Marrying The Prince

Marrying The Prince
41


Anastasia sedang sibuk menjelajahi taman yang ada di belakang castle. Kakinya terus melangkah menelusuri labirin yang cukup membuatnya harus memutar otak agar bisa menemukan jalan pulanh. Sesekali helaan nafasnya terdengar karna dia salah memilih jalan. Ruth yang melihat itu hanya terkekeh geli dan akhirnya menuntun langkah mereka ke jalan yang benar.



"Kau benar-benar paham jalan labirin ini Ruth"


"Karna dulu selain di Youksire, di sini juga tempat bermain Her Highness dan His Highness. Sesekali juga Pangeran Camerone, Putri Caroline, Lord Michael dan Lord Dominic juga sering ke sini. Labirin ini selalu jadi tempat mereka mengasah ingatan"


"Dan akhirnya kau juga jadi sangat ingat setiap jalan di sini?"


Sambil terus menuntun langkah mereka, Ruth mengangguk. Dan tidak lama, bibirnya tersenyum geli. Anastasia yang menyadari senyum geli serta pandangan menerawang Ruth ikut tersenyum.


"Apa yang membuatmu menjadi geli Ruth?"


"Karna di sini His Highness dan Pangeran Camerone pernah hilang berdua hingga membuat keributan"


"Oiya...?" Anastasia semakin tertarik dengan cerita Ruth. "Ceritakan Ruth"


Masih dengan senyum geli yang tercetak di bibirnya, Ruth muali bercerita saat mereka sudah keluar labirin dan akan menuju ke taman bunga



"Dulu, His Highness Pangeran Ferdinand pernah mengerjai Putri Caroline. Putri Caroline menangis karna kakinya berdarah dan melapor pada ayahnya. His Highness Pangeran Henry langsung mencarinya setelah Putri Caroline melapor dan His Highness Pangeran Ferdinand yang ketakutan langsung bersembunyi masuk ke dalam labirin terlebih, karna rasa takut jika His Majesty tahu tentang kenakalannya. His Highness Pangeran Ferdinand terus bersembunyi hingga akhirnya tersesat. Hingga waktu sore hari, Pangeran Camerone yang paling bisa mengingat labirin ini juga ikut mencari, tapi karna hari sudah malam dan keadaan gelap Pangeran Camerone pun jadi ikut tersesat. Hingga berjam-jam mereka belum juga kembali, akhirnya His Majesty turun tangan. Mereka di temukan para kesatria sedang berdua di tengah labirin sambil menangis"


Kekehan geli Anastasia membuat Ruth ikut terkekeh.


"Lalu?"


"Pengadilan di adakan oleh His Majesty, tapi His Highness Pangeran Ferdinand tetap tidak mau mengakui kenakalannya. His Majesty akhirnya menghukum His Highness Pangeran Ferdinand untuk sekali lagi melewati labirin hingga dia bisa kembali sendiri. Saat itu His Highness Pangeran Ferdinand berusia delapan tahun"


Kepala Anastasia langsung menoleh menatap Ruth dengan mata melebar


"Benarkah?"


Suara Anastasia yang syarat akan rasa tidak percaya membuat Ruth terkekeh sambil mengangguk yakin.


"His Majesty memang penyayang, tapi juga sangat tegas. His Majesty tidak akan melunak jika anak-anaknya memang melakukan kesalahan yang merugikan orang lain, terlebih pada His Highness yang memang lebih nakal di bandingkan semua saudari dan semua para sepupunya. Dan karna His Highness adalah seorang pria, His Majesty selalu mendidiknya untuk menjadi pria yang bertanggung jawab"


Anastasia mengangguk paham sambil tersenyum. Isi kepalanya membayangkan ketika Ferdinand yang masih kecil menangis ataupun sedang bermain sambil tertawa. Bayangan itu membuat Anastasia gemas, Ferdinand pasti sangat menggemaskan dan tampan saat kecil.


"Apakah kalian sudah selasai menceritakan masa kecil ku?"


Suara yang masuk di dalam obrolan mereka membuat Ruth tersetak dan menunduk takut. Anastasia yang melihat ketakutan Ruth langsung melangkah ke depan Ruth, seolah membentenginya.


Dan pergerakan Anastasia membuat Ferdinand memutar bola matanya dengan malas


"Aku tidak akan memarahinya An, Ck!"


"Kau janji?"


"Hei.. tentu saja! Memang aku segalak itu"


Hembusan nafas lega Anastasia terdengar.


"Kau dengar kan Ruth. Tidak apa-apa karna Pangeran Ferdinand tidak galak"


Sudut bibir Anastasia berkedut ketika Ferdinand langsung merengut tidak suka.


Anastasia masih menatap Ferdinand, menilai wajah dan penampilannya yang sangat menunjukkan penampilan dan wajah bangun tidur.


"Anda sudah makan Pangeran?" Sekali lagi, Ferdinand merengut tidak suka dengan ucapan Anastasia. Dan Anastasia yang menyadari itu langsung memperbaiki ucapannya. "Kau terlihat seperti baru bangun. Apakah 'kau' sudah makan siang 'Ferdinand'....?"


Dengan menahan senyum gemas, Ferdinand menggeleng kuat. Dia memang belum makan dan entah kenapa isi kepalanya saat bangun hanya ingin bertemu Anastasia.


"Ayo makan, aku temani?" Ohh tidak... nada lembut dan senyum lembut Anastasia di bawah langit sore membuat Ferdinand tertengun karna pesona kelembuatan itu. Sialan! Kenapa Anastasia selalu sangat cantik ketika di terpa cahaya matahari?


"Ferdinand?"


"Ahh.. iya" Ferdinand melirik Ruth yang masih nunduk dan sudah mengambil jarak di antara mereka. "Aku lapar Ana"


***


Setelah menemani Ferdinand makan siang atau sorenya, mereka kembali ke taman. Selama dirinya melangkah Ferdinand selalu melirik kedua mata Anastasia, hal sama yang di lakukannya ketika dia sedang makan. Kedua mata Anastasia yang sedikit memerah sangat mengganggu pikirannya.


"Kau habis menangis?"


Ferdinand yang tidak mendapatkan jawaban mulai gusar.


"Apa karna aku lagi?"


Dan kali ini, Ruth dan seorang pelayan yang mengikuti Ferdinand dan Anatasia langsung semakin membuat jarak jauh di antara mereka. Senyum tipis Ruth terbit.


"Bukan Ferdinand"


Dengan pelan Anastasia menjawab sambil melangkah, tidak ada kebohongan dalam jawabannya tapi, Ferdinand mengartikan hal lain.


"Aku... aku minta maaf"


"Hm?"


Ferdinand membuang wajahnya saat melihat pergerakan wajah Anastasia yang mengarah padanya.


"Aku minta maaf soal semalam. Aku... em... Bukan bermaksut seperti itu" Hati Anastasia menghangat hingga sampai ke bibirnya yang juga ikut tersenyum hangat, menatap Ferdinand yang sekarang sudah kembali berani menatapnya. "Semalam aku sedikit mabuk dan em... kesal An"


"Hanya itu?"


Saat langkah mereka sudah sampai di meja taman bunga, Ferdinand kembali berucap setelah sempat berpikir keras.


"Apanya yang 'Hanya itu' An?"


Dengan sudut bibir yang berkedut geli, Anastasia mendaratkan bokongnya ketika Ferdinand sudah menarik kursi untuknya. Ferdinand ikut mengambil kursinya dengan wajah yang terus menatap Anastasia, wajah yang meminta penjelasan.


"Hanya meminta maaf soal semalam?" Ferdinand menggigit pipi dalamnya. Baiklah... dia akan meminta maaf tentang yang satu ini. "Dan juga karna aku selingkuh"


Anastasia hampir terbatuk karna mendengar ucapan Ferdinand. Sebenarnya Anastasia hanya berniat untuk menggoda tapi, ucapan Ferdinand membuat semua pertanyaan timbul di dalam benaknya. Pertanyaan seperti, apakah Ferdinand benar-benar menyesal?


Hanya suara pergerakan pelayan yang sedang mengisi meja yang terdengar di antara mereka. Anastasia sibuk dengan pikirannya dan Ferdinand juga sibuk memikirkan apa yang di pikirkan Anastasia hingga helaan nafas Anastasia, membuat Ferdinand menegakkan punggungnya.


"Ruth"


"Iya Your Highness..."


"Tinggalkan kami dulu ya. Ada hal penting yang harus kami bicarakan"


Setelah melihat Ruth dan dua pelayan lain pergi, Ferdinand menatap Anastasia dengan lekat. Anastasia yang di tatap dengan pandangan bertanya membuang nafas panjang. Helaan nafas yang penuh dengan perasaan berkecamuk.


"Apa kau paham makna dari permintaan maafmu Ferdinand?"


Ferdinand yang mendapatkan pertanyaan tidak terduga mengejapkan matanya dengan bingung.


"Memang permintaan maaf perlu makna?"


Anastasia mengangguk yakin.


"Permintaan maaf itu di ucapkan karna kita sadar atas kesalahan kita dan merasa bersalah. Dan kau... apakah kau merasa bersalah?"


"Tentu saja. Aku merasa bersalah"


"Karna apa?"


"Selingkuh"


Kepala Anastasia mengangguk pelan.


"Selingkuh? Berarti kau menyesal karna masih berhubungan dengan nona Kenna?" Dan Ferdinand... langsung mengatupkan mulutnya. Anastasia melanjutkan. "Apakah kau menyesal karna masih berhubungan dengan nona Kenna ketika kita sudah memiliki ikatan?" Ferdinand kembali diam. "Jika iya, berarti permintaan maafmu bermakna, kau tidak akan mengulanginya lagi dan sudah siap untuk tidak berselingkuh lagi yang juga dalam artian........"


Kedua tangan Anastasia terkepal kuat. Anastasia sedang menahan tangisnya dengan seluruh tubuhnya yang sudah bergetar. Dia mengerahkan dan menakan segala ketakutannya untuk mengelurkan pertanyaan demi pertanyaan. Segala pernyaan yang bisa saja akan meremukkan hati sendiri. Tapi dia, tidak bisa mundur lagi


"Kau tidak akan lagi tidur dan berhubungan dengan nona Kenna, bahkan sekalipun hanya untuk bertemu dengannya.... Itulah makna dari permintaan maaf mu"


Anastasia semakin mengepalkan kedua tanganya. Arah pandangnya menatap Ferdinad dengan menahan semua rasa sakit di hatinya. Menatap Ferdinad yang sekarang sudah membuang wajahnya, tidak ingin menatapnya lagi.


"Ferdinand... sebenarnya, kau memang tidak pernah sekalipun memikirkan dengan serius tentang pernikahan ini, tentang aku sebagai istrimu kan?"


Anastasia berucap lirih dengan seluruh perasaan nyeri di hatinya


\=\=\=💚💚💚💚


Silahkan jejaknya....