
Kelegaan dirasakan oleh Jane. Wanita itu terharu sampai ingin menangis, tapi ditahan. Akan memalukan bila dia bertindak layaknya anak kecil yang tersesat di supermarket dan kehilangan ibunya. "Thank God you found me!" katanya sambil tertawa, berpura-pura menganggap semua ini hal biasa.
Namun, bukannya ikut tertawa, pria itu memeluk Jane seolah merasakan kerinduan yang amat sangat. Selama beberapa detik dia memejamkan mata sambil mengelus-elus rambut panjang Jane.
"Ada apa?" tanya Jane tidak mengerti. Baru kali ini seorang pria memeluknya seperti ini. Bahkan, ibunya, Natasha, jarang sekali melakukannya.
Pria itu melepaskan Jane. "Kau tidak apa-apa? Apa kau terluka?" Ditelitinya keseluruhan wajah Jane, dinaikkannya lengan baju Jane untuk memeriksa barangkali ada luka gores pada kulit calon tunangannya itu.
"Tidak, Phillip. Kau tidak perlu khawatir," jawab Jane.
"Maaf, seharusnya aku menunggumu kembali," ucap Phillip. Mimik wajahnya menunjukkan penyesalan.
"Tidak apa-apa. Aku yang terlalu lama karena..." Jane enggan menjadikan Thomas sebagai alasan, tapi dia sudah telanjur bicara.
"Karena?"
"Karena aku lupa membawa sapu tangan. Aku mencari-carinya di dalam tas, lalu aku ingat benda itu tertinggal di meja rias," Jane sengaja memamerkan deretan gigi rapihnya.
Phillip tersenyum. "Sebaiknya kita cepat ke gedung utama untuk minum teh. Ayo," ajaknya.
"Oh, great. I'm starving," kata Jane. "Kita punya cemilan, bukan?"
"Tentu."
🍩🍩🍩🍩🍩
Sesampainya di gedung utama, Phillip masih menggandeng tangan Jane menuju meja makan tempat keluarga kerajaan duduk. Jane merasa tidak enak, tapi tetap mengikuti pangeran itu. Dia teringat perkataan Thomas yang menyatakan bahwa Phillip tidak akan menikahinya lantaran dia hanyalah orang biasa.
Jika Phillip tidak jadi menikahinya, maka Thomas pun akan sama karena mereka berdua adalah pangeran. Dan sampai detik ini pun Jane belum berniat untuk menikahi siapa pun.
Sepanjang acara minum teh, Jane tidak dapat berkonsentrasi karena memikirkan Thomas, hingga sampai pada pertanyaan utamanya. Untuk apa Jane masih berada di Vlada?
"Jane?" panggil Phillip. Pangeran tampan itu bingung melihat Jane bengong. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya setengah berbisik karena tidak ingin didengar sekaligus mengganggu orang lain.
"Yeah, I'm fine," jawab Jane setelah berhasil kembali dari awang-awang. "Sorry."
Phillip tersenyum di sebelah Jane. "Kami memiliki ruangan untuk beristirahat. Aku akan mengantarmu ke sana bila kau mau."
"Tidak. Mungkin ini efek dari kepanasan karena berjemur di perkebunan tadi," canda Jane.
"Okay. Bilang saja kalau kau menginginkan sesuatu."
Jane mengangguk polos.
🍵🍵🍵🍵🍵
Ruang makan Fadar Palace terasa sepi. Hanya dentingan peralatan makan yang terdengar di telinga dua orang itu. Yang wanita sesekali menyuap sesendok makanan, sedangkan yang pria melirik si wanita terus-menerus.
Sampai saat yang wanita menyadari perhatian si pria, dia merasa tidak enak. "Sorry," ucapnya.
"Tidak apa-apa. Sudah kuduga ada sesuatu. Kau mau menceritakannya?" tanya Phillip sambil mengumpulkan makanan di piringnya ke dalam satu sendok, lalu melahapnya.
Jane berpikir sedetik sebelum berbicara. "Phillip, apa kau akan menikahiku?" tanyanya langsung ke topik utama.
Phillip hampir tersedak makanannya sendiri. Dia minum air putih dari gelas yang telah disediakan. "Kau tidak percaya padaku?" balasnya.
"Maaf, Phillip, bukan aku tidak percaya, tapi bisakah kau hanya menjawab pertanyaanku?"
"Yes, yes, certainly. I'll marry you."
"Apa kau yakin?"
Phillip tergelak. "Adakah yang bisa membuatku ragu?"
"Menurutku, ada. Status sosial?"
"Hmmm..." Phillip menyandarkan badannya di sandaran kursi. "Kurasa aku mengerti apa yang ingin kau utarakan. Kau pikir aku tidak akan menikahimu karena aku adalah pangeran dan kau orang biasa?"
"Setidaknya baru alasan itu yang terpikirkan olehku," Jane mengangkat bahu.
"Besok pagi?"
"Ya. Media utama Vlada akan memberitakan perayaan panen hari ini. Aku berani jamin wajahmu akan terpampang di halaman depan berita. Bila beritanya positif, itu berarti kau diterima oleh masyarakat beserta keluarga Kerajaan Vlada."
"Kenapa tidak membaca berita di internet? Zaman sekarang, sudah pasti banyak orang yang mencuri fotoku dan membuat berita di mana-mana."
Phillip tertawa. "Kau masih percaya pada berita sembarangan itu? Surat-surat dari rakyat yang kubaca setiap pagi telah menunjukkan bahwa sebagian besar berita yang mereka tonton atau baca di berbagai media itu tidak sepenuhnya benar."
"Dan media utama yang kau bicarakan itu dapat dipercaya?"
"Tentu. Itu adalah media yang dibuat khusus oleh pihak kerajaan."
"Kau yakin mereka menuliskan yang sebenarnya? I'm sorry, Phillip, aku hanya berpikiran skeptis. Aku tahu kau menghormati kerajaanmu, tapi aku tidak akan tinggal diam jika mereka berkata bohong tentang aku."
Tawa Phillip bergema di ruang makan. "Aku suka kau seperti ini, Jane," ujarnya. Dia memegang tangan Jane di atas meja. "Kau membuatku gemas!"
Blush! Kedua pipi Jane memanas seketika. Segera saja dia menundukkan kepala saking malunya.
"Habiskan makananmu. Setelah ini, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
🍗🍗🍗🍗🍗
Bayangan Jane pergi ke luar istana tidak terwujud karena ternyata tempat yang Phillip maksud masih berada di lingkungan Fadar Palace, yaitu di area belakang, terpisah dari bangunan istana.
Jika Alcaz Palace memiliki kolam renang, maka Fadar Palace memiliki sebuah taman labirin luas berbentuk segiempat. Jane belum pernah tahu tentang hal ini karena dikiranya barisan tanaman itu hanyalah sebagai hiasan pagar.
Labirin itu memiliki jalan setapak yang berbelok-belok dan cukup membingungkan bagi orang yang baru pertama kali masuk ke sana. Hal itu juga dialami Jane. Wanita itu sempat kesal karena gagal menemukan Phillip.
"Aku tak percaya kau tidak bisa mencari jejakku, Jane," Phillip terbahak begitu akhirnya mereka sampai di titik tujuan, yaitu sebuah gazebo di tengah labirin.
"Maaf kalau aku bukan pemburu," Jane memutar bola matanya.
Tawa Phillip bertambah keras. "Kau jadi terengah-engah begini," katanya. Pria tampan itu pun menyeka peluh di dahi Jane dengan tangannya.
Segera saja Jane mundur karena menganggapnya jorok.
"Ada apa?"
"Itu keringatku. Mana tanganmu?" Jane meminta tangan Phillip. Setelah Phillip memberinya, Jane menggunakan bagian bawah kaosnya untuk membersihkan telapak tangan pria itu.
Phillip tergelak melihat kelakuan Jane. Dalam hatinya, dia girang. Senyumannya merekah ketika mata bulat Jane meliriknya. "Ini kali pertama kau memegang tanganku," Phillip terkekeh.
Jane tersadar, lalu mendengkus. Wanita berambut ginger itu melepaskan tangan Phillip.
Mereka duduk bersebelahan di bawah naungan gazebo yang dihiasi tanaman rambat sambil memandangi bunga-bunga di sekitar mereka.
"Apa kau pernah pacaran sebelumnya?" tanya Jane.
Phillip berpikir sejenak. "Aku tidak akan menyebutnya sebagai pacaran," jawabnya.
"Kenapa?"
"Karena memang bukan seperti itu. Aku begitu menyukainya sampai rela melakukan apapun untuknya, tetapi ternyata dia tidak menyukaiku."
"Kukira semua wanita menyukai seorang pangeran."
"Lalu, bagaimana denganmu? Apakah pangeran sepertiku pantas untuk kau sukai?"
🍜🍜🍜🍜🍜
Bersambung ke chapter selanjutnya!
Jangan lupa like, vote, dan comment yah guys 😊
See ya...
19APRIL2020