
Maksud Phillip untuk menakut-nakuti Jane tidak berhasil karena wanita itu lebih suka tidak diganggu oleh keluarganya, khususnya ibunya sendiri.
Jane memilih pindah ke istana Thomas, namun hal itu tidak membuat Phillip patah semangat. Baginya, dengan adanya keluarga Jane di istananya, dia dapat mendekati atau bahkan membujuk mereka untuk meminta Jane kembali.
"Selamat datang di Fadar Palace," sambut Phillip begitu Natasha, Jill, dan Harry tiba di istananya. Dia sendiri yang menunjukkan kamar tamu tempat mereka menginap di lantai 2. Sengaja dia tidak memperbolehkan orang lain memakai bekas kamar Jane karena bisa jadi sewaktu-waktu wanita incarannya itu pulang. "Kuharap kalian betah di sini," katanya sopan di depan kamar Natasha.
"Sebenarnya kau tidak perlu seperti ini, Prince Phillip. Kami sudah sangat senang karena diundang ke sini. Terima kasih banyak," ucap Natasha. Senyum sumingrah terpancar di wajahnya. "Boleh aku tahu di mana Jane berada?"
Phillip diam sedetik, lalu menjawab, "Jane sedang berada di Alcaz Palace."
"Sedang apa di di sana?"
"Sedang bekerja," jawab Phillip jujur.
Natasha terkejut. Wanita paruh baya itu ingin putri sulungnya mempersiapkan diri untuk menikah, bukan malah bekerja. "Pekerjaan seperti apa?"
"Oh, aku belum tahu mengenai pekerjaan Jane, tapi tadi Tom menawarinya untuk menjadi asisten."
"Dia bekerja pada Prince Thomas?" tanya Natasha. Kedua matanya langsung berbinar begitu mengetahui informasi barusan.
Phillip dapat melihat ekspresi kelegaan Natasha, sehingga dia menjadi sedikit khawatir. "Ya, Mrs. Watson. Baru tadi pagi mereka berangkat."
Terjadi keheningan di antara mereka sampai Jill datang. "Prince Phillip, terima kasih atas undanganmu," katanya ramah. Rambut ginger-nya sama seperti Jane, hanya lebih pendek, sehingga membuatnya terlihat lebih dewasa.
Phillip terperangah pada Jill karena wajahnya mirip dengan Jane, khususnya di bagian mata. Pria itu pun tersenyum. "Justru aku yang berterima kasih karena kalian mau datang. Well, sekarang aku mau pergi dulu. Silakan beristirahat," Phillip menepuk pahanya sendiri. "Aku permisi."
"Sampai jumpa, Prince Phillip."
Setelah Phillip menghilang, Natasha segera menoleh ke arah Jill. "Kau dengar itu? Jane sedang bersama Tom!" serunya bersemangat.
"Yes, I heard, Mom!" Jill sama girangnya dengan Natasha. Sudah dipastikan dia ikut senang jika kakak satu-satunya akan menikah dengan seorang pangeran. "Tapi, Mom, kenapa Jane atau Tom tidak mengajak kita menginap di Alcaz, tetapi malah membiarkan kita di sini?"
"Mungkin mereka tidak mau diganggu," jawab Natasha. "Biarkan saja mereka di sana. Siapa tahu, begitu mereka ke sini, kita akan mendengar kabar bagus."
Jill tertawa. "Kalau mereka tidak berhasil, Jane akan tetap mendapatkan pangeran yang satu lagi," katanya dengan senyuman jahil.
Natasha tahu pangeran yang dimaksud Jill adalah Prince Phillip, tetapi wanita itu tidak begitu senang mendengarnya. "Aku tidak tahu apa yang akan kukatakan pada Grace bila hal itu terjadi," wajahnya berubah serius. "Kami sudah berjanji akan menjodohkan anak-anak kami ketika dewasa. Jika sampai tidak berhasil, apalagi kalau Jane yang menolak, mungkin Grace akan merasa terhina."
"Bukankah kau bilang Tom yang menolak? Karena itulah aku marah sekali. Maksudku, lihatlah! Jane sangat cantik!" Jill memuji kakaknya. "Menurutku, kalau Tom masih menolak, lebih baik Jane menikah dengan Phillip." Jill mulai menggerutu.
"Kau pikir Phillip menyukai Jane?"
"Tentu saja! Jika tidak, mana mungkin dia mau repot-repot mengundang kita ke sini."
"Kecilkan suaramu, Jill," Natasha melirik ke kanan dan kiri, menyadari bahwa mereka sedang berada di istana. Bukan tidak mungkin tembok atau langit-langit di sini terpasang kamera pengintai.
"Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk Jane," Jill menurunkan nada suaranya, tidak berkobar seperti tadi.
"Kita semua mengharapkan itu, Jill."
πππππ
Di belahan lain Vlada, Jane sedang grogi di belakang kursi limousine putih milik Thomas. Duduk berseberangan dalam jarak dekat dan tanpa penengah membuatnya tidak nyaman. Apalagi ditatap seorang pangeran tampan dengan senyum menawan seperti Thomas.
Gaya duduk Thomas sangat maskulin dengan satu kaki disilangkan ke atas kaki lainnya. Sepatu boots kulitnya menarik perhatian Jane karena menambah kesan macho. Belum lagi ditambah sorot mata nakalnya seolah menghipnotis Jane untuk terus waspada, sehingga tidak dapat berhenti menatap balik padanya.
"Sudah cukup, Tom!" seru Jane yang jantungnya hampir melompat keluar.
Thomas tertawa. "Ada apa?" tanyanya berlagak tidak mengerti.
"Alihkan matamu ke luar jendela!"
"Daripada melihat rakyatku menunjuk-nunjuk mobil ini sambil berbisik, lebih baik aku menatap calon tunanganku yang menggemaskan."
Jane mendengus. "Yang benar saja! Kenapa kau jadi ikut-ikutan seperti Phillip? Kau sama sekali tidak menyukaiku," katanya sembari melipat lengannya di depan dada.
"Kau pikir Phillip menyukaimu?" balas Thomas.
Thomas kembali tertawa. Kali ini tawanya terasa meremehkan sekali. "Dia selalu menyukai semua wanita yang dijodohkan denganku," lanjut Thomas.
Jane sedikit terkejut, tetapi bisa menahan emosinya. "Setidaknya dia menyukai wanita," katanya, lebih seperti gumaman.
"Kau pikir aku gay?" Sekarang Thomas yang menghela napas keras-keras. "Kau benar-benar menyebalkan, Jane."
Jane merasa di atas angin karena telah mengenai pusat kemarahan Thomas. "Kalau begitu, kenapa tidak kau nikahi saja salah satu di antara mereka?" tantangnya.
"Aku tidak mau dijodohkan seperti itu."
"Lalu, kenapa sekarang kau tidak menolak?" debat Jane.
"Aku hanya ingin membuat Phillip jera."
"Jika Phillip betulan menyerah, kau pun tidak akan menikahiku," gerutu Jane. "Aku tidak mau menjadi korban permainan kalian."
Thomas terdiam. "Sorry," ucapnya.
Mendengar permintaan maaf Thomas, Jane melunak. "Sebaiknya kau menggajiku dengan layak," candanya, membuat pria di seberangnya tergelak.
π€π€π€π€π€
Jane harus tercengang melihat Alcaz Palace, tempat tinggal Prince Thomas bersama keluarganya. Taman di Alcaz tidak seluas di Fadar dan lebih banyak ditanami pepohonan tinggi menjulang daripada bunga warna-warni. Namun, hijaunya dedaunan sangat menyejukkan mata yang memandangnya.
Bangunan istana berada 100 meter dari gerbang. Para penjaga berdiri dengan senapan dalam genggaman mereka, siap menembak jika nyawa Thomas dan keluarganya terancam. Ornamen di tembok dan pilar bagian luar bangunan tidak seramai istana pada umumnya, tetapi semuanya terlihat mewah dan kokoh.
"Welcome to Alcaz Palace, Miss Watson," salam Thomas sebelum membuka pintu mobil. "Wait here." Pria itu keluar dan berjalan memutari mobil menuju pintu Jane, lalu membukanya. "Silakan, princess," katanya sembari memberikan sebelah tangannya.
Jane seolah sedang berada dalam cerita dongeng, di mana pangeran tampan dengan sopan menuntun tuan putri turun dari kereta kuda. Dan dia ingin memerankannya sekarang hanya karena lucu. "Thank you, Prince Thomas," balasnya, memberikan tangannya, kemudian turun dengan elegan.
"Kau sudah pantas menjadi putri," Thomas tergelak.
"Tom!" Sebuah suara terdengar dari arah pintu di mana seorang gadis kecil berlari keluar dan menghambur ke pelukan Thomas.
"Daisy!" Thomas menggendong anak itu tinggi-tinggi hingga membuatnya tertawa girang. Rambut panjangnya ikut berterbangan ketika Thomas menurunkannya. Thomas berjongkok di depannya dan bertanya, "Kau sudah mandi?"
Anak itu, Daisy, menggeleng. Ekspresi malu-malu terlihat di wajahnya.
Thomas mengendus pipi, kemudian beralih ke perut Daisy. "Kau bau," ucapnya sambil tersenyum.
"Siapa dia?" tanya Daisy, merujuk pada Jane. Dia menatap wajah Jane, diperhatikannya dengan seksama.
"Hi, Daisy. I'm Jane," kata Jane memperkenalkan diri. Dia ikut berjongkok di sebelah Thomas.
Seketika, Daisy mengerutkan kening.
"Berapa usiamu?"
"Five," jawab Daisy, tapi masih nampak bingung. "Tom, I don't like her," katanya polos.
π§Έπ§Έπ§Έπ§Έπ§Έ
**bersambung ke chapter selanjutnya!!
semoga kalian suka cerita ini yah guys..
maaf aku kelamaan up karena kendala banjir dan sebagainya π
aku minta like dan comment yg banyak yah!
see ya**...