
Monalisa Arathorn, istri dari Arthur Arathorn masih tidak percaya dengan isi surat yang baru saja selesai di bacanya. Surat dengan amplop biasa, tanpa segel, tanpa kemewahan, dan terlihat tanpa ada sedikitpun hal spesial tapi, di kirim dari orang paling penting di Francia. Surat yang sukses memberikan berita hingga Arthur terus mengumpat keras.
"Aku sangat yakin Mona. Aku sangat yakin saat merawat Her Majesty yang sedang mengandung dulu, aku sudah memberikan yang terbaik dari semua yang terbaik untuknya, terlebih untuk memenuhi nutrisi kandungannya"
Mona melipat kembali surat di tangannya, surat yang memang sudah mengabarkan berita luar biasa untuk mereka. Sambil tersenyum lembut, Mona mengusap sebelah bahu suaminya
"Kau pasti memang sudah memberikan hal yang terbaik sayang, aku yakin itu. Tapi yang jadi masalah adalah mereka sendiri" Mona memindahkan tangannya ke punggung Arthur dan kembali membelainya. "Lihatlah bagaimana jauhnya perbedaan kecerdasan mereka. Her Highness Putri Francesca dan His Highness Pangeran Ferdinand. Perbedaan itu pasti karna saat mereka masih di dalam kandungan Her Highness selalu bisa merebut lebih banyak nutrisi penting. Well...tentu saja His Highness hanya akan mendapatkan sisa yang sudah dia tunjukkan efeknya sekarang. Otak sisa"
Ucapan tajam dan cukup kasar Mona membuat Arthur hampir terbahak. Istrinya yang jarang mengeluarkan komentar itu kali ini pasti sudah sangat geram.
"Itu sedikit kasar sayang"
Mona mengedipkan bahunya dengan acuh dan kembali meraih kertas surat. Lalu mengibas-ngibaskan kertas surat di depan wajahnya yang sedikit memerah. Arthur tahu jika warna merah yang timbul di wajah istrinya itu sekarang, karna sebuah kemarahan
"Aku perlu bicara pada Lottie, Archi"
"Ayo"
"Nope! kau tidak perlu ikut campur sayang. Ini urusan wanita. Ini masalah wanita"
Ok well... baiklah.... Arthur hanya bisa mengangguk jika begitu. Walaupun istrinya memang cukup pendiam, tapi istrinya pernah mengatakan jika dia cukup menyukai Anastasia. Apa lagi masalah ini sudah menyangkut seorang wanita, seorang istri yang harga dirinya sedang di injak-injak seperti sampah oleh suaminya.
"Hhmm... jangan terlalu keras sayang?"
Mona mengabaikan permintaan suaminya. Langkahnya dengan cepat menuju ke taman belakang castle Albany. Tempat dimana Charlotte dan anak-anak mereka sedang bermain.
***
Makan malam kali ini ternyata tidak seperti perhitungan Anastasia. Dia pikir, meja makan malam ini akan sangat ramai seperti siang tadi tapi, kali ini tidak. Semua orang tampak tenang saat mengerakkan sendok dan garpu mereka dalam diam.
Kali ini, di kursi meja makan hanya terisi tiga orang. Pemandangan yang sangat luar biasa untuk di lihat semua mata.
Suami istri dan... kekasih suaminya.
Miris dan menyedihkan ketika di depan publik suamimu melemparkan kotoran ke wajahmu, tanpa perlu ingin repot-repot menyembunyikan seberapa tidak berharganya dirimu di matanya.
Di sela-sela kunyahan dagingnya, Anastasia tersenyum kecut ketika pemikiran itu terlintas. Terlebih saat dirinya melihat bagaimana Kenna sangat bisa terlihat nyaman saat berada di sela-sela mereka. Entah apa yang ada di pikiran serta hati wanita itu, rasanya Anastasia ingin memberikan tepuk tangan untuknya. Untuknya yang tetap bisa selalu tenang dan damai, belum lagi di situasinya sekarang, dia berani dengan terang-terangan bisa meminta perhatian dan perlindungan dari Ferdinand, suami orang lain.
Anastasia bukan tidak tahu, apa yang para pelayan lakukan saat baru beberapa jam Kenna dan Elsa berada di castle. Dirinya tahu jika para pelayan mulai berbisik dengan suara yang bisa di dengar, mereka mulai menatap dengan tatapan yang jelas mencerminkan perasaan mereka, dan mereka sangat jelas menunjukkan gerak gerik yang sesuai dengan pikiran mereka.
Karna merasa tidak sanggup lagi menelan segala menu spesial yang terasa hambar di mulutnya, Anastasia dengan anggun segera membalik sendok dan garpunya.
Ferinand melirik piring Anastasia saat menyadari gerakan Anastasia yang sudah meminum airnya, lalu mengusap sudut bibirnya.
"Saya sudah selesai makan dan sangat mengantuk. Jadi saya pamit terlebih dahulu, Your Highness"
Setelah berucap, Anastasia langsung menegakkan kakinya dan sudah siap untuk secepat mungkin lenyap dari sana tapi,
"Aku ingin membicarakan sesuatu padamu"
Suara Ferdinand membuat pergerakannya Anastasia berhenti sejenak, lalu kembali bergerak dengan kepala yang mengangguk singkat
Setelah Anastasia pergi, suara nafas panjang Kenna terdengar. Ferdinand yang juga tidak memiliki selera makan lagi untuk mengahabisakan makannya, segera membalik sendok garpu sambil bersuara.
"Kenapa?"
Kenna melirik sekitar sejenak, lalu sedikit mendekatkan tubuhnya pada Ferdinand untuk berbisik
"Apa malam ini kita tidak bisa tidur bersama?"
Gerakan tangan Ferdinand yang sedang mengusap sudut bibirnya terhenti
"Banyak mata dan telinga di sini Kenna"
Kenna mendengus kasar sambil membalik sendok garpunya
"Di sini kekuasaanmu, kenapa kau takut? Lagi pula semua penghuni di sini sudah tahu siapa aku. Seperti yang terus mereka bisikkan semenjak kedatanganku tadi, aku ini adalah pelacur His Highness"
"Kenna....."
"Jadi biarkan pelacur ini menjalankan tugasnya"
Akibat dari napkin yang di banting dengan kuat di atas meja, suara sendok dan garpu yang berdenting kuat di atas piring membuat semua orang tersentak. Termasuk Kenna yang sekarang sudah mengatupkan mulutnya.
"Selesaikan makanmu. Dan jangan membicarakan omong kosong lagi"
Ferdinand segera beranjak dari kursinya tanpa menoleh lagi pada Kenna, pada Kenna yang menatap punggunnya dengan tatapan kesal. Dan tidak lama... para pelayan di sana segera beraksi. Beberapa dari mereka langsung pergi dan beberapa dari mereka masih tinggal di sana untuk... berbisik keras.
Kenna yang sudan tahu jika ini akan terjadi di saat dirinya berpisah dari Ferdinand segera bangkit dari kursinya, bangkit dengan kasar hingga suara decitan kursi kayu manohi terbaik itu menggema.
"Aku yang hanya pelayan bahkan bisa lebih anggun di bandingkan dia"
"Hei! jangan samakan perkerjaan terhormat kita yang bisa melayani keluarga kerjaan dengan seorang pelacur murahan"
"Hahha... oups! Kau benar. Pelacur kan hanya punya kemampuan untuk membuka kakinya"
"Hahha....."
"On point! Hahaha"
Dan suara-suara seperti itu... mulai selalu menemi setiap jejak langkah Kenna di dalam rumah barunya, castle yang sekarang sangat ingin di milikinya.
--000--
Anastasia masih menatap lurus ke arah depan, ke arah pintu penghubung kamar. Dirinya yang sudah duduk di kursi kerja kamar Ferdinand, terus diam menunggu Ferdinand yang belum juga membuka suara. Hingga akhirnya, hembusan nafas panjang Ferdinand terdengar.
"Aku ingin kau bersikap baik selama mereka di sini"
"Baik, Your Highness"
"Kenapa kau tidak memberitahukan ku tentang surat-surat itu?"
Kali ini, Anastasia tidak langsung menjawab. Terjadi keheningan selama beberapa detik, hingga suara Anastasia terdengar
"Maaf Your Highness"
Jawaban acuh terlebih sikap formal Anastasia membuat Ferdinand mulai kesal
"Aku bertanya kenapa Ana. Kenapa kau tidak memberi tahukan padaku tentang surat-surat itu? kenapa kau menyembunyikannya?" Ferdinand mendengus kesal. "Aku yakin kau membaca isinya"
Kedua tangan Anastasia yang ada di atas pangkuannya terkepal, saat semua rasa menyakitkan mulai menjalar di dadanya
"Saya minta maaf, Your Highness"
BRAK!
Gembrakan meja serta tubuh Ferdinand yang sudah berdiri dari kursinya dengan mata yang menatap Anastasia dengan tajam, nyatanya tidak membuat Anastasia bergeming sedikitpun.
"Aku bertanya kenapa kau tidak memberitahuku tentang surat-surat itu Ana! Kenapa kau tidak memberitahukan jika mereka sudah kehilangan kedai dan rumah mereka! Mereka nyaris menjadi gelandangan! mereka nyaris mengais makan di dalam tempat sampah! Me-"
"Karna saya tidak peduli"
Suara datar serta isi perkataan Anastasia membuat Ferdinand menatapnya dengan pandangan tidak percaya
"Kau... Kau kelewatan Ana!! Apa kau tidak punya hati hah?!"
Arah pandang Anastasia tetap tidak berubah, dirinya tetap tidak ingin menatap Ferdinand, seolah pintu penghubung kamar mereka lebih menarik dari apapun, lebih penting dari apapun
"Saya memang tidak mempunyai hati pada mereka, Your Highness"
BRAAAAKKKK!!!
"KAU TAHU JIKA KENNA SEDANG MENGANDUNG JANINKU! DAN KARNA KAU DIA HAMPIR KEHILANGAN JANIN ITU ANA!!"
Anastasia tahu, dia bahkan sudah mengetahui hal itu terlebih dahulu di banding Ferdinand. Karna itu setiap malam Anastasia selalu berdoa, selalu memohon pada tempat satu-satunya dia bisa mengadu dan meminta, meminta kekuatan agar dia bisa menerima kenyataan itu, meminta kekuatan agar apapun yang terjadi dia bisa tetap bisa bernafas dengan benar. Tapi malam ini, setelah benar-benar mendengar langsung ada seseorang yang menyebutkan hal itu, setelah ada seseorang yang benar-benar memperjelas hal itu, terlebih dari siapa ucapan itu keluar. Segala jenis rasa pedih menjalar dengan cepat menggerogoti di semua sudut hati Anastasia, meremukan dan mengginjak hatinya yang langsung membuat arah pandang Anastasia dengan cepat menjadi buram.
"Jawab aku Ana!"
"Apa yang ingin anda dengar?" Dengan kedua mata yang sudah penuh, akhinya Anastasia menatap Ferdinand. "Apa yang anda harapkan? apa anda mengharapkan seorang istri yang dengan suka rela memberikan surat-surat dari kekasih suaminya, sambil menceritakan setiap detail bagaimana kekasih suaminya yang terus merindukan pelukan, ciuman, belaian, dan bagaimana panas suaminya saat berada di atas ranjang bersama kekasihnya?"
"Ak-"
"Atau anda ingin saya datang pada anda dengan wajah ceria sambil mengatakan jika. Ferdinand, lihatlah ada surat dari kekasihmu! Lihatlah bagaimana dia sangat ingin bertemu denganmu Ferdinand! atau anda menginginkan saya untuk menjelaskan secara detail bagaimana kegiatan panas kalian di atas ranjang seperti yang di tuliskan kekasih anda dalam surat-suratnya? Perbuatan hina kalian yang akhirnya membuahkan hasil itu?"
"ANA!!"
Anastasia tidak bisa lagi menahan dirinya, menahan dirinya untuk tenang karna, kakinya sudah ikut berdiri dari kursi untuk membalas tatapan Ferdinand dengan dingin, menatap dengan dingin dari kedua matanya yang sudah menumpahkan cairan hangat.
"Apa anda juga ingin saya akan mengatakan, Ohh selamat suamiku! kau dan kekasihmu akan segera menjadi orang tua!!! Selamat! aku turut berbahagia karna kau sudah menjadi seorang ayah!!. APA ANDA INGIN SAYA MENGATAKAN ITU!!"
BRAKKK!!!
"Kau tahu bukan itu malasalah yang sedang aku perdebatkan Ana!! Ka-"
Mulut Ferdinand langsung mengatup, Ferdinand tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya saat mendengar kekehan kuat menggema, saat dirinya melihat Anastasia yang terkekeh kuat sambil mengusapi dengan kasar kedua pipinya. Mulut Ferdinand terasa keluh, desiran menyesakan mulai melahap paru-parunya.
"Ana....."
Suara lirih Ferdinand yang entah untuk apa membuat Anastasia berhenti terkekeh. Arah pandangnya kembali menatap Ferdinand,
"Tolong jangan terlalu kejam Your Highness. Jangan cabik harga diri saya dengan sangat kejam. Biarkan saya tetap melakukan hak saya sebagai seorang istri, walaupun mulai sekarang semuanya akan saya ubah"
Setelah selesai berucap, Anastasia segera berlari menuju pintu penghubung. Membuka pintu dengan cepat dan langsung membanting pintu itu dengan kuat, sangat kuat.
Dirinya yang sudah bertahan sekuat tenagapun akhirnya jatuh. Kaki Anastasia sudah tidak tahan lagi untuk menahan semua bebannya. Anastasia terjatuh di atas karpet yang dingin, Anastasia meringkuk di atas karpet yang hampa
Suara isakan kuat, suara jeritan tertahan, suara tangan yang terus memukuli dada terus mengisi seluruh sudut kamar Anastasia.
Andai saja, andai saja Anastasia mempunyai orang tua yang mencintainya, saat ini dia pasti mempunyai tempat untuk bisa mengadu dan menangis pada mereka. Andai saja Anastasia memiliki keluarga yang menyayanginya, dirinya pasti bisa mempunyai tempat untuk meminta pertolongan dan perlindungan tapi, kata 'andai saja' hanya tetap akan menjadi harapan untuk Anastasia. Harapan yang sampai kapanpun tidak bisa di milikinya.
"Tolong Tuhan.. ini sakit..."
Anastasia terus memukuli dadanya yang menyesakkan, tangisnya terus menggema kuat, jeritan perihnya terus mengisi hening dan dinginnya malam. Dalam setiap luka di sepanjang hidupnya, Anastasia hanya bisa memeluk dirinya sendiri.
Ferdinand masih berdiri diam dengan kedua tangan terkepal kuat. Isi hatinya terus berteriak jika dia salah, isi kepalanya terus mengatakan tidak apa-apa, dan.... egonya terus berbisik jika apa yang di lakukannya sudah benar, semua yang di lakukannya memang benar karna dia adalah pria yang beetanggung jawab. Tapi tetap saja, dadanya terasa semakin nyeri dan sesak, bayangan wajah penuh kehancuran Anastasia membuatnya semakin tidak bisa bernafas dengan baik.
--000--
Di sisi lain malam penghujung musim semi, Carl masih berdiri menatap punggung Fredrick yang hanya diam dengan arah pandangnya yang terus menatap langit pekat malam.
"Apa yang harus saya lakukan Your Majesty?"
Hening.... tidak ada jawaban apapun dari pertanyaan Carl. Menit-menit terus berlalu, puluhan menit mulai di jalani dalam keterdiaman Fredrick yang hanya berdiri di tempatnya sambil terus menatap langit pekat. Dan keterdiaman itu, sudah menjawab pertanyaan Carl.
Carl segera membungkuk patuh.
"Baik Your Majesty... Kalau begitu saya pamit. Selama malam"
---000---
Malam ini, adalah malam pertama Kenna bisa menikmati seluruh kenikmatan dari kemewahan tempat tinggal barunya. Tangan Kenna terus terangkat ke atas, menatap lekat cincin yang tidak pernah sekalipun di lepasnya. Satu tangannya yang lain mengusap pelan perutnya yang masih datar.
"Anakku.... kau ternyata sangat suka tinggal dekat dengan ayahmu yaa" Bibir Kenna melengkung ke atas, kedua matanya berbinar terang. "Ibu berjanji akan mempertahankan semuanya. Ibu dan ayah berjanji akan membahagiakanmu. Mulai sekarang, apapun tidak akan ada yang bisa memisahkan kita dari ayahmu, sayang"
\=\=\=\=💛💛💛💛
Silahkan jejaknya....