
Angin kencang kembali berhembus, Anastasia kembali mengeratkan mantelnya dengan gusar. Dirinya masih berdiri gelisah saat orang yang di tunggunya belum juga muncul, bahkan orang yang sudah berjanji akan menjemputnya dari istana itu tidak juga memberikan kabar apapun tentang ketidak munculannya hingga saat ini.
Anastasia menatap langit pekat yang penuh bintang, hari sudah semakin malam dan semakin sunyi tapi, orang itu belum juga muncul. Kembali angin berhembus dan Anastasia kembali mengeratkan mantel tebalnya.
"Your Highness... angin malam sangat kencang, sebaiknya anda menunggu di dalam"
"Tidak apa-apa Ruth. Aku tidak bisa tenang dan akan semakin tidak tenang jika harus menunggu di kamar nyaman di saat Ferdinand masih di luar"
Ruth hanya bisa mengangguk pasrah dan kembali melirik Carl yang tampak diam berdiri tenang di belakang Anastasia. Entah sudah untuk yang keberapa kalinya Ruth meminta Anastasia untuk masuk ke dalam, dan entah sudah untuk yang keberapa kalinya juga permintaan Ruth di tolak Anastasia. Ruth membuang nafas panjang, sebenarnya... kenapa Ferdinand belum pulang juga di saat waktu sudah menunjukkan tengah malam? terlebih, tidak ada sedikitpun pesan yang dia tinggalkan?
Menit-menit terus terlewati, puluhan menit tanpa kepastian terus di lalui Anastasia, berjam-jam sudah Anastasia jalani dengan kegelisahan.
Carl dan Ruth masih setia dan patuh menemani Anastasia yang terus berdiri dengan gusar di depan pintu masuk castle. Kali ini, Carl melirik Anastasia yang sudah menumpukan tubuhnya di pintu, kedua mata Anastasia tampak lelah, dengan pikirannya yang pasti lebih lelah lagi.
"Masuklah Your Highness. His Highness pasti baik-baik saja"
Kedua mata Anastasia yang hampir menutup kembali terbuka saat suara Carl akhirnya terdengar. Anastasia tersenyum lembut
"Tidak apa-apa Carl, ak-"
"Saya akan mencari His Highness sekarang Your Highness. Jadi saya mohon, tolong masuk dan istirahatlah"
Ucapan Carl langsung membuat Anastasia menatapnya, menatapnya dengan penuh harapan.
"Apa tidak merepotkanmu Carl?"
Sambil tersenyum sopan, Carl mengangguk dan langsung merentangkan satu tangannya ke dalam castle
"Silahkan istirahat Your Highness"
Akhirnya, Anastasia yang sebenarnya belum menyerah untuk menunggu, dengan pasrah mulai melangkah masuk ke dalam. Ruth membuang nafas lega dan mulai mengikuti langkah Anastasia tapi, Carl menghadangnya.
Dengan raut wajah penasaran, Ruth mengikuti Carl yang memberikan kode agar dirinya mengikuti langkah Carl.
"Ada apa tuan Carl?"
Sambil mengeratkan mantelnya, Carl menatap Ruth dengan tegas
"Selalu ingat, jika kau adalah pelayan pilihan Her Highness Putri Mahkota Francesca, dan selalu ingat untuk siapa kau mengabdi"
Dahi Ruth mengeryit, wajahnya tampak bingung tapi, dengan cepat Ruth mengangguk dengan penuh ketegasan
"Saya mengabdi untuk Her Majesty Ratu Victoria, dan saya sudah siap untuk memberikan nyawa saya pada His Highness Putri Anastasia. Sesuai perintah langsung dari Her Majesty Ratu Victoria"
Setelah mendengar jawaban yang ingin di dengarnya, Carl mengangguk singkat. Dan segera mengambil gestur untuk mengakhiri percakapan mereka.
Tapi, sebelum Carl sempat melangkah untuk pergi, suara Ruth menghentikan langkah Carl
"Apa anda akan pergi untuk mencari His Highness, tuan Carl?"
Langkah terhenti Carl kembali bergerak dengan suaranya yang terdengar
"His Highness bukan bocah berumur 10 tahun hingga saya harus mencarinya di saat dia tidak pulang pada istrinya"
Melihat langkah lebar Carl yang terus bergerak, Ruth dengan cepat mengejarnya
"Lalu anda akan pergi ke mana?"
"Istana"
***
Pagi di penghujung musim semi kembali, pagi yang membawa semangat baru dan harapan baru untuk setiap orang. Sama halnya dengan Anastasia yang sedang makan pagi bersama Ferdinand yang tadi malam entah pulang kapan.
Setelah makan pagi mereka selesai, wajah lelah Anastasia tersenyum pada Ferdinand yang baru mengusap sudut bibirnya.
"Kau pulang pukul berapa semalam?"
Ferdinand melirik Anastasia sejenak, lalu meletakkan napkin-nya
"Entahlah"
Dengan sabar, Anastasia masih memasang senyum di bibirnya
"Apa pekerjaanmu berat?"
"Hm"
Kembali, Anastasia tetap tidak memudarkan senyum lembutnya
"Apa hari ini kau akan pulang lewat dari tengah malam lagi?"
Kali ini, Ferdinand menaikkan arah pandangnya, menatap Anastasia dengan.... datar
"Kau terlalu banyak bicara di meja makan Ana"
Ucapan dan juga tatapan Ferdinand hanya bisa membuat Anastasia mengepalkan tangannya dengan bibir yang tetap terus bertahan untuk tersenyum lembut
"Ahh... maafkan aku"
Di saat Anastasia sedang berusaha menenangkan dirinya, Ferdinand segera berdiri dari kursinya. Anastasia yang melihat itu dengan cepat mengejar langkah Ferdinand.
Langkah mereka terus tertuju ke arah pintu keluar castle dalam keheningan. Anastasia terus mengukuti langkah Ferdinand dengan tegar. Saat sudah sampai di depan pintu keluar castle, Ferdinand yang biasanya, tidak menjadi seperti dia yang biasanya.
Anastasia hanya mengikuti arah kemana keinginan Ferdinand yang dia dapati sudah kembali menjadi Ferdinand yang dulu baru dia kenal
Tanpa ingin menoleh, tanpa ingin menatap Anastasia, tanpa ingin mengatakan apapun, Ferdinand segera naik ke atas punggung kudanya dan... berlalu pergi tanpa sedikitpun menoleh.
Anastasia hanya bisa tersenyum miris sambil melambaikan tangannya dengan anggun, bibirnya berucap pelan
Tidak hanya Ruth yang bisa melihat sebuah perbedaan di pagi ini, semua pelayan dan penjaga di sana juga bisa melihatnya.
Anastasia dengan tegar memutar langkahnya untuk kembali masuk ke dalam castle. Hari ini, dia ingin mengurung dirinya di dalam perpustakaan setelah menyesesaikan sesuatu yang harus dia lakukan terlebih dahulu.
"Hanya Ruth yang ikut denganku"
Perintah lembut dari Anastasia membuat satu pelayan lain yang tadinya sudah mengikuti langkah Anastasia. menganguk patuh dan segera pergi. Carl yang menjadi penonton hanya diam dan terus mengikuti langkah Anastasia.
Saat mereka sudah ada di ruang perpustakaan, suara Anastasia kembali terdengar
"Carl, masuklah"
Dengan patuh, Carl ikut masuk saat Ruth sudah berdiri memegangi pintu.
Ruth menutup pintu dan langkahnya langsung mendekat pada Anastasia yang sudah menarik satu buku, dua buku, dan tiba buku dari rak
Dengan penasaran, Ruth melirik Carl yang hanya diam menunggu, wajah Carl tidak menunjukkan raut apapun yang bisa di tebak Ruth
"Aku ingin meminta tolong padamu Carl"
Dengan sopan, Carl menunduk patuh
"Silahkan perintahkan saya Your Highness"
Anastasia kembali berbalik, untuk menatap Ruth dan Carl dengan tiga buku di tangannya
"Jika apa yang kau lihat hari ini terulang lagi dalam beberapa hari nanti, tolong carikan aku penyebabnya"
Satu alis Carl menukik, arah pandangnya menatap Anastasia dengan penuh selidik. Really? wajah lemah lembut seperti itu?
"Baik Your Highness"
Anastasia tersenyum lembut dengan suaranya yang kembali terdengar.
"Kau juga bisa membagi informasinya pada 'yang lain', seperti kegunaan utamamu di sisiku Carl"
Dan sekali lagi, satu alis Carl menukik tinggi dengan sekali lagi menatap Anastasia penuh selidik, hingga akhirnya seringai Carl terbit saat ingatan sebuah percakapan melintas di ingatannya 'Carl.... harusnya kau percaya ucapan Jeremmy'
"Baik Your Highness"
Dengan senyum lembut yang terus tercetak di bibirnya, Anastasia menatap Carl dengan lekat. Dengan wajah lembutnya Anastasia menatap manik Carl dengan lekat. Dengan gerak gerik lemahnya, Anastasia menyodorkan sebuah buku pada Carl
Carl mengeryit sambil menatap buku yang sudah di sodorkan Anastasia
"Ini?"
"Buku tentang kesetian seorang kesatria kerajaan Carl. Terimalah sebagai hadiah dariku"
Masih dalam kebingungannya, Carl meraih buku yang sudah di sodorkan Anastasia
"Terimakasih Your Highness"
Kepala Anastasia mengangguk singkat, lalu menatap Ruth
Carl yang sangat tahu diri segera mengambil langkah untuk pergi. Dan saat Carl sudah menutup pintu, Anastasia membuka sebuah buku yang masih di pegangnya. Ruth dalam diam hanya mengamati Anastasia yang sekarang sudah mengelurkan sebuah amplop dari sana
"Ruth"
"Iya Your Highness"
"Dulu kau pernah mengatakan padaku jika kau bersedia untuk kugunakan, untuk melakukan apapun padamu?"
Tanpa keraguan, Ruth mengangguk tegas
"Benar Your Highness"
Anastasia kembali tersenyum lembut dengan tangannya yang terulur menyerahkan amplop yang muncul dari dalam buku tadi
Dengan raut wajah penuh tanda tanya, Ruth menatap Anastasia sambil menerima amplop yang sudah di sodorkan padanya
"Apa yang harus saya lalukan Your Highness?"
"Kirim itu ke Roman"
Raut wajah Ruth semakin bingung
"Maaf Your Highness, kemana lebih tepatnya alamat yang harus saya tuju untuk mengirim surat ini"
Dengan wajah lembutnya, Anastasia yang masih terus menatap Ruth menunjuk amplop di tangan Ruth.
"Aku menulis nama pemilik surat itu Ruth"
Dengan cepat Ruth menurunkan arah pandangnya dan menatap amplop surat, tapi dia tidak menemukan apapun di amplop polos itu, Ruth segera membalik sisi lain amplop. Saat matanya sudah bisa mengkap dengan baik tulisan yang tergurat di sana, kedua mata Ruth membulat dengan sangat lebar, satu tangannya terangkat untuk menutup mulutnya yang terbuka karna rasa terkejut hebat yang sedang dia rasakan
"I-ini...." Ruth kembali menaikkan arah pandangnya untuk menatap Anastasia dengan raut wajah tidak percaya. "Your Higness... ini..."
Kepala Anastasia menggangguk singkat dengan langkah kakinya langsung bergerak menuju jendela yang terbuka.
"Aku ingin kau menyimpan itu dulu hingga 'sesuatu' datang padaku Ruth" Kepala Anastasia menoleh pada Ruth yang masih membatu di tempatnya "Kau mengerti kan maksutku Ruth?"
"Tapi Yo-"
"Jika yang kau takuti adalah Her Majesty, aku katakan padamu jika His Majesty sudah mengijinkan ini. Karna ini adalah syarat dan perjanjian ku sebelum menikah"
\=\=\=💙💙💙💙
Silahkan jejaknya....