Marrying The Prince

Marrying The Prince
65


Ruth merapikan riasan terakhir di wajah Anastasia, lalu tangannya kembali memperbaiki rambut Anastasia yang sudah rapih. Setelah selesai, Ruth kembali menatap ke depan cermin. Anastasia yang melihat hasil akhir karya Ruth tersenyum


"Terimakasih Ruth"


Kali ini, Ruth langsung mendengus pelan. Sudah Ruth katakan jutaan kali jika Anastasia tidak boleh berterimakasih kepada pelayan sepertinya. Anastasia yang melihat raut wajah Ruth yang di tekuk karna kesal terkekeh geli.


"Baiklah... baiklah Ruth, aku lupa"


"Tolong jangan lagi, Your Highness. Saya tidak pantas, perasaan saya jadi tidak nyaman"


Sambil mengangguk dramatis, Anastasia membulat kan jari telunjuk dan jempolnya, membuat tanda OK yang langsung membuat Ruth terkekeh.


Suara kekehan bahagia Anastasia membuat Ruth membuang bernafas lega. Karna selama dua hari ini, dirinya selalu sedih saat melihat wajah nyonyanya yang muram setelah kepergian Ferdinand yang hingga sekarang belum juga kembali.


Dan sore ini, sama seperti kemarin-kemarin, senyum dan raut wajah Anastasia bisa kembali lagi, selalu bisa tersenyum kembali karna Michael. Michael yang sudah seperti penghibur Anastasia itu selalu membuat hati Ruth lega.


Anastasia segera beranjak dari kursinya untuk memeriksa kembali semua penampilannya.





Setelah merasa sempurna, Anatasia tinggal memberikan wewangiannya.


TOK TOK TOK


"Your Highness, ini Lord Michael"


Suara seorang pelayan di depan pintu membuat Ruth terburu-buru menyambar tiara yang belum sempat terpasang. Anastasia yang melihat wajah panik Ruth terkekeh sambil menekuk kakinya, untuk memermudah Ruth memasang tiara



Setelah semua selesai, Ruth dengan sedikit berlarian segera menuju pintu. Anastasia kembali terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Dia yang akan pergi, tapi Ruth yang selalu lebih bersemangat ketika harus menyambut Michael.


Anastasia melangkah menuju ke pintu saat Ruth mengangguk pada seseorang di depan pintu. Di sana, Michael dengan setelan gentlemannya sudah siap menyambutnya dengan tersenyum sopan


"Selamat sore Your Highness"


Anastasia membalas senyum sopan Michael dengan tidak kalah sopan


"Selamat sore, Marquess"


Dengan cepat, Michael langsung menyodorkan sikutnya dengan sopan. Anastasia dengan anggun segera menggamit sikut yang sudah di sodorkan.


"Anda sangat cantik, Your Highness"


Kekehan halus meluncur dari bibir Anastasia


"Terimakasih, Marquess"


"Pergi sekarang?"


Kepala Anastasia mengangguk singkat, dan Michael langsung membawa langkah mereka.


Ruth yang berjalan di belakang Anastasia dan Michael tersenyum saat melihat dua orang di depannya yang sudah saling melempar obrolan. Carl yang berjalan bersama Ruth hanya diam, lalu melirik ke arah kanan sejenak, karna instingnya menyadari kehadiran seseorang yang sedang mengintip di balik dinding.


Saat Carl mengetahui siapa yang ada di balik tembok itu, Carl tidak peduli. Mana sudi dia peduli pada orang yang tidak penting. Carl lebih memilikirkan tentang hal lain. Tentang, apakah ini akan menjadi masalah ketika Anastasia pergi bersama Michael ke sebuah pesta yang cukup besar, walaupun pesta itu bukan pesta untuk publik?


Saat sudah sampai di depan kereta kuda, Michael segera membantu Anastasia untuk menaiki kereta, Ruth di bantu Carl, lalu Michael ikut masuk ke dalam. Kereta kuda mulai bergerak saat Carl sudah menaiki kudanya, tapi sebelum Carl menarik tali kekang kuda, bola mata Carl kembali melirik ke arah pintu castle. Di mana seseorang yang tadi sempat mengintip diam-diam, kembali mengintip. Dengan acuh dan tidak peduli, Carl mulai memacu kudanya.


--000--


Dengan hati-hati Ferdinand membawa Kenna untuk turun dari kereta yang berlambang istana, kereta yang jauh lebih kecil dari milik Raja dan Putri Mahkota, kereta yang sudah membawa perjalanan berlibur Ferdinand dan Kenna selama dua hari tiga malam.


Elsa yang mendengar kedatangan Kakaknya segera berlari menuju ke pintu keluar. Saat Ferdinand dan Kenna sudah di depan pintu, Elsa langsung berteriak senang.


"Kalian lama sekali meninggalkanku sendiri!!"


Kenna dan Ferdinand terkekeh geli melihat tingkah energik Elsa. Sambil menggengam tangan Kenna, Ferdinand mulai memasuki pintu. Stefanus yang sudah menunggu di depan pintu segera membungkuk sopan


"Selamat datang kembali Your Highness dan nona Kenna"


Ferdinand mengangguk singkat sambil terus melangkah


"Siapkan makan malam Stef"


Dengan patuh Setafanus segera mengangguk. Arah pandang Ferdinand langsung mencari seseorang yang terus mengganggu pikirannya selama berlibur. Elsa yang terus memperhatikan gerak gerik Ferdinand akhirnya bersuara


"Her Highness pergi bersama Marquess Michael"


Langkah Ferdinand terhenti, lalu menatap Elsa


"Pergi?"


Elsa mengangguk yakin, lalu melirik Kenna yang sudah menaikkan satu alisnya


"Iya, Her Highness pergi dengan memakai gaun yang indah serta mahkota kecil yang penuh berlian"


Alis Ferdinand mengerut dalam, tangannya yang sedang menggandeng tangan Kenna terlepas.


"Stefan!!!"


Stefanus yang baru saja akan menuju dapur segera kembali berbalik untuk menuju asal suara yang sudah meninggi itu. Saat sudah ada di depan Ferdinand, Stefanus menatap sekilas raut wajah muram Ferdinand, lalu menunduk sopan


"Iya Yo-"


"Di mana Her Highness?"


Dengan kepala yang masih menunduk dan sedikit gusar, Stefanus menjawab sopan


"Her Highness pergi bersama Lord Michael, Your Highness"


"Kemana?"


Stefanus menggigit pipi dalamnya dan menjawab dengan takut


"Saya tidak tahu pasti, Your Highness. Tapi Ruth mengatakan jika Her Highness akan menemani Lord Michael untuk menghadiri sebuah pesta yang saya tidak tahu apa dan di mana"


"APA KATAMU! MENGHADIRI PESTA!!!"


Kenna, Elsa, dan Stefanus tersentak saat Ferdinand berteriak nyaring. Kenna yang melihat guratan kemarahan jelas di wajah Ferdinand mencoba menenangkan, meraih tangan Ferdinand sambil mengusap lembut


"Tenanglah Dinand"


Ferdinand menarik nafas dalam. Sialan! bisa-bisanya mereka pergi berdua! Anastasia benar-benar tidak tahu malu! Bagaimana bisa seorang istri bangsawan, oh bukan, istri seorang Pangeran berkeliaran dengan seorang pria lajang di tengah-tengah banyak mata dan telinga yang melihat! Sialan! benar-benar sialan! Anastasia benar-benar menghinanya!


"SOLAR!"


Suara menggelegar Ferdinand yang masih berdiri di depan pintu masuk membuat seorang penjaga berlarian menuju ke rumah kecil di belakang castle. Tempat tinggal para pelayan, penjaga, termasuk Solar dan Carl.


Melihat Solar yang tidak juga muncul, Ferdinand kembali berteriak kuat


"SOLARRRR!!"


Kenna kembali akan mencoba menenangkan Ferdinand. Tapi percuma, karna Ferdinand langsung menepis tangan Kenna


"Masuklah ke kamar kalian dan jangan keluar sebelum ada perintah dariku"


Perintah Ferdinand hanya bisa membuat Kenna dan Elsa mengangguk sambil saling melirik. Tapi sebelum mereka pergi, Stefanus melihat itu, melihat bibir Elsa yang tertarik ke atas sebelum Elsa melangkah melewatinya.


Orang yang namanya terus di teriakan Ferdinand segera datang sambil berlarian dan langsung menunduk.


"Your Highness"


"Bagaimana kau bisa membiarkan Her Highness pergi bersama Mike, Solar!"


Hah?


Bagaimana bisa katanya? Solar tidak habis pikir, memangnya dia punya hak dan kewajibannya untuk melarang tuannya pergi. Memang dia siapa? Tapi, Solar cukup tahu diri untuk tidak membuka mulut dengan sembarangan.


"Maaf Your Highness"


BRAK!!


Kaki jenjang Ferdinand menendang meja yang ada di sekitarnya. Sialan! Anastasia benar-benar sialan!


Solar menelan ludahnya dengan susah payah, lalu menjawab sopan


"Parlement"


Setelah Solar menjawab pertanyaannya, Ferdinand segera pergi melangkah menuju ke arah tangga. Rasa kesalnya benar-benar sedang memuncak. Dia benar-benar ingin mencekik seseorang.


Seumur hidup, dia tidak pernah merasakan rasa di hina seperti ini. Hinaan Anastasia benar-benar menyulut api di dalam kepala dan di dalam dada Ferdinand.


Langkah Ferdinand terus bergerak hingga menuju ke depan pintu pespustakaan. Dengan kasar Ferdinand menendangi pintu itu hingga terbuka lebar.


Lihatlah, Ferdinand akan memperlihatkan seberapa marahnya dia sekarang. Dan karna itu, kaki Ferdinand mulai menendangi rak-rak buku tidak berdosa di sana


Satu rak, dua rak, tiga rak buku jatuh hingga semua buku di sana tumpah, hingga suara keras rak yang terjatuh menggema kuat, menghantarkan rasa takut bagi siapa saja yang bisa mendengarnya. Tapi, itu belum cukup, rasa kesal dan amarah Ferdinand belum juga membaik hingga tangannya memunguti dan merobeki buku-buku yang paling dekat dari jangkauannya.


Sudah lama Ferdinand menahan diri saat Anastasia menghancurkan kebun pemberiannya, sudah lama Ferdinand bersabar dengan perlakuan Anastasia padanya, sudah lama dia menahan diri saat Anastasia mengabaikannya, sudah lama dia menahan diri dengan semua tindakan kasar Anastasia padanya. Dan sekarang, Ferdinand akan membalas itu. Dia juga akan menghancurkan perpustakaan tidak berdosa itu, tempat yang sangat di jaga Anastasia, tempat yang hanya beberapa saja yang bisa memasukinya


Apa Anastasia tidak pernah berpikir jika perlakuan Anastasia, pengabaiannya, kekasarannya sangat menyakiti Ferdinand? Kenapa Anastasia sangat egois dan tidak bisa mengerti dirinya? Kenapa Anastasia tidak tahu jika Ferdinand merindukan setiap perlakuan Anastasia yang dulu, perlakuan manis dan lembut seperti dulu! Tapi lihatlah sekarang, lihatlah apa yang di lakukan Anastasia di saat Ferdinand merindukannya, Anastasia malah bersenang-senang dengan pria lain!


Tangan Ferdinand terus merobeki, kakinya terus menendangi apapun yang ada di dekatnya. Ferdinand benar-benar mengamuk dan kehilangan kewarasan, dan itu semua karna Anastasia.


Solar yang menyadari itu, hanya bisa membuang nafas panjang. Dia berharap, Ferdinand segera sadar dengan tujuan dan perasaannya sendiri. Karna Solar yang selalu menjadi orang terdekat Ferdinand selama ini, orang yang sangat memahami karakter tuannya itu, tidak pernah melihat Ferdinand yang begitu murka seperti sekarang, begitu menggila seperti sekarang. Dan bentuk dari kemurkaan itu, alasan terbesar yang di sadari atau tidak di sadari oleh Ferdinand, adalah bentuk dari rasa cemburu dan frustasinya.


Setelah amarahnya sedikit berkurang, Ferdinand mengehentikan laju kaki dan laju tangannya. Nafasnya terengah dengan kedua tangan yang sudah berkacak pinggang. Arah pandangnya menatap semua kehancuran yang ada di sekitarnya.


Bagus.... dia cukup puas melihat semua kehancuran di sana tapi, saat kakinya akan berbalik menuju pintu, sebuah kotak berornamen yang terlempar di dalam tumpukan buku menarik perhatiannya.


Sambil mengatur nafasnya, Ferdinand mulai mendekati ke tempat kotak yang menarik perhatiannya. Kaki Ferdinand menyibak semua buku yang menutupi sekitarnya, lalu memungut kotak itu.


Dengan rasa tertarik yang semakin tinggi, Ferdinand membuka penutup kotak. Dan, ada tiga amplop surat?


Dengan cepat Ferdinand mengambil satu amplop di sana. Amplop putih polos yang tidak memiliki stempel apapun.


Rasa penasarannya semakin menjadi ketika di amplop lain tertulis; untuk Abraham Albern Berwyn, dan satu amplop lain yang tetulis; dari Abraham Albern Berwyn.


Di tengah-tengah rasa kesal dan juga pikiran membaranya, nama keluarga 'Berwyn' terdengar tidak asing untuk Ferdinand, tapi siapa?


Karna tidak ingin berpikir keras, Ferdinand segera membuka ampop surat. Saat surat pertama di buka dan di baca, rahang Ferdinand mengatup keras. Saat surat kedua di buka dan di baca, jantung Ferdinand bergemuruh hebat. Saat surat ketiga terbuka, surat terakhir, surat yang masih tergesel, surat yang sudah di siapkan untuk di kirim dan surat yang juga membuat kedua mata Ferdinand menggelap. Sangat gelap hingga dia bisa saja membunuh siapapun yang ada di dekatnya sekarang.


Dan semua surat itu, semua surat dari Abraham Berwyn. Setelah membaca surat, Ferdinand jadi mengetahui jika Berwyn adalah nama keluarga mendiang Ratu Marry, ibu Anastasia. Dan Abraham Albern Berwyn adalah adik mendiang Ratu Merry yang ada di Roman. Roman, Vatican.


Brakk!!


Dan, suara lemparan yang membuat kotak berornamen menjadi hancur berkeping-keling di atas lantai perpustakaan, menjadi penutup kehancuran di dalam perpustakaan. Karna dengan langkah lebarnya, sambil menyimpan amplop ke sakunya, Ferdinand berjalan menuju ke tangga.


Siapapun, siapapun yang melihat wajah Ferdinand sekarang sudah menahan nafas mereka. Mereka yang baru akan mendekat mengurungkan niat mereka ketika bisa merasakan hawa membunuh dingin yang menguar dari gerak gerik pahlawan nomer satu di Francia sekarang itu.


Solar yang dengan setia menunggu Ferdinand di depan pintu perpustakaan sudah merasakan semuanya, penyebab hawa membunuh yang menguar adalah saat dia melihat Ferdinand membaca tiga buah surat. Ini petaka! Solar tahu itu, dirinya sangat tahu jika sekarang, bisa saja Anastasia akan dalam bahaya.


"Solar"


"Iya Your Highness"


"Ambil botol ke ruang tamu"


Botol, adalah kata yang selalu di ucapkan Ferdinand saat dia meminta Vodka, scotch, bourbon ataupun wiski. Dengan patuh, Solar segera menuju dapur penyimpanan.


Ferdinand mengambil posisi duduknya yang langsung menghadap ke pintu masuk castle. Wajahnya sangat dingin, arah pandangnya mengerikan, guratan-guratan kemarahan luar biasa sangat jelas tergurat di wajah datarnya.


Para pelayan yang sudah selesai menyiapkan makan malam saling melirik dan saling mendorong karna tidak ada yang berani maju untuk menemui Ferdinand, hingga Stefanus datang dan mengatakan jika mereka tidak perlu mendekatndan tidak perlu muncul dulu di sekitar Ferdinand. Yang dalam artian adalah, jika Stefanus sedang mengosongkan castle.


Dengan pasrah, Solar mulai menjajarkan botol-botol ke atas meja ruang tamu. Dirinya langsung menuangkan scotch dan Vodka yang dia campurkan. Solar sangat tahu apa yang sangat di butuhkan Ferdinand sekarang. Sesuatu yang kuat, yang membakar, dan yang bisa melegakkan.


Setelah gelas siap, tangan Ferdinand dengan cepat menyambar gelas. Dalam sekali tempelan bibir, isi gelas tandas. Solar yang melihat itu kembali menuangkan dan meracik dengan sesekali matanya melirik Stefanus.


Stefanus dari kejauhan yang sangat sangat jauh melihat lirikan itu, lirikan yang di jawab Stefanus dengan anggukan singkat. Anggukan yang mengartikan jika pesan yang di titipkan Solar sudah berjalan.


Dengan tangan yang terus menyambar gelas, arah pandang Ferdinand terus menatap dingin ke arah pintu castle yang menganga lebar. Dia menunggu dalam diam dan marah, dia menunggu dalam cemas dan ketakutan, dia menunggu dalam bayangan dan pikirannya yang terus melambung jauh. Tiga surat sialan itu adalah kemarahan, ketakutan, dan sakit kepala hebat untuk Ferdinand.


Di sini lain, Anastasia menatap malas gerbang castle yang sudah di bukakan untuk kereta kuda mereka. Michael yang melihat perubahan raut wajah Anastasia terkekeh geli


"Anda sepertinya sangat malas untuk kembali, Your Highness"


Anastasia membuang nafas panjang


"Harusnya aku mengikuti permintaan aunty Rebecka agar malam ini bermalam ke Lorne. Aku menyesal menolak"


Michael kembali terkekeh geli tepat saat kereta sudah berhenti. Sambil membawa langkah Anastasia untuk turun, Michael berucap sopan


"Lain kali masih banyak waktu, Your Highness. Masih ada Ross, dan laut Bedford yang indah sebagai list tempat anda bisa berkunjung"


Mendengar ucapan Michael, senyum Anastasia kembali. Pikirannya jadi membayangkan tempat-tempat yang di katakan Michael. Tempat-tempat yang menjadi kekuasaan para uncle Ratu Victoria.


"Ahhh... aku jadi kembali bersemangat Marquess"


Michael tersenyum saat melihat raut wajah Anastasia yang sudah kembali, lalu kembali membuka obrolan


"Bagaimana menurut anda tentang orang-orang parlement, Your Highness?"


Sambil terus melangkah untuk menuju pintu masuk, Anastasia terkekeh


"Mereka memuakkan dan penjilat ulung. Pantas saja His Majesty sangat tidak suka menghadiri pesta mereka"


"Yeahh... sepertinya yang saya katakan sudah terbukti"


Lalu mereka kembali terkekeh tanpa menyadari jika seseorang sudah berdiri menjulang di depan pintu masuk sambil berkacak pinggang. Ferdinand melihat semua kebahagiaan dan tingkah Anastasia yang dia anggap murahan.


"Sepertinya kalian bersenang-senang"


Anastasia tersentak saat suara singin itu menyambutnya dari depan pintu. Michael yang mendengar itu hanya mengatupkan mulutnya sambil mengubah arah pandangnya pada Ferdinand. Pada Ferdinand yang hanya menatap Anastasia dengan dingin dan tajam.


Dengan suasan hati yang kembali malas, Anastasia terus melangkah dan mengabaikan tatapan menusuk Ferdinand. Hingga saat langkahnya tepat berada di sebelah Ferdinand, tangannya di tarik dengan kuat


"Awww!!!"


Ferdinand tidak peduli dengan pekikan dan wajah meringis sakit Anastasia, langkahnya mulai menyeret Anastasia tapi, tangannya yang sedang menyeret lengan Anastasia tertahan. Michael menahan dan mencekal tangan Ferdinand


"Kau menyakitinya dude"


Arah pandang Ferdinand menatap Michael dengan sangat dingin. Tatapan yang Micahel ketahui, jika itu adalah pertanda buruk.


"Enyah dari rumahku sekarang, sebelum aku menebas kepalamu"


"Ooww... Okok.. chill Dinand... chill"


Michael berucap tanpa melepas cekalan tangannya dari lengan Ferdinand. Ferdinand yang melihat itu, dalam sekali gerakan segera melempar bogem panas ke rahang Michael.


Anastasia kembali memekik dan akan segera maju untuk menuju Michael yang sudah mencium lantai sambil memegangi rahangnya. Sial! rahang Micahel pasti bergeser karna pukulan Ferdinand sudah tidak setengah-setengah lagi


"Lepaskan aku Ferdinand!"


"DIAM!!!"


Percuma, sekuat apapun Anastasia melawan dan meronta, tenaganya tidak akan bisa melawan pahlawan perang nomer satu Francia yang sedang penuh bara kemarahan.


Solar yang semakin jelas bisa mencium aroma petakan melangkah untuk menuju Anastasia, untuk menyelamatkan Anastasia, meskipun dia akan mati sekalipun di tangan Ferdinand, tapi itu lebih baik dari pada harus mati di dalam sel karna pertintah Ratu. Karna tanpa sepengetahuan siapapun, Solar mengemban tanggung jawab lain dari Ratu dan Putri Mahkota. Tubuh Solar sudah bergerak untuk menjalankan sumpah dan janjinya tapi, terhenti saat seseorang menahannya


"Sudah ku katakan jangan ikut campur Solar"


"Tapi Carl...."


"Ini perintah His Majesty Raja Fredrick"


Kepala Solar menoleh ketika Carl sudah melepas tangannya. Menatap Carl yang hanya menatap langkah menyeret kasar Ferdinand dengan datar.


"Her Highness pasti akan terluka Carl"


Carl hanya diam tanpa berniat membuka mulut. Tidak di jelaskan pun, Carl sudah tahu,


Jika di malam awal musim gugur yang sudah tiba, sebuah petaka akan jatuh di Chasembord.


\=\=\=💛💛💛💛


Salam sayang semuanya....


Jangan lupa jejaknya di tinggalin yang banyak yaaa..