Marrying The Prince

Marrying The Prince
79


Dengan perasaan yang merasa semakin aneh, Solar terus menyendoki makanan sederhana yang di berikan dari rumah sakit. Dirinya sudah kembali bergindik saat Ferdinand lagi-lagi menyeringai yang entah karna apa. Lalu tiba-tiba terkekeh yang juga entah karna apa. Semua ini di mulai dari saat kembalinya Ferdinand setelah kepergiannya yang entah kenapa dan untuk apa.


Solar mengulang kembali setiap keanehan yang terjadi, di mulai dari setelah kembali, dengan kekehan anehnya, Ferdinand menari-nari tidak jelas, lalu kembali terkekeh. Setelah itu, bangun untuk makan dan selama Ferdinand makan dirinya sesekali menyeringai, lalu terkekeh sendiri. Bahkan seorang pelayan yang mengantarkan makan tadipun menatap Ferdinand dengan aneh.


"Sol, kira-kira berapa lama waktu yang di butuhkan seseorang yang terluka untuk bisa bergerak bebas lagi?"


Dari ekor matanya, Solar melirik Ferdinand dan kedua tangannya yang tampak santai mengangkat alat-alat makan.


"Anda tadi sudah bisa menari, Your Highness"


Ferdinand memutar bola matanya dengan malas.


"Maksutku untuk orang biasa Sol"


"Saya tidak tahu, Your Highness"


Jawaban Solar hanya membuat Ferdinand berdecak tidak suka sambil meletakkan piringnya yang sudah tandas.


Ferdinand kembali melempar tubuhnya ke atas ranjang sambil menatap langit-langit tenda. Isi kepalanya mencoba mencari cara agar bisa membuat Anastasia yang datang padanya, bukan dirinya. Tapi bagaimana?


"Selamat pagi tuan-tuan.. apakah makannya sudah selesai?"


Seorang perawat datang sambil mendorong trolly yang membawa instrumen dan piring-piring kotor. Tersenyum ramah pada Ferdinand dengan cara yang sangat ramah, terlalu ramah. Melihat itu, Solar memutar bola matanya dengan jengah.


"Hm yaa... sudah. Terimakasih"


Tanpa menatap arah suara, Ferdinand menjawab acuh sambil terus menatap langit-langit tenda. Hingga sebuah pemikiran muncul di dalam kepalanya, yang membuatnya langsung menatap perawat yang sekarang sudah di bantu Solar untuk meletakkan piring-piring kotor mereka.


"Apakah di sini ada suster lain yang akan merawat saya selain suster Bernadeth?"


Dengan bibir yang semakin tersenyum ramah berlebihan, perawat itu menggangguk.


"Ada beberapa perawat surgical untuk merawat luka. Suster Bernadeth, perawat Lilah, dan tiga perawat lain untuk merawat luka biasa, lalu untuk luka yang butuh penanganan segera atau emergency biasanya akan di lakukan perawat Anastasia"


Darah Ferdinand berdesir saat nama itu, nama yang sekarang selalu mengisi isi kepalanya di sebutkan seseorang.


"Ahh... emergency ya... baiklah"


"Ya tuan?"


Ferdinand berdehem beberapa kali, sambil menggeleng


"Tidak. Saya hanya berpikir jika berapa banyak pasien yang terluka di sini"


Setelah merapikan trolly-nya, perawat itu memutar tubuhnya agar bisa benar-benar berdiri di depan ranjang Ferdinand sambil menatap tubuh Ferdinand dengan lekat. Tubuh atas Ferdinand yang sudah tidak memakai apapun dan hanya terbalut perban di beberapa bagian.


"Sekarang hanya tinggal beberapa tuan. Tapi mungkin nanti, atau besok-besok akan ada lagi yang datang"


Ferdinand mengangguk tidak peduli


"Baiklah. Terimakasih"


"Keren"


Satu alis Ferdinand menukik


"Ya?"


Dengan tersenyum malu-malu, perawat itu kembali berucap


"Nama saya Keren, tuan"


"Ahh ya.. baiklah"


Jawaban singkat dan acuh Ferdinand membuat Keren melunturkan senyumnya. Ferdinand benar-benar acuh dan tidak peduli.


Solar yang terus memperhatikan apa yang terjadi, hanya terus melirik Ferdinand yang tampak sedang berpikir keras. Dan setelah melihat jika Keren menghilang dari arah pandangnya Solar mengeluarkan rasa penasarannya


"Apa yang anda rencanakan?"


"Bagaimana membuat situasi darurat?"


Sambil kembali melempar tubuhnya ke atas ranjang, Solar menatap Ferdinand


"Apa anda sudah melihat keberadaan Her Highness?"


Senyum Ferdinand mengembang, dan itu cukup untuk menjawab semua pertanyaan tentang semua keanehan yang terjadi di sekitar Solar


--000--


Anastasia kembali mencuci kain-kain yang penuh darah setelah dirinya selesai mengganti perban seorang pasien yang lukanya masih terus mengalir. Matahari mulai semakin naik dan panas, karna itu dia harus secepatnya membereskan semua hal agar bisa langsung kembali masuk ke dalam tenda-tenda


"An, aku dengar dini hari tadi ada pasien tampan yang baru datang"


Sambil terus mencuci kain di tangannya, Anastasia menatap arah suara


"Apakah dia terluka karna perang Nora?"


Nora menggeleng sambil mulai menjemuri kain-kain


"Bukan, aku dengar dari Lilah karna di rampok. Lukanya cukup banyak dan dalam, tapi sepertinya karna pria itu cukup kuat, jadi tidak ada masalah dan tidak perlu harus memanggilmu"


"Oohh... apakah Suster Bernadeth yang merawatnya?"


"Hhmm... selain tampan, pria itu juga memiliki tubuh sexy, dia benar-benar terlihat kuat An"


Nora berucap sambil mengerling pada Anastasia. Anastasia hanya tersenyum sambil mulai menjemuri kain-kain pekerjaannya. Melihat Anastasia yang tidak merespon, Nora berdecak kesal


"Kau tidak penasaran An?"


Menyadari raut wajah Nora yang sedang berusaha menggodannya, Anastasia membuang nafas panjang. Baiklah.. dia akan mengikuti keinginan Nora


"Siapa namanya?"


Melihat gayungnya yang di sambut, Nora langsung mendekat pada Anastasia untuk berbisik.


"Namanya Fredrick, dia bersama temannya yang bernama.. emm.. So... Somi kalau tidak salah"


Satu alis Anastasia menukik. Satu orang bernama sama seperti orang yang di kenalnya, dan satu orang lagi bernama aneh.


"Hhmm.. mereka dari mana?"


"Mereka pedagang dari timur An. Tapi Keren mengatakan jika mereka sangat acuh, padahal Keren sudah berusaha ramah pada mereka"


Kekehan geli meluncur dari bibir Anastasia


"Ramah atau menggoda?"


Nora yang mendengar ucapan Anastasia langsung meletakkan satu jarinya ke bibir


"Keren akan marah jika mendengarnya, yaa walaupun itu benar"


Dan, tawa mereka langsung saling bersaut-sautan. Hingga Nora kembali berucap


"An, nanti siang temani aku melihat mereka ya"


Kedua alis Anastasia mengerut dalam


"Buat apa?"


"Aku ingin melihatnya.. kau tahu kan selama kita di sini, kita tidak pernah melihat sesuatu yang indah"


Anastasia memutar bola matanya dengan malas.


"Kita di sini menjadi volunteer untuk pelayanan daerah konflik perang dan wabah. Apa yang kau harapkan Nora?"


Sambil menumpuk keranjang-keranjang tempat membawa kain-kain kotornya, Anastasia menggeleng


"Aku ingin melihat persediaan obat-obatan saja Nor. Sepertinya obat antiseptik juga mulai menipis"


Penolakan Anastasia membuat Nora langsung menarik keranjang-keranjang di tangan Anastasia. Dengan wajah memelas dan penuh permohonan, Nora menatap Anastasia. Kekehan halus meluncur dari bibir Anastasia.


"Hanya mengantar makan ya?"


Dengan cepat kepala Nora mengangguk antusias. Dan akhirnya, Anastasia hanya bisa mengangguk pasrah, mengikuti permintaan Nora, teman yang paling dekat dengannya selama dirinya menjadi Volunteer. Sudahlah, lagi pula hanya mengantar makan kan?


--000--


Ferdinand dengan santai duduk di luar tendanya sambil menatap sekitar sambil menunggu makan siang. Yang benar saja, makan pagi mereka hanya bertahan dua jam di dalam perut Ferdinand, lalu sekarang sudah hampir empat jam dirinya menahan lapar. Dengan perut yang terus berbunyi minta di isi, Ferdinand menunggu Solar yang dia perintahkan untuk melihat-lihat sekitar.


Hingga Solar kembali muncul dengan sedikit berlarian ke arahnya. Ferdinand yang melihat itu langsung berdiri


"Kenapa?"


"Pengantar makanan datang Your Highness"


Melihat wajah Solar yang panik, alis Ferdinand mengerut


"Lalu kenapa?"


Tanpa ingin langsung menjawab, Solar langsung menarik Ferdinand untuk membawanya agar segera masuk ke dalam tenda. Ferdinand hanya mengikuti hingga Solar juga menariknya untuk segera berbaring di atas ranjang. Merasa mulai kesal, tangan Ferdinand langsung terayun memukul kepala Solar


"Kau kenapa sialan! Setan mana yang kau lihat hah!"


Sambil mengusapi kepalanya dengan wajah cemberut, Solar tetap mendorong tubuh Ferdinand yang sudah duduk di pinggir ranjang agar berbaring di atas ranjang. Perlakuan aneh Solar kembali membuat Ferdinand ingin protes tapi, suara trolly yang sedang di dorong membuat Ferdinand dan Solar terdiam di posisi mereka. Mulut Solar yang baru akan terbuka untuk menjelaskan pada Ferdinand tentang apa yang di lihatnya langsung mengatup.


"Selamat siang...."


Ferdinand membeku, jantungnya mulai berdetak cepat, seluruh darahnya berdesir hingga membuat Ferdinand hanya bisa terdiam di posisinya. Di posisinya yang sedang duduk di pinggir ranjang, dengan Solar yang masih berdiri menutupi arah pandangnya. Solar yang merasakan tubuh Ferdinand yang menegang, mencoba melirik ke bawah, ke arah wajah Ferdinand yang tempat menunjukkan raut wajah terkejut aneh.


Nora dan Anastasia saling melirik ketika melihat posisi aneh Solar dan Ferdinand. Mereka bahkan terdiam beberapa saat hingga akhirnya Anastasia tersadar, dan kembali mendorong trolly untuk mendekat pada meja nakas. Dan pergerakan Anastasia itu, akhirnya ikut membuat Nora kembali tersadar dan segera berucap


"Makan siangnya tuan-tuan"


Hening.... tidak ada jawaban, posisi kedua pria di depan merekapun tetap belum berubah, bahkan mereka terlihat enggan untuk bergerak walau hanya sedikit. Keadaan aneh itu membuat sudut bibir Anastasia berkedut geli sambil melirik Nora yang sudah tersenyum malu-malu, apa-apaan posisi kedua pria itu?


Anastasia berdehem beberapa kali hingga suaranya kembali terdengar


"Tuam Somi dan tuan Fredrick, bagaimana hari kalian? apakah tuan Fredrick memiliki keluhan siang ini?"


Dengan ramah Anastasia bertanya dengan nada diplomatis. Dan mereka yang di tanya, mereka yang tetap di posisi mereka, mereka yang bisa mendengar suara Anastasia, langsung saling melirik. Solar langsung bertanya 'bagaimana?' dalam lirikkannya, sedangkan Ferdinand menjawab 'beri aku waktu untuk bernafas' dalam lirikannya.


Akhirnya, Nora dan Anastasia yang tetap tidak melihat respon apapun mengedipkan bahu mereka dengan acuh, dan mulai mengangkat nampan-nampan makan dari trolly untuk di letakkan ke atas nakas. Di awali dengan nampan milik Solar yang di bawakan Anastasia, lalu Nora yang membawa nampan Ferdinand.


Nora yang mendapatkan kesempatan untuk mendekat ke ranjang Ferdinand mencoba menatap lekat-lekat dua pria itu, tapi dirinya hanya bisa melihat Solar karna Ferdinand sudah menunduk dalam keheningan dan kegugupan.


Setelah meletakkan nampan makan di atas nakas Solar, Anastasia kembali menatap punggung Solar yang mengarah padanya. Entah kenapa dirinya merasa tidak asing dengan kemeja dan celana Solar? tampak familiar tapi dia tidak tahu pernah melihatnya di mana. Anastasia mengedipkan kedua bahunya dengan acuh, dan tidak ingin ambil pusing, dirinya kembali menatap Nora yang tampak sedang berusaha keras agar bisa melihat Ferdinand.


"Apakah anda baik-baik saja tuan? apa anda sedang menahan sakit?"


Dengan raut wajah yang sudah berubah manjadi khawatir, Nora mulai melangkah mendekat pada Ferdinand yang masih menunduk, hingga langkah Nora terhenti saat Solar berucap


"Tuan Fer.... Fredrick sedang kesakitan. Sepertinya terjadi sesuatu pada lukannya"


Anastasia yang juga bisa mendengar ucapan Solar langsung melepas tangannya dari trolly dan mendekat pada Nora yang sudah mencoba mendekati punggung Ferdinand, mendekati luka di kedua bahu Ferdinand. Anastasia berucap lembut


"Apa yang sakit tuan? bisakah kami lihat luka-luka anda?"


Solar langsung menunduk saat Anastasia sudah berdiri di belakang punggung Ferdinand dan mengarah di depan wajahnya. Arah pandang Anastasia yang hanya memiliki fokus pada perban-perban Ferdinand tidak peduli pada Solar yang pelan-pelan sudah mulai menyingkir dari Ferdinand.


Anastasia meneguk ludahnya dengan kasar saat benar-benar sudah berada dekat dengan punggung lebar Ferdinand. Dirinya benar-benar merasa jika ini sangat tidak asing untuknya, punggung itu terlihat sangat tidak asing hingga dirinya ingin segera berlari kabur.


"An..."


Nora berguman cemas dan bingung, dirinya sangat bingung ketika Ferdinand hanya diam dan terus menunduk sangat dalam. Anastasia yang kembali di sadarkan menarik nafas dalam, tidak mungkin! dia pasti salah kan? tidak mungkin itu punggung orang itu, yang berarti jika orang yang sedang berada di depannya sekarang adalah orang itu! Tidak mungkin!


Dalam kecemasan akan hal lain di dalam dirinya, kepala Anastasia langsung mengangguk pada Nora dan mencoba untuk melihat Solar, tapi.... hilang? hah? Kemana dan kapan pria yang satunya itu sudah pergi?


Anastasia kembali mencoba fokus pada Ferdinand


"Maaf tuan, ijinkan kami memeriksa luka anda"


Tanpa ingin membuang waktu lagi, Anastasia langsung memutar langkahnya untuk berdiri di depan Ferdinand.


Dan saat itulah, kedua mata Anastasia langsung melebar dengan jantungnya yang seolah langsung berhenti bedetak.


Tidak mungkin!.....


Nora yang melihat wajah pias dan tubuh membeku Anastasia mencoba mencerna apa yang terjadi, hingga dirinya mencoba menyadarkan Anastasia dan bersuara


"An-"


"Hallo sayang... long time no see..."


Suara itu!


Dengan perlahan, Ferdinand mengangkat kepalanya. Langsung menatap Anastasia sambil menyeringai bajingan.


Kedua kaki Anastasia tanpa sadar mulai bergerak mundur. Kedua matanya masih membulat lebar siap untuk memuntahkan bola mata. Kedua tangannya sudah berpindah menutupi mulutnya yang menganga terkejut.


Anastasia yang sudah sepenuhnya yakin, setelah semua indra di tubuhnya yakin, langsung berputar, tapi....


"Stop running from me"


Tangan Ferdinand langsung mencekal lengan Anastasia.


Nora yang melihat semua kejadian langsung mendekat, untuk mencoba membantu Anastasia yang sudah merota-ronta di genggaman kuat Ferdinand.


"Apa yang anda lakukan tuan! lepaskan Ana!"


Masih dengan seringai bajingan tampannya, Ferdinand terus mencekal lengan Anastasia dan menatap Nora.


"Aku tidak akan menyakiti istriku, bisa tolong tinggalkan kami?"


Nora yang masih belum bisa mencerna apapun mencoba melirik tangan kiri Ferdinand, di mana di sana memang melingkar sebuah cincin di jari manisnya. Tapi dirinya tetap tidak akan meninggalkan temannya! temannya yang terlihat sangat ingin terlepas dari bajingan tampan itu!


Nora kembali akan bergerak tapi, sebuah pukulan cukup kuat di tengkuknya membuat semua arah pandang Nora langsung menggelap


"Nora!!.... apa yang kau lakukan Solar!!"


Solar langsung menangkap tubuh ambruk Nora yang memang sengaja di buatnya untuk pingsan. Dengan lengan yang mulai membawa tubuh Nora di kedua tangannya, Solar menatap Anastasia yang sudah berada di kedua genggaman tangan Ferdinand, menatap Anastasia dengan penuh permohonan


"Maaf Your Highness. Saya akan menjaga nona ini dengan baik"


"Nora!!" Melihat Solar yang mulai melangkah cepat membawa tubuh Nora untuk keluar tenda, Anastasia langsung menoleh, menatap Ferdinand dengan tajam dan marah. "Sialan kalian! lepaskan aku brengsek!!"


Ferdinand terkekeh gemas dan geli. Oohh... lihatlah para hadirin sekalian, istrinya bahkan sudah bisa mengumpatinya sekarang.


"Lepas? jangan harap sayang"


Brukk!!


Secepat kilat, tubuh Anastasia sudah berputar, langsung bertemu ranjang. Ranjang yang penuh aroma Ferdinand dengan si pemilik aroma yang sudah berada di atasnya.


\=\=\=❤❤❤❤


Silahkan jejaknya....