Marrying The Prince

Marrying The Prince
84


"Jadi ini benar karna penyerangan Duke Hasting?"


Solar menyesap tehnya sambil mengangguk yakin.


"Benar Your Highness. Dari beberapa pasien prajurit yang saya tanyai, peperangan di teluk itu di pimpin oleh Duke Hasting. Dan informasi yang mengkhawatirkan adalah, jika mereka bisa saja mendekat ke sini untuk merebut pasar berlian"


Ferdinand mengangguk paham. Dengan jari telunjuk yang sudah menggaruki meja, arah pandangnya menatap jauh keluar.


"Apa surat kita sudah sampai?"


"Harusnya sudah Your Highness, dan harusnya His Majesty juga sudah mengirim bantuan yang kita minta"


Kembali, jari Ferdinand menggaruki meja dengan arah pandangnya yang terus menerawang jauh.


"Aku tidak peduli pada apapun Sol, pastikan camp ini aman jika sewaktu-waktu mereka menyerang ke ibu kota yang mungkin bisa sampai ke sini"


Dengan patuh, Solar langsung menunduk nengerti


"Baik, Your Highness"


Dan setelah mendengar jawaban Solar, Ferdinand langsung beranjak dari kursinya dengan bibir yang tiba-tiba tersenyum lebar. Solar yang melihat itu hanya bisa menatap Ferdinand dengan aneh.


Langkah Ferdinand langsung menuju tenda tempat di mana istrinya pasti sedang merawat pasien-pasien yang terluka. Dan menyebabkan dirinya terlupakan.


Dengan senyum yang berubah kecut, arah pandang Ferdinand terus mencari, hingga yang di carinya terlihat. Dan benar, Anastasia memang sedang merawat luka para pasien


"Mungkin anda terlalu banyak berpikir tuan, sebaiknya pikirkan dulu kesembuhan anda, lalu kita akan mencari jalan keluar bersama, anda boleh memanggil kami ketika ingin bercerita"


Anastasia berucap diplomatis pada seorang pasien baru selesai di rawat lukannya. Tanpa menyadari jika Ferdinand sudah berdiri menjulang di belakangnya.


Dan benar saja, saat Anastasia akan berbalik, tangannya hampir menjatuhkan peralatan karna terkejut.


"Jangan tiba-tiba muncul dan mengejutkanku Dinand!"


Bibir Ferdinand langsung mencibik tidak suka. Lihatlah.. perbedaan cara bicara Anastasia padanya dan pada para pasien. Terlebih setelah mereka melewati malam panas semalam, Anastasia malah semakin ketus saat berbicara dengannya.


Sambil terus merengut kesal, Ferdinand terus mengekori setiap pergerakan Anastasia. Anastasia yang melihat itu membuang nafa lelahnya, lalu menatap Ferdinand


"Kau kenapa terus mengikutiku?"


"Kau belum mengganti perbanku"


Crab!! benar.. Anastasia melupakan itu, padahal hari sudah mulai sore dan dia melupakan perban Ferdinand. Anastasia yang sebenarnya baru akan kembali menuju ke ranjang pasien lain, melirik Ferdinand yang terus menekuk wajahnya.


"Hmm... ya... sebentar lagi ya"


Ferdinand menatap Anastasia dengan kesal.


"Kau sudah mengatakan itu dari tadi pagi! Berapa banyak lagi sabar yang kau inginkan!"


Akhirnya, Anastasia membuang nafas dengan pasrah, lalu kembali menatap Ferdinand


"Baiklah... ya baiklah.. jangan marah-marah. Kau menakuti pasien lain"


Jawaban Anatasia membuat Ferdinand meliriknya dengan raut wajah yang tetap dia pertahankan, di pertahankan agar terlihat marah dan kesal


Dengan cepat Anastasia menyimpan kembali peralatannya, mendorong trolly-nya, lalu melirik Ferdinand sambil melangkah menuju ke pintu keluar tenda.


Ferdinand terus mengekori langkah Anastasia. Hingga langkah mereka sampai di tenda Ferdinand, Anastasia menatap Ferdinand dengan perintan 'cepatlah duduk'. Dengan sangat patuh Ferdinand langsung mengambil posisinya, dan Anastasia juga mulai mengambil posisinya.


Beberapa saat terjadi keheningan di antara mereka, hingga Ferdinand mulai berucap


"An.."


"Hm?"


Ferdinand melirik Anastasia yang mulai membersihkan lukanya saat perban sudah di buka.


"Ayo kita kembali ya?"


Pergerakan tangan Anastasia terhenti, lalu kembali bergerak sambil melirik Ferdinand.


"Tempatku di sini Dinand"


Nafas panjang Ferdinand berhembus. Ini akan sulit, karna Anastasia yang sangat terlihat belum ingin merubah keinginannya


"Tempatmu bersama suamimu Ana"


Sambil terus bergerak membersihakan luka Ferdinand, sambil berucap lembut.


"Aku tidak tahu Dinand. Maaf karna aku merasa tidak bisa kembali lagi"


Ferdinand menggigit bibirnya, dadanya berdesir dengan penuh kekecewaan dan ketakutan.


"Kenapa Ana? kau bilang sudah memaafkanku, tapi kenapa kau tidak ingin kembali"


Setelah membersihkan luka, dengan cekatan tangan Anastasia mulai membalut kembali luka Ferdinand. Bibirnya tersenyum getir sambil mulai berdiri untuk membersihkan luka di bahu Ferdinand.


"Aku tidak bisa Dinand, lebih baik kau kembali karna aku tidak bisa kembali lagi"


Anastasia tersentak saat Ferdinand mencekal pergerakan tangannya, yang membuat arah pandang Anastasia langsung menatap Ferdinand dari posisi mereka yang dekat. Anastasia membalas tatapan Ferdinand yang menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikannya.


"Tolong Ana, jangan seperti ini, beri aku alasan kenapa kau tidak ingin kembali. Apa karna kau takut aku akan kembali meyakitimu? aku bersu-"


"Tidak Dinand, bukan itu"


Ferdinand semakin menatap Anastasia dengan perasaan buruk yang berkecamuk.


"Lalu apa? kenapa? Jelaskan Ana?"


Anastasia menarik nafas dalam, lalu membuang tatapannya ke langit-langit tenda sambil berucap lirih.


"Aku sudah gagal Dinand, aku sudah gagal dalam segala hal. Aku gagal menjadi seorang anak, gagal menjadi seseorang yang memiliki takdir pemilik tahta, gagal menjadi istri dan-" Anastasia menatap Ferdinand dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. "Aku...."


Anastasia tidak bisa kembali menaruskan ucapannya karna tatapan Ferdinand langsung membuat segala perasaan menyesalnya meluap, langsung meluap hingga air matanya tumpah, hingga mulutnya semakin keluh, hingga dirinya mulai mengeluarkan tangisnya


Ferdinand tidak mengerti apa yang terjadi, tapi melihat Anastasia yang tiba-tiba langsung terpuruk dan penuh rasa sedih yang tidak di kenalnya, Ferdinand langsung membawa Anastasia kepelukannya.


"Tenanglah.. semua akan baik-baik saja. Katakan apa saja yang ingin kau katakan. Tenanglah"


Dengan perasaan yang ikut terasa perih karna tangisa istrinya, Ferdinand terus mengusapi Anastasia dengan penuh kehangatan. Berharap pelukan dan kehangtannya bisa sedikit menenangkan Anastasia.


Bermenit-menit hingga puluhan menit Anastasia terus menangis, Ferdinand terus memeluk Anastasia sambil ikut merasakan kepedihan yang tidak dirinya mengerti. Hingga akhirnya, Anastasia menarik diri dari pelukan Ferdinand, menatap Ferdinand dengan nanar.


"Dinand, aku...." Anastasia menarik nafas dalam-dalam. "Aku...."


Melihat Anastasia yang kesulitan untuk mengeluarkan apa yang membuatnya menjadi seperti sekarang, Ferdinand tersenyum hangat, sambil mengusapi kedua pipi Anastasia.


"Tidak apa-apa An, jangan paksa dirimu jika itu sulit kau katakan. Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja"


Yaa... Anastasia juga dulu berharap semua akan baik-baik saja, dan serpikir semua itu memang sudah jalannya. Tapi ternyata semua kesakitannya tetap terasa, terasa sangat sakit hingga dirinya terus terpuruk ketika mengingat itu. Kembali Anastasia menarik nafas dalam-dalam sambil mengikuti tuntunan Ferdinand agar dirinya duduk di atas pangkuan Ferdinand.


"Tidak apa-apa Ana. Kau tidak perlu mengatakannya jika sulit"


Kepala Anastasia langsung menggeleng sambil mendongak, menatap Ferdinand dengan dalam.


"Aku harus mengatakannya Dinand, karna kau juga harus tahu seberapa gagalnya aku"


Tangan Ferdinand terangakat menangkup wajah Anastasia sambil tersenyum hangat, wajahnya mendekat mengecup sayang pelipis istrinya.


"Tidak sayang, kau adalah wanita paling luar biasa untukku. Aku tidak peduli dengan apapun karna kau-"


"Dinand..." Kedua mata Anastasia menjatuhkan kristal bening di kedua pipinya sambil terus menatap Ferdinand. "Aku pernah mengandung tapi... dia pergi"


Bagai bom yang baru di jaruhkan di depan matanya, Ferdinand tersentak, dirinya menatap Anastasia tidak percaya.


"Apa?"


Dengan pipi yang mulai terus basah, dengan nyeri hebat di dalam dadanya, Anastasia menyakinkan Ferdinand, menatap kedua bola mata Ferdinand sambil mengangguk singkat.


Hening...


Ferdinand terdiam terpaku setelah mendengar ucapan Anastasia, isi kepalanya terus mengulang semua ucapan Anastasia, mencoba memahami kata-kata itu, dengan dadanya yang mulai berdebar nyeri, sangat nyeri dan terus menyebar. Anastasia yang melihat keterdiaman Ferdinand langsung menunduk penuh dengan rasa sesal dan rasa gagal. Di sela-sela isakannya yang kembali, Anastasia berguman lirih.


"Maaf... maaf, karna aku terlalu bodoh. Aku gagal menjaganya Dinand. Aku bahkan tidak tahu jika dia ada, dan dengan bo-"


Isakan Anastasia yang semakin kuat membuat dirinya tidak bisa lagi berucap. Anastasia hanya bisa terus menunduk dengan penuh rasa sesal dan gagal, dengan isi dada sesak dan nyeri. Hingga suara lirih Ferdinand terdengar.


"Apa karna aku? apa karna semua yang sudah ku lakukan padamu? apa dia terluka karna aku yang saat itu terus menyulitkan? apa karna perbuatan kasarku selama ini pa-"


"Bukan Dinand. Ini salahku" Anastasia menjedah dengan isakannya yang semakin kuat, hingga kedua tangannya mencengkam gaunnya dengan kepala yang terus menunduk. "Aku yang salah. Jika saja saat itu aku tidak terus melakukan perjalanan jauh, jika saja saat itu aku tidak bodoh untuk mengerti dengan baik perubahan tubuhku sendiri, jika-"


"Oohh Ana..."


Ferdinand langsung membawa tubuh bergetar Anastasia ke dalam pelukannya. Dengan arah pandang yang mulai buram, dengan dada yang terus berdetak nyeri, dengan tangan yang terus mencoba memberikan kehangatan, Ferdinand berucap lirih.


"Maaf..."


Hanya itu yang mempu terucap di bibir Ferdinand. Dirinya tidak tahu harus berkata apa lagi, mulutnya terasa keluh, arah pandangnya mulai buram dengan isi kepalanya yang tidak bisa berfungsi dengan baik. Hanya perkataan Anastasia yang terus berulang menggema di telingannya.


Puluhan menit terus terlewati dengan suara tangis Anastasia, berjam-jam terlewati dengan Ferdinand yang hanya bisa menangis penuh sesal di dalam hatinya.


Hari itu, di sore hari, angin berhembus cukup kencang di matahari yang panas. Anastasia terus larut dalam perasaan gagalnya, dan Ferdinand terus tenggelam dalam penyesalannya


--000--


Arah pandang Anastasia masih menatap jauh keluar jendela kamarnya. Menatap kepekatan langit malam dengan sesekali air matanya menetes, dengan sesekali dirinya menarik nafas dalam.


Setelah dirinya menumpahkan dan memberitahukan apa yang terjadi pada Ferdinand, perasaan gagal dan terpuruknya semakin menjadi lebih parah.


Dirinya terlalu buruk untuk memiliki dan bersama laki-laki seperti Ferdinand terlebih, semua hal yang akan dirinya dapatkan jika kembali bersama Ferdinand. Karna itu, dengan tekat yang sudah bulat, Anastasia sudah memutuskan untuk mengakhiri semua ini.


Dirinya harus melepaskan...


Kedua mata Anastasia terpejam dengan jari-jarinya yang langsung mengusap kasar aliran air mata di pipinya. Dengan arah pandang yang kembali menatap pekatnya langit malam, senyum getir Anastasia terbit saat suara pintu di ketuk terdengar.


TOK TOK TOK


"Ana..."


Suara dari balik pintu langsung membuat Anastasia menutup jendela kamar, menarik nafas dalam, kembali mengusapi pipinya, dan memasang senyum sebaik mungkin


"Masuklah"


Pintu di buka, dan di sana muncul Ferdinand yang langsung tersenyum, lalu kembalu menutup pintu. Langkahnya mendekat pada Anastasia yang berada di depan jendela sambil tersenyum menyambutnya. Ferdinand membalas senyum lembut itu, senyum yang jelas-jelas menunjukkan sesuatu. Sesuatu yang entah kenapa membuat rasa takut Ferdinand menguap.


"Kau menangis"


Ferdinand berucap lembut sambil menangkup wajah Anastasia, menatap kedua bola mata basah Anatasia, mencari sesuatu yang bisa di bacanya tapi, hanya ada kesedihan di dalam kedua mata itu.


Dengan bibir yang terus tersenyum Anastasia sambil berucap lembut


"Duduklah.."


Ferdinand mengangguk patuh, melepaskan tangannya dari wajah Anastasia, lalu menuju ke ranjang untuk mendaratkan bokongnya.


Anastasia menarik kursi dan segera duduk berhadapan dengan Ferdinand. Dirinya terus mengepalkan tangan dengan penuh perasaan berkecamuk, bibirnya yang terus tersenyum, akhirnya kembali bersuara.


"Dinand"


Jantung Ferdinand berdegup cepat. Tuhan... dirinya sangat takut hingga rasanya ingin menangis. Ada apa ini?


"Iya? katakanlah.. apa yang ingin kau katakan"


Tangan Anastasia terangkat, meraih sebelah telapak tangan besar Ferdinand, menggenggam lembut tangan itu, lalu kembali menatap Ferdinand


"Aku sangat beruntung bisa mengenalmu, aku sangat bahagia bisa menikah denganmu"


"An-"


Kepala Anastasia langsung menggeleng kuat, membuat Ferdinand kembali mengatupan mulutnya sambil menahan segala perasaan buruknya. Melihat Ferdinand yang sudah patuh untuk diam, Anastasia kembali berucap.


"Dulu, jujur saja aku sempat sangat membenci Francia, dirimu, dan keluargamu" Anastasia terkekeh lirih. "Tapi setelah masuk dan tinggal di tempatmu, di sekitarmu, aku yang selalu menerima banyak kasih sayang dari kalian, mulai terlena dan jadi serakah" Anastasia mengubah arah pandangnya untuk menatap langit-langit kamar, karna dirinya tidak sanggup menatap wajah sedih dan penuh rasa takut Ferdinand. Dan mulut Anastasia kembali terbuka. "Aku di berikan kerajaan yang menerimaku, rakyat yang menyambutku kedatanganku, bisa memasangkan gelar di namaku, memberikan kehormatan untukmu, memberikan gambaran keluarga untukku, dan juga Francia memberikan dirimu untukku. Semuanya sangat sempurna Dinand" Anastasia menjedah, untuk menarik nafas dalam untuk meraup semua kekuatan. Arah pandangnya masih menatap langit-langit kamar "Itu semua sebuah berkat untukku, aku sangat bahagia, terutama-" Arah pandang Anastasia bergerak. Menatap kedua bola mata sehijau daun Ferdinand, bola mata terindah untuknya. "Saat aku menikah dan menadapatkan cintamu, Ferdinand-"


"An-"


"Sstt... biarkan aku menyelesaikannya. Tolong"


Arah pandang Anastasia mulai buram, dirinya menatap Ferdinand dengan penuh permohonan. Dan tatapn itu, hanya bisa membuat Ferdinand mengangguk pasrah sambil menggigit kuat bibir dalamnya.


"Tapi Dinand, sekarang aku tidak bisa lagi. Aku tidak menginginkan semua itu lagi, termasuk pernikahan kita dan dirimu"


"LIARRR!!!"


Tangan Ferdinand bergerak, menepis tangan Anastasia dari tangannya. Arah pandangnya yang sudah berkaca-kaca, menatap Anastasia dengan amarah tapi juga dengan penuh permohonan.


"Kau bohong Ana.. Jangan katakan itu. Jangan berbohong"


Anastasia mengeleng lemah sambil tersenyum getir


"Aku tidak berbohong Dinand. Aku lebih bahagia di sini dan menjadi diriku yang sekarang"


Kaki Ferdinand langsung berdiri, tubuhnya langsung bergerak menjauh dari Anastasia. Dengan tangan yang memijati pangkal hidungnya, dengan kepala yang menengadah, Ferdinand menahan segala perasaan buruk yang semakin memburuk bersarang di dalam dadanya. Hingga nafas panjangnya berhembus


"Baiklah.. ini karna kau masih marah padaku kan? karna itu kau tidak ingin mempermudahku. Iya kan Ana"


"Tidak Dinand. Aku sudah mengatakan jika ini semua karna aku yang jauh lebih bahagia dengan kehidupan dan diriku yang sekarang"


Ferdinand menatap Anastasia dengan tatapan tajam, meski kedua matanya sudah berkaca-kaca


"Apa karna anak kita?"


Desiran menyesakkan langsung menyebar di dalam dada Anastasia. Arah pandangnya semakin buram, sekuat nyawa dirinya menahan tangisan yang sudah siap untuk meledak. Dirinya ingin membuka mulut, tapi tidak ada yang bisa di katakan Anastasia, terlalu sulit dan terlalu berat untuk dirinya berucap.


Dan semua keterdiaman Anastasia membuat perasaan Ferdinand semakin buruk. Bibirnya yang keluh berucap lirih


"Aku tidak ingin mendengar kau berbicara seperti ini lagi. Aku akan kembali ke tendaku"


Melihat langkah Ferdinand yang akan menuju pintu, Anastasia segera bangkit dari kursinya, menahan tangan Ferdinand yang berhasil membuat Ferdinand berhenti melangkah


"Tolong Dinand... aku ingin bahagia dan bebas"


\=\=\=💚💚💚💚


Mohon doanya ya guys, eike positif kopit skrg. Badan beberapa hari ini rasanya greges2 ga enak bgt. maapken kl eike up nya jadi absen2.... Tp eike bkl usahain ttp up kl otak eike bisa lancar.


Tetep jaga kesehatan yaa kalian semua.... karna sakit itu gak enak guys. Semoga kita selalu di beri kesehatan.


Salam sayang semua...


Silahkan jejaknya....