matanya dengan malas. Tidakkah Ferdinand tahu, walaupun dia hanya memiliki otak sisa tapi Ferdinand tetap keturunan Raja Fredrick dan Ratu Victoria yang memiliki pesona yang diturunkan padanya? pesona yang cukup menjengkelkan untuk pria pas-pasan seperti Solar? Pemikiran itu membuat Solar berdecak kesal, terserahlah.


Ferdinand yang terus menyadari kekesalan Solar akhirnya mengalah dan mulai mengancingkan kemejannya, meski sebenarnya dia sangat enggan karna nanti saat matahari akan muncul sempurna, panas matahari sangat mengganggu kenyamanan. Dengan tangan yang mulai mengancingkan kemejannya, Ferdinand akhirnya berucap


"Ambil pedangmu Sol"


"Hah?"


Kali ini Solar yang tampak bingung dengan ucapan Ferdinand. Ferdinand berdecak kesal dan menatap Solar dengan malas


"Ambil pe.da.ng.mu"


"Untuk apa?"


Tatapan Ferdinand menajam, dan itu cukup untuk membuat kepatuhan mutlak Solar kembali. Dengan cepat Solar membuka tas mereka dan mengambil pedangnya, setelah sebelumnya melirik sekitar yang masih cukup gelap saat matahari belum muncul sepenuhnya.


Saat menyadari Solar yang sudah membawa pedang, Ferdinand langsung menyodorkan lengan atasnya. Solar menatap Ferdinand dengan bingung


"Cepatlah iris Sol. Buat cukup dalam"


Mulut Solar kembali ingin bertanya, tapi segera membatalkan niatnya saat Ferdinand kembali menatapnya dengan tajam.


"Seberapa panjang dan dalam, Your Highness?"


"Terserah, buat yang alami Sol"


Akhirnya, tanpa keraguaan tangan Solar langsung terayun mengiris lengan atas Ferdinand. Tanpa raut wajah yang menunjukkan apapun, Ferdinand kembali menyodokan sebelah bahunya dengan kaki sedikit di tekuk untuk menyamakan tinggi mereka. Solar yang paham kembali mengiris daging Ferdinand, terus berlanjut menuju ke bahu sebelah lain Ferdinand.


Kemeja putih Ferdinand mulai terus memiliki warna lain yang terus menyebar. Sambil terus menatap sekitar sambil menunggu Solar menyimpan kembali pedangnya, suara senandung sumbang Ferdinand kembali terdengar. Solar mendengus kesal, harusnya dia langsung mengiris pita suara Ferdinand tadi! sial!


Menit-menit terus terlewati hingga kemeja Ferdinand mulai penuh dengan warna merah dan suaranya kembali terdengar.


"Jangan lupa kau harus memannggilku dengan benar Sol"


"Iya tu-tuan"


Senyum geli Ferdinand terbit


"Ayo Sol, kita menuju ke tenda yang terbuka itu saja"


Saat Ferdinand mengangkat tangannya untuk menunjukkan arah, rasa nyeri di kedua bahunya mulai terasa. Fredrick menyeringai, well... dia benar-benar akan terlihat seperti orang yang sedang terluka jika seperi ini.


Semua pengejarannya ini tidak mungkin tidak matang. Selama berbulan-bulan Ferdinand mengintai dan mencari cara agar bisa masuk ke kamar untuk mencari sesuatu di kamar ayahnya. Dia yakin jika ayahnya pasti memiliki sesuatu untuk membuatnya mempunyai pencerahan mencari tempat istrinya berada. Dan ternyata, apa yang di temukannya lebih dari sedikit, bukankah usaha tidak pernah mengkhianati hasil? Dan setelah dirinya mempunyai alamat tujuan, Ferdinand langsung mengatur segalanya, mempelajari cara agar dirinya bisa mendekati dan mungkin bisa berada lama di tempat itu, termasuk untuk urusan transportasi mereka.


Karna itu di sinilah Ferdinand sekarang, berada di camp-camp yang di buat untuk menjadi rumah sakit seadaannya untuk membantu korban-korban perang di daerah yang sepanjang tahun selalu terkena wabah busung lapar, wabah kemiskinan.


Ferdinand mengedipkan dagunya pada seorang wanita paruh baya yang tampak sedang termenung. Solar yang mengerti langsung melangkah menuju ke orang yang di pilih Ferdinand.


"Selamat pagi nyonya"


"Iya tuan?"


Ekor mata Solar melirik ke arah Ferdinand yang sudah duduk di atas tanah, lalu kembali menatap wanita di depannya dengan memasang wajah khawatir yang di paksakan.


"Saya mendengar jika di sini adalah tenda-tenda rumah sakit, bolehkah saya meminta pertolongan untuk membantu tuan saya yang sedang terluka?"


Dengan cepat kepala wanita itu mengangguk dengan raut wajah yang sudah berubah terlihat khawatir, benar-benar khawatir


"Tentu saja tuan, dimana yang terluka? apa dia masih bisa berdiri sendiri?"


Solar berpikir sejenak lalu menggeleng


"Apakah anda bisa membantu saya?"


--000--


Ferdinand terus meringis dramatis saat wanita tadi sedang membersihkan luka-lukanya. Setelah melakukan drama murahannya, dirinya sudah berada di dalam salah satu tenda yang penuh dengan alat-alat dan juga trolly-trolly. Arah pandang Ferdinand terus mempelajari keadaan sekitar yang mulai di penuhi suara orang-orang. Karna hari yang mulai terang, aktifitas di camp itu pasti sudah akan di mulai


"Tolong tahan sebentar tuan, saya akan mulai membersihkan luka anda lebih dalam sambil menunggu perawat yang bertugas untuk menjahit luka. Semoga saja pesan saya tadi cepat di sampaikan"


Dengan kembali meringis dramatis, Ferdinand mengangguk patuh dengan hati penuh harapan. Semoga, semoga saja perawat yang di maksut adalah dia. Dia yang Ferdinand pelajari dari surat-surat jika 'dia' menjadi perawat yang bertugas untuk mengurus luka-luka menganga. Sekali lagi, semoga. Tapi,


"Lilah?"


Seorang perempuan paruh baya memakai pakaian suster biara datang sambil menatap tubuh Ferdinand dengan cemas.


"Suster Bernadeth, ini orang yang saya katakan tadi"


Bernadeth langsung melangkah cepat menuju Ferdinand tanpa bisa melihat raut wajah kecewa Ferdinand.


"Biarkan aku yang menyelesaikannya Lilah, kau tolong bantu yang lain di dapur ya?"


Lilah mengangguk paham lalu, dan langsung melangkah pergi. Saat Lilah sudah pergi, Bernadeth menatap Ferdinand sambil tersenyum hangat


"Selamat pagi tuan, saya Bernadeth yang akan merawat luka anda menggantikan perawat Lilah"


Ferdinand hanya mengangguk kecewa, sambil melirik Solar yang menahan senyum geli.


"Kenapa anda bisa terluka tuan?"


"Kami di rampok saat di perjalanan, karna kami dengar jika di sini ada rumah sakit, jadi kami kemari"


Sambil mulai membubuhkan obat-obat antiseptik sebelum memulai jahit menjahitnya, Bernadeth menatap Ferdinand dengan lekat, lalu kembali bersuara


"Saya dengar kalian pedagang?"


"Iya suster Bernadeth, kami pedagang sutra dari timur"


Meski merasa aneh dengan semua keterangan Ferdinand, tapi Bernadeth tetap hanya mengangguk paham.


"Di sini tingkat kemiskinan sangat tinggi tuan, karna itu tingkat kriminalitas juga sangat tinggi"


Kepala Ferdinand hanya mengangguk asal. Bernadeth kembali menatap Ferdinand saat mulai benar-benar melepas pakaian atas Ferdinand. Wajah yang bukan tampak seperti orang timur, bisa menggunakan bahasa utama Eropan, di rampok yang entah saat berada di mana, tubuh yang lebih besar dari temannya tapi terluka parah. Meski keanehan sangat melekat di penampilan Ferdinand sekarang, tapi Bernadeth tetap tidak ingin berpikir yang lain selain merawat luka.


"Anda sangat lancar menggunakan bahasa utama Eropan tuan"


Ferdinand menipiskan bibirnya sambil melirik Solar yang hanya mengedipkan kedua bahunya dengan acuh. Lalu arah pandang Ferdinand kembali menatap Bernadeth


"Kami pedagang yang biasa berkeliling di Eropan suster"


"Ahh... begitu" Bernadeth mengambil posisinya saat jarum jahit sudah di tangannya. "Karna luka di lengan anda cukup dalam dan perlu empat jahitan. Maaf jika ini akan terasa masih sedikit sakit, karna anastesi di sini semakin terbatas. Dan sekali lagi, maafkan kami tuan jika kami tidak bisa memberikan pelayanan yang sempurna"


"Tidak malasalah suster, silahkan lakukan seperti yang bisa di lakukan, jangan merasa tidak enak"


Ferdinand berucap tulus tapi lebih mengarah ke tidak peduli. Mereka para kesatria bahkan sering menjahit luka mereka sendiri tanpa sedikitpun menggunakan penghilang rasa sakit. Jadi yang seperti ini hanya hal enteng untuk Ferdinand.


Setelah selesai dengan acara jahit menjahit dengan Ferdinand yang terus meringis dramatis, Bernadeth langsung menjelaskan tentang perawatan luka. Tentang luka Ferdinand yang belum boleh terkena air, Ferdinand yang harus banyak istirahat terlebih dahulu, jangan telalu banyak menggerakkan tangan, memberikan obat-obat yang harus di minum Ferdinand, hingga menjelaskan makanan yang wajib di makan selama masa pemulihan luka.


"Terimakasih suster Bernadeth"


Senyum hangat Bernadeth kembali tercetak di bibirnya


"Sudah tugas kami tuan. Kalian silahkan tinggal di sini hingga luka anda benar-benar sembuh" Bernadeth menatap Solar. "Anda juga bisa menitipkan pada kami jika ingin mengirim surat, karna setiap dua minggu sekali kami akan ke tempat pengiriman surat, tuan......??"


Solar yang merasa jika pertanyaan yang di tujukan Bernadeth mengarah padanya langsung menunduk sopan


"Saya So..... Somi" Solar berdehem beberapa kali lalu melirik Ferdinand. "Dan teman saya adalah F..... Fredrick"


Ferdinand hampir tersedak ludahnya saat mendengar pemilihan nama dari Solar. Yang benar saja! apa tidak ada nama yang lain?!


Bernadeth mengangguk paham sambil membereskan peralatannya, lalu arah pandangnya melirik ke arah jendela


"Sebentar lagi makan pagi para pasien pasti akan di antarkan. Silahkan istirahan terlebih dahulu tuan-tuan"


Ferdinand hanya bisa membuang nafas berat yang syarat akan kekecewaan sambil melirik Bernadeth yang sudah malangkah keluar. Saat yakin jika Bernadeth sudah pergi, Ferdinand langsung melompat dari ranjangnya. Solar yang baru akan menikmati kenyamanan ranjang menatap Ferdinand dengan bingung


"Your Highness?"


"Aku hanya ingin melihat-lihat sebentar"


Sambil memakai kemejanya, Ferdinand berucap dan langsung menuju ke pintu keluar.


Dengan hati-hati Ferdinand menyelinap di antara tenda-tenda tempat pasien dan tempat-tempat lain yang Ferdinand tidak tahu apa. Arah pandangnya dengan tajam dan fokus mencari-cari, melihat-lihat, dan mencermati sekitarnya. Keadaan pagi yang masih sepi dengan hanya beberapa aktifitas yang baru di mulai membuat Ferdinand sedikit berkendala untuk bebas mengintai, terlebih untuk mencari seseorang.


Seluruh indra yang ada di tubuh Ferdinand mulai terus terpasang dengan sensitif, dirinya dalam diam dan terlatih terus menyelinap dan memeriksa tiap-tiap isi tenda terlebih, pada suara-suara yang semakin bertambah saat waktu terus berjalan.


Hingga langkah Ferdinand terhenti.


Saat suara itu, suara tawa itu, suara yang selama setahun lebih ini terus menghantuinya tapi juga suara yang terus ingin di mimpikannya setiap malam. Suara itu, suara yang sangat di rindukannya. Tanpa biasa di cegah, degupan jantung Ferdinand mulai menggila. Desiran yang tidak dirinya mengerti terus berdesir di sekujur tubuhnya.


Dengan kegugupan yang sudah melebihi segala kegugupan yang pernah dia rasakan selama hidupnya, Ferdinand bergerak pelan untuk bersembunyi di balik tenda. Dirinya terus menarik nafas dalam untuk menenangkan diri, terus memejamkan kedua matanya sambil melipat bibirnya kedalam agar tidak tersenyum konyol.


Suara-suara di sana semakin ramai. Dua orang, empat orang, dan enam orang perempuan. Dalam pejaman kedua matanya, Ferdinand menghitung dan terus menenangkan dirinya.


Hingga dia merasa siap, dengan hati-hati Ferdinand mengintip dari tempatnya, mencoba mencari sosok seseorang yang membuatnya dirinya sudah menjadi setengah gila seperti sekarang.


Dan, tanpa bisa mencegah dan menahan lagi, kedua sudut bibir Ferdinand tertarik tinggi ke atas saat melihat dirinya.


Dirinya yang hanya memakai gaun sederhana, dirinya yang tanpa menggunakan tatanan rambut mewah, dirinya yang tidak melekatkan apapun yang berharga.



Dirinya yang tersenyum bahagia tanpa menyadari jika Ferdinand sudah hampir kehabisan seluruh oksigen di dalam paru-parunya.


"Aahh sial!"


Ferdinand mengumpat pelan sambil terkekeh sendiri. Ahh sial! memang sialan! kenapa dia baru menyadari jika sudah lama dirinya memang selalu terhipnotis dengan senyum itu. Jauh sebelum mereka menikah, jauh sebelum dirinya yang menyadari kecantikan itu, jauh... lebih jauh lagi dari itu.


"Sial kau Ana! ternyata gadis itu kau!"


Kekehan pelan Ferdinand terus meluncur dari bibirnya, dari dirinya yang sudah kembali bersembunyi.


\=\=\=💜💜💜💜


Silahkan jejaknya....