
Masih di posisinya, Anastasia terus menatap datar ke arah pintu keluar castle. Hatinya terus berdoa agar Carl bisa segera membawa Ruth, menyelamatkan Ruth, agar Ruth bisa tetap hidup. Anastasia sudah tidak ingin lagi kehilangan pelayan-pelayan tulus dan baik hati yang selalu menjaga serta selalu menyayanginya. Dia tidak ingin lagi ada nyawa yang hilang karna dirinya.
Baik itu nyawa pelayan, atau seperti nyawa ibunya. Ibu Anastasia Mendiang Ratu Marry yang rela di eksekusi publik karna alasan yang tidak pernah di lakukannya. Ibunya yang selama ini di sebut-sebut sebagai Ratu binal tidak pernah berselingkuh hingga pantas mendapatkan eksekusi publik yang di lakukan di depan mata Anastasia langsung. Di depan mata Anastasia yang baru berusia enam tahun.
Karna itu, apapun yang terjadi Anastasia harus tetap hidup, dirinya harus tetap bernafas dan akan terus berjuang untuk hidup. Untuk selalu menghormati ibunya yang sudah berkorban dan selalu mengatakan jika dia harus bahagia dan meninggalkan segala takdir lahirnya. Karna istana dan segala isinya, adalah hal terkutuk untuk ibunya yang selalu menderita, bahkan menderita hingga maut menjemput paksa ibunya.
Suara pintu yang terbuka membuat kepala Anastasia menoleh. Dari sana, Ferdinand keluar dengan wajah memerah dan rahang mengeres. Kali ini, Ferdinand tidak akan bisa mengontrol dirinya lagi, dan Anastasia tahu itu.
Langkah Ferdinand terus berjalan menuju tangga dan mengabaikan keberadaan Anastasia. Kakinya terus turun dari tangga dengan suara teriakannya yang menggelegar
"STEFANN!!"
Stefanus yang hanya diam di sudut, memejamkan kedua matanya sejenak. Seolah dirinya memang sudah menunggu dan siap untuk di panggil.
Langkah Ferdinand sudah berhenti di tengah-tengah castle, dengan Setefan yang langsung datang sambil membungkuk dalam di depan Ferdinand
"Your Highness"
"Panggil semua pelayan sekarang!"
Dengan patuh, Stefanus mengangguk
"Baik Your Highness"
Tidak lama, beberapa pelayan mulai berdatangan sambil menunduk hormat pada Ferdinand yang terus mengepalkan kedua tangannya. Kali ini, semua pelayan yang sudah berkumpul merasakan perbedaan itu. Mereka yang sudah pernah melihat dan merasakan kemurkaan Ferdinand bisa merasakan jika siang ini, Ferdinand sudah lebih dari hanya sekedar murka.
"Siapa?"
Dingin, tajam, dan siap membunuh. Suara Ferdinand menghantarkan rasa luar biasa takut di dalam setiap hati pelayan. Ferdinand yang melihat kebungkaman semua orang kembali bersuara
"SIAPA!!!!"
Tapi, berdetik-derik terus terlewati tanpa adanya jawaban. Dan itu, membuat Ferdinand kembali bersuara
"SOLAR!"
Solar yang mengerti segera mendekat dan memberikan pedangnya pada Ferdinand. Anastasia yang masih di atas tangga menatap semua yang terjadi, dirinya masih diam saat beberapa pelayan yang sempat memegangi Elsa tadi diam-diam meliriknya, dan keterdiaman Anastasia membuat mereka dengan kepatuhan mutlak, tetap bungkam. Hingga,
SRANG!!
Pedang di tangan Ferdinand keluar dari sarungnya, dan langsung menyentuh leher belakang Stefanus yang terus membungkuk dalam.
Keadaan yang sudah sangat terlihat tidak baik, membuat beberapa pelayan kembali diam-diam melirik Anastasia. Kali ini, Anastasia yang juga sudah bisa mencium aroma tanpa belas kasih, memberikan anggukan singkatnya.
"Ini kesempatan terakhir, atau pedang ini akan menyentuh kalian dengan cara yang tidak bersahabat"
Dan Anastasia, kembali menatap seorang pelayan sambil membuka mulutnya, menyebutkan sebuah nama tanpa bersura.
BRAK!
"Ampun Your Highness"
Seorang pelayan yang sudah mendapatkan pesan dari Anastasia tadi langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai dengan punggung membungkuk dalam. Tanpa ingin menjauhkan pedangnya dari leher belakang Stefanus, arah pandang Ferdinand menatap pelayan itu dengan dingin, sambil berucap tidak kalah dingin.
"Katakan"
Dengan tubuh gemetar, pelayan itu mulai membuka mulutnya yang bergetar takut.
"Ruth"
Dan satu nama yang keluar dari mulut pelayan itu langsung membuat kepala Ferdinand menoleh, menoleh ke atas tangga. Di mana disana, Anastasia terus berdiri dan sudah menatapnya. Ferdinand membuang asal pedang di tangannya dengan kepala yang terus menoleh, dengan arah pandangnya yang terus menatap Anastasia, menatap Anastasia dengan arah pandang yang sudah menggelap.
"Pergi"
Satu kata Ferdinand membuat semua pelayan pergi. Dalam langkah mereka, sesekali mereka menatap Anastasia. Dalam langkah mereka, mereka memulai doa untuk semua hal baik dan semua kebaikan Tuhan yang bisa di berikanNya untuk Anastasia.
Ferdinand memutar tubuhnya, langkahnya mulai bergerak untuk menuju tangga. Tapakan demi tapakan kaki Ferdinand membuat Anastasia semakin mencengkam tangannya dengan kuat karna, hawa membunuh Ferdinand sudah sampai pada Anastasia.
Saat langkah kaki Ferdinand sudah sampai di depan tubuh Anastasia, dengan arah pandang yang sudah menatap Anastasia dengan dingin, mulut Ferdinand berdesis tajam
"Di mana dia?"
Dengan keteguhan hati, keteguhan hati yang sudah mengeras, Anastasia membuka mulutnya
"Ruth tidak melakukan apapun"
"Di mana dia?"
Kembali, Anastasia menjawab dengan ketegasan sambil tetap membalas tatapan menusuk Ferdinand untuknya.
"Ruth tidak melakukan apapun"
Anastasia merasakan jika lehernya langsung tercekik secepat kedipan mata, karna memang tangan Ferdinand sudah berada di lehernya, mencengkam lehernya, mencekik leher Anastasia
"Di mana dia Anastasia!!!! DIMANA PELAYANMU!!!"
Anastasia tetap bungkam dengan wajah yang mulai memerah saat tangan Ferdinand mengeratkan tangannya. Ferdinand yang bisa meyakini jika Anastasia tidak akan membuka mulutnya kembali berteriak
"SOLAR!!!"
"Baik Your Highness"
Dengan cepat Solar segera pergi untuk mencari keberadaan Ruth yang entah kemana dan bersembunyi di mana.
Ferdinand mendekatkan wajahnya pada wajah Anastasia yang sudah semakin memerah dengan kaki yang mulai menggantung, bibirnya berdesis dingin dan tajam
"Apa kau yang memerintahkannya Ana? apa kau yang memerintahkan pelayanmu untuk membunuh Kenna dan anak 'kami' hah!!"
Dengan nafas yang semakin sulit, dengan kaki yang semakin menggantung, dengan jutaan rasa sakit di sekujur dadanya, dengan rasa dingin yang sudah membekukan setiap sudut hatinya, Anastasia berucap dengan susah payah.
"Pe-percayalah dengan apa yang ingin kau percayai. Ka-karna mungkin saja itu memang benar"
Setelah berucap, bibir Anastasia menyeringai. Seringai yang membuat otak sisa Ferdinand menyimpulkan jika Anastasia memang melakukannya. Anastasia yang marah dan kesal padanya, pasti melampiaskan semua perasaannya pada Kenna bahkan pada janin yang tidak bersalah sedikitpun, pada janin yang bahkan masih belum mengenal dunia, pada janin yang tidak memiliki dosa apapun pada Anastasia
"Kau wanita mengerikan Anastasia"
Dengan seringai yang semakin terlihat nyata tercetak di bibirnya, Anastasia kembali mencoba membuka suaranya
"A-aku memang wanita mengerikan suamiku"
Tangan Ferdinand melepaskan cekikannya dan dengan secepat kilat,
PLAAAKK!!
Mendarat keras di pipi Anastasia, sangat keras
BRAAKKK!!!
Tubuh Anastasia terpental jauh ke lantai dengan kuat. Anastasia mengeraskan rahangnya saat rasa sakit yang luar biasa menjalar di tulangnya. Anastasia menelan rasa anyir yang memenuhi mulutnya saat pipinya terasa panas, rasa panas yang menjalar hingga ke kepalanya.
Tapi ternyata, kesakitan itu belum cukup. Karna tangan Anastasia langsung di tarik dengan sangat kuat, yang memaksan kedua kaki Anastasia untuk berdiri dan mengikuti seretan Ferdinand.
"Aku akan menunjukkan hal yang pantas untuk wanita mengerikan sepertimu Ana"
Tidak ada penolakan, tidak ada komentar, tidak ada suara, Anastasia hanya membiarkan dirinya di seret dengan kasar. Di seret tanpa ampun untuk menuju kamarnya.
Brak!
Ferdinand menendang begitu saja pintu kamar Anastasia. Langkahnya terus membawa Anastasia menuju kamar mandi, terus menyeret tanpa ampun tubuh pasrah Anastasia
Bugh!
"Sekali lagi aku bertanya Anastasia, di mana pelayanmu!"
Anastasia mengatupkan mulutnya yang membuat keheningan menyelimuti mereka. Keheningan yang membuat darah Ferdinand mendidih, keheningan yang membuat Anastasia kembali menyeringai dan....
Rasa dingin, rasa menusuk, rasa sakit langsung menerpa wajah Anastasia. Wajah Anastasia yang sudah berada di bawah kekuasaan Ferdinand, Ferdinand yang sudah mencelupkan wajah Anastasia ke dalam air di bak mandi, menghantarkan rasa sakit yang sudah mengoyak seluruh hati Anastasia
Gigi Ferdinand mengerutuk kuat selama menunggu detik-detik untuk mengangkat dan kembali menenggelamkan kepala Anastasia dengan kuat. Rahang Ferdinand mengeras saat menunggu menit-menit untuk mengangkat dan kembali menenggelamkan kepala Anastasia hingga semua air berjatuhan ke lantai. Pelipis Ferdinand bergerak-gerak penuh kemarahan untuk mengangkat dan kembali menenggelamkan wajah Anastasia ke dalam air.
Ferdinand sudah buta, tuli, dan tidak mengerti dengan apa yang terus di lakukannya. Tangannya terus bergerak yang menurutnya, untuk memberikan pelajaran pada Anastasia. Hingga cukup puas, Ferdinand menahan kepala Anastasia, menahan keinginannya untuk kembali mencelupkan wajah Anastasia.
Suara batuk yang syarat akan rasa sakit dan menyesakkan, membuat seringai Ferdinand terbit.
"Apa kau masih ingin bungkam?"
Di sisa-sisa batuk dan nafas sesaknya, Anastasia berucap lirih
"Aku merasa jika Ruth pasti sudah aman"
Kali ini, dengan lutut yang sudah bertumpu di atas lantai, Ferdinand mendorong kepala Anastasia dengan sangat kuat ke dalam air.
Banyaknya air yang tumpah dari dalam bak mandi sudah cukup untuk menjelaskan seberapa kuat dorongan yang di lakukan Ferdinand.
Setiap detik terlewati dengan tangan Ferdinand yang terus menekan wajah Anastasia, hingga di menit pertama terlewati tanpa sedikitpun Ferdinand menurunkan kekuatannya. Anastasia yang tadinya hanya pasrah mulai menunjukkan pergerakan, tangannya mulai meronta, kepalannya mulai mencoba menghindar.
Anastasia.... sudah di ujung batas nafasnya....
BRAAKKK!!!
"Hentikan Your Highness!!!!!!!!!"
Solar langsung berteriak ketika bisa melihat dan menilai semua hal yang terjadi di depan natanya. Dan saat itulah, akhirnya Ferdinand membiarkan Anastasia mengangkat kepalanya.
Suara batuk yang menyakitnya, dan suara nafas yang menyesakkan langsung mengisi seluruh suara di kamar mandi
Kedua mata Solar masih membulat dengan wajah menatap Ferdinand dengan raut wajah tidak percaya. Ferdinand masih terdiam dengan wajah terkejut, hingga Solar kembali berucap.
"Nona Kenna ingin bertemu anda, Your Highness"
Suara Solar akhirnya mengembalikan nyawa Ferdinand, dengan cepat kakinya segera bangkit dan berlari menuju ke pintu keluar kamar mandi.
Melihat tubuh Ferdinand yang sudah menghilang, Solar dengan cepat membuka mantelnya dan berlari ke arah Anastasia, ke arah Anastasia yang sedang mengatur nafasnya.
"Maafkan kelancangan saya Your Highness"
Dengan cepat, mantel hangat itu langsung menyelimuti tubuh Anastasia yang terus gemetar.
"Mari Your Highness... Kita harus membuat tubuh anda hangat"
"Tolong...."
Suara yang akhirnya Anastasia keluarkan, membuat Solar memberanikan diri untuk menatap Anastasia, menatap Anastasia yang sudah mencengkam lengannya sambil menunduk.
"Your Highness?"
"Aku sudah tidak sanggup, aku menyerah, aku sudah tidak bisa lagi..." Kepala Anastasia terangkat pelan, arah pandangnya menatap Solar dengan penuh permohonan dan keputusasaan. "Bawa aku pada His Majesty......"
Saat Solar sudah bisa melihat dengan baik wajah itu, wajah penuh derita dan luka, wajah yang menahan rasa sakit. Saat Solar sudah bisa menatap dengan baik kedua bola mata sebiru langit cerah itu, kedua mata yang penuh keputusasaan, kedua bola mata yang sudah sampai pada akhir perjuangannya. Hati Solar berdenyut dan kepalanya langsung mengangguk patuh.
"Baik Your Highness. Dan sekali lagi, maafkan kelancangan saya"
Dengan cepat, Solar mengangkat tubuh Anastasia di kedua tangannya dan berlari menuju pintu keluar. Solar sudah siap jika setelah ini akan menerima semua kemarahan Ferdinand, karna memang ini lah tugas lain yang di berikan Raja Fredrick untuknya
"Saat mungkin Carl tidak ada, kau harus membawa Putri Anastasia ketika dia memintanya"
Dalam setiap langkahnya, isi kepala Solar terus menggema ucapan Raja Fredrick padanya.
Dan ini lah akhir dari semua misi rahasia Solar.....
Karna Anastasia, sudah menyerah pada segalanya...
Pada impiannya tentang Ferdinand, dan pada semua harapannya pada Ferdinand. Anastasia sudah tidak sanggup lagi, dan membiarkan dirinya tenggelam dalam kata....... 'menyerah'.
--000--
Keelft langsung membuka pintu ruang rapat tanpa repot-repot berniat untuk mengetuk terlebih dahulu. Fredrick yang melihat itu, langsung berdiri dari tempatnya tanpa perlu bertanya kenapa, karna raut wajah Keelft sudah menjelaskan jika sudah terjadi sesuatu yang fatal.
Henry yang melihat kepergian Fredrick tanpa ingin mengucapkan sepatah dua patah kata berbasa basi, langsung mewakilkan basa basi busuk untuk Fredrick
"Karna ada sesuatu yang sangat penting dan harus di lakukan sekarang, His Majesty harus pergi. jadi saya sendiri yang akan meneruskan semuanya, gentlemen. Mari kita lanjutkan"
Sedangkan Victoria dan Francesca yang juga sedang ada di sana ruang rapat, dengan anggun segera berdiri dari kursinya saat mendengar Henry yang tanpa di minta langsung melakukan keputusan menyenangkan. Mereka tidak akan membiarkan diri mereka terus di hantui rasa penasaran, karna tadi mereka sempat melihat raut wajah Ferdinand yang sudah berubah dingin. Pertanda jika sesuatu yang fatal sudah terjadi.
Sedangkan Solar dan Anastasia yang baru sampai di insta kuda utama istana, segera turun dari kuda
Dengan sangat berhati-hati Solar membantu Anastasia untuk turun. Lalu kembali menyerahkan mantel hitamnya pada Anastasia. Anastasia yang mengerti langsung memakai mantel hitam besar milik Solar dan langsung menarik penutup kepala mantel ke atas. Untuk menutupi diri dan wajahnya yang pasti terlihat babak belur.
Dalam diam mereka terus melangkah menuju ruang kerja Raja Fredrick. Hingga saat sudah sampai di sana, Solar segera mengetuk pintu
"Your Majesty, Her Highness datang"
"Masuklah"
Saat Solar sudah membuka pintu, Anastasia langsung masuk dengan sopan sambil menatap sekitar. Di dalam ruangan itu, sudah ada lima orang yang terlihat memang menunggunya.
Dengan cepat, Anastasia membuka penutup kepalanya dan segera memberikan salam pada Fredrick dan Victoria yang duduk bersebelahan
"Selamat sore, Your Majesty"
Di raut wajah datar Victoria dan Francesca, mereka tertengun saat melihat jejak-jejak kekerasan di wajah, dan juga di gaun saat Anastasia sudah membuka mantel Solar, dan langsung mengembalikannya. Fredrick yang juga bisa melihat itu hanya diam tidak terbaca, sambil menganggukkan kepala singkat pada Anastasia
Dengan cepat Solar menarik kursi untuk Anastasia. Setelah Anastasia duduk, keheningan masih menyelimuti ruang kerja Fredrick. Francesca dan Victoria terus menatap wajah babak belur Anastasia yang terus menarik bibirnya ke atas, menarik bibirnya agar tetap tersenyum lembut. Hingga akhirnya, Fredrick membuka suara.
"Menangislah...."
Sudah sekuat nyawa Anastasia menahan segala rasa sakit yang sangat menghancurkan hatinya. Tapi, hanya dengan satu kalimat dengan nada lembut dari Fredrick, isakan Anastasia tumpah. Tumpah dan meledak, hingga isakan itu membuat Francesca mengeratkan kedua tangannya, hingga membuat Victoria memejamkan kedua matanya dengan pasrah, hingga Solar menundukkan kepalanya, hingga Jeremmy membuang wajahnya menatap keluar jendela, hingga Tomy membuang nafas berat.
Isakan Anastasia terus meledak, hingga suara raungan tangis menyesakkan membuat Francesca berdiri. Duduk mendekat pada Anastasia untuk memberikan pelukan yang di harapkannya bisa sedikit mengobati segala beban dan sakit di dalan hati Anastasia.
Dengan wajah datar tidak terbaca, jari telunjuk Fredrick terus menggaruki cangkir tehnya. Arah pandangnya terus menatap ke arah Anastasia dalam diam, entah apa yang di pikirkan Fredrick, tapi Jeremmy bisa melihat sebuah pola terbuka hari ini.
"Saya sudah lebih baik, Putri Francesca"
Francesca hanya diam dengan wajah datarnya yang sudah kembali menatap wajah Anastasia saat pelukkan mereka berpisah. Tangan Francesca dengan hangat menghapus air mata Anastasia, kehangatan serta rasa kebaikan tulus Francesca yang langsung sampai ke dalam hati Anastasia. Bibir Anastasia tersenyum hangat
"Terimakasih"
Tanpa menjawab, Francesca langsung berdiri dan mengambil kursi terjauh di meja rapat ruang kerja Raja. Fredrick yang melihat jika Anastasia sudah tampak lebih tenang, kembali bersuara
"Katakan saja, apa yang sekarang kau inginkan Putri Anastasia"
Anastasia menarik nafasnya sejenak. Dengan bibir bergetar, suara Anastasia mulai terdengar
\=\=\=💚💚💚💚
Jangan lupa tinggalin like, komen, kalo sukak sama ceritanya yukk vote-nya juga...
Salam sayang semua.....